KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Bukan manusia sembarangan


__ADS_3

Selesai Unisza Gabriel sang kursi ke 1 menyampaikan semua yang ingin dikatakan kepada para pahlawan. Ini membuat mereka sadar bahwa menjaga keseimbangan dunia adalah sebuah kewajiban.


Terlebih lagi, tentang sepuluh penguasa iblis yang di turunkan langsung oleh Dewa iblis sebagai lawan dari sepuluh pahlawan, tentu bukan sekedar hiburan semata.


Dikatakan oleh para dewa surga bahwa kesepuluh penguasa iblis memiliki kekuatan yang setara dengan sepuluh pahlawan. Dimana satu kehadiran penguasa iblis bisa disetarakan sebagai bencana besar dari serangan binatang iblis kategori Legenda.


Namun tetap saja, bagi Hiyo ini adalah tekanan batin, ibarat bekerja dengan taruhan nyawa, sedangkan dia tidak mendapatkan kompensasi dari asuransi kesehatan dan jaminan kecelakaan kerja.


Kini keempat pahlawan beranjak keluar, mereka sengaja di bawa ke tempat jamuan makan untuk saling mengakrabkan diri.


Hiyo berjalan ragu-ragu ke arah Sena,


"Anu... Maaf nona Sena."


Sena berbalik dengan perasaan tidak senang... "Huh ?... ada apa !!!?."


Hiyo terkejut ketika sorot mata Sena melihat dengan tajam dan seakan kurang nyaman karena dia sudah membuatnya marah untuk alasan yang tidak diketahui.


Sebagai wanita yang kurang baik dalam bersosialisasi, jelas ekspresi marah di wajah Sena membuat Hiyo takut hingga gemetar.


"Ti-tidak, maafkan aku, maafkan aku...A-aku ingin bertanya, tentang Zen."


"Zen ?, Bagaimana bisa ?, Tidak, dimana dia sekarang." Seketika ekspresi Sena berubah.


"Dia ada di kota Ser Din, kerajaan Zorgan. Tapi harusnya Zen sudah pergi ke kota lain sekarang." Balas Hiyo.


"Apa yang dia lakukan di sana."


"Zen mendaftar sebagai Hunter....." Itu yang Hiyo tahu.


"Hmmm, mmm." Sena mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ketika Hiyo banyak bercerita tentang Zen. Sena ibarat anak kecil yang mendengar dongeng si tikus mencuri uang rakyat kemudian mati di racun karena terlalu rakus.


Sena benar-benar bersemangat dan menjadi sosok berbeda ketika dia senyum lebar membahas perihal lelaki bernama Zen, Hiyo penasaran hubungan seperti apa yang terjalin antara mereka berdua.


"Tapi aku tanya lagi... Kau dengan Zen hanya sebatas teman saja kan ?." Pertanyaan itu terdengar aneh dimana senyum dan cara Sena melihat ke arah Hiyo seperti tidak menunjukkan sesuatu yang baik.


"A-Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Zen. Aku hanya seseorang yang dibantu oleh Zen, itu saja, tidak lebih." Jawab Hiyo.

__ADS_1


"Baguslah, karena jika lebih dari sebatas teman...." Aura Sena mirip pembunuh yang sedang menatap mangsanya.


'D-dia menakutkan....' Hiyo bisa merasakan itu.


Dari jauh, Rose yang baru datang, melihat bagaimana Sena dan Hiyo saling berbincang, meski tidak bisa dia mendengar pembicaraan mereka, tapi sadar bahwa keduanya berasal dari dunia yang sama, tentu beranggapan semua baik-baik saja.


Rose pun berjalan mendekat.


"Nona Sena, nona Hiyo, bagaimana pertemuan dengan para ketua." Tanyanya.


"Oh, nona Rose... Semua berjalan lancar seperti biasa." Jawab Sena.


"Baguslah kalau begitu."


"Sebenarnya bukan sesuatu yang bagus juga, karena ini menyangkut pergerakan para ras iblis di beberapa wilayah." Sena pun sedikit menjelaskan dengan senyum mengejek.


Rose menganggukkan kepala..."Ya aku pun sudah mendengar beritanya, tapi pasukan Teokrasi dan negara-negara lain di benua timur dan barat bisa mengatasi ras iblis itu."


Rose dan Sena memang sejak awal sudah cukup akrab satu sama lain, karena memang Rose alumni dari akademi sihir Zezzanaza dan menjadi seseorang yang menjemput Sena di kerajaan Villian.


"Aku mendengar jika nona Sena dan tuan Zen saling mengenal."


"Tuan Zen juga menitipkan surat untuk anda nona Sena." Ucap Rose selagi mengeluarkan sepucuk surat dari dalam kantong jubah.


Cepat tangan Sena menyambar kertas yang baru saja Rose keluarkan dan segera membuka untuk dibaca. Senyum diwajahnya tidak turun sama sekali, kata demi kata seperti menjadi kebahagiaan besar hingga membuat Sena lupa tentang kehadiran semua orang.


Lepas surat dia baca bahkan diulang dua kali, kini Sena menunjukan ekspresi wajah yang ramah kepada Hiyo dan juga Rose.


"Aku mengerti, jadi tenang saja, selama kau bersamaku tidak akan ada yang berani menganggu mu, Hiyo dan juga aku pastikan kau berlatih dengan baik jika bersamaku."


"K-kalau begitu terimakasih." Hiyo tersenyum.


Aura kekesalan Sena kini benar-benar sirna hanya karena sebuah surat dari Zen, Hiyo bisa mengambil kesimpulan bahwa hubungan mereka berdua tidak mungkin sekedar teman.


Dimana sebelum Sena mendapat surat itu, kecemburuan terlihat jelas dan ingin menyingkirkan siapa saja yang berniat mengambil Zen darinya.


Tapi saat mereka bertiga saling berbincang, di tempat lain, Ramzel dan Haze pun membicarakan sesuatu yang cukup menarik. Dimana itu juga tentang satu orang.


"Aku mendengar jika kau dikalahkan oleh seseorang. Haze." Ramzel mengejek.

__ADS_1


Haze masih kesal saat mengingatnya..."Diam kau, aku tidak ingin mendengar komentar apa pun darimu."


Kekesalan terlihat jelas dari wajah Haze, meski begitu, Ramzel tidak peduli, dia tertawa keras hingga membuat Haze tersinggung dan semakin marah.


Namun sekilas, senyum mengejek Ramzel berubah serius, sorot matanya tajam dan mengintimidasi Haze hingga membuatnya tertunduk lemas.


Sejak awal, kekuatan Ramzel sudah berada di atasnya, sehingga Haze tidak berani menyinggung Ramzel.


"Sebagai seorang pahlawan utusan Dewa yang memiliki kekuatan istimewa tiada duanya, kau masih dikalahkan.... Sungguh mengecewakan."


"Dia bukan manusia sembarangan, meski bukan salah satu pahlawan seperti kita, tapi kekuatannya begitu aneh." Ucap Haze kesal.


Namun Ramzel terlihat penasaran...."Aneh seperti apa maksudmu... Sedangkan pedang Excalixer yang mampu membalik semua serangan secara mutlak, apa itu juga tidak bisa dianggap aneh ?."


"Dia bisa menciptakan pedang Excalixer yang sama seperti milikku."


Ramzel semakin mengejek Haze..."Mustahil, pedang Excalixer adalah pemberian Dewa, jadi mana mungkin ada manusia biasa bisa melakukannya."


"Maka dari itu aku menganggapnya bukan manusia sembarangan."


"Kalau tidak salah namanya Zenhan." Ucap Ramzel.


"Dia juga kenalan dari Sena." Tambah Haze.


Kini Ramzel berpikir sejenak, dia seperti mengingat satu nama yang tercantum dalam monumen batu di Dungeon kerajaan Villian, dan itu sama persis dari sosok Zen.


"Apa kau sudah mendengar tentang kemunculan monster dari dalam Dungeon yang menghancurkan kerajaan Villian beberapa bulan lalu."


"Tentu saja, berita itu memang sangat heboh, karena baru pertama kali monster Dungeon muncul ke permukaan."


"Apa kau tahu, siapa orang yang berhasil menaklukkan Dungeon."


"Itu di lakukan oleh Sena..." Jawab Haze karena hanya sosoknya saja yang di kenal oleh publik.


"Dia tidak sendirian, ada satu nama lagi, yaitu Zenhan, kemungkinan Zenhan yang kau lawan adalah orang yang menaklukkan Dungeon bersama Sena." Ungkap Ramzel.


"Aku tidak peduli, di masa depan nanti, Zenhan itu pasti akan aku kalahkan."


"Ini membuatku bersemangat, aku pun penasaran seperti apa sosok Zenhan." Ramzel tidak membuang senyum ketertarikannya itu.

__ADS_1


Ramzel adalah sosok yang ingin berdiri di puncak, sehingga ketika mendengar sosok Zen cukup mampu mengalahkan seorang pahlawan seperti Haze, dia pun penasaran untuk melihat kemampuannya.


__ADS_2