
Seorang ahli sihir memang mampu menggunakan kekuatan energi tanpa bantuan apa pun dan hanya mengandalkan rapalan mantan dan jumlah kekuatan dalam tubuh.
Tapi beda lagi ceritanya kalau mereka menggunakan katalisator berupa tongkat sihir, dimana itu akan memperkuat daya serang, tergantung kualitas batu kristal energi yang digunakan.
Tongkat sihir pemberian Zen sangatlah berharga, terbentuk atas besi platinum dan batu jiwa binatang iblis kategori SS, Ratu semut hitam. Untuk sebuah serangan dasar saja, itu akan mampu berkembang sepuluh kali lipat dari pada rapalan mantra tanpa katalisator.
Meski begitu, Hiyo merasa keberatan..."Apa kau yakin memberikan tongkat ini kepadaku Zen ?."
"Ya, ambilah dan gunakan dengan baik." Jawab Zen santai.
"Tapi ini terlalu berharga jika aku yang menggunakannya." Hiyo terlihat ingin menolak.
"Tentu saja berharga, karena jika kau tidak memiliki uang, tongkat ini bisa kau jual seharga 1.000 koin emas." Zen memberi perumpamaan.
"Tidak mungkin aku menjualnya."
Zen hanya tersenyum, tentu bukan tanpa alasan dia secara sengaja memberikan tongkat sihir itu kepada Hiyo. Dimana Zen ingin Hiyo memaksimalkan potensi kekuatan dari pahlawan utusan Dewa.
Dia tahu, bahwa keseimbangan dunia Dios bergantung kepada sepuluh pahlawan yang harus melawan sepuluh penguasa iblis, sedangkan Zen tidak ingin terlibat dalam perkelahian antara dewa dan Iblis dengan tangannya sendiri.
Kini Zen dan seluruh kelompok Hunter Orsinan bergerak masuk lebih dalam ke tengah hutan yang dipenuhi rawa.
Di sinilah habitat para katak emas yang mereka cari dalam lembar tugas dari guild.
Eri kini berada di atas pohon bakau selagi memantau kondisi sekitar rawa, memberi aba-aba kepada kapten Drull, jika di arah depan terdapat target yang mereka cari.
"Terdapat lima katak emas, 200 meter dari tempat kita." Ucap Eri menunjuk ke arah barat.
Kapten Drull mengangguk paham..."Baiklah semuanya bersiap, kita akan menyerang, tetap berhati-hati, jangan lengah hanya karena kita sudah memiliki perlengkapan yang lebih baik."
"Baik kapten."
"Aku bersemangat untuk mencoba pedang baru ku ini." Senko sudah siap dalam hal apa pun.
"Sudah aku katakan, jangan lengah, kau bisa terbunuh jika salah langkah." Kapten Drull memberi peringatan.
__ADS_1
Zen angkat bicara...."Tenang saja kapten, aku juga akan membantu kalau situasi terlalu berbahaya."
"Aku harap kau tidak melakukannya Zen, kami ingin berkembang dan menjadi lebih baik tanpa mendapat bantuan darimu."
"Aku mengerti kapten Drull." Zen mengangguk paham.
Sebagian besar anggota kelompok Hunter Orsinan hanya orang-orang amatir yang tidak memiliki banyak pengalaman dalam berburu binatang iblis kategori B, sehingga kapten Drull ingin membuat anggotanya bisa mendapat pengalaman di tugas kali ini.
"Hiyo kau berjaga di belakang kami, Senko, Eland, kalian ikut aku menyerang ke depan, dan Eri tetap waspada." Perintah kapten Drull memberi arahan.
"Baik kapten." Semua menjawab dengan serentak bersama.
Zen melihat, bagaimana kapten Drull memiliki pengalaman yang cukup untuk mengatur rencana dalam serangan berkelompok. Hingga mereka bertiga berada di garis depan menemui lima ekor katak emas.
Satu persatu katak emas melompat cepat menyerang, tapi perisai kapten Drull memberi perlindungan terhadap hantaman tubuh dari setiap katak.
Jika bukan karena perisai pemberian Zen yang terbuat dari logam platinum, tentu Kapten Drull tidak memiliki kesempatan bertahan untuk satu ekor katak sekali pun.
Senko dan Eland bergerak maju, satu persatu katak berhasil di tebas oleh senjata mereka. Ekspresi mereka berdua tampak puas.
"Untuk pertama kalinya aku bisa membunuh binatang iblis kategori B. Bukankah ini artinya aku berbakat."
"Itu benar dasar botak." Balas Eri dengan ejekannya.
"Hei aku tidak botak." Senko tersinggung.
Kembali dalam pertarungan mereka.
Eri yang berada di atas pohon, melepas tiga anak panah sekaligus dan memang benar, kemampuan dari skill lintasan mata menunjukkan hal hebat sebagai seorang Assassin.
Ada pun kapten Drull yang bertindak memberi komando kepada setiap orang, dia sangat baik dalam mengatur posisi di barisan depan.
Zen tentu menganggap bahwa kelompok Hunter Orsinan sebenarnya hampir setara dengan kelompok hunter kelas perak, namun, berhubungan peralatan dan kurangnya tekad, kapten Drull tidak mau mengambil resiko dengan tugas-tugas berat yang berakibat kehilangan nyawa.
Eland mengambil setiap mayat dari hasil buruan tersenyum cerah...."Kita panen besar, lihat kantong penyimpanan ini sudah penuh, setidaknya ada lebih dari dua puluh katak berhasil di kalahkan."
__ADS_1
"Kita terlalu bersemangat, tugas kali ini hanya untuk lima belas ekor." Kapten Drull merasa berlebihan.
"Bagaimana jika sisa daging katak yang lebih itu aku masak saja." Zen memberi solusi.
"Benarkah ? Kau serius Zen ?." Eri tidak bisa menahan diri.
"Tentu, kenapa tidak ?."
"Malam ini kita bisa makan enak."
Mereka sudah mengakui, jika makanan yang Zen masak sangatlah enak, entah itu daging burung, rusa, beruang, ular atau pun lainnya, sehingga ketika Zen mengajukan diri untuk memasak, semua orang benar-benar bersemangat.
"Kalau begitu, kita membutuhkan lebih dari ini, aku bisa memakan lima ekor." Eland bisa membayangkan kenikmatan masakan Zen.
"Baiklah kita buru semua katak yang hidup di sini." Ucap Eri seakan mudah dilakukan.
"Jangan berlebihan, itu tidak baik." Balas kapten Drull.
Semangat mereka untuk bisa makan masakan buatan Zen menjadi alasan agar memburu semakin banyak katak emas dan benar saja, tanpa perlu menunggu lama, ada dua puluh ekor katak emas berhasil mereka bunuh.
Rekor terbanyak adalah Eri, dimana dengan anak panah pemberian Zen, itu memaksimalkan potensi skill lintasan mata, sehingga cukup mudah bagi Eri membunuh 10 ekor dari jarak jauh.
Hingga ketika mereka telah selesai dan berniat untuk pulang, satu kehadiran yang cukup kuat pun muncul dari bawah lumpur rawa, dimana sosok katak emas berukuran besar hadir karena wilayahnya telah di usik.
Kapten Drull dengan cekatan memposisikan diri di depan Senko dan Eland untuk melindungi mereka saat katak emas besar mengeluarkan lidah panjang sebagai bentuk serangannya.
Meski tubuh kapten Drull besar dan berotot kekar, tapi mudah bagi katak emas itu mendorongnya jatuh.
"Kekuatannya setara dengan binatang iblis kategori A, kita harus pergi." Kapten Drull tidak mau mengambil resiko.
"Tapi kita tidak dalam posisi kabur, di rawa ini sangat sulit untuk bergerak." Balas Senko yang paman atas situasi mereka.
Di sisi belakang, Zen sudah siap membantu jika di butuhkan. Bahkan Kapten Drull melihat Zen mengeluarkan pedang di tangannya.
Hanya saja, kapten Drull merasa tidak ingin Zen kembali membantu mereka, jika terlalu banyak bergantung kepada Zen, itu akan membuat kelompok Hunter Orsinan seperti benalu.
__ADS_1
"Senko, Eland, kalian bersiap untuk melawan dari kiri dan kanan, Eri kau tetap di atas, tarik perhatian katak ini agar kami bisa menyerang dan Hiyo, saat kami bisa menghentikan gerakannya, kau segera serang menggunakan sihir mu."
Semua telah di atur oleh kapten Drull. Senyum di wajah mereka menunjukkan tekad, bahwa sekarang kelompok Hunter Orsinan bukan amatiran yang berlari takut saat melawan binatang iblis tingkat atas.