KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Golput


__ADS_3

Hiyo adalah sosok renkarnasi pahlawan utusan Dewa yang menolak keberadaannya sendiri di dunia baru Dios ini.


Di kehidupan yang lama, Hiyo adalah seorang putri anak konglomerat pengusaha properti dari Hongkong, bernama bernama Xia Fei.


Hidup dengan segala kemuliaan atas harta melimpah keluarga Fei yang tidak akan habis tujuh turunan, tanjakan serta tikungan. Segala kebutuhannya terpenuhi tanpa perlu bekerja keras, tentu membuat dirinya menjadi putri manja dan pemalas.


Suatu ketika Xia Fei mengalami insiden kecelakaan yang membuatnya tewas.


Itu adalah titik balik hidup seorang putri konglomerat Xia Fei, dimana kemudian jiwanya dibawa oleh para dewa untuk mendapat berkah sebagai pahlawan di dunia baru Dios.


Apa yang dia dapati dalam kehidupan baru sebagai Hiyo Aqualina sangatlah berbanding terbalik dengan hidupnya sebagai Xia Fei. Dia terlahir dari keluarga Hunter miskin yang tinggal di rumah sederhana pinggiran kota Dhu Zou, masih satu wilayah di kerajan Zorgan.


Kemuliaan yang dia miliki lenyap. Gemerlap lampu disko kini menjadi atap kayu lapuk dan tua, kemewahan keluarga Fei tergantikan oleh hidup serba sulit untuk bekerja setengah mati, makanan berkualitas dari restoran bintang lima berakhir di meja makan dengan rasa hambar.


Xia Fei tidak bisa menerima kenyataan bahwa dunia baru Dios jauh berbeda dari Bumi, selain peradaban yang kuno dan dipenuhi marabahaya. Dia pun harus hidup di dalam lingkaran kemiskinan.


Namun kesengsaraan Hiyo tidak berakhir sampai di situ, ketika usianya sudah masuk 13 tahun, kedua orang tua Hiyo tewas dalam satu tugas Hunter.


Semua yang terjadi menjadi penderitaan Hiyo Aqualina. Hingga tanpa sadar, Hiyo kini menjadi seorang penyendiri, murung dan penakut.


Drull adalah teman dari Ayah Hiyo, dia tidak bisa meninggalkan anak temannya begitu saja. Sehingga Drull memutuskan untuk merawat Hiyo membawanya ke kota Ser Din hingga sekarang.


Hiyo mempelajari kekuatannya di usia 14 tahun dan menjadi seorang ahli sihir, ikut dalam kelompok Hunter Orsinan demi mencari uang dan berusaha bertahan hidup untuk memburu binatang iblis.


Zen sudah menyadari keanehan Hiyo, bahkan ketika dia menikmati masakan buatannya dengan bumbu berasal dari bumi. Sikap yang Hiyo tunjukan tidaklah terkejut atau terkagum, Dia menangis, kemungkinan itu adalah kerinduan, karena bisa menikmati cita rasa dari dunia asalnya.


"Seperti halnya denganmu Zen, kau juga bagian dari sepuluh pahlawan kan ?." Hiyo tahu tentang Zen.


Rumit untuk Zen menjelaskan..."Hmmm aku tidak, bisa di bilang aku tidak berada di kubu pahlawan atau juga kubu iblis."


"Kau golput."


"Aku lebih senang menyebutnya sebagai Netral."


Tanpa ragu, Zen mengeluarkan pisau kecil dan merobek sedikit ujung jarinya, tetesan darah hitam diperlihatkan kepada Hiyo. Saat itu juga Dia sadar, bahwa Zen bukanlah manusia.


"Kau iblis ?, Tapi kenapa ?." Hiyo masih bisa tenang dan bertanya dengan ekspresi bingung.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu, aku memiliki status sebagai pahlawan utusan Dewa karena sebuah kesalahan, kemungkinan itu juga yang menjadi alasan kepada aku direnkarnasikan ke dalam rahim seorang ibu dari ras iblis." Zen belum bisa menjelaskan secara rinci.


"Sepertinya kau juga mengalami hidup yang sulit di dunia ini." Balas Hiyo.


Zen tidak bisa membantahnya, karena terlepas dari status sebagai pahlawan itu, dia tetap menjadi iblis yang dimusuhi oleh semua manusia.


Zen mendengar cerita dari Hiyo.


Dia seakan paham bagaimana sifatnya terbentuk menjadi seperti sekarang memang karena kondisi mental Hiyo yang belum menerima kenyataan untuk hidup dalam kesengsaraan.


"Itulah kenapa kau mengatakan jika tidak ingin semuanya berubah lagi." Ungkap Zen yang duduk di sebelah Hiyo.

__ADS_1


"Ya benar, hidupku sebagai Xia Fei sudah berakhir, kini aku menjadi Hiyo Aqualina yang harus berjuang mati-matian untuk mencari uang. Bukankah tidak adil." Keluh Hiyo murung.


"Aku mengerti itu Hiyo." Balas Zen dengan mengusap rambut hitamnya.


Dia berbeda dengan Sena, mental Xia Fei terbilang lemah, sifat manjanya dengan semua kekayaan keluarga Fei yang dulu, tentu menjadi kesulitan dalam sistem hidup yang keras di dunia baru Dios.


Sehingga ketika dia berada di posisi lebih baik bersama kelompok Orsinan, Hiyo tidak mau berubah lagi.


"Baiklah, untuk sekarang kita singkirkan semua Semut ini dan pulang." Ucap Zen agar Hiyo sedikit lebih tenang.


"Bagaimana dengan bunga kalivira ?."


"Lupakan itu, kita jual saja semua mayat Semut ini untuk mendapat uang."


Meski Semut bukan binatang iblis yang layak di konsumsi, tapi kulit dan batu jiwa mereka terbilang mahal, jika Zen dan Hiyo bisa membawa pulang sepuluh ekor saja, itu sudah cukup menguntungkan.


"Pertama-tama kita harus cari cara agar bisa keluar dari tempat ini." Zen berpikir.


"Kita bisa menggunakan sihir teleportasi." Mudah saja Hiyo menemukan solusinya.


"Benarkah ?." Kejutan lain Zen harus terima.


Sihir teleportasi masuk kedalam element cahaya, itu bisa mempermudah mereka keluar dari goa yang runtuh tanpa perlu menggali lubang.


Hiyo mulai membentuk rangkaian sihir di bawah kakinya, menyelimuti seluruh tubuh dengan cahaya dan dalam sekejap mata mereka berdua berpindah di luar mulut Goa.


"Padahal aku sempat berpikir menggunakan sihir tingkat tinggi untuk menghancurkan seluruh bukit ini." Ungkap Zen.


"Mau bagaimana lagi, kita bisa terjebak di sana sepanjang hari." Jawabnya mudah.


Ketika mereka sudah berada di luar. Zen bisa melihat akibat dari lubang yang dibuat oleh ratusan Semut itu, beberapa bagian di kaki bukit Ribbon telah longsor dan ternyata ratusan Semut keluar dari sarang mereka.


Hingga kini koloni semut bergerak menuju arah tambang mineral di atas puncak bukit.


Tidak hanya itu, Ratu Semut hitam yang terbebas dari ikatan pengendali jiwa mata Ra'e dan tubuh sudah pulih dengan kemampuan regenerasi ikut menyerang keluar.


Tujuannya jelas, mencari sumber energi, yaitu mineral dan batu sihir di dalam tambang. Semakin banyak mereka mengkonsumsi batu sihir dan mineral, itu akan menjadikan mereka lebih kuat.


Dari lokasi pertambangan.


Gemuruh langkah kaki binatang iblis semut hitam membuat semua pekerja tambang panik. Orang-orang itu segera menyelamatkan diri karena mustahil untuk melawan.


"Ini karena kita menganggu sarang mereka, aaaahhhhh kita pasti akan di salahkan dan mendapat hukuman oleh orang-orang." Hiyo ketakutan.


"Tenang saja, itu tidak mungkin terjadi." Tapi Zen meyakinkan Hiyo.


"Benarkah ?. K-kita tidak akan di penjara." Ucap Hiyo dengan wajah sedih penuh harapan.


"Mungkin."

__ADS_1


"Kenapa harus 'mungkin' itu membuatku ragu." Kesal Hiyo dengan wajah lucu.


Tapi Zen memiliki argumen yang logis ... "Meski kita tidak masuk kedalam sarang mereka, saat Ratu Semut hitam pastinya bangkit, dan masalah ini pun akan terjadi."


Hiyo bisa menerima pendapat Zen, sehingga dirinya tidak perlu takut jika disalahkan oleh semua orang atas munculnya koloni para semut.


"J-jadi apa yang harus kita lakukan sekarang." Tanya Hiyo berharap jawaban yang bisa membuatnya tenang.


Zen merasa harus bertanggung jawab...."Baiklah, sekarang kita berdua harus bertindak layaknya pahlawan ."


"Maksudmu kita harus melawan mereka."


"Memang apa lagi ?." Zen benar-benar santai untuk sesuatu yang berbahaya.


"Tidak, tidak, tidak, itu mustahil, aku akan tewas, aku tidak mau mati untuk kedua kalinya." Balas Hiyo menggelengkan kepala sebagai penolakan.


"Jangan khawatir selama ada aku, itu tidak akan terjadi." Senyum Zen meyakinkan.


Tanpa perlu menunggu persetujuan dari Hiyo, Zen menarik tangannya untuk segera pergi ke tempat tujuan para Semut. Menggunakan sihir angin mereka terbang dengan cepat, tapi daripada di bilang terbang, Zen hanya mendorong tubuhnya agar terbawa oleh hembusan angin.


Ini juga yang membuat senjata dari skill pencipta mampu melayang dan menyerang lawan dengan gabungan sihir angin kedalam senjatanya.


Orang-orang yang masih terjebak di sekitar tambang melihat Zen dan Hiyo berdiri melayang.


"Hiyo apa kau bisa mengurus beberapa dari mereka." Zen coba membuat Hiyo berusaha.


"Ini sulit, aku tidak mampu mengeluarkan sihir dalam jangkauan luas terlalu lama." Jawab Hiyo ragu-ragu.


"Kalau begitu gunakan sihir element petir."


"Aku akan coba melakukannya. Tapi jangan terlalu banyak berharap."


Zen mengangkat tangan ke atas, skill pencipta membentuk ratusan pedang yang jatuh dari langit.


Tidak semua pedang tepat sasaran untuk membunuh ratusan Semut yang bergerak lincah diantara bebatuan.


Tapi dari sinilah sihir petir milik Hiyo berguna. Gumpalan awan terbentuk dalam pusaran besar atas kendali rangkaian sihir yang dia rapal kan.


Zen terlihat takjub, tidak hanya dirinya, orang-orang yang ada di bawah pun menatap ke atas langit dengan mulut terbuka lebar.


Para Semut yang masih hidup kini berada di antara pedang-pedang yang sudah di ciptakan oleh Zen, kilat petir menyambar lurus menuju tanah berbatu, menerima dampak aliran petir tanpa bisa menghindar.


"Seperti yang aku harapkan dari pahlawan utusan Dewa." Gumam Zen takjub.


"A-apa ini sudah cukup." Tanya Hiyo karena takut tidak sesuai harapan.


"Ya, kau benar-benar luar biasa." Puji Zen.


"Jangan mengatakan sesuatu yang memalukan." Hiyo menutupi wajahnya merah.

__ADS_1


Apa yang Hiyo tunjukan adalah bukti bahwa dia benar-benar mampu menjadi pahlawan, hanya saja, sedikit perubahan atas sifat penakut dan ragu-ragu nya harus di perbaiki.


__ADS_2