
Atas permohonan dari Sena itu, pangeran Alvardo mengurungkan niat untuknya bertemu, bagaimana pun juga sena sudah satu Minggu lebih bertaruh nyawa di dalam Dungeon dan sekarang berhasil keluar.
Tentu perjuangan melawan monster di dalam Dungeon membuatnya lelah dan tidaklah salah jika malam ini dia ingin beristirahat tanpa ada seorang pun mengganggu.
Meski pun pada kenyataannya berbeda dari anggapan Pangeran Alvardo. Di dalam kamar itu, Sena masih berjuang keras menahan suara kenikmatan atas perbuatan Zen yang terus menerus menggoda.
Di gigitnya bibir dengan keras dan mengatur nafas perlahan meski tersengal-sengal, semua itu agar suaranya tidak keluar dan terdengar oleh orang di luar kamar.
Sebelum pangeran pergi dia berkata...
"Baiklah putri Sena, aku akan pergi sekarang, beristirahat lah dengan baik, besok aku akan datang lagi untuk menemui mu."
"Ya .... Pangeran, terserah lah." Acuh jawaban Sena.
Dia tidak bisa berkonsentrasi untuk mendengar suara pangeran, sedangkan Zen terus menerus menyerang tanpa memberi kesempatan bagi Sena menjawab perkataan pangeran.
Zen merasa kesal karena kegiatan mereka terganggu oleh pangeran itu dan membuat Sena tidak fokus, hingga sedikit gerakan mendorong masuk senjatanya lebih dalam.
"Aaaahhhhh... Hmmmm." Kini suara rintihan lembut terdengar sedikit keras.
Tentu telinga pangeran cukup tajam ketika dia mendengar rintihan suara Sena, tapi itu juga membuatnya penasaran.
"Putri apa yang terjadi. " Pangeran coba membuka pintu kamar Sean.
Suara engsel pintu berdecit Sena dan Zen terkejut tiba-tiba..."Jangan masuk, kalau kau melakukannya, aku tidak akan mau lagi melihat wajahmu."
Mendengar ancaman itu, pangeran mengurungkan niatnya dan segera menutup pintu kembali.
"Apa kau baik-baik saja." Tanya pangeran Alvardo bingung.
Meski pun dia merasa tidak senang karena ini pertama kali bagi seorang pangeran yang di kagumi oleh para wanita harus menuruti perintah dari satu wanita saja.
Ini jelas menunjukkan bahwa Pangeran Alvardo tidak ingin membuat Sena membenci dirinya. Sena bagi pangeran Alvardo adalah sosok spesial. Kecantikan luar biasa tanpa ada satu orang pun mampu menandinginya, sehingga hasrat ingin memiliki Sena menjadi tujuan utama.
"Aku tidak apa-apa, aku sedang melakukan penyembuhan jadi ini terasa tidak nyaman, karena beberapa tulangku patah." Jawab Sena memberi alasan yang cukup wajar.
__ADS_1
"Aku mengerti maaf atas ketidaksopananku, apa perlu aku panggilkan dokter kerajaan agar bisa membantumu." Pangeran Alvardo coba memberi bantuan.
"Tidak perlu pangeran, terimakasih, aku hanya perlu beristirahat sekarang." Jawab Sena.
Di dalam kamar. Keras tamparan ke wajah Zen. Wajah Sean cemberut, dia kesal namun tidak bisa marah.
"Kau sengaja kan !!!, Bagaimana jika orang tahu." Ucap Sean dengan suara pelan dan berbisik.
"Kau sendiri yang meremasnya dengan kuat, aku tidak bisa menahan diri, lagian juga salah orang itu datang di saat kita sedang melakukan ini." Balas Zen tidak mau di salahkan.
"Tapi tetap saja, akan jadi masalah kalau kita ketahuan." Sena mencubit pipi Zen.
"Apa itu artinya aku harus berhenti."
"Jangan..." pada akhirnya Sena tidak ingin melepas Zen.
Pangeran yang masih berdiri di depan pintu kini berniat pergi sekali lagi...."Kalau begitu aku pergi putri Sean."
"Ya....hmmmm."
"Aku cemburu, kau lebih senang bicara dengan lelaki lain dari padaku." Ucap Zen menggoda Sena.
"Bagaimana bisa kau cemburu, jelas-jelas aku pun terpaksa menjawab ucapan lelaki itu." Balas Sena tersenyum sendiri mengetahui sikap Zen lucu ketika merajuk.
"Kau harus menerima hukuman." Bisik Zen di telinga Sena.
Semakin kuat Zen mendorong tubuh nya untuk mengacak-acak Sena.
Bahkan suara rintihan Sean yang sudah sekuat tenaga di tutupi oleh tangan bisa terdengar hingga bawah, tapi tentu semua orang hanya menganggap itu bagian dari proses penyembuhan luka saja.
Zen tidak akan membiarkan Sena di miliki oleh orang lain, dia pernah menerima kenyataan pahit, tentang seorang wanita yang dicintainya harus menikah dengan lelaki lain.
Sehingga saat dia memiliki kesempatan untuk mendapat seorang wanita di kehidupan yang baru, dia akan berjuang keras tidak peduli jika saingannya adalah pangeran sekali pun.
*******
__ADS_1
Sedangkan Pangeran Alvardo hanya bisa pasrah karena saat ini dia tidak bertemu dengan Sena. Padahal tujuannya datang adalah untuk memberi perhatian, agar Sena tahu bahwa dia khawatir akan keselamatannya saat berada di dalam Dungeon.
Pangeran mahkota Alvardo Do Villian, calon penguasa kerajaan Villian ke 6 setelah nanti ayahnya, Raja Alberto Do Villian ke 5 turun takhta. Semua sudah di rancang sedemikian rupa untuk memberi singgasana kerajaan kepada setiap keturunan yang terpilih.
Seperti ungkapan dari para ahli ilmu psikologi jika sifat seorang manusia di tentukan oleh faktor lingkungan, pendidikan dan kontribusi keluarga yang menjadi tempat tinggalnya.
Dan semua kemuliaan sebagai anak seorang penguasa kerajaan itulah yang menjadikan Pangeran Alvardo menikmati hidup tanpa pernah ada satu orang pun berani menentang.
Dia adalah pangeran mahkota, putra sang raja, calon penguasa dan memiliki masa depan cerah untuk Sena sebagai permaisuri nya kelak.
Beranjak turun ke lantai bawah, di ruang tamu seorang lelaki paruh baya dan wanita. Itu adalah Erdan dan Ramsi, orang tua Sena yang sedang menikmati waktu minum teh dengan kudapan hadiah sang pangeran.
Erdan segera berdiri dan bertanya..."Pangeran Alvardo, Dimana Sean ?."
"Tuan Erdan... Sena masih di kamar, dia tidak ingin di ganggu, sepertinya kondisi tubuh putri Sean belum pulih dan kini sedang menyembuhkan diri."
"Begitu kah, maaf jika kesempatan untuk pangeran bertemu Sena terganggu, setelah kondisi Sean lebih baik aku akan memintanya datang ke tempat anda."
"Tidak perlu repot-repot, tuan Erdan. Biarkan Sena sembuh terlebih dahulu, bahkan jika memang perlu, aku akan mengirimkan dokter kerajaan agar Sena cepat pulih." Jawab Pangeran dengan menunjukkan diri sebagai lelaki perhatian kepada tunangannya.
Senyum di wajah Erdan melengkung semakin besar karena tahu bahwa sang pangeran mau melakukan apa pun demi Sena.
"Aku benar-benar berterimakasih, pangeran memang lelaki yang sangat perhatian, aku sebagai ayahnya merasa beruntung karena Sena bisa menjadi pasangan anda." Erdan cukup lihai untuk memberi pujian.
"Tapi tuan Erdan, apa menurut anda jika nona Sena dekat dengan seorang lelaki ?." Tanya pangeran Alvardo.
Ini adalah tentang anggapannya ketika melihat Sena dan seorang lelaki saat berada di dalam Dungeon. Bagaimana pun juga, sang pangeran memiliki banyak orang yang memberi laporan tentang kedekatan Sena kepada orang lain.
Erdan terkejut, dia tidak tahu soal apa pun mengenai pergaulan Sena..."Itu tidak mustahil pangeran, di kerajaan ini siapa yang berani mendekati Sena, sedangkan dia adalah tunangan anda. Lelaki itu tentu tidak sayang nyawa."
Pangeran Alvardo mengangguk-anggukkan kepalanya..."Anda benar tuan Erdan, baiklah aku akan pulang."
"Biar aku antarkan keluar pangeran."
Meski pun jawaban Erdan memang benar, jika tidak ada satu lelaki pun berani menyentuh wanitanya. Tapi kecurigaan pangeran Alvardo masih ada, dia akan menyingkirkan lelaki mana pun yang coba mendekati Sena.
__ADS_1