KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Dua wanita


__ADS_3

Di dalam rumah kecil yang menjadi tempat tinggal Hiyo...


Gadis itu pulang dengan rasa tidak nyaman di tubuhnya meski Hiyo sudah membersihkan diri dengan sihir air tapi tetap saja, sisa-sisa lendir dari darah semut tidak sepenuhnya hilang. Terlebih lagi aroma amis membuat siapa pun enggan mendekat.


"Oh kau sudah pulang Hiyo, apa semua berjalan lancar ?"


Sedikit mengendus.... "Bau busuk apa ini, menjijikan sekali."


Eri tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang rumit ketika mencium aroma menyengat di tubuh Hiyo.


"Jangan banyak tanya...." Tegas Hiyo tidak ingin bicara.


Seakan paham, Eri menutup mulut dan menganggukkan kepalanya.


Hiyo membuka jubah yang menutupi semua aset pribadi itu, melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membasahi tubuh dengan air.


Dia mengeluarkan sebuah barang pemberian Zen dari dimensi ruang penyimpanan khusus.


Balok putih kecil sebesar setengah telapak tangan dengan aroma harum. Hiyo tentu tahu benda apa itu, karena Zen menciptakan sesuatu yang berasal dari dunianya yang lama.


"Aku sudah lama ingin mandi dengan sabun." Senyum bahagia melengkung jelas di wajah Hiyo.


Sabun di dunia Dios adalah barang mewah dan hanya bangsawan saja mau membelinya, harga berkisar 50 koin perak, dimana itu sama dengan uang makan untuk sebuah keluarga dalam lima hari.


Tentu untuk Hunter miskin seperti Hiyo yang makan sehari-hari saja sulit, tidak pernah berpikir tentang membeli sabun sedangkan jumlah penghasilan tidak mencukupi.


Tapi dengan sabun pemberian Zen, Hiyo menikmati waktu untuk mandi dan membasuh seluruh tubuhnya yang di penuhi busa.


Di luar, Eri yang sibuk membersihkan busur panah baru miliknya, merasa tertarik ketika mencium aroma harum dari kamar mandi.


Dia mengikuti kemana aroma itu datang dan ternyata ada di dalam kamar mandi yang sedang Hiyo gunakan. Tanpa perlu menunggu Hiyo keluar, dia membuka pintu untuk melihat.


Hiyo terkejut saat pintu tiba-tiba saja terbuka..."A-apa yang kau lakukan Eri. Keluar."


"Aku penasaran aroma harum apa yang kau gunakan..." Ucap Eri penasaran.


"Ini bukan apa-apa, hanya sabun...." Jawab Hiyo gugup.


"Sabun ?, kau membelinya ?."


"Zen memberikannya kepadaku."

__ADS_1


Senyum di wajah Eri terasa aneh bagi Hiyo


..."Ini sangat harum, pasti harganya sangat mahal, apa kau merayunya untuk membelikan sabun ?."


"Aku tidak mungkin melakukan itu." Tegas Hiyo membantah.


Tapi untuk hal lain membuat Eri tertarik adalah ketika dia melihat Hiyo berusaha menutupi aset pribadi dengan tangannya.


Seakan-akan ketika Eri melihat tubuh Hiyo tanpa busana dia melupakan batasan antara sesama gender dan terhipnotis penuh kekaguman.


"Kau memiliki tubuh yang sangat bagus. Aku iri." Ucap Eri memberi pujian.


Hanya saja Hiyo tidak terbiasa mandi bersama orang lain...."Mau sampai kapan kau disitu, cepatlah keluar. Aku tidak butuh komentar mu."


"Apa salahnya, kita sama-sama wanita."


Eri pun segera membuka bajunya dan ikut masuk kedalam kamar mandi bersama Hiyo. Dengan kasar dan sedikit paksaan, Eri mulai bermain-main dengan tubuh Hiyo yang memang memiliki daya tarik luar biasa.


Tapi sayangnya, selama ini Hiyo menggunakan jubah hitam longgar, sehingga tidak ada satu orang pun sadar jika dibalik jubah yang dia gunakan menyimpan harta karun kerajaan.


"Aku yakin para lelaki di sana akan tertarik jika kau menggunakan pakaian yang lebih terbuka." Ucap Eri.


"Aku tidak mau, itu membuatku risih ketika orang-orang melihat ke arahku."


"Aku tidak memiliki tujuan apa pun kepada Zen." Jawab Hiyo malu.


Namun Eri tidak menyukai sikap Hiyo...."Kau terlalu banyak beralasan. Memang kau pikir sudah berapa lama kita saling kenal."


"Tapi ya... Aku tidak masalah jika harus mengenal Zen." Balas Hiyo yang membenamkan wajah selagi memeluk lututnya.


Eri sangat paham tentang sifat Hiyo, dia bukan wanita yang akan ikut sembarang orang untuk bepergian, terlebih jika itu lelaki, jangankan berbicara, baru saja mendekat, Hiyo akan segera pergi meninggalkan mereka.


Seakan-akan Hiyo berubah ketika mereka mengenal Zen. Dia tidak menolak mana kala Eri secara sengaja mendekatkan dirinya untuk menemani Zen berkeliling kota Ser Din.


Senyuman di wajah Eri tentu menunjukkan sebuah rasa penasaran, bagaimana seorang Hiyo yang selama ini tertutup dan selalu menghindar dari para lelaki mulai membuka diri untuk seorang Zen.


"Hmmm apa ini tentang banyak uang yang dia miliki ?." Eri mencari alasan lain.


"Kenapa kau berpikir aku hanya mencari keuntungan saja." Hiyo membantah.


"Ya... Aku pikir, sebagian besar wanita tentu tertarik dengan lelaki kaya dan banyak uang. Mereka akan memiliki masa depan cerah, jika bisa mendapatkan lelaki seperti Zen." Eri hanya berniat memancing Hiyo agar lebih jujur.

__ADS_1


Seketika Hiyo memalingkan wajah sebelum menjawab ...."Tapi ini bukan tentang uang saja, aku merasa nyaman ketika bersama dengannya."


Eri terkejut, merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari jawaban Hiyo. Dan Hiyo pun merasa tersinggung dengan ekspresi Eri karena melihatnya aneh.


"Kenapa ?, apa itu terdengar aneh."


"Tunggu, tunggu, tunggu.... Apa kau benar Hiyo, kau bukan iblis yang menyamarkan ?." Tapi tetap saja, Eri tidak menyangka Hiyo akan bicara tentang Zen dengan biasa.


"Aku merasa sedang dihina oleh pertanyaan mu." Ungkap Hiyo melihat wajah Eri.


"Bukan begitu, aku baru pertama kali melihat mu malu-malu saat membicarakan tentang lelaki."


"Kau sendiri yang memojokkan ku untuk pertanyaan memalukan itu." Hiyo pun kesal.


Eri tertawa seakan tidak memiliki dosa..."Maaf, maaf.... Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya. Aku pikir Zen tidak akan tinggal lama di kota Ser Din ini."


"Aku tidak tahu, karena aku tidak mungkin meminta dia untuk tetap tinggal di sini. "


"Apa kau tidak ingin pergi bersama dengannya." Tanya Eri.


"Jika itu aku lakukan, bagaimana dengan mu, Senko, Eland dan kapten Drull. Aku tidak ingin meninggalkan kelompok Orsinan." Berat ekspresi di wajah Hiyo.


Eri merasakan sendiri bahwa ikatan antara sesama anggota kelompok Hunter Orsinan sudah selayaknya Keluarga, terlebih lagi paman Drull adalah sosok ayah bagi Hiyo, tentu meninggalkan Orsinan sangatlah berat untuk mereka.


"Ini bukan tentang aku, Senko, Eland atau pun paman Drull, tapi tentang dirimu sendiri. Aku merasa kau hanya akan membuang waktu mu jika tetap bersama kami, kau memiliki potensi besar di masa depan."


"Aku tidak ingin membicarakan itu." Tiba-tiba saja sikap Hiyo berubah, dia segera keluar dari kamar mandi meninggalkan Eri sendiri.


Semua anggota kelompok Hunter Orsinan tahu bahwa Hiyo bisa menjadi sosok luar biasa dengan kemampuannya menjadi ahli sihir. Tapi untuk banyak alasan, Hiyo terlalu takut untuk pergi, Eri tidak bisa membiarkan itu, dia ingin Hiyo berubah dan menemukan hidup yang lebih baik.


Eri mengikuti Hiyo keluar.


Kini sosok wanita pemurung dan penakut itu membenamkan diri dalam selimut.


Eri berjalan mendekat dan merebahkan diri di samping Hiyo setelah berganti pakaian.


"Hiyo apa kau tahu, sebelumnya aku iri dengan kemampuan yang kau miliki dan beranggapan jika dunia tidak adil. Tapi setelah aku tahu bagaimana kau menjalani hidup yang sulit, aku salah, aku merasa telah berpikiran buruk kepadamu. Setelah bertahun-tahun kita bersama, aku sudah menganggap kau seperti adikku sendiri."


"Padahal aku lebih tua darimu." Jawab Hiyo murung.


"Meski begitu, kau lah yang lebih sering meminta bantuan kepadaku." Balas Eri.

__ADS_1


"Kalau soal itu beda lagi ceritanya."


Eri atau pun Hiyo benar-benar tahu sifat masing-masing, sekian lama menjalani kehidupan keras sebagai Hunter itu menjadi ikatan nyata sebagaimana saudara kandung.


__ADS_2