KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Atraksi Sirkus


__ADS_3

Selama kepergian Zen untuk berjalan-jalan mencari barang menarik di rumah pelelangan, ternyata hal tidak menyenangkan terjadi kepada Eri.


Saat ini, Eri yang duduk di sebuah meja dengan menunjukan tatapan malas selagi banyak lelaki menunjukan kemampuan mereka demi menarik perhatian.


Ibarat lomba ajang pencarian bakat dan Eri menjadi jurinya atau bisa juga dianggap sebagai atraksi sirkus. Ada yang beradu pedang, melatih hewan, menari, bernyanyi, berpuisi hingga juling bola api.


"Tuan apa yang mereka lakukan." Tanya Lify.


"Jangan lihat mereka, mereka hanya sekumpulan orang gila yang tidak punya rasa malu." Jawab Zen memberi tahu kepada Lify pelan.


"Oh, jadi begitu...." Lify pun mengangguk paham.


Melihat Zen telah kembali, Eri segera pergi dari kursinya dan berlari mendekat dengan wajah menyedihkan seperti sedang teraniaya.


"Kenapa kau meninggalkanku sendirian, kau tahu ibuku benar-benar tidak waras." Ungkapnya kesal.


"Siapa yang kau anggap tidak waras." Hanna pun datang dan merasa tersinggung.


"Tentu saja ibu, bagiamana mungkin ibu ingin memperkenalkan aku kepada para lelaki yang tidak jelas itu." Tegas Eri kesal.


"Apa salahnya, siapa tahu kau menemukan lelaki yang cocok." Jawab Hanna tertawa sendiri, dia tentu menganggapnya seperti lelucon untuk mengisi waktu luang.


Di ketahui oleh semua orang, jika ibunya Eri adalah ketua kelompok bandit Olopus, sehingga para anggota mulai memberi kekaguman kepada Eri. Kemungkinan agar bisa diangkat menjadi calon menantu.


Dan semua orang itu jelas tidak memenuhi kriteria lelaki idaman bagi Eri atau pun Hanna.


"Ngomong-ngomong, siapa anak kecil yang sejak tadi bersembunyi di belakang mu itu Zen ?." Tanya Eri melihat ke arah Lify.


"Jangan-jangan dia adalah anak mu yang hilang." Asal saja Hanna menjawabnya.


Rumit senyum wajah Zen karena dia tidak ingin di ajak bercanda...."Bagaimana bisa kalian berdua berpikir seperti itu."


"Aku hanya beranggapan saja, jangan khawatir, di dunia gelap ini ada banyak lelaki yang tega meninggalkan anak mereka." Cara Hanna menjelaskan sangat tidak menyenangkan.


"Tapi sayangnya aku bukan penduduk dunia gelap." Tegas Zen menolak pendapatnya.


"Lalu siapa gadis kecil ini..." Tetap saja Hanna penasaran.


Tidak ada yang perlu di sembunyikan, Lify pun diarahkan oleh Zen untuk memperkenalkan diri di hadapan mereka berdua.


"Aku Lify, aku adalah budak yang di beli oleh tuan Zen." Begitu cara anak kecil polos menjelaskan penuh kesalahpahaman.


Di dunia gelap perdagangan budak sudah menjadi hal wajar, karena ada banyak para penjahat yang secara terang-terangan menjajakan di muka umum.


Eri tentu sadar bahwa anak kecil itu berbeda, dia melihat telinganya yang panjang dan tubuh kumal tidak terawat.

__ADS_1


"Oh, jadi ini alasan mu tidak mengajak ku ikut, mencari sesuatu yang menarik kah ...?." Ucapnya melihat Zen kesal.


"Apa kau berpikir aku memang sengaja mencari seorang budak dan menganggap bahwa aku menyukai anak kecil." Begitu yang Zen lihat dari makna ekspresi Eri.


"Memangnya bukan ?."


"Tentu saja bukan, aku merasa iba saat melihat Lify tersiksa sebagai budak, sehingga aku putuskan untuk merawat dan mengantarkannya pulang di masa depan nanti." Zen coba menjelaskan kepada mereka sekali lagi.


Setelah Zen menceritakan semua kepada ibu dan anak ini, dia pun membawa Lify ke kamar untuk berganti pakaian.


Zen tidak pernah menciptakan baju ukuran anak-anak seusia 13 tahun, sehingga yang harus dia lakukan adalah mengubah pakaian milik Eri.


Dia cukup handal dalam ketrampilan tangan, entah itu menjahit, memasak atau pun membuat karya seni, hingga tanpa perlu waktu lama, satu pakaian pun selesai.


"Woooaaahh." Lify terkagum dengan bertepuk tangan.


"Oh iya, Lify berapa usiamu sekarang." Tanya Zen.


Lify mulai menghitung dengan jari..."19 tahun."


Tentu Zen terkejut... "Kau bahkan lebih tua dariku."


Setidaknya dalam usia Zen di dunia Dios, karena dia barulah berusia 18 tahun sekarang.


Tapi dia segera mengingat bahwa ras Elf memiliki usia yang panjang dan siklus kehidupan berbeda dari manusia. Meski usianya ratusan tahun, mereka akan terlihat seperti Remaja, bahkan jika pun sudah memasuki usia seribu tahun, itu tidak akan mengubah kecantikan di wajah para Elf.


"Kau baji*ngan, dasar tidak tahu malu, bina*tang." Teriak Eri mendorong Zen hingga jatuh.


"Ada apa denganmu, kenapa kau memaki-maki ku penuh semangat." Zen bingung.


"Bagaimana bisa kau menyebut dirimu sebagai lelaki, sedangkan kau berniat menelan*jangi seorang wanita." Tegas Eri tanpa memberi Zen kesempatan membela diri.


Rumit ekspresi Zen atas semua tuduhan yang sembarangan itu.


"Dia masih anak kecil, tidak mungkin bisa dianggap sebagai kejahatan." Balas Zen.


"Aku mendengarnya, jika dia sudah berusia 19 tahun, itu artinya dia wanita dewasa."


"Kau tahu, elf itu memiliki usia yang panjang, jadi sembilan belas tahun masih terbilang anak kecil."


Tanpa perlu mendengar alasan lagi dari Zen, segera saja Eri menarik Zen untuk keluar dan membiarkan dirinya mengambil alih dalam urusan Lify .


Zen tidak mempermasalahkan itu, hanya ketika menganggap dia sebagai bajingan yang memanfaatkan keadaan, membuatnya sedikit kesal.


Berjalan keluar, Hanna dan para anggota lain sedang bercengkrama ria untuk pembicaraan santai tentang kegiatan bandit Olopus.

__ADS_1


"Zen kemarilah... Aku ingin bicara tentang kepergian mu nanti." Panggil Hanna.


"Ah, soal itu, sepertinya harus di tunda terlebih dahulu, karena aku memiliki janji dengan seseorang besok." Ucap Zen sebelum Hanna bicara.


"Hmmm bagus lah, karena aku pun ingin membicarakan hal yang sama, jika rangkaian sihir teleportasi akan sangat sibuk besok dan mungkin kau tidak memiliki kesempatan untuk pergi ke Perserikatan Lomania hingga lusa nanti." Ungkap Hanna.


"Memang ada masalah apa ?." Zen penasaran.


"Penguasa wilayah ini akan menyelenggarakan pesta, sehingga tamu-tamu akan berdatangan menggunakan rangkaian teleportasi." Jawabnya.


Zen merasa ada kebetulan yang aneh di sini, karena dikatakan oleh Hanna bahwa penguasa wilayah akan mengadakan pesta dan itu pun bertepatan dengan pak tua yang meminta Zen untuk membantu dalam urusan makanan.


"Oh ya, memang janji seperti apa yang kau miliki Zen ?." Kini giliran Hanna bertanya.


"Soal itu...."


Dia mengeluarkan secarik kertas yang diberikan oleh pak tua dan seketika itu juga Hanna terdiam seperti sedang terkejut.


"Bagaimana bisa kau mengenal tuan Xin Sanziu ?." Tanya Hanna serius.


Kini Zen paham bahwa sosok pak tua yang dia kenal dan penguasa wilayah yaitu Xin Sanziu adalah satu orang .


"Aku mengenal tuan Xin di rumah pelelangan." Jawab Zen.


"Apa kau tidak membuat masalah kepadanya ?." Hanna merasa khawatir.


"Bagaimana mungkin aku membuat masalah, kau sendiri yang mengatakan jika aku tidak boleh mengusik penguasa wilayah, meski pun aku tidak tahu dia pak tua itu adalah Xin Sanziu." Zen memberi alasan.


"Ya kau benar, tapi aku tidak percaya, kau mendapat kesempatan untuk mengenal tuan Xin Sanziu, padahal selama aku ada di dunia gelap, hanya satu kali aku bertemu beliau." Kata Hanna rumit.


"Entahlah, aku tidak berpikir jika ini adalah keberuntungan, hanya pembicaraan santai yang membuat kami saling kenal."


Kini Zen paham kenapa pak tua itu benar-benar tidak peduli soal harga dari setiap barang di acara lelang, kekayaan seorang penguasa wilayah dunia gelap terlalu luar biasa.


Tidak lama setelah percakapan Hanna dan Zen selesai. Eri membawa keluar Lify yang sudah berganti pakaian.


Lify berdiri di hadapan Zen dengan malu-malu, dia seperti sedang menunjukan diri agar bisa mendapat pujian dari tuannya.


"Memang tidak bisa aku bantah, kecantikan ras Elf itu sangat mengagumkan." Ucap Zen tersenyum sendiri.


Namun setelah mendengar pujian dari Zen itu, sorot tatapan mata Eri melihatnya curiga.


"Apa ?, Aku hanya memujinya, jangan pikir aku akan melakukan hal aneh."


"Benarkah ?."

__ADS_1


"Tentu saja. Kenapa kau menganggap ku seperti penjahat." Pusing Zen memikirkan sikap Eri.


Semua benar-benar berbeda, gadis kecil yang tampak lusuh dan kotor itu menjadi sosok cantik luar biasa. Untuk sekarang Zen adalah tuannya, tentu sebagai orang yang bertanggung jawab dia ingin membawa Lify pergi dari dunia gelap ini.


__ADS_2