
Kengerian iblis itu memang bukan tanpa dasar, Zen sadar hanya ada tiga kategori untuk seorang makhluk mampu menyembunyikan aura kehadirannya.
Pertama adalah dia seorang ahli dalam menekan aura di dalam tubuh.
Kedua adalah mereka memang terlalu lemah, bahkan di dalam tubuhnya tidak memiliki energi Sihir.
Ketiga adalah dia berada jauh di atas semua orang, sehingga mustahil siapa pun yang ada di bawah tingkatannya untuk merasakan energi orang itu.
Hanya saja, sosok iblis yang kini di hadapan Zen termasuk dalam kategori pertama, dia seorang ahli, atau bisa juga dikatakan iblis tingkat tinggi, sehingga mampu menyembunyikan aura kehadiran tersebut.
"Ternyata ada seseorang yang sudah mendahului ku menemukan benih kebangkitan penguasa iblis." Ucap iblis itu berjalan mendekat.
Kali ini dia tidak segan-segan melepas energi gelap yang bisa di rasakan oleh siapa pun menerima tekanan kuat, Zen masih bisa bersikap biasa saja, tapi tidak dengan Eri.
Dia gemetar ketakutan, keringat dingin dan juga terjatuh karena lututnya lemas. Zen melepas energi kepada Eri agar bisa menyesuaikan diri.
Tapi tetap saja, kehadiran iblis itu terlalu kuat bagi manusia lemah setingkat Eri.
"Kau tahu seberapa sulit aku mencari benih kebangkitan iblis itu." Ungkapnya yang kini berdiri tepat satu jengkal di hadapan Zen.
Berusaha tenang dan tidak menunjukkan rasa takut, Zen menjawab..."Ya kau terlambat beberapa menit, sungguh sangat di sayangkan."
Cakar di tangan dia perlihatkan di depan mata, seakan menjadi cara untuknya mengancam... "Tapi jika kau mau menyerahkan benih Penguasa iblis itu, maka aku akan mengampuni mu."
"Memang apa untungnya aku menuruti permintaan mu." Balas Zen tersenyum mengejek.
Suara tawa menggelegar keras hingga binatang iblis kecil di dahan-dahan pohon berhamburan pergi setelah mendengarnya.
"Tentu kau sadar dengan siapa kau bicara sekarang." Sorot mata tajam semakin mengancam Zen.
"Huh ?, Aku tidak kenal denganmu, jadi untuk alasan apa aku tahu ?." Balas Zen mengejek.
__ADS_1
"Aku adalah Edurali V Doomzar, penguasa iblis utusan Dewa... Sebagai makhluk rendahan tunduklan di hadapan ku, maka aku akan memberi kematian yang damai."
"Ini terdengar lucu, meski kau memberikan gratis, aku tidak ingin mati dengan cepat, setidaknya aku memiliki banyak urusan untuk seratus tahun kedepan."
Sosok yang kini berhadapan langsung dengan Zen adalah Edurali V Doomzar. Salah satu penguasa dari utusan Dewa iblis.
Bagi siapa pun menunjukkan provokasi di hadapannya adalah hal berbahaya, tidak hanya mengancam kesehatan, tapi nyawa pun akan lepas ketika diajak bercanda.
Namun Zen tahu batasan, dia masih mampu melawan, sehingga tidak perlu menuruti keinginannya.
"Aku katakan sekali lagi, berikan benih kebangkitan iblis sekarang."
"Sepertinya itu sulit, karena apa yang kau cari sudah masuk kedalam perut ku." Jawab Zen mengusap perutnya sendiri.
"Mustahil, tidak ada manusia yang mampu menelan kekuatan iblis." Edurali V Doomzar terkejut dan menolak percaya.
"Ketidak mustahil itu adalah plot twist yang mengejutkan, karena asal kau tahu, aku juga termasuk ras iblis."
Saat Zen memberi pernyataan tentang dirinya, ayunan tangan saling bentrok untuk beradu kekuatan antara mereka berdua.
Ledakan gelombang energi besar mendorong tubuh Eri hingga berguling jatuh beberapa meter.
"Pantas saja aku merasakan adanya aura keakraban, aku pikir tidak akan bertemu dengan iblis lain di sini. Jadi harusnya kau sadar... Aku adalah penguasa iblis, bersujud dihadapanku dan akan aku ampuni nyawamu."
"Tapi maaf. Aku tidak pernah bersujud kepada siapapun, bahkan jika kau penguasa iblis, itu tidak berarti kau pantas mendapatkan rasa hormat dariku."
Zen menarik pedangnya di kedua tangan, bergerak cepat menyerang dari segala sisi dengan teknik beladiri pedang yang sudah dia pelajari selama ini.
Hanya saja, pedang platinum ciptaan Zen tidak cukup mampu bertahan lebih lama setelah menerima tiga serangan Edurali V Doomzar. Berulang kali senjata-senjata itu hancur, tapi tetap Zen terus menyerang.
Energi Edurali V Doomzar semakin meningkat, Zen terpojok oleh kekuatan yang lebih besar. Hingga saat kedua sedikit menjauh, Zen menarik pedang Excalixer, meski itu hanya tiruan, tapi kekuatannya setara yang original.
__ADS_1
Keduanya kembali bertarung dengan kondisi seimbang, saling menyerang dan saling menangkis, kecepatan yang mustahil dilihat oleh mata manusia biasa.
Tapi di sisi lain Eri memiliki kemampuan 'Lintasan Mata', sehingga cukup mudah bagi dia mengikuti gerakan keduanya.
Eri menarik busur dan anak panah yang siap diarahkan ke Edurali V Doomzar, tanpa perlu ragu melesat serangan panah itu di sertai energi sihir api.
Dan tepat menembus lapisan kulit keras dari penguasa iblis di bagian tangan, itu juga membuat Zen mendapat kesempatan untuk melayangkan satu tebasan telak di dada.
Goresan luka pedang Excalixer menjadi serangan telak dengan rasa sakit luar biasa dan melompat jatuh berlumuran darah hitam.
"Gadis itu ..." Teriak keras Edurali V Doomzar penuh kemarahan.
Secara tiba-tiba sosok Edurali lenyap dari depan mata, itu sihir teleportasi yang membuatnya berpindah dalam sekejap.
Eri terlalu ceroboh, dia yang awalnya ingin membantu Zen kini berada dalam masalah akibat tindakannya.
Sosok Edurali V Doomzar kini muncul dengan tiba-tiba, tidak ada kesempatan bagi Eri melawan, dia mati langkah, rasa merinding datang saat melihat aura gelap yang mengerikan datang.
Eri bisa tahu bahwa kematian sudah ada di depan mata, mustahil untuknya menghindar dan bahkan dari pandangan mata yang terjadi dalam hitungan detik kedepan mulai bergerak lambat, cakar semakin dekat menuju depan wajah.
"Ah... Aku akan mati." Gumam Eri.
Zen tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Eri, dia sekuat tenaga berlari namun semua telah terlambat.
Dan benar saja, setelah cakar itu melewati tubuhnya, sobekan besar di bagian leher hingga perut membuat darah berhamburan keluar, rasa sakit luar biasa tidak mampu dia tahan. Namun tenggorokan pun sudah terkoyak hingga tidak bisa lagi bersuara.
"Aku tidak ingin mati, aku masih ingin hidup dan pergi bersama Zen." Terpikir Eri tentang semua yang mereka lakukan bersama.
Melihat tangannya sendiri penuh darah, pandangan perlahan kabur dan gelap. Eri pun kehilangan kesadaran.
Dari sisi lain, Zen yang sudah jatuh oleh Edurali V Doomzar kini beranjak bangkit, ledakan aura muncul di dalam tubuhnya dan menghasilkan energi besar hingga membuat langit menjadi merah darah.
__ADS_1
"Aku akan membunuhmu !!!." Keras teriakan selagi menunjukkan sorot mata merah yang lebih terang dari biasanya.
Edurali V Doomzar seperti ingin tersenyum, tapi kejutan atas energi milik Zen membuat ekspresinya menjadi bingung, karena yang ada dihadapannya sekarang menunjukkan diri sebagai sosok dengan kekuatan luar biasa.