KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Sikap Dewasa


__ADS_3

Dengan banyaknya hasil buruan yang Zen keluarkan, resepsionis segera saja memanggil guild master untuk menghitung total biaya pembelian semua mayat binatang iblis.


Di pertemuan itu, Zen dan empat orang dari kelompok Hunter Orsinan menunggu di luar. Dimana memang Zen lebih memilih menghindari pertemuan dengan orang penting. Sehingga Kapten Drull sendiri yang mewakilkan Zen saat bertemu dengan guild master.


Selagi menunggu kapten Drull bertransaksi, Zen dan mereka berempat pergi ke satu warung makan yang biasa menjadi tempat berkumpulnya Hunter untuk beristirahat.


Memesan beberapa minuman seperti teh dan kopi yang diantarkan oleh pelayan ke meja mereka. Zen mulai bertanya-tanya sebagai bentuk pengakraban diri kepada kelompok Hunter Orsinan.


"Jadi tuan Zen, apa yang membawa anda datang ke tempat ini ?."


"Aku sedang mencari kedua orang tuaku yang pergi dari kerajaan Villian saat penyerangan monster-monster dari Dungeon itu...Dan juga, Tolong jangan lagi panggil aku dengan sebutan Tuan, bagaimana pun juga, aku lebih muda dari kalian semua ... Kecuali nona Eri mungkin." Balas Zen.


"Kenapa kau bisa tahu..." Eri terkejut.


"Entah kenapa..."


"Memang benar aku adalah anggota termuda di Orsinan, tapi yang aku lihat, kau juga tidak lebih tua dariku."


"Aku berusia 17 tahun, 5 bulan sekarang."


"Aku... Aku... 18 tahun."


"Kau berbohong Eri, atau kau sudah lupa dengan usiamu sendiri ?." Balas Senko menyindir.


"Kalau tidak salah kau itu baru 15 tahun 4 bulan." Eland menambahkan bensin kedalam api.


"Aku sudah 16 tahun !!!." Teriak Eri marah.


Eri tampak pasrah dan kesal untuk ocehan Eland yang membuat dia merasa malu di depan Zen saat mengetahui usianya jauh lebih muda. Di sisi lain Hiyo begitu khawatir jika Eri marah kepada mereka Eland dan Senko.


"Sudahlah nona Eri itu bukan masalah besar, menjadi lebih muda atau lebih tua tidak berarti apa pun karena yang di lihat oleh orang lain adalah sikap Dewasa kita." Zen coba membuat suasana hati Eri lebih baik.


Mendengar hal itu, Eri menatap Zen penuh kekaguman... "Benar sekali, meski aku lebih muda dari kalian semua, aku sudah dewasa."


"Jadi kau sudah mengakui usiamu Eri." Eland tetap menggodanya.


"Geeeh...." Eri enggan menjawab.


"Zen kau memang bijak, tapi sayangnya, gadis kecil kita satu ini, tidaklah memiliki sikap yang dewasa atau pun tubuh Dewasa, dia benar-benar tidak memiliki daya tarik wanita dewasa."

__ADS_1


Zen tidak bisa membantah perkataan Senko yang memperlihatkan kenyataan. Dia hanya tersenyum sendiri disertai hembusan nafas lemas.


"Kenapa kau diam saja Zen, apa kau tidak bisa membelaku lagi." Eri meminta pertolongan.


Setelah semua kembali tenang, tapi Eri menjaga jarak dengan Senko dan Eland karena sudah membuatnya malu.


Kini kapten Drull datang setelah menyelesaikan transaksi, namun dia terlihat gemetar, atau mungkin kurang sehat ketika membawa sekantong penuh koin emas yang di letakkan di atas meja.


Semua orang terdiam dan tertegun, kilauan koin emas yang sangat banyak berada tepat di depan mata mereka.


"Aku baru pertama kali melihat koin emas sebanyak ini." Ucap Eri penuh rasa kagum.


"Tuan Zen, total keuntungan penjualan 42 binatang iblis yang anda miliki sebanyak 867 koin emas." Kapten Drull menyerahkan kertas berisi rincian penjualannya.


"Sebanyak ini !!?."


"Kenapa kau juga ikut terkejut tuan." Eri bingung melihat ekspresi Zen sekarang.


"Aku pun tidak menyangka akan mendapat begitu banyak koin emas." Jawab Zen.


Senyum di wajah kapten Drull lemas, dia merasa malu, karena mustahil bagi dirinya untuk mendapat keuntungan yang sama seperti milik Zen.


Semua yang mereka dapat memang tidak banyak, itu tidak kurang dan juga tidak lebih. Sehingga mereka harus benar-benar berhemat agar tetap memiliki tabungan.


Bagaimana pun pekerjaan menjadi Hunter sangat beresiko, konsekuensi terburuknya adalah mati, tentu sudah dianggap wajar, sewajarnya manusia untuk bernapas.


Karena itu sebagian besar dari Hunter menyisihkan uang mereka dan mengumpulkan modal agar bisa membuka usaha yang tidak memiliki resiko kematian.


Kapten Drull menyerahkan semua koin emas dalam kantong itu kepada Zen...."Sebaiknya anda simpan ini, jika orang lain tahu, mereka bisa saja memanfaatkan anda."


"Kalau begitu, ini bagian paman dan teman-teman semua." Zen memisahkan 200 koin emas dan diberikan kepada Kapten Drull.


Di dorongnya kembali kepada Zen..."Itu tidak perlu tuan Zen, aku malu, hanya karena sedikit membantu anda dalam bertransaksi, kami mendapat bagian sebanyak ini, padahal kami semua sudah mendapat makanan luar biasa enak secara cuma-cuma."


"Tidak apa-apa paman, bukankah perjanjian awal, kita akan membagi sedikit keuntungan." Zen tetap memaksa.


"Tapi ini bukan lagi sedikit." Kapten Drull merasa tidak enak.


Anggota kelompok Orsinan yang lain terlihat kesal atas sifat naif dari kapten mereka. Mereka tentu ingin mendapat uang, tapi saat ada di depan mata, kapten Drull berpikir untuk tidak mengambilnya.

__ADS_1


"Ayolah kapten, jangan menolak pemberian Zen." Eri memaksa.


"Kau tidak sopan Eri. harusnya kita malu, kita seperti sedang memanfaatkan kebaikan orang lain." Keras tanggapan kapten Drull.


"B-bukankah, kapten memerlukan uang untuk pengobatan Ruka." Kini Hiyo angkat bicara agar dia menerima pemberian Zen.


"Ruka ?." Tanya Zen.


"Ruka adalah anak kapten Drul, dia mengalami sakit sejak Minggu lalu." Jawab Senko berbisik.


Zen mengangguk paham..."Oh begitu..."


"Jika paman menolaknya lagi, aku benar-benar akan pergi dan melupakan semuanya. Aku yakin paman pasti membutuhkan banyak uang." Zen tidak ragu lagi untuk menyerahkan dua ratus koin emas ke tangan Drull.


Tatapan mata sangar kapten Drul berubah sendu, wajah yang dipenuhi bekas luka seakan tidak pantas ketika melihatnya seperti orang ingin menangis.


"Terimakasih tuan Zen, aku akan menerimanya dan jika nanti tuan Zen memerlukan bantuan, cari saja aku, aku pasti akan membantu anda, apa pun yang terjadi." Ucap kapten Drull dengan menjabat tangan Zen erat.


"Katakan itu nanti, setelah masalah paman selesai."


Drul segera membagi keuntungan kepada masing-masing anggota secara rata, namun Eri, Hiyo, Senko dan Eland menyisihkan dua koin yang diberikan kembali kepada sang kapten.


Bagi mereka berlima, kelompok Hunter Orsinan seperti sebuah keluarga, mereka tidak mungkin bersenang-senang di saat salah satu saudara mengalami kesulitan.


Meski begitu, hanya dua koin emas itu tidak mengurangi banyak keuntungan dari pemberian uang kepada mereka.


Cepat Drul pergi, dia tidak ingin membuang waktu untuk membawa anaknya pergi ke dokter setelah mendapat banyak uang.


Begitu juga Erlan dan Senko, keduanya memiliki urusan masing-masing, karena mereka sudah berkeluarga, tentu ingin membeli makanan enak untuk dibawa pulang.


Kini tinggal dua anggota wanita, Hiyo dan Eri, mereka berdua secara sengaja masih menemani Zen.


"Zen apa kau senggang sekarang ?." Tanya Eri.


"Ya aku ingin mendaftar sebagai Hunter dan mencari penginapan malam ini. Kau tahu sudah empat hari, aku tidur di dalam hutan, itu sangat tidak nyaman." Jawab Zen.


"Kalau begitu, setelah mendaftar kita bisa pergi berkeliling."


"Aku tidak masalah." Zen menerima ajakan Eri.

__ADS_1


__ADS_2