
Zen mulai membicarakan tentang tujuan Teokrasi Ziberus kepada kelompok Hunter Orsinan dimana mereka menawarkan diri untuk merawat Hiyo sebagai pahlawan utusan Dewa.
Tentu segala fasilitas akan menunjang kehidupan Hiyo dari segala aspek kebutuhan dan juga Teokrasi Ziberus akan membawanya masuk kedalam Akademi Zezzanaza.
"Bagaimana menurut anda, paman Drul." Tanya Zen..
"Aku tidak bisa memutuskannya, itu adalah keinginan Hiyo. Tapi jika aku boleh usul, tawaran dari Teokrasi Ziberus benar-benar menjanjikan." Jawab Drull sedikit rumit di wajahnya.
"Ya benar sekali, terlebih mereka adalah salah satu kekuatan utama di benua ini yang mendeklarasikan diri untuk menjaga umat manusia dari serangan ras iblis, tentu tujuan mereka adalah hal baik." Tambah pula Eland .
"Aku tidak setuju, Hiyo akan mendapat banyak masalah karena dia bukan orang yang mudah beradaptasi di tempat asing." Sedangkan Eri menolak itu.
Meski banyak pendapat berdatangan, Hiyo belum bisa menjawabnya sekarang, dia pun mengarahkan pandangan kepada Zen seperti meminta jawaban.
"Jika dibandingkan dengan perjalanan yang akan aku lakukan karena sebatas tujuan pribadi. Sedangkan kau memiliki tanggung jawab besar sebagai pahlawan... Jadi permintaan Teokrasi Ziberus tidak bisa kita abaikan begitu saja." Ucap Zen menurut pendapatnya.
"T-tapi aku hanya ingin pergi bersama denganmu." Lirih Hiyo atas keinginan sendiri.
"Kau akan kesulitan jika pergi bersamaku Hiyo." Balas Zen.
"Bukankah kau mengatakan ingin ke akademi sihir Zezzanaza." Kapten Drull mengingat hal itu.
"Ya benar, aku pun ingin pergi ke sana. Hanya saja, sebelum itu aku harus mencari keberadaan kedua orang tua ku terlebih dahulu di kota lain."
"Itu tidak jadi masalah, karena tujuan Zen selanjutnya adalah pergi ke akademi Zezzanaza, kau bisa bertemu dengan Zen lagi Hiyo." Paman Drull merasa permintaan Teokrasi adalah pilihan terbaik bagi Hiyo.
"Aku tidak mau." Hiyo menolak.
Zen melihatnya murung ..."Apa kau khawatir Hiyo ?."
"Mmn." Hiyo mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Kau tidak perlu khawatir, pada akhirnya kita akan bertemu di akademi Zezzanaza saat penerimaan murid baru di tahun depan, aku bisa berjanji untuk hal itu." Zen coba meyakinkannya.
"Tapi tetap saja.... Aku takut."
Ketakutan memang sudah menjadi sifat Hiyo yang tidak bisa berubah begitu saja. Tentu dia merasa bingung, ketika harus berada di suatu tempat asing tanpa siapa pun menemaninya.
"Aku memiliki seorang kenalan di sana, dia adalah Sena, dia juga pahlawan sama seperti mu, aku yakin dia akan mau membantumu di sana."
Setelah Zen mencoba cukup banyak untuk meyakinkan Hiyo, pada akhirnya dia mau ikut bersama Rose dan Hellen ke Teokrasi Ziberus.
Sudah ditentukan jika keberangkatan mereka kembali ke Teokrasi Ziberus adalah besok pagi dan juga Zen mempersiapkan surat yang akan diberikan kepada Sena agar bisa membantu Hiyo selama dia ada di sana.
Malam pun datang....
Dimana saat Zen sedang beristirahat di dalam penginapan, seseorang datang dan mengetuk pintu kamarnya.
Itu cukup membuat Zen terkejut, karena kal ini bukan lelaki paruh baya dengan brewok lebat di janggutnya, melakukan dua kecantikan yang secara sengaja mampir untuk mengajak Zen bicara.
__ADS_1
"Oh, nona Rose dan juga Nona Hellen apa yang membuat kalian berdua datang kemari." Zen menyambut mereka dengan sopan.
Rose sedikit ragu, tapi dia memiliki tujuan khusus untuk datang ke tempat seorang lelaki yang baru dikenalnya siang tadi.
"Kami ingin menanyakan beberapa hal kepada anda tuan Zen." Jawab Rose.
"Kalau begitu silakan masuk, aku akan tuangkan teh agar kita bisa bicara dengan santai."
Mereka berdua tanpa rasa khawatir saat bertamu di kamar lelaki saat malam, kini menerima ajakan Zen untuk masuk.
Dimana tanpa perlu menunggu lama, Zen sudah menyediakan teh hangat beserta beberapa kue cemilan. Rose dan Hellen cukup menikmati rasa manis dari kue kering yang Zen berikan itu.
"Apa rasanya enak ?." Tanya Zen melihat mulut Hellen penuh.
"Ya ini luar biasa, kami jarang makan sesuatu yang manis, jadi maaf kalau tidak terlihat sopan." Jawabnya setelah menelan habis potongan kue.
"Tidak apa-apa, aku memiliki banyak."
"Kami senang mendengarnya. Jadi kami tidak akan ragu." Rose pun tidak menahan diri.
Lepas dua piring kue habis di makan oleh Rose dan Hellen, kini Rose menunduk hormat di hadapan Zen.
"Pertama-tama aku ingin berterimakasih karena tuan Zenhan menolongku, jika tidak ada anda, sudah pasti aku akan mengalami luka berat dari serangan pedang Excalixer." Ucap Rose membungkuk sebagai tanda terima kasih.
"Jangan khawatir soal itu, aku hanya melindungi diriku sendiri dan siapa sangka anda juga ingin melindungi ku, jadi kita sama-sama saling membantu." Santai Zen memberi balasan.
"Pada akhirnya, Aku seperti orang bodoh yang ingin mengantarkan nyawa saja."
"Tolong panggil saja aku, Rose."
"Baiklah, Rose dan juga Hellen. Tentu kedatangan kalian berdua bukan sekedar untuk berterima kasih atau pun mencicipi kue ku saja kan ?." Tanya Zen dengan sedikit senyum.
Mereka berdua diam sejenak, saling melirik seperti memberi tanda agar salah satu menjelaskan kepada Zen.
Kini Hellen lah yang angkat bicara ..."Itu benar, aku berharap jika kau ikut bersama kami ke Teokrasi Ziberus."
"Aku tidak bisa." Tidak perlu pikir panjang untuk Zen menjawab.
"Kenapa ?, Kekuatan anda jauh lebih luar biasa dari pahlawan Haze, Teokrasi.... Tidak, seluruh ras manusia mengharapkan bantuan anda." Hellen memohon.
"Sampah masyarakat itu tidaklah kuat, dia hanya terlalu lemah jika dibandingkan dengan Sena, bahkan mungkin Hiyo masih jauh lebih kuat kalau dia memiliki kepercayaan diri." Ungkap Zen dengan kenyataan atas penilaiannya.
"Kenapa kau berpikir demikian." Rose sedikit ragu.
"Haze, terlalu bergantung pada kekuatan pedang Excalixer, sedangkan teknik bertarungnya sangatlah rendah. Bahkan tanpa aku membuat salinan pedang Excalixer, aku bisa menang dengan mudah." Tidak juga, Zen kesulitan untuk melawan pedang Excalixer, tapi jika mengandalkan teknik bertarung dia sangat percaya diri.
"Oleh karena itu, anda harus ikut kami ke Teokrasi." Jawaban Rose memaksa.
Zen tersenyum sebelum memberi jawaban yang sama...."Sekali lagi tidak, aku memiliki tujuan lain yang harus di selesaikan, jadi maaf saja... Dan juga, aku bukan pahlawan...."
__ADS_1
'Aku adalah keturunan iblis, jika Teokrasi tahu tentang hal ini, mereka pasti akan membunuhku.'
Teokrasi Ziberus sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan atas ajaran dari para dewa, dimana keberadaan Ras iblis sudah menjadi musuh utama, sehingga bisa dipastikan tidak akan ada toleransi bagi Zen.
"Baiklah, jika memang itu keputusan mu Zen. Kami tidak bisa memaksa terlalu banyak." Rose pasrah saja.
"Terimakasih."
"Sebelum kami pergi, bisa kami minta beberapa potong kue lagi ?." Hellen tidak melepas kesempatan untuk makanan manisnya.
"Itu tidak masalah." Meski begitu, Zen jelas merasa sedikit kerepotan.
Rose dan Hellen berjalan keluar dengan mulut mulai mengunyah satu kantong kue yang mereka terima secara cuma-cuma.
Lepas kepergian mereka, Zen kembali merebahkan diri di atas ranjang. Tapi tidak lama kemudian, ketukan pintu lain datang.
"Merepotkan saja..." Gumam Zen sendiri ketika harus beranjak kembali dari ranjangnya untuk membuka pintu.
Saat Zen membuka pintu, sosok yang kini ada di depannya bukan Rose, Hellen apa lagi Drull, dia adalah wanita dengan rambut merah berpotongan pendek. Eri.
"Ada apa Eri ?." Tanya Zen bingung.
Gadis muda itu ragu-ragu untuk biaya, tapi meyakinkan diri dan berkata...."Zen aku ingin meminta sesuatu kepadamu."
"Kue kering ?." Asal saja Zen menebak.
"Bukan itu." Bingung Eri atas tebakannya.
"Jadi apa yang kau inginkan ?."
"Aku ingin pergi denganmu."
Ini terdengar aneh, Zen menarik Eri untuk masuk kedalam kamar dan membiarkannya minum teh dengan kue kering yang tersisa setelah sebagian besar dihabiskan oleh Rose dan Hellen.
"Ada apa denganmu, bukankah kau mengatakan jika ingin tetap tinggal di kota ini ?." Zen penasaran.
"Aku berubah pikiran. Saat tahu Hiyo adalah pahlawan, aku merasa tidak senang, aku tidak mau hanya menjadi beban ketika Hiyo berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melawan para iblis." Ungkap Eri atas keegoisannya sendiri.
"Jadi apa yang kau inginkan sebenarnya ?."
Tanpa ragu Eri pun bersujud...."Aku mohon, tolong ajari aku untuk menjadi lebih kuat lagi, aku ingin bisa sebanding dengan Hiyo dan berjuang bersama."
Zen seakan tidak bisa menolak permintaan Eri yang begitu besar hingga membuang harga diri di hadapannya.
"Baiklah, kau harus bersiap, setelah Hiyo pergi, kita juga akan pergi..."
"Aku mengerti, guru." Eri yang menatap Zen penuh semangat.
Hanya saja, jawaban Eri tidak nyaman di dengar..."Dan tolong jangan panggil aku guru."
__ADS_1
Eri pun pergi, setelah mendapat jawaban pasti dari Zen.