
Satu makhluk yang setara dengan binatang iblis kategori SSS memang sangat sulit di kalahkan, terlebih lagi kemampuan regenerasi luka milik mereka terlalu cepat.
Bahkan saat ini, meski pedang besar sudah menancap dan menembus dada makhluk itu tapi tidak menunjukkan tanda-tanda dia akan tewas. Meronta-ronta, berusaha memotong paksa bagian tubuh yang terkunci oleh pedang, dan memulihkan kembali setiap organ di tubuhnya.
Sebelum makhluk itu terbebas, cepat Zen mengeluarkan lebih banyak pedang, ada ratusan di langit dan mulai menghujani tubuh itu hingga bertumpuk-tumpuk.
Tapi perlawanan Dungeon belum berakhir, batu jiwa yang menjadi inti kehidupan seluruh makhluk mengeluarkan sinar cahaya merah terang.
Zen bisa merasakan sensasi berbahaya mendekat, kilat cahaya yang datang dengan mengeluarkan energi berkonsentrasi tinggi dilepaskan.
Zen melompat begitu juga Sena, garis lurus ketika cahaya itu lewat, ledakan demi ledakan memborbardir seluruh ruangan. Bahkan secara sengaja di arahkan ke tubuh makhluk yang tertimbun oleh tusukan senjata.
Batu jiwa sadar, dia pun memiliki kecerdasan yang sama seperti manusia, melakukan serangan demi melepas penguasa lantai dari kematian.
Tubuh terbelah menjadi potongan kecil, tapi perlahan menyatu kembali untuk membentuk tubuhnya seperti semula. Batu jiwa Dungeon melayang mendekat, masuk kedalam tubuh mahluk itu dan memberi energi yang lebih kuat.
"Aku tidak pernah mendengar jika batu jiwa Dungeon bersatu dengan monster." Ucap Sena terkejut.
"Kalau begitu ini kejadian langka." Asal saja Sena menjawab, meski itu benar adanya.
Makhluk yang baru saja bergabung dengan batu jiwa Dungeon kini mulai berevolusi, sebuah kelahiran sosok baru. Ibarat kepompong, punggung itu terbelah dua, dan wujud humanoid hitam keluar dari sana.
"Setelah puluhan tahun aku melihat begitu banyak manusia datang untuk menaklukan ku, tapi mereka harus menyerahkan nyawa. Semua energi yang terkumpul membuatku memiliki kekuatan di tubuh ini." Gelegar tawa mengguncang seluruh ruangan.
Tidak bisa terbayangkan selama bertahun-tahun banyak Hunter yang tewas di dalam Dungeon, tapi energi tubuh mereka tidaklah lenyap, melainkan menjadi nutrisi untuk menumbuhkan Dungeon menjadi lebih besar.
Semakin banyak energi terkumpul semakin kuat pula inti jiwa Dungeon itu, sedikit demi sedikit menumbuhkan kesadaran spiritual sehingga menjadi seperti sekarang.
Inti jiwa Dungeon mendapat tubuhnya sendiri dan ingin membunuh Zen dan Sena agar bisa memiliki kekuatan yang diberikan oleh para Dewa.
"Jangan berpikir hanya dengan kekuatan itu kau bisa mengalahkan kami." Ucap Zen.
Namun makhluk itu tertawa keras..."Mungkin benar jika kalian datang ke dalam Dungeon lima tahun lagi, aku tidak akan memiliki kesempatan untuk mengalahkan kalian berdua, tapi sekarang berbeda, kalian lah yang harusnya sadar seberapa besar kekuatan ini."
__ADS_1
Kilauan cahaya merah melesat lurus menuju arah Sena, Zen mengambil tindakan nekad, dia melompat dan mendorong Sena agar bisa di selamatkan.
Zen melindungi Sena dari serpihan batu akibat ledakan, kekuatannya hampir menyamai kekuatan mahluk kategori Legenda. Terlalu kuat untuk dihadapi oleh mereka sekarang.
"Zen apa kau baik-baik saja."
"Tidak masalah, hanya luka kecil karena lemparan batu." Jawab Zen tersenyum pahit.
Bisa terbayang bagaimana jika Sena menerima serangan itu secara langsung, luka fatal akan membunuh dia, meski pun tubuh pahlawan memiliki kemampuan regenerasi, tapi itu percuma.
Sena menarik tubuh Zen untuk berdiri, mereka terlalu naif jika menganggap musuh yang sekarang mudah dikalahkan.
"Apa yang harus kita lakukan ?, Ini terlalu berbahaya." Sena tidak bisa untuk tetap tenang.
"Meski pun kau bilang begitu, kita tidak bisa keluar sekarang, dia pasti akan mengejar kita berdua." Jawab Zen.
Terbayang jelas dalam benak Zen akan kehidupannya di masa lalu, dia sudah melewati banyak hal hingga kehilangan segalanya untuk menjadi bahagia.
Dan sekarang hidupnya berubah, dia tidak hanya memiliki waktu bersantai, cita-cita yang bisa dia capai dan wanita cantik dia cintai.
"Aku tidak akan pernah membiarkan semua berakhir di sini, aku masih belum cukup menikmati hidupku yang sekarang dan aku bahkan ingin memiliki keturunan dengan wanita yang aku cintai, jadi aku akan korbankan semuanya."
Sorot mata Zen melihat sosok itu dengan tatapan serius, Sena pun merasakan sendiri jika lelaki yang ada di sampingnya benar-benar memiliki tekad kuat.
"Sena, kau lindungi aku dari belakang, aku akan melawannya secara langsung." Tegas tujuan Zen yang sudah membulatkan tekad.
"Tapi.... Kau bisa terbunuh." Sena khawatir.
Hanya saja Zen tersenyum sebelum menjawab...."Tidak akan aku biarkan hidupku yang sekarang berakhir sia-sia, aku masih belum cukup untuk menikmatinya."
Ini pertama kalinya Zen serius, dia tidak memiliki alasan untuk bertarung sampai mati. Tapi sekarang ada Sena, kematian hanya akan menjadi penyesalan kedua dalam hidup.
*******
__ADS_1
Raja yang duduk di atas singgasana, dan beberapa petinggi kerajaan pun hadir.
Mereka telah menerima laporan tentang kerusakan yang di buat oleh monster Dungeon setelah memasuki dinding perbatasan utama.
Wilayah timur, barat, Utara dan selatan sudah di hancurkan oleh para monster, penduduk yang hidup di sana menerobos masuk ke wilayah pusat untuk mengungsi.
Rumit wajah Sang raja Alberto, karena ini pertama kali bagi kerajaan Villian menerima kerusakan parah dari serangan monster. Bahkan dalam perang dengan kerajaan tetangga, kerajaan Villian masih berdiri kokoh tanpa kerugian.
Tapi sekarang, seperti bencana datang untuk meratakan seluruh kerajaan Villian, bisa terbayang bagaimana nasib semua orang ketika monster berhasil menembus wilayah tengah.
Salah satu bangsawan petinggi kepada Raja dia adalah Evan Rolfe...."Kita sudah mengirimkan prajurit dan Hunter untuk melawan para monster, tapi jumlah mereka terlalu banyak, mustahil kita bertahan lebih lama."
"Bagaimana dengan permintaan kita kepada guild pusat untuk mengirim bantuan." Tanya raja Alberto.
Namun raut di wajah Evan benar-benar pasrah...."Sudah dua hari, tapi tidak ada tanda-tanda jika guild pusat mengirimkan Hunter lencana kerajaan."
Prajurit memasuki ruangan, dia segera berlutut untuk memberi laporan terbaru tentang penyerangan para monster.
"Tuanku, para Hunter dari guild kerajaan tetangga sudah datang mereka telah mulai memberi perlawanan. Tapi pintu masuk menuju wilayah tengah di buka paksa oleh penduduk agar bisa masuk." Ucap prajurit itu.
Evan Rolfe merasa emosi, karena di dia tahu tindakan para penduduk akan membuat istana dalam masalah..."Dasar orang-orang rendah, apa mereka tahu, bahwa tidak layak hidup setelah membahayakan keselamatan kita, bangsawan kerajaan."
Tanpa perlu ragu lagi Evan Rolfe pun angkat bicara untuk memberi perintah.
"Kumpulan semua orang yang membuat kekacauan, hukum mereka." Tegasnya.
"Ya tuan ku, tapi kami juga menerima laporan jika ada dua orang yang menyamar sebagai manusia, mereka adalah iblis dari kaum Ra'e." Prajurit memberi laporan lain.
"Iblis terkutuk, aku yakin semua keanehan ini berasal dari iblis Ra'e itu. Mereka bisa mengendalikan para iblis agar menyerang kerajaan." Raja Alberto pun tahu tentang sosok Ra'e yang memiliki kekuatan lain.
Evan Rolfe tahu apa yang harus dia lakukan..."Tangkap mereka, bawa kemari hidup-hidup."
"Baik tuanku." ... Prajurit itu undur diri dan melakukan apa yang menjadi perintah dari Duke Evan Rolfe.
__ADS_1
Mereka sadar, seberapa menakutkan sosok iblis kaum Ra'e, dikatakan sebagai iblis terkutuk karena mampu mengendalikan semua orang tanpa bisa melawan.
(Besok libur update dulu, mau refreshing dan mudik.)