KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Dimensi ilusi


__ADS_3

(note : untuk yang berpuasa, dimohon bijak dalam membaca, sebaiknya menunggu berbuka puasa, karena update pas di bulan Ramadhan..... Resiko di tanggung pembaca,Terimakasih.)


Langit-langit gurun pasir sudah kembali bercahaya untuk kedua kalinya, Zen dan Sena masih menikmati waktu istirahat di atas ranjang yang sama dengan tubuh tanpa tertutupi selembar kain.


Perlahan mata Zen terbuka, sedangkan Sena masih berada di posisi tubuh dalam pelukannya.


Mencoba untuk bangkit namun terasa begitu lemas, dia masih ingat seberapa sengit pertarungan mereka di atas ranjang.


Tidak ada yang mau kalah atau pun mengalah selama seharian untuk terus menerus menghujamkan senjata masuk kedalam tubuh.


"Zen, kau mau kemana ?." Tanya Sena.


"Ini sudah pagi, kita tidak bisa terus-terusan tidur." Jawab Zen.


Sena membenamkan wajah ke dalam bantal...."Tapi aku masih lemas."


Sikap Sena seperti anak kecil yang malas bangun pagi untuk bersekolah, tapi dia tidak menganggapnya salah, karena ini juga karena mereka sudah menghabiskan waktu dalam pertarungan sengit.


"Bagaimana tidak lemas, kita melakukannya selama semalaman tanpa berhenti." Balas Zen.


"Kau yang terlalu bersemangat, Zen."


Zen merasa disalahkan oleh jawaban Sena...."Kau tidak berhak bicara seperti menjadikan ku sebagai tersangka, padahal kau sendiri yang tidak membiarkanku pergi."


"Itu juga karena kau menginginkannya."


Tidak ada yang bisa Zen sangkal, pada akhirnya dia juga menikmati kegiatan mereka semalam.


"Ok, baiklah, kita tidak perlu ribut soal ini, aku dan kau sama-sama menikmatinya, jadi bukan masalah."


Sena masih mengeluh...."Tapi ini masih terasa sakit. Kaki ku seperti mati rasa, Kau harus bertanggung jawab. Kau harus memasak sesuatu yang enak nanti."


Tapi Zen tersenyum sendiri dan menghampiri Sena yang kembali menarik selimut.


"Tentu saja, aku akan melakukannya. Sayang." Sebuah ciuman Zen berikan di bibir mungil itu.


"Kau curang. Aku merasa tidak ingin melepaskan mu sekarang."


"Jangan berlebihan, kita juga harus makan, jadi bersabarlah sedikit."


Sena mengangguk perlahan, gadis yang dia kenal keras kepala, egois dan seenaknya sendiri, kini menunjukkan sisi feminim dengan sikap seperti gadis manja.


Setelah makan dan membersihkan diri, mereka melanjutkan perjalanan untuk melangkah maju mencari pintu penghubung ke lantai 50.


Setelah langit redup, Zen dan Sena kembali dengan kegiatan mereka yang begitu intens, penuh semangat dan saling menikmati satu sama lain.


Sena menjadi sosok rakus akan kenikmatan, bahkan dia kini lebih banyak mendominasi untuk posisi di atas hingga terkadang Zen merasa akan kalah oleh remasan kuat yang menghisap tubuh serta jiwanya.


Hingga tujuh hari sudah berlalu, tapi keduanya tidak mendapat kemajuan apa pun, selain pengalaman Sena di atas ranjang, kadang pula di luar tenda.

__ADS_1


Berjalan maju atau pun mundur, ratusan kilometer yang sudah di lalui tapi tidak mendapat petunjuk apa pun.


Zen dan Sena berada dalam posisi buntu, mereka sudah kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari gurun pasir yang tidak berujung.


"Sudah tiga hari aku berada di gurun pasir ini, aku tidak ingin terkurung selamanya, aku harus cari jalan keluarnya."


Zen mulai berpikir serius untuk mencari cara lain, tapi selama perjalanan menyusuri gurun pasir tidak ada kehidupan selain mereka berdua benar-benar sulit.


Tiba-tiba saja Sena menghampiri dan menyandarkan tubuh diatas pangkuan.


"Hei ini masih siang apa kau mau menggoda ku." Ucap Zen dengan memeluk pinggang Sena.


"Apa salahnya bermanja-manja pada kekasihku sendiri."


Zen tidak pernah sedikit pun berpikir bahwa dia dan Sena akan sedekat ini, banyak hal terjadi, semua jelas dalam pikiran dan perasaannya pun sangat nyata


"Zen, berjanjilah satu hal, saat keluar nanti, kau tetap mencintai ku seperti ini."


"Tentu saja aku berjanji, aku tidak akan meninggalkan mu. Sena.... Tapi bagaimana dengan pangeran, aku benar-benar tidak ingin berurusan dengan kerajaan."


"Jangan khawatir, aku akan mengurusnya."


Saat ini Zen memandangi langit yang masih terlihat begitu terang dan berkata kepada dirinya sendiri.


"Apa kau bisa menggunakan serangan sihir terkuat mu." Ucap Zen dengan rencananya.


Sena sedikit bingung tapi dia menganggukkan kepala..."Ya itu bisa saja aku lakukan, tapi kenapa ?."


Ini memang belum mereka coba, sampai sekarang hanya berjalan dan berharap akan menemukan sesuatu yang menjadi jalan keluar.


Hingga kini, Sena mengeluarkan Skill sembilan senjata, dan mengambil Basoka yang menjadi senjata terkuat hingga mampu meratakan sebuah kerajaan dengan satu serangan.


Mengambil posisi siap untuk menarik pelatuk, aliran energi sihir milik Sena berpusat ke satu titik dengan konsentrasi tinggi di ujung senjatanya.


Energi cahaya merah menyala, melesat dan menyebar luas mengubah suasana langit yang terang kini seperti terbakar oleh ledakan luar biasa besar.


Namun sesuatu yang aneh terjadi, langit-langit gurun pasir membentuk sebuah retakan dan serpihan-serpihan cahaya jatuh, tapi beberapa saat kemudian, langit semua kembali seperti semula, seakan tidak pernah ada ledakan besar dari serangan sihir milik Sena.


"Ini tidak berhasil."


Tapi dari serangan Sena itu, Zen pun menyadari sesuatu. Satu hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya.


"Jadi begitu." Ucapnya mengangguk paham.


"Apa kau tahu sesuatu."


"Ya, ini adalah jebakan dimensi. Kita terkurung di dalam sebuah dimensi buatan." Ucap Zen atas apa yang dia ketahui.


"Apa yang harus kita lakukan agar keluar dari jebakan dimensi ini."

__ADS_1


"Aku pernah membaca sebuah buku, dimana orang yang mampu menggunakan skill dimensi, dia bisa memanipulasi segala hal di dalam wilayah kekuatannya."


"Jadi ?." Sena masih belum mengerti.


"Kita harus menemukan sesuatu yang menjaga energi dimensi ini tetap stabil."


"Tapi dimana ?, Sedangkan semua yang kita lihat hanya pasir."


"Kalau begitu bagaimana dibawah pasir." Itu terpikirkan oleh Zen.


Zen mulai menggali, dan memang benar saja, jika dibawah pasir gurun ada lantai batu dengan ukiran simbol berada di atas mereka sejak awal.


"Kita harus mencari titik tengahnya."


Lantai batu itu terkubur di setengah meter di dalam pasir dan juga membentuk sebuah lingkaran dengan diameter lebih dari 200 meter.


Setelah semuanya selesai, batu itu sendiri adalah lingkaran sihir dimensi, dimana Zen memiliki sedikit pengetahuan tentangnya, dimana setiap bentuk kehidupan berada di dalam lingkaran sihir yang aktif, maka jiwa mereka akan terbawa ke suatu tempat.


"Aku menyesal mengatakannya, tapi yang terjadi kepada kita selama ini hanya sebuah ilusi." Ucap Zen dengan ekspresi wajah tampak murung.


"Tidak mungkin, jadi kita...."


Sedikit hati Zen ragu-ragu untuk menjawab, tapi Sena haruslah tahu tentang keadaan mereka sekarang...."Meski pun kita melakukan banyak hal bersama, itu tidak pernah terjadi pada tubuh kita secara nyata."


"Tapi...." Sena khawatir, dia sedikit takut untuk mendengar penjelasan Zen lebih lanjut.


"Aku tahu, meski yang kita lewati hanya ilusi, tapi aku perasaanku adalah nyata, jadi jangan khawatir Sena, aku tidak akan berubah saat kita kembali."


"Apa kau berjanji."


"Ya aku pastikan itu."


Ini adalah jebakan yang dibuat oleh Dungeon. Lantai 49. Dimensi ilusi.


Dimana ketika jiwa mereka berdua terkurung di dalam khayalan dan tidak dapat keluar.


Tubuh mereka di dunia nyata lambat laun akan kekurangan energi, tanpa makan dan juga minum selama berhari-hari, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun, hingga pada akhirnya akan mati.


Sehingga dia tidak mungkin berlama-lama di dimensi ilusi, Zen harus mengambil tindakan agar bisa keluar.


"Sena aku ingin kau membunuhku." Ucap Zen tiba-tiba.


Kejutan hadir dari permintaan Zen...."Tidak aku tidak bisa."


"Hanya itu satu-satunya cara yang aku pikirkan untuk kita keluar dari tempat ini." Zen coba menjelaskan.


Sena menolak..."Tapi aku tidak mau melakukannya, aku takut, jika kau benar-benar mati. Lalu bagaimana dengan ku."


"Percaya padaku." Zen menyerahkan sebilah pedang yang dia ciptakan sendiri.

__ADS_1


Sena ragu-ragu, tangannya gemetar, dia bingung, hingga tepat sebelum mengayunkan pedang itu ke leher Zen, satu ciuman dia berikan sebagaimana dianggap seperti salam perpisahan.


Rasa takut tentu menghantui Sena, tidak mau melepas pelukan dari tubuh lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta dan terbawa emosi karena semua ini bagi Sena adalah nyata terjadi.


__ADS_2