KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Hadiah


__ADS_3

Di setiap pelelangan, barang-barang pertama yang akan di munculkan hanya receh atau memiliki nilai komersil kecil.


Seperti halnya sekarang, di balik tirai itu pembawa acara memunculkan sebuah patung batu berwujud seorang panglima perang kerajaan lima ratus tahun silam yang terbuat dari giok.


"Baiklah untuk harga pembuka, kami mulai di angka 300 koin emas."


"310."


"Sebuah awal yang baik." Pembawa acara tersenyum senang.


"330." Lanjut orang lain.


"Bagus sekali, naik dua puluh koin emas, apa ada yang berani lebih tinggi lagi..."


"350 koin emas."


Bagi kolektor seni patung dan memahami manfaat batu giok mereka tidak akan segan-segan memberi tawaran tinggi demi mendapatkannya.


Namun Zen jelas tidak berminat, bahkan dia lebih tertarik dengan lima sosok tamu VIP yang ada di satu ruanga.


Pertama adalah lelaki tua berjanggut putih yang sibuk menikmati minuman keras.


Kedua adalah sesosok iblis wanita bertanduk panjang dengan pakaian serba minimalis, bahkan itu tidak pantas di sebut pakaian.


Ketiga adalah iblis dari kaum Gouna, Zen bisa tahu itu karena sayap dan kuku cakar panjang tidak tersembunyi sama sekali.


Ke empat kemungkinan besar adalah anggota keluarga kerajaan dari permukaan atas, terlihat dengan pakaian mewah dan segala pernak-pernik aksesoris yang dia gunakan.


Ada pun orang ke lima itu membuat Zen merasa aneh, dia hanya menggunakan pakaian dalam dan tubuh kekar di penuhi tato.


Selagi semua orang di aula bawah sibuk mengurus patung batu dan saling mengajukan harga.


Lelaki tua paruh baya itu menuangkan minuman dalam gelas Zen.


Dia begitu santai, tertawa lepas, menenggak semua air keras itu dalam sekali tegukan, kemudian tertawa kembali seakan-akan menjadi orang paling bahagia.


"Cepat lah minum atau kau tidak bisa menikmati kebahagiaan ini." Paksa orang tua.


"Aku tidak suka kebahagiaan yang membuat kepala ku pusing." Jawab Zen dengan menolak.


"Memang kau pikir untuk apa hidup mu selama ini ?." Balasnya dengan marah.


Rumit Zen menjawab..."Itu pertanyaan jebakan, tapi yang jelas aku tidak hidup hanya untuk mabuk saja."


"Cih dasar pengecut, lihat aku bahkan sudah menghabiskan delapan botol."


"Harusnya pak tua tahu batasannya, akan merepotkan jika anda tiba-tiba saja tewas mendadak." Zen memberi peringatan tentang kesehatan pak tua satu ini.


"Jangan dipikirkan, jangan dipikirkan, kau akan kehilangan banyak hal saat memikirkan hal yang tidak perlu."

__ADS_1


"Hmmm untuk kali ini aku setuju."


Zen coba menghormati pak tua itu dan menenggak satu gelas, tapi sebagaimana dirinya tahu, sebanyak apa pun dia meminum arak, tuak atau oplosan alkohol 100% tidak memiliki pengaruh apa pun jika kemampuan ketahanan fisik terhadap racun masih dia aktifkan.


Barang pertama telah selesai, dimana patung batu giok itu terjual hingga 730 koin emas, sudah dua kali lipat dari harga awal yang di tetapkan.


"Baiklah untuk barang kedua yang kami lelang adalah baju besi atau Zirah tempur dari logam platinum kualitas tinggi dan dibuat oleh pengrajin senjata terkenal di daratan tengah, Empu Silatu Zang."


Zen masih belum tertarik, apa yang bisa dia ciptakan bahkan jauh lebih baik dari pada baju besi itu.


"Sebagai harga awal, kita mulai di angka 600 koin emas."


"630."


"700."


"Sepertinya ada yang begitu antusias memiliki baju Zirah tempur buatan empu Silatu Zang, apa ada lagi ?."


"710 koin emas."


Lelaki tua di sampingnya mulai bicara kembali, namun kali ini dia terlihat seperti sedang merajuk.


"Hei anak muda, apa kau ingin mendengar cerita ku." Ucapnya setelah menghabiskan satu botol sekaligus.


"Tidak..." Jawab Zen.


"Padahal aku berkata tidak." Gumam Zen menepuk kepalanya pusing.


"Kau tahu, istriku yang ke tujuh ingin merayakan ulang tahun pernikahan kami..."


Zen terkejut mendengar pernyataan bahwa tua bang*ka bau tanah ini memiliki tujuh istri, dan masih ingin merayakan ulang tahun pernikahan.


Pak tua mulai bercerita...."Aku bingung harus memilih hadiah yang pantas, karena itu aku datang ke rumah lelang ini. Tapi tetap saja aku bingung harus memberikan hadiah apa... anak muda apa kau bisa membantuku mencari sesuatu yang menarik untuknya."


"Pak tua, itu adalah istrimu, kenapa juga aku harus merepotkan diri untuk mencari hadiah."


"Ayolah, usia istriku dan kau sama-sama muda, jadi mungkin kau tahu apa yang dia suka." Jawabnya tertawa senang.


"Kau terlalu mabuk pak tua, menganggap istrimu itu wanita muda." Zen merasa dia hanya membual.


"Aku tidak mabuk, dia benar-benar masih muda."


Sekali lagi Zen terkejut, menyatakan bahwa istrinya berusia sama seperti dirinya, tentu ada alasan kenapa dia menikah dengan lelaki tua.


"Jadi apa kau memiliki ide ?."


"Warisan mungkin." Asal saja Zen menjawabnya kemudian tertawa.


"Aku memiliki banyak uang, tanpa perlu dia meminta warisan, istriku bisa membeli apa pun yang dia mau."

__ADS_1


"Pak tua, kalau istrimu itu cinta kepadamu, sekali pun kau memberikannya kadal, dia pasti akan senang." Kata Zen tertawa sendiri.


"Benarkah ?."


"Itu hanya perumpamaan, jangan berpikir dia benar-benar menginginkan seekor kadal."


Barang ke dua pun telah terjual untuk harga cukup mahal hingga menembus 1.200 koin emas. Itu sangat fantastis, bahkan Zen tidak menyangka bahwa sekedar baju zirah bisa mendatangkan keuntungan besar.


Untuk selanjutnya, pembawa acara pun mengeluarkan batu jiwa binatang iblis kategori SS, dimana itu adalah batu milik Zen.


"Sekarang kita memiliki Batu jiwa binatang iblis kategori SS yang langka, lihat saja dari ukurannya, warna cerah dan aroma energi begitu kental, akan sangat rugi jika anda melewatkan kesempatan ini."


Orang-orang pun mengangguk setuju dan terlihat bahwa mereka tertarik untuk mendapatkannya.


"Kita buka di harga 1.000 koin emas."


"1.010 koin emas."


"1.030 koin emas."


"1.100."


Zen merasa bahwa dia bisa membuka kesempatan agar mendapat lebih banyak keuntungan.


Sebenarnya cara sederhana adalah menaikan nilai dengan mengajukan penawaran atas dirinya sendiri. Tapi ini akan sangat beresiko.


Dimana saat harga tertinggi berasal dari Zen dan orang lain tidak mampu menawar lebih, dia harus membayar sesuai harga yang di sepakati, kemudian terpotong biaya administrasi. Itu jelas menjadi kerugian.


Tapi di sisi Zen ada orang yang mungkin tertarik.


"Pak tua, apa kau pernah berpikir untuk memberi istrimu itu hadiah berupa pahatan patung dari batu jiwa binatang iblis ?." Ucap Zen kepada pak tua.


"Tidak, aku hanya berpikir akan memberikannya sepasang burung, cincin permata atau sepasang ****** ***** kain sutra." Jawabnya.


Zen tidak habis pikir dengan hadiah terakhir yang pak tua sebutkan..."Kalau begitu, coba kau menggunakan ide ku, tentu tidak salah."


"Baiklah."


Tiba-tiba saja lelaki tua itu berdiri, dia mengacungkan tangan sebagai tanda agar bisa mengajukan harga.


Pak tua yang sedang mabuk ternyata cukup mudah dimanipulasi agar mau bersaing dengan orang-orang itu untuk mendapatkan harga batu jiwa binatang iblis miliknya.


Dengan santai Zen menenggak minuman di gelas.


"Harga tertinggi masih 1.450 koin emas, apa ada yang berani mengajukan harga lebih ?."


"Tiga ribu koin emas." Ucap pria tua tanpa ragu.


Seketika semburan air keluar dari mulut Zen terkejut mendengar nominal yang pak tua itu ajukan.

__ADS_1


__ADS_2