KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Batas waktu


__ADS_3

(note : untuk yang berpuasa, dimohon bijak dalam membaca, sebaiknya menunggu berbuka puasa, karena update pas di bulan Ramadhan..... Resiko di tanggung pembaca,Terimakasih.)


Di siang itu....


Sena tidak mau melepaskan apa pun yang dia miliki sekarang, tujuh hari di dalam dimensi ilusi sudah memberikan banyak hal indah dan itu tidak ingin berakhir.


Tidak peduli soal iblis dan manusia, tidak peduli tentang ikatan tali perjodohan keluarga kepada sang pangeran, bahkan jika ini menentang takdir Dewa, Sena tetap tidak peduli.


Dia sudah jatuh cinta kepada Zen dan benar-benar ingin di setiap kesempatan untuk mengekspresikan tentang perasaan cintanya. Namun ketika Zen berniat mengorbankan diri, ketakutan itu muncul.


"Sena, ada apa dengan mu." Zen berusaha menyadarkan Sena.


Suara Sena terdengar lirih seakan putus asa..."Untuk sekali ini, aku ingin melakukan lebih."


"Kau bisa meminta itu nanti setelah kita kembali ke dunia nyata."


"Bagaimana jika tidak, aku ragu, aku takut... Anggapanmu tentang jebakan dimensi ini adalah salah, kalau kau mati lalu bagaimana denganku, apa kau ingin meninggalkan ku sendirian di sini." Ucap Sena dengan air mata yang jatuh di atas pipi.


Perlahan tangan Zen mengusap, membelai lembut dengan tatapan mata sendu. Lembut ciuman dari bibir Sena dipenuhi rasa kegelisahan, seperti enggan untuk melepas Zen pergi dan dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.


"Paling tidak, hari ini, aku ingin kau menemani keegoisan ku." Ucap Sena meminta.


"Jika memang itu yang kau mau Sena."


Sena mendorong tubuh Zen jatuh ke atas pasir, meski pun sekarang mereka berada di luar tenda dan hari masih terang untuk beraktivitas olahraga.


Bahkan tanpa ragu dia sudah melemparkan pakaiannya entah kemana, hanya dua aset pribadi yang tampak sombong melekat lembut saat bersentuhan.


Tidak ada sedikit pun kesempatan menghindari godaan tubuh wanita secantik Sena, dia menahan kuat tubuh Zen dengan duduk di atas senjata yang tersimpan di balik celana.


Rasa basah dan hangat membuat Zen menjadi bersemangat, aroma wangi tubuh itu membangkitkan gairah, senjata yang dia miliki pun sudah dikeluarkan paksa dari sarangnya.


Di genggam oleh tangan lembut dengan perlahan, mulai mengelus senjata yang sudah dia keluarkan, berdiri tegak menantang, tanpa lawan, tanpa mampu dipatahkan dan siap melaksanakan kewajiban.


Sena menempatkan posisi di atas, tanpa ragu atau pun malu, dia bergerak perlahan untuk turun semakin bawah dan menikmati sensasi luar biasa ketika semua di telan habis.


Namun ekspresi di wajah Sena tidak seindah biasanya, meski mereka berdua saling menikmati satu sama lain, tapi Zen bisa tahu, jika Sena menggerakkan tubuh dengan pikiran yang putus asa.


Semua yang dia dapatkan sekarang adalah tentang perasaan cinta Sena kepadanya. Dia tidak ingin melihat sebuah keputusasaan hadir dalam kehidupan yang mereka jalani sekarang.


"Dengarkan aku, Sena. Tolong berhenti." Ucap Zen menenangkan emosi wanitanya.

__ADS_1


"Tidak...." Teriak Sena keras.


Bibir mungil itu datang menghentikan Zen untuk bicara, gigitan yang keras, cengkraman yang erat dan meremas senjatanya dengan kuat. Hingga semua harga dirinya tumpah memenuhi tubuh Sena.


Untuk satu jam yang mereka lewati bersama, permainan Sena terlalu kuat, dia mendominasi segalanya, bahkan Zen merasa stamina di kuras habis dan lebih melelahkan, daripada permainan mereka selama dua hari, tanpa mau melepaskan tubuh masing-masing.


Tapi itu belum berakhir. Sena memaksakan diri meski pun sudah berulang kali mencapai titik kenikmatan yang luar biasa.


"Sena berhenti..." Ucap Zen.


Seakan tidak peduli dengan permintaan itu, Sena terus bergerak seperti orang gila.


"Cukup, Sena... Tolong berhenti."


"Tidak, jika aku berhenti, kau akan meminta ku untuk membunuh mu. Aku tidak ingin semua berakhir." Keras suara Sena menolak.


"Jika kau melakukannya seperti ini, kau juga akan membunuhku."


Siapa pun memiliki batas kekuatan, emosi yang tidak terkendali membuat mereka kehabisan energi. Perlahan Zen bangkit, menahan tubuh Sena agar diam dan berhenti bergerak seperti ingin bercinta sampai mati.


"Tapi..... Tapi....." Ucap Sena lirih.


"Baiklah, aku tidak akan meminta mu melakukannya, kita akan tetap disini selama satu bulan lagi dan aku mencoba cara lain untuk kembali."


Tatapan mata Sena sangat menyedihkan, rambut yang berantakan dan tetesan air mata masih jelas terlihat.


"Ya aku berjanji, jadi jangan menunjukkan ekspresi menyedihkan seperti ini lagi."


"Hm." Mengangguk kepala Sena.


Meletakan tubuh dalam pelukan Zen seakan-akan sosok itu akan lenyap ketika dia lepas.


"Jangan melakukan sesuatu yang nekad Zen, aku sudah kehilangan banyak hal, aku jatuh cinta denganmu dan aku tidak ingin kau juga menghilang dari hidupku."


"Aku akan berusaha melakukannya."


Dimana memang ada kemungkinan lain yang bisa saja terjadi, ketika sebuah Jiwa masuk kedalam dimensi kemudian terbunuh, maka akan berpengaruh kedalam kenyataan.


Itu artinya kematian mereka di dimensi ilusi atau dunia nyata adalah mutlak.


Sehingga waktu satu bulan adalah batasan untuk seorang manusia biasa mampu bertahan tanpa mendapat pasokan sumber energi dalam tubuh mereka.

__ADS_1


Meski pun tubuh pahlawan memiliki ketahanan fisik yang lebih kuat dari manusia biasa, tapi Zen tetap menghitung kemampuan sebagaimana manusia normal hidup. Dia tidak ingin mengambil resiko lebih banyak untuk tetap berada di dalam dimensi ilusi.


Setidaknya kali ini mereka tahu apa yang harus dilakukan. Mempelajari sistem kerja dari skill dimensi dan berusaha untuk menghancurkannya.


"Kalau begitu bisa kau berdiri. Sena."


"Tidak mau, biarkan tetap seperti ini, aku masih ingin bersamamu lebih lama lagi."


"Kau benar-benar egois."


"Maaf jika aku memang wanita egois."


Sungguh Wanita ini terlalu luar biasa, kalau bukan dirinya memiliki kekuatan pahlawan, siapa pun lelaki yang bertarung dengan Sena, tidak akan bertahan untuk satu hari.


"Aku tidak membenci sifatmu, jadi baiklah, sekarang biar aku bermain."


"Lakukan semua yang kau inginkan, Zen."


Hanya dengan bisikan suara lembut yang nakal itu, semangat Zen kembali membara, dia tidak mau melepas kesempatan dengan bercengkrama bersama Sena.


Tanpa sadar, satu hari berlalu begitu saja....


Keduanya mulai membersihkan diri dalam satu bak mandi bersama, Zen menciptakan shampo dan Sabun, mengosok setiap inci di tubuh Sena, begitu pun sebaliknya.


Zen sedikit menggoda dan bermain-main menggunakan tangan yang membelai mesra bagian tubuh indah Sena.


"Aku merasa akan hamil jika melakukan hal-hal ini setiap hari." Ucap Sena tersenyum senang.


Tapi kerumitan terlihat jelas di wajah Zen..."Sepertinya itu ide yang buruk."


"Kenapa ?, Apa kau tidak ingin memiliki anak bersamaku." Balas Sena bingung.


"Bukan seperti itu, karena pada akhirnya, anak dari manusia dan iblis selalu memiliki takdir yang tidak baik-baik saja."


"Terserah takdir mau berkata apa, selama aku di samping mu, aku akan bahagia." Ucap Sena mencoba memahami kerumitan dalam pikiran Zen.


Sena paham kenapa Zen terlihat bingung untuk banyak hal yang akan terjadi kepada mereka berdua di masa depan.


Iblis dan manusia seakan sudah menjadi musuh secara tidak langsung di dunia lama, tapi dunia baru Dios memperlihatkan seperti apa wujud dari para iblis, sehingga manusia tahu siapa musuh mereka.


Keberadaan manusia setengah iblis adalah hal tabu dan tidak pernah terjadi di dunia Dios.

__ADS_1


Meski pun Zen terlihat seperti manusia pada umumnya, tapi genetika di dalam darah tetap sebagai iblis. Sehingga hampir tidak mungkin membentuk benih di rahim Sena.


__ADS_2