KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Memancing


__ADS_3

Di hari ke tiga, barulah Zen dan Sena berhasil menemukan pintu keluar dari labirin panjang serta sangat rumit itu.


Sudah banyak hal mereka lalui bersama, saling membantu dan menjaga satu sama lain. Hingga keduanya benar-benar memiliki ikatan hubungan yang begitu dekat.


Hanya saja apa yang mereka hadapi untuk bisa memasuki pintu menuju lantai 48 bukan hal mudah. Karena di sana ada dua Golem besar dengan aura energi setingkat monster kategori S namun sedikit lebih kuat lagi.


"Sepertinya dia Golem penjaga itu bukan lawan yang mudah." Gumam Zen sedikit takjub.


"Meski begitu, bukan berarti tidak bisa kita kalahkan." Jawab Sena penuh percaya diri.


Zen menganalisa, Golem batu itu berbentuk seperti dua patung kesatria dengan tameng dan pedang yang terbuat dari logam platinum.


Kemampuan skill pencipta milik Zen sekarang hanya mampu membuat pedang setingkat logam platinum, sehingga akan sangat sulit jika harus melukai Golem dengan struktur tubuh yang sama.


Jika pun harus membuat senjata dari logam di atas platinum, yaitu Mytril atau Adamantium, Zen tidak memiliki informasi spesifik soal dua logam yang hanya ada di dunia baru Dios.


"Kalau saja aku bisa menyalin sembilan senjata milikmu. Ini tidak akan sulit."


"Kau tidak bisa menyalahkan dirimu, karena itu Zen."


"Untuk sekarang, aku benar-benar mengandalkan mu, Sena, aku akan memancing perhatian mereka dan kau menyerangnya dengan senjata yang lebih kuat."


Sena memiliki sembilan senjata yang masing-masing mempunyai kekuatan khusus, seperti Basoka dengan daya hancur setara sihir tingkat saint, tapi itu terlalu berbahaya jika digunakan dalam Dungeon.


Zen meminta Sena hanya menggunakan senapan laras panjang yang dia ubah menjadi sniper jarak jauh. Itu akan sangat efektif, dimana peluru energi milik skill sembilan senjata mampu menembus benda apa pun dan memberi efek serangan sihir.


Kini Sena menempatkan diri di belakang Zen dengan posisi siap menembak. Satu peluru dia lepas dan menghancurkan perisai milik Golem yang dilapisi energi pelindung.


Secara sengaja itu menarik perhatian kedua Golem untuk bergerak dan menyerang ke arah Zen.


Tapi Zen sudah siap, dia mengangkat tangan untuk memunculkan partikel cahaya yang mewujud diri menjadi dua bilah pedang platinum besar.


Satu ayunan tangan melepas dua pedangnya untuk melesat lurus ke arah dua Golem kesatria itu. Benturan dua logam yang sama-sama kuat menggetarkan dinding labirin.


Zen mampu menahan gerakan Golem dan memukul mundur mereka agar tidak mendekatinya. Saat itu juga satu persatu tembakan sniper memecah perisai dan menghancurkan bagian tubuh Golem.

__ADS_1


Hanya saja, Golem adalah monster yang diciptakan oleh Dungeon, selama inti jiwa Dungeon masih aktif, mereka akan mampu memperbaiki diri dalam wujudnya seperti semula.


Kedua Golem melompat, menghujamkan pedang ditangan mereka yang memecah lantai labirin hingga berlubang.


Zen dan Sena berhasil menghindar, mereka kembali bersiap dalam serangan lanjutan karena itu menjadi satu-satunya cara.


"Sena, tambahkan lebih banyak energi di dalam peluru senjatamu."


"Aku mengerti."


Zen bertahan, dia memegang pedang besar di tangan, berusaha menangkis setiap ayunan pedang dari para Golem meski itu sangat sulit.


Satu serangan yang dia terima dirasa berat, lantai di pijakan kakinya hancur tiap kali Zen bertahan.


Satu peluru dengan energi yang lebih kuat menghancurkan bagian tubuh Golem, Zen melihat batu energi berwarna merah yang menjadi inti kehidupan mereka.


Kini dia tahu harus berbuat apa.


Zen kembali menciptakan pedang lain, namun kali ini dia memberi lapisan energi sihir api untuk menambah daya serangan.


Dua pedang itu melesat dan menghancurkan lapisan tubuh platinum dari kedua Golem. Saat bagian tubuh yang menyimpan inti kehidupan terbuka.


Sebelum lapisan tubuh Golem di regenerasi kembali, satu peluru menembus dan menghancurkan batu yang menjadi inti kehidupan Golem.


Satu hancur menjadi tumpukan batu tanpa mampu untuk bangkit lagi.


Sayangnya, masih ada satu Golem tersisa dan Sena kehabisan energi untuk melepaskan tembakan kedua.


Zen tidak bisa menunggu hingga Sena mengisi ulang energinya, dia pun melompat maju dan memberi serangan langsung.


Pedang di tangan Zen berusaha menembus lapisan tubuh platinum, tapi hanya satu ayunan, pedangnya patah dan Zen harus menciptakan pedang lain hingga puluhan kali.


Ketika batu jiwa kehilangan Golem terbuka, saat itu juga, Zen menghunuskan pedang dan menghancurkannya.


Zen dan Sena sudah mengalahkan monster penjaga pintu lantai 48. Kali ini, mereka tidak mendapat luka sama sekali, hanya kehabisan energi karena melawan Golem yang tidak henti-hentinya memperbaiki tubuh.

__ADS_1


*******


Lantai 48, menjadi tempat yang dipenuhi kobaran api dari aliran lava merah menyala, panas seperti di dalam kawah gunung berapi dan dipenuhi gas belerang.


Tubuh pahlawan memiliki kekebalan terhadap racun dalam tingkatan tertentu, sehingga gas belerang tidak memberi pengaruh apa pun kepada Zen dan Sena. Tapi jika itu Hunter lencana emas sekali pun mereka akan tewas setelah beberapa menit masuk ke dalam lantai 48.


Dari bawah kolam magma itu, muncul tiga monster yang menjaga lantai 48, yaitu binatang iblis kategori S, ikan hiu magma, ini seperti penguasa lantai meskipun belum di ujung penaklukan.


"Bagaimana, apa kita akan melawan hiu-hiu ini atau kita meninggalkannya." Tanya Sena karena dia sendiri sedikit ragu.


"Apa mereka sulit di kalahkan." Zen penasaran.


Tapi Sena tahu cara mengatasi hiu magma itu...."Satu-satunya cara untuk melawan mereka adalah menarik mereka keluar dari kolam magma."


Melawan hiu magma di dalam habitatnya sangatlah sulit, dimana setiap serangan tidak memberi pengaruh apa pun dan meregenerasi luka-luka mereka setelah menyelam kembali di dalam magma.


"Sepertinya sulit, tapi ini menjadi pengalaman menarik, karena pertama kalinya aku memancing ikan hiu dan juga, batu jiwa binatang iblis ini sangatlah langka, aku ingin mendapatkannya." Ucap Zen merasa bersemangat.


"Baiklah, aku akan membantumu."


Karena mustahil memancing seekor ikan dengan kail pancing biasa di dalam magma yang panasnya mencapai 1.050° Celcius. Maka Zen menggunakan kekuatan skill pencipta untuk membuat alat pancing dari logam platinum.


"Jadi apa yang jadi umpan ikan hiu magma ?."


"Entahlah, batu mungkin ?." Asal saja Sena menjawab.


"Kenapa batu ?." Zen balik bertanya.


"Memangnya ada binatang yang bisa hidup di tempat panas seperti ini."


"Ya kau benar. Jadi aku pikir menggunakan salah satu daging buruan kita sebagai umpan." Jawab Zen sudah siap mengeluarkannya dari dalam dimensi penyimpanan khusus.


"Jangan, itu sangat mubazir, kau hanya akan membuang-buang daging yang berharga." Sena tegas menolak rencana Zen.


Tapi tanggapan Sena tentang makanan hiu magma pun terjawab, ketika lima ekor Salamander api berjalan mendekat ke arah mereka. Salah satu hiu melompat dari dalam kolam, kemudian menerkam satu Salamander untuk di makan secara cepat dan ganas.

__ADS_1


"Tangkap Salamander itu."


Salamander yang awalnya ingin menargetkan Zen dan Sena untuk dijadikan mangsa, kini berbalik, Salamander itulah yang di kejar oleh Zen sebagai umpan pancing.


__ADS_2