KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Ratu semut hitam


__ADS_3

Berada di kaki bukit Ribbon terdapat sebuah kamp atau tempat para penambang tinggal sementara yang di jaga oleh para prajurit keRatuan Zorgan.


Kurang lebih ada 150 orang laki-laki berusia 30-50 tahun, mereka di pekerjakan oleh keRatuan karena memang Tambang mineral di bukit Ribbon masuk dalam aset keRatuan, sehingga penambangan di luar tempat itu akan dianggap ilegal dan menyalahi aturan hukum.


Beranjak lebih jauh dari tempat para penambang tinggal, terdapat sebuah gua yang menjadi lokasi pencarian bunga kalivira.


Zen sejenak merasakan sensasi Aura menakutkan keluar dari mulut Goa, kemungkinan besar berasal dari energi kehidupan para koloni binatang iblis Semut hitam yang bersarang di dalamnya.


Namun barulah mereka akan melangkah masuk, terdengar sebuah suara gemuruh keras, itu berasal dari perut Zen sendiri.


"Sekarang kita beristirahat dulu, akan sulit jika kita bertarung dengan perut yang kosong." Ucap Zen tersenyum malu.


Hiyo tidak menjawab, hanya sedikit anggukan kepala karena dia pun setuju.


Zen mengeluarkan Daging rusa batu yang sudah dia terpotong rapi sebelumnya. Hanya perlu menciptakan panci dan alat memasak lain untuk mulai membuat suatu untuk mereka makan.


Berpikir untuk membuat stew daging rusa, meskipun tidak dengan sayur-sayuran, tapi dengan semua bumbu yang Zen miliki tentu memiliki rasa yang lebih baik daripada hanya di bakar saja.


Zen mulai memotong daging Rusa batu kecil-kecil berbentuk dadu, memanaskan panci dan mulai memasukan minyak untuk menumis daging beserta tumbuhan bernama Orarin yang menyerupai bawang bombai.


'Selama rasanya mirip dan tidak beracun maka itu baik-baik saja.'


Setelah semua kecoklatan, barulah Zen menaburkan garam, sedikit gula, merica, cuka, kecap asin, air kaldu, sebotol anggur yang di awetkan dan tepung sagu. Menunggu sejenak hingga air kaldu sedikit sudut dan berubah kental, barulah Zen membuka tutup panci dan menaruhnya di atas piring.


Mata Hiyo berkilauan melihat daging rusa batu yang direbus dengan kuah kecoklatan.


Sekali lagi Hiyo meneteskan air mata ketika mulai menikmati stew daging rusa yang baru saja Zen buat.


"Terlalu berlebihan, kalau kau menangis karena makanannya." Ucap Zen yang tertawa melihat ekspresi wajah Hiyo.


"Tidak bukan itu."


"Oh, apa itu artinya masakanku tidak enak." Zen menggodanya.


Hiyo bingung karena tidak tahu harus berkata apa...."Kau salah, ini enak, sangat enak, hanya saja, tidak bisa aku jelaskan kenapa sampai menangis."


"Nikmati saja, kalau kurang, masih banyak." Zen cukup senang karena Hiyo tidak lagi murung.


Setelah semua daging itu habis oleh mereka berdua, kini Zen mempersiapkan diri dengan bilah pedang di tangan.

__ADS_1


"Ayo kita masuk."


"Maaf, tapi aku tidak." Hiyo menolak.


"Kenapa ?."


"Aku tidak menyukai tempat gelap, sempit dan di huni oleh hewan merayap." Gemetar tubuh Hiyo ketika membayangkan.


Zen pun tidak memaksanya..."Hmmm baiklah, jadi kau tunggu saja di luar."


Hiyo melihat sekitar, di tempat ini masih memiliki pepohonan yang lebat dan juga sunyi, dia segera menarik baju Zen dengan cepat sebelum masuk kedalam Goa.


"Ada apa ?."


"Jangan tinggalkan aku sendirian."


"Kalau begitu ikut aku masuk ?." Jawab Zen.


Hiyo kembali ragu-ragu..."Tapi..."


Tahu jika Hiyo ragu-ragu, Zen menarik paksa tangannya dan membawa masuk ke dalam goa. Semua tampak gelap, hanya titik-titik cahaya yang berasal dari batu kristal menjadi penerang jalan.


Zen dan Hiyo terus berjalan menelusuri lorong untuk mencapai lambung Goa yang lembab dan berair, dimana itu menjadi habitat tumbuhnya bunga kalivira.


Mengikuti arah lorong setapak yang membawa mereka turun, merasa sudah cukup dalam namun belum terlihat ujungnya. Hingga terdengar ada banyak langkah kaki berjalan seperti suara ujung pedang tergores ke bebatuan.


"Sepertinya kita hampir masuk ke dalam sarang mereka." Bisik Zen agar tidak mengeluarkan suara keras.


"Apa tidak sebaiknya kita kembali saja." Ucap Hiyo meringkuk di belakang.


"Ini sudah dekat, kita tidak bisa kembali begitu saja."


"Bukankah sudah cukup dengan bunga Rios, dengan itu kau bisa mendapat 15 koin emas."


"Jangan khawatir, aku pastikan semua akan baik-baik saja." Zen meyakinkan Hiyo yang terlalu berlebihan.


Melihat Hiyo sekarang, sama seperti dirinya yang selalu mencari alasan ketika diajak berburu oleh Sena. Di saat itu, Zen masih memiliki hidup bersama kedua orang tua dan bersembunyi dibalik identitas aslinya sebagai ras iblis.


Dia hanya perlu berpikir untuk tidak melakukan suatu hal berbahaya dan lebih memilih hidup aman resiko. Tapi semua telah berubah, dia tidak punya pilihan lain dan harus berusaha mencari cara mendapatkan uang.

__ADS_1


Tepat di ujung lorong, Zen dibawa ke dalam ruang Goa utama dengan puluhan ekor Semut berkeliaran sebagai koloni besar, mereka merayap di dinding, menyantap makanan dari binatang iblis yang mereka tangkap dan juga menggali banyak lubang.


Tapi ada satu keanehan, itu adalah benda bulat yang mengeluarkan cahaya kemerahan di atas timbunan tukang belulang dan bercampur dengan ratusan batu jiwa.


"Itu seperti telur, tapi terlalu besar." Gumam Zen.


[Proses evolusi - Semut tanah hitam menjadi wujud sempurna.]


'Siapa yang bicara.' Zen bingung karena tiba-tiba saja ada suara tidak dikenal terdengar dalam pikirannya.


Tidak ada jawaban lain. Tapi mendengar tentang evolusi itu adalah titik awal kehidupan baru dari suatu makhluk. Ibarat seekor kadal yang memiliki darah keturunan naga. Mereka memang tidak bisa dikatakan sebagai seekor naga untuk sekarang.


Namun dalam ribuan bahkan puluhan ribu tahun setelah menyerap esensi energi dari mangsa mereka, itu akan mewujudkan diri sebagai separuh naga.


Begitu juga untuk Semut tanah ini, dia sedang melakukan proses evolusi demi mendapatkan wujud baru yang lebih kuat.


Kehadiran Zen sekarang berada di waktu yang tidak tepat, dimana retakan muncul di bagian atas telur, sebuah tangan muncul menghancurkan cangkang dari dalam.


Sosoknya berjalan dengan dua kaki, namun di punggungnya ada sekitar empat tangan, begitu juga mulut memiliki dua taring tajam yang maju ke depan.


Melihat wujud evolusi semut itu, Zen benar-benar ingat bagaimana predator dalam film 'predator Vs alien' sangatlah mirip.


[Kebangkitan baru, Ratu Semut hitam]


Aura energi sangat kuat, itu berada di tingkat yang sama dengan binatang iblis kategori SS.


"I-iiiiini... mustahil kita melawannya." Hiyo tidak bisa menahan diri lagi untuk bersikap tenang.


Hiyo yang ketakutan, kini mencoba berlari pergi. Namun suara teriakan menarik perhatian Ratu Semut hitam dan melompat naik dengan kecepatan tinggi.


Zen bisa melihat gerakannya, dia baru saja lewat dan membuka cakar tajam yang siap menghujam ke arah Hiyo. Tepat sebelum serangan Ratu Semut merah datang, tiga pedang besar tercipta dan menjadi perisai.


"Kau tidak bisa melukai gadis itu, aku bertanggung jawab membawanya pulang dengan selamat." Ucap Zen.


Ratu Semut kini berbalik ke arah Zen yang sudah siap melawan.


"Manusia.... Tidak, kau adalah iblis, di hadapan Ratu ini, kau harus berlutut."


Setelah berevolusi, binatang iblis ini sudah menumbuhkan kecerdasan spiritual, dia bisa memahami perkataan manusia dan mulai berkomunikasi. Kemampuannya untuk berpikir itulah yang membuat Ratu Semut hitam menjadi lawan sulit bagi Zen sekarang.

__ADS_1


__ADS_2