KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Salah satu renkarnasi


__ADS_3

Bertarung melawan binatang iblis yang sudah menumbuhkan kecerdasan spiritual jauh lebih sulit dari pada binatang iblis kategori SS biasa.


Kecerdasan spiritual tidak hanya memberi mereka kemampuan untuk berbicara, tapi juga akal dalam mengatur rencana. Seperti menjaga jarak dengan lawan, melepas serangan sihir jarak jauh demi mencari kesempatan dan segala hal yang berkaitan tentang situasi di sekitar.


"Oh baru bisa berbicara saja kau sudah sombong begitu, belajarlah sedikit lebih banyak, bagaimana cara untuk menghormati makhluk lain terlebih dahulu." Balas Zen dengan mengejeknya.


Ratu Semut hitam sudah siap menyerang, kedua tangan memiliki cakar tipis seperti pisau di jari jemarinya. Jangkauan tangan yang cukup panjang bergerak maju dan berayun langsung ke arah Zen.


Sayang itu belum berarti apa pun, mata yang mampu melihat setiap gerak ayunan tangan Ratu Semut hitam dan juga memiliki refleks tubuh lincah serta fleksibel, menjadikan Zen bisa menghindar dalam berbagai situasi, meski sekarang pertarungan mereka berada di dalam lorong sempit.


Tapi Ratu semut hitam tidak tinggal diam, dia memikirkan cara lain, karena setiap tangan berhasil di hindari tanpa memberi luka. Sehingga kini makhluk mulai menggunakan empat tangan yang tumbuh dari setiap sisi tubuhnya dimana itu bukan hanya menjadi pajangan semata.


Masing-masing cakar bergerak memberi serangan bertubi-tubi, cepat, tajam, dan berbahaya. Tapi lebih dari perkiraan Zen, ketajaman cakar itu hampir menyamai senjata platinum yang bisa melubangi dinding batu seperti kerupuk.


Hanya saja, Ratu Semut hitam salah memilih lawan, Zen yang sudah pernah melawan makhluk setingkat binatang iblis kategori Legenda, tentu tidak menganggap serangan makhluk tingkat lebih rendah adalah hal luar biasa.


Setelah menaklukkan Dungeon, Zen bisa merasakan energi sihir dan segala kemampuan fisiknya berkembang secara drastis. Ini lebih seperti kenaikan level karakter di dalam permainan game analog.


"Mustahil ... evolusi.. sempurna, aku berada di tingkat yang lebih tinggi... dari sebelumnya, tapi kenapa... kau, iblis kecil seperti mu... masih bisa bertahan... setelah semua... serangan ku." Kejutan terasa dari cara bicara Ratu semut walau itu belum lancar.


"Sudah aku katakan, kau terlalu sombong untuk sekedar binatang yang baru bisa bicara, dan sialnya, lawan pertama yang kau temui adalah aku. jadi.... DIAM DAN TERIMA SAJA KEMATIAN MU."


Ucap Zen dari kalimat terakhir itu bersamaan dengan sorot mata merah yang mengunci jiwa Ratu Semut hitam untuk tetap diam di tempat.


Salah satu syarat seekor makhluk terkena efek dari tatapan pengikat jiwa kaum Ra'e adalah kekuatan mereka berada di bawah Zen. Hanya dengan ini saja sudah membuktikan bahwa binatang iblis kategori SS masih terbilang lemah untuk dia lawan sekarang.

__ADS_1


Ratu semut hitam mencoba memberontak, aliran sihirnya semakin naik dan memaksa tubuh untuk bergerak.


"Jangan.. mempermainkan... Ratu ini ...." Teriaknya keras.


Memang benar, Ratu Semut berusaha keras demi melepas diri, itu berhasil membuat kaki maju satu langkah. Tapi sayang, hanya untuk satu langkah yang dia buat, setiap tulang dalam tubuhnya remuk dan menyemburkan darah hitam keluar dari mulut.


Zen menciptakan pedang di tangan dan bersiap membunuh Ratu semut yang jatuh, namun dari dalam goa sarang para koloni semut, segerombolan pasukan mulai berdatangan.


Ratu Semut memang tidak bisa bergerak, tapi memancarkan gelombang transmisi yang di terima oleh setiap koloni untuk datang membantu. Jika hanya satu atau dua semut saja tentu bukan masalah, Zen bisa mengatasi semua itu dengan mudah.


Tapi sekarang, ada ratusan semut berusaha memasuki lubang yang di tempati oleh Zen dan Hiyo. Dia segera memasang penghalang dengan tumpukan pedang. Namun percuma, para semut menggali di dinding lorong, kemudian membuat jalan baru hingga menembus ke arah Ratu mereka.


Bongkahan tanah mulai berjatuhan, Zen khawatir jika serangan ratusan Semut akan membuat lorong tanah runtuh. Terlebih sekarang dia bersama Hiyo, tentu tidak bisa membuatnya dalam posisi berbahaya.


Semua sudah terlambat, perlahan tanah berjatuhan dan ketika tidak ada kesempatan untuk membawa Hiyo keluar. Sinar cahaya keemasan muncul dari balik tumpuk pedang dan melapisi dirinya ke dalam kubah sihir.


Hiyo duduk di tanah selagi memeluk lutut, dia menatap ke arah Zen dengan wajah yang seperti ingin menangis. Tersenyum lega karena masih bisa selamat dari runtuhan tanah oleh cahaya pelindung.


"Apa kau baik-baik saja." Tanya Zen yang berjalan melewati tumpukan pedang itu.


"Aku takut, padahal sudah aku katakan, jika ini sangat berbahaya, tapi kau tidak mau mendengarkan." Jawab Hiyo masih tertunduk takut dan membenamkan wajahnya di lutut.


"Maafkan aku, semua terjadi di luar tujuan kita." Balas Zen tertawa pahit.


Zen kembali mengeluarkan kain untuk menyeka air mata di wajah Hiyo. Melihat ke sekeliling kubah cahaya, Zen merasa takjub.

__ADS_1


Bagi orang lain, manusia pemilik dua kekuatan elemen dasar adalah hal Istimewa, mereka akan menjadi sosok terkenal di masa depan. Tapi Zen merasa aneh ketika dia tahu, jika Hiyo juga bisa menggunakan sihir atribut elemen cahaya.


"Ngomong-ngomong, kau juga bisa menggunakan sihir element cahaya." Tanya Zen.


"Sebenarnya aku bisa menggunakan semua elemen sihir." Sebuah pernyataan yang mengejutkan, bahkan untuk Zen sekali pun.


"Semua ?, Itu terlalu luar biasa ." Zen tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


Tapi rumit wajah Hiyo ketika akan menjawab perkataan Zen...."Hanya kau yang menganggapnya luar biasa, sedangkan orang lain akan melihatku aneh."


Tidak seperti sedang merendah atau bersikap sombong, senyum di wajah Hiyo sedang mengejek kepada dirinya sendiri.


"Kenapa kau berpikir itu aneh." Jawab Zen.


"Tentu saja aneh, karena tidak wajar bagi manusia biasa memiliki kekuatan seperti ku."


"Kalau begitu kau berarti bukan manusia." Itu memang kenyataan.


"Apa kau juga beranggapan kalau aku ini setan." Entah dari mana isi pikiran Hiyo.


"Di dunia ini tidak ada setan, orang-orang dunia Dios menyebutnya ruh. Itu artinya kau bukan bagian dari manusia biasa seperti mereka." Zen pun asal saja menjawab.


"Kau benar, sejak awal hidupku memang berbeda dari kebanyakan orang, karena aku bukan dari dunia ini." Hiyo setuju.


"Salah satu renkarnasi dari Sepuluh pahlawan." Ucap Zen menebak jawaban atas pertanyaan Hiyo.

__ADS_1


Hiyo pun mengangguk sebagai bentuk jawabannya.


__ADS_2