KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
wilayah tersembunyi


__ADS_3

Zen dan Eri berjalan menyusuri hutan Roris dengan bantuan sebuah peta yang di berikan oleh Hamza.


Lokasi keberadaan bandit Olopus memang sangat rahasia, mereka bersembunyi di dalam hutan namun tidak ada yang tahu pasti tempatnya.


Ini memang aneh, tentang seorang Hunter yang memiliki koneksi terhadap sebuah kelompok bandit. Tapi di jelaskan oleh Hamza jika dirinya pernah menjadi salah satu petinggi bandit Olopus, sehingga dia bisa memperlancar urusan Zen dengan memberinya bantuan.


Lencana itu sendiri adalah tanda bagaimana Zen harus menunjukkannya kepada mereka dan bertemu salah satu teman Hamza di sana.


"Zen apa benar ini jalannya." Tanya Eri dengan tangan yang melepas anak panahnya.


Tangan Zen mengayunkan pedang selagi akan menjawab perkataan Eri...."Itulah yang di katakan oleh Peta, jadi jangan banyak bicara, kita harus sampai di sana sebelum cahaya bintang redup."


"Tapi lihat, semua yang ada di sini adalah pohon, batu dan Lipan merah, aku tidak menemukan jalan seperti yang dikatakan oleh Hamza itu." Eri melompat mundur cukup jauh.


Mudah bagi Zen memotong kepala Lipan untuk satu ayunan pedang...."Kau tahu, jika tempat para bandit mudah di temukan, maka tidak perlulah mereka repot-repot bersembunyi di tengah hutan."


"Ya aku tahu, tapi tetap saja, kita sudah pergi dari kota sejak pagi, tapi sampai sekarang belum menemukan tempatnya." Jawab Eri selagi melompat dan melepas anak panah yang menembus kepala Lipan merah.


Hingga semua lipan merah telah tewas oleh mereka berdua yang masih bisa berbincang-bincang dengan santainya.


Sejenak duduk di atas mayat lipan merah, Zen lanjut bicara dengan menjawab perkataan Eri... "Jadi apa yang kau inginkan ?, Kembali ke kota dan meminta Hamza untuk menunjukkan sendiri jalan ke tempat para bandit Olopus ?."


"Sebenarnya itu ide yang bagus." Eri setuju atas pendapat Zen.


"Tapi sayangnya, aku pun tidak tahu kemana arah jalan pulang." Itu salah satu alasannya.


Sepanjang perjalanan menuju tempat yang mereka cari, sudah banyak binatang iblis berdatangan, namun itu bukan hal penting, itu seperti mengantarkan nyawa saja dan menjadi mangsa empuk untuk di jadikan bahan makanan.


Hingga pada akhirnya, Zen menemukan satu petunjuk seperti yang dikatakan oleh Hamza.


Dimana lokasi keberadaan bandit Olopus berada di bawah jurang dan terselimuti oleh kabut tebal, tapi itu hanya sebuah trik persembunyian dari rangkaian sihir ilusi.


"Tidak salah lagi, kita harus turun ke bawah jurang." Ucap Zen.


"Tapi bagaimana jika Hamza itu berbohong, dia sengaja mengarahkan kita ke tempat aneh yang mungkin sangat berbahaya." Eri menolak dengan beralasan.

__ADS_1


"Kenapa kau berburuk sangka terhadap orang lain."


"Untuk seseorang yang pernah memiliki niat membunuh kita, apa tidak boleh sedikit curiga." Balas Eri.


Zen tidak bisa membantah pernyataan itu...."Ok, ok, jika kau menganggap ini berbahaya dan takut, biar aku yang turun terlebih dahulu dan kau tetap di atas sampai aku kembali."


"Aku tidak takut." Tegas Eri membantah.


"Baiklah." Tanpa perlu menunggu Eri untuk bicara lebih banyak alasan lagi, Zen merangkul pinggang Eri dan langsung saja lompat ke jurang.


Begitu erat Eri memeluk tubuh Zen, dia tetap memejamkan mata meski pun saat ini, mereka sudah sampai di dasar jurang.


"Hei Eri, jika kau memang tidak takut, tapi kenapa kau sampai memelukku begitu erat." Ucap Zen dan eri segera melepas tangannya.


Saat membuka mata, Eri barulah sadar jika mereka sudah berpijak di atas tanah, sedangkan menatap ke atas kabut yang menutupi jurang seakan tidak pernah ada.


Rangkaian sihir ilusi itu memang benar adanya, jurang persembunyian tidaklah curam, itu bahkan tidak lebih dari sepuluh meter dan menghadirkan sebuah gerbang batu dengan beberapa orang duduk di bagian depan.


"Siapa kalian ?. Penjahat kah ?." Teriak mereka selagi menarik pedang memberi peringatan.


Mereka pun sadar ... "Ah kau benar, maaf aku yang salah, jadi siapa kau ?, Pembela kebenaran kah ?."


"Itu juga tidak benar, terserah lah... Tuan-tuan, maaf aku datang ke tempat ini untuk urusan bisnis." Jawab Zen.


"Bisnis seperti apa yang kau maksud ?."


Zen segera mengeluarkan lencana pemberian Hamza kepada dua bandit penjaga gerbang batu itu. Mata mereka terbuka lebar, sesekali mengucek mata dan kembali memandangi lencana hingga yakin bahwa tidak ada kekeliruan.


"Darimana kau mendapat lencana petinggi bandit Olopus ?."


Pikir Zen bingung mengingat kondisi hubungan dia dan Hamza bukanlah siapa-siapa...."Seorang teman ?, Hmmm tidak juga. Seorang musuh ?, Itu tidak salah tapi tidak benar, seorang kenalan. Ya kurang lebih, dia adalah kenalan ku."


"Apa yang kau inginkan ?."


"Aku ingin bertemu dengan Hanna." Zen menyebut nama yang dikatakan teman Hamza.

__ADS_1


"Ketua ?, Kenapa kau ingin bertemu ketua kami ?."


Zen sedikit kesal untuk pertanyaan yang terasa mengintimidasi...."Kalian banyak pertanyaan, katakan saja kepada Hanna itu, aku ingin menjalin bisnis."


"Baiklah, biar aku pergi dan mengatakan kepada ketua."


Satu orang itu membuka gerbang batu dan berjalan masuk, dia membawa lencana pemberian Hamza sebagai bukti jika Zen ingin bertemu dengan niat bisnis.


Tidak perlu waktu lama, satu bandit itu keluar untuk memberikan izin kepada Zen dan Eri agar masuk menemui ketua bandit Olopus.


Tapi Zen dan Eri tidak menyangka, di balik gerbang batu itu adalah sebuah tempat tersembunyi yang sangat luas, hampir sama seperti luas sebuah kerajaan. Di sana pula terdapat rumah-rumah batu, pertokoan, para pedagang dan bermacam-macam makhluk berlalu lalang di jalanan kota tersembunyi ini.


Di sinilah mereka sekarang....


Dunia gelap, wilayah tersembunyi.


Dua bandit Olopus membawa Zen ke satu buah rumah besar, dimana ada banyak orang berpakaian lusuh, dekil dan juga kusam. Mereka semua adalah bandit Olopus yang hidup di wilayah tersembunyi.


"Rujat, kenapa kau membawa dua orang asing ini masuk." Ucap lelaki itu dengan wajah merah karena mabuk.


"Ketua sudah memberi perintah agar mereka di izinkan masuk dan bertemu dengannya."


"Cih, memang apa yang mereka inginkan ?.


"Entahlah, selama itu memberi keuntungan bagi kita, tentu bukan masalah."


Selesai berbincang dengan teman satu kelompoknya, bandit bernama Rujat itu mengantar Zen dan Eri memasuki sebuah ruangan.


Hingga suara langkah kaki berjalan mendekat, nyala batu cahaya menunjukkan wajah wanita yang kini berdiri di depan mata Zen.


"Oh ya.... Aku kira akan bertemu dengan siapa ternyata kau Eri." Ucap Hanna yang tersenyum sendiri.


Zen terkejut, karena nama Eri terucap oleh satu sosok yang di kenal sebagai ketua bandit Olopus.


"Ibu ?." Saut Eri.

__ADS_1


Dan dia pun semakin terkejut lagi setelah Eri menjawab dengan ekspresi bingung.


__ADS_2