
Lepas dari pertemuan dengan guild master Sabria.
Meski pun Zen sudah mendengar kabar jika Sabria mengetahui keberadaan dua sosok yang dianggap sebagai Remus dan Tifa, tapi Zen tidak menerima informasi begitu saja, dia masih harus memastikan sendiri dengan mencari kedua orang tuanya di sekitar kota.
Berjalan keluar dari lantai dua kantor guild, keributan Zen mendengar jelas di depan papan informasi sedang terjadi keributan kecil antara dua orang.
"Jangan sembarangan kau menyentuh pan*tat ku dengan tangan kotor mu itu sialan." Suara Eri yang marah bicara keras.
"Hei, hei nona kau seenaknya saja menuduh ku, memang kau pikir pan*tat tipis mu itu menarik ?. Jika pun di jual itu tidak akan laku." Balas lelaki itu mengejek.
"Beraninya kau bicara seolah-olah aku wanita murahan." Eri pun semakin marah karena di lecehkan.
Namun sikap lelaki itu semakin menjadi-jadi...."Oh, kalau begitu berapa banyak kau jual, biar aku beli agar kau tahu sedang bicara dengan siapa."
Zen yang baru saja datang, kini sudah melihat Eri dan seorang lelaki saling berhadapan. Tindakan nekad ketika lelaki itu coba menggapai sesuatu di depan baju Eri.
Tapi sebelum tangannya sampai, satu tamparan dari Eri melayang dan itu cukup untuk melempar lelaki bertubuh besar yang hampir dua meter itu dengan mudah hingga jatuh menghantam meja.
Selama perjalanan bersama Zen, Eri tidak seperti dirinya yang dulu, kekuatan otot, energi sihir dan segala macam kemampuan sudah berkembang pesat hanya dalam dua minggu terakhir.
Sehingga bukan hal sulit mengalahkan orang-orang yang memiliki tubuh dua kali lebih besar. Hanya saja, karena tindakan Eri, itu memancing keributan lebih besar.
"Tidak aku sangka, meski tubuhmu itu kecil dan kurang menarik, tapi kekuatanmu lumayan." Ungkapnya tertawa terbahak-bahak.
"Aku masih menahan diri, jika kau berani melakukannya, aku pastikan kau siap untuk tidur tanpa bisa bangun lagi." Eri mengancam.
"Jika kau menawarkan diri aku mau saja tidur denganmu." Lelaki itu tertawa keras.
Emosi Eri sudah sampai di ujung tenggorokan. Dia bersiap menarik pisau yang tersimpan dari balik pinggangnya, tapi cepat Zen menahan tangan Eri.
Menunjukan sedikit gelengan kepala, sudah menjadi isyarat agar Eri tidak membuat masalah lebih banyak lagi.
"Tapi Zen, dia seenaknya sendiri melecehkan ku. Aku tidak bisa menerimanya." Eri pun mengeluh karena Zen menahan dirinya.
"Biar aku yang menyelesaikan masalah ini, kau diam saja." Zen mengambil alih.
Eri pun tidak membantah..."Baiklah."
Zen berjalan mendekat, dia selalu menahan diri dalam segala situasi, terkecuali jika harus menyangkut nyawa, itu akan beda lagi ceritanya.
"Tuan bisakah anda bersikap sedikit lebih sopan." Ucap Zen coba tersenyum ramah.
"Lihat siapa yang datang sekarang, apa kau kekasihnya ?." Ucap lelaki itu dengan berani.
__ADS_1
"Meski aku bukan seorang kekasih, tapi aku bertanggung jawab atas dirinya...." Zen tetap menahan diri.
"Kalau begitu apa urusanmu dengan mengurus sikapku, kau lebih baik pergi, karena dia sudah bertindak kasar." Lelaki itu tidak memberi kesempatan kepada Zen.
"Tapi dia adalah tanggung jawab ku, jika kau melakukan sesuatu kepadanya, aku tidak bisa membiarkan begitu saja."
"Oh, jadi kau ingin bertindak sebagai pahlawan ?." Dia seperti menantang Zen.
Zen sadar lelaki yang dia hadapi sekarang hanya sekumpulan omong kosong yang bersuara besar, karena mungkin dia memiliki harga diri sebagai Hunter lencana lebih tinggi. Di depan dada itu adalah lencana platinum, tentu Hunter lain tahu seberapa berbahaya jika mengusiknya.
"Aku hanya tidak mau ada keributan di sini, sebagai sesama Hunter aku minta agar tuan bisa mengerti." Zen mencoba bernegosiasi.
"Sayangnya caraku berbeda, dia sudah berani memukulku, Hamza seorang Hunter lencana platinum, maka dia juga harus menerima perlakuan yang sama." Dia pun tetap bersikeras untuk membuat masalah.
Zen bersiap dalam kuda-kuda..."Kalau begitu biar aku menggantinya."
Tidak ada keraguan untuk menjawab perkataan Zen dengan satu tindakan jelas, dimana pukulan lelaki itu bersarang tepat di wajahnya sekuat tenaga.
Memang seperti yang diharapkan dari Hunter lencana platinum, Zen terdorong mundur beberapa langkah, ketika menerima pukulan telak tanpa perlu dia menghindar.
Tapi orang lain terkejut, karena mereka masih melihat Zen yang berdiri tegak hanya dengan bekas merah di pipinya.
"Ini cukup kan, jadi anggaplah masalah tuan sudah selesai." Ucap Zen membersihkan diri dan membalik badan.
Eri menjadi lebih kesal lagi. Selain melihat Zen di pukul, dia juga masih mendengar penghinaan yang tidak menyenangkan. Bergerak cepat dengan tangan sudah siap memegang pisau.
Hamza dan orang lain di sekitar hampir tidak melihat langkah kaki Eri yang bisa saja menebas tenggorokan sebelum tawa mereka berhenti. Tapi Zen tidak membiarkan Eri begitu saja.
Dia segera menarik tubuh dalam pelukan dan berbisik lembut di telinganya.
"Sudah cukup, jangan buat keributan yang lebih besar lagi, kita sebaiknya pergi." Bisik Zen.
"Tapi Zen, dia tidak bisa di maafkan."
"Jangan keras kepala, atau aku akan memulangkan mu ke kota Ser Din." Itu menjadi perintah untuk Eri.
Dia tidak bisa membantah perkataannya dan meyimpan kembali pisau itu sebelum melukai seseorang.
Sesuatu yang biasa Zen lakukan untuk tidak mencari masalah kepada orang lain, terlebih sosok besar Hunter lencana platinum, karena dia tahu, posisi dia sebagai ras iblis mungkin diketahui oleh mereka.
Satu-satunya pilihan adalah bersikap rendah meski pun Zen tidak mengubah kenyataan bahwa dia pun ingin sekali membunuh orang-orang seperti Hamza.
Zen membawa Eri pergi keluar tanpa melepas tangan dari pinggangnya. Dia hanya diam dan tetap mengikuti langkah kaki Zen tanpa sedikitpun penolakan.
__ADS_1
"Kau harusnya tahu kenapa aku tidak mau mencari keributan."
Eri mengangguk perlahan.
"Jika ini hanya tentang ku saja, aku tidak peduli sama sekali, tapi bagaimana denganmu, kau akan mendapat banyak masalah." Lanjut Zen memberi ceramah.
Tidak ada jawaban, hanya anggukan kecil yang masih diberi oleh Eri.
Zen sudah memberi tahu tentang kondisinya yang dilahirkan sebagai kaum Ra'e, salah satu ras iblis dengan fisik seperti manusia. Eri tidak mempermasalahkan hal itu dan tetap menganggap Zen sebagai teman.
"Baiklah untuk sekarang kita cari tempat penginapan."
Meski sudah Zen lepas, Eri tetap diam di tempat.
"Hei, apa kau akan tetap di sana." Panggil Zen karena Eri tidak mengikutinya.
Sejenak tersadar setelah Zen memanggil, Eri pun berjalan mengikutinya dari belakang.
Hanya saja, di kota kerajaan Zorgan yang terbilang besar dan memiliki banyak pendatang dari seluruh wilayah untuk mengadu nasib, hampir semua penginapan sudah terisi.
Bagi orang-orang yang tidak mendapat tempat, mereka lebih memilih tidur di luar atau membuat tenda seperti sedang berkemah.
Begitu juga untuk Zen, kini satu-satunya penginapan yang tersisa di kota kerajaan Zorgan hanya menyediakan satu kamar tidur.
"Maaf tuan, ini pun jika anda berminat, karena pastinya ada Hunter lain yang ingin menyewa kamar."
Pemilik penginapan melirik ke tempat Eri berdiri yang masih melihat-lihat sekitar.
"Tidak perlu khawatir tuan, bukankah terasa lebih romantis jika bisa satu kamar bersama wanitamu." Ucap Pemilik penginapan sedikit berbisik.
"Itu memang benar, tapi sayangnya, dia bukan wanitaku." Balas Zen.
"Hmmm... Jika memang tuan keberatan, kami tidak memaksanya."
Dia tidak bisa tawar menawar lagi, karena mungkin saja, satu-satunya kesempatan untuk mendapat tempat tidur akan diambil oleh orang lain.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang ?. Kita hanya punya satu kamar dengan satu tempat tidur."
"Jangan khawatirkan aku Zen, aku bisa tidur di lantai." Balas Eri.
"Tapi aku tidak bisa dikatakan lelaki, jika membuatmu tidur di lantai." Ucap Zen menolak usul Eri.
Zen membuat itu menjadi mudah, dia bisa saja menciptakan alas tidur dan membiarkan Eri mengambil ranjang untuk dirinya sendiri. Tapi sayangnya....
__ADS_1