
Sembilan Assassin yang berada di atas pohon kini melompat turun ke bawah untuk menyerang Zen.
Tapi sangat di sayangkan, kemampuan mereka semua masih belum cukup, karena bagi Zen, dia hanya perlu menjentikkan jari dan sembilan senjata dari skill pencipta muncul, melesat lurus menghadang mereka secara langsung.
Tiga Assassin tewas tertusuk dan enam Assassin lain masih selamat karena berhasil mengelak dengan cepat, meski pun mereka juga masih mendapat luka.
Zen segera memunculkan pedang di tangan, dua puluh pasukan bersenjata lengkap, kini turun dari atas kuda mereka dan bergerak maju memutari tubuh Zen agar dia tidak bisa pergi.
"Kalian semua tidak tahu diri, bagaimana bisa kalian menyebut diri kalian sebagai manusia karena berani-beraninya mengeroyok anak kecil seperti ku ini."
Seakan tidak peduli soal ucapannya itu, masing-masing prajurit bergerak menghunuskan pedang ke arah Zen, tapi semua yang mereka lakukan adalah hal sia-sia.
Dimana Zen sudah pernah bertarung dengan sosok makhluk di dalam Dungeon yang kekuatannya setara binatang iblis kategori Legenda. Tentu perlawanan terhadap orang-orang seperti mereka menjadi hal yang sangat mudah untuk Zen hadapi.
Zen tidak menghindar, dia mengeluarkan energi dalam satu ayunan pedang dan itu membuat kedua puluh prajurit terpental jatuh ke belakang.
"Aku beri kalian satu kesempatan untuk membiarkanku pergi. Tapi jika kalian masih berniat melawan jangan salahkan aku, kalau aku tidak akan segan-segan membunuh kalian semua."
Tapi ancaman Zen seakan tidak membuat para prajurit berpikir tentang keselamatan nyawa mereka sendiri, karena di sana pangeran tentu akan memberi hukuman berat jika ada yang membantah perintahnya.
Mereka kembali menyerang Zen, kali ini melepas kekuatan energi sihir dari bermacam-macam atribut elemen. Bola-bola api, panah petir, sayatan angin, tombak air dan apa pun itu datang bersamaan.
Sayang sekali mereka tidak tahu siapa yang sedang mereka lawan sekarang, Zen mengayunkan pedang untuk menangkis satu persatu serangan energi dan dia lempar ke segala arah.
Ledakan demi ledakan membuat pepohonan sekitar hancur oleh serangan energi Zen tangkis. Ini semakin membuat semua prajurit terkejut, mereka tidak pernah mendengar nama seorang Zenhan Arta Mivea sebagai seorang ahli beladiri.
Menurut informasi yang pangeran dapat dari mata-matanya, Zenhan hanya seorang anak lelaki biasa dan belum terdaftar sebagai seorang ahli sihir. Namun ketika pangeran Alvardo melihat Zen ingin memasuki Dungeon tentu membuktikan bahwa Zen sudah mampu menggunakan kekuatan energi sihir.
Hanya saja, semua yang pangeran Alvardo lihat di luar dugaannya, jika dia membawa tiga puluh pasukan dengan dua puluh prajurit dan sepuluh Assassin berkemampuan tinggi sudah cukup untuk membunuh Zenhan. Tapi kenyataannya, iblis itu terlalu sulit di tangani.
Lima orang Assassin telah tewas, dan dua belas prajurit pun kehilangan nyawa, satu persatu di bunuh oleh Zen dengan mudah, seakan-akan tindakannya tersebut adalah hal mudah yang biasa dia lakukan.
__ADS_1
Delapan prajurit dan lima Assassin yang tersisa tidak berani untuk maju, setiap Zen mendekat mereka semua hanya melangkah mundur. Hingga kini berada tepat di depan Pangeran Alvardo, kekecewaan terlihat jelas karena orang-orang yang dia bawa begitu tidak berguna.
"Apa yang kalian lakukan, jangan jadi pengecut." Ucap pangeran Alvardo marah.
"Tapi pangeran, dia lawan yang sangat kuat, kami mustahil mengalahkannya."
"Omong kosong, dia hanya anak kecil... Sedangkan kalian adalah prajurit yang sudah dilatih keras untuk menjaga kerajaan Villian."
"Tetap saja pangeran, aku...." Belum sempat dia menjawab perkataan pangeran sebilah pedang menebas kepalanya hingga putus.
Tapi itu bukan dari Zen, melainkan pangeran sendiri yang melakukannya.
"Percuma kalian semua menjadi prajurit kerajaan, sungguh tidak berguna. Setelah ini berakhir aku pastikan kalian akan mendapat hukuman." Ancam pangeran tegas.
Tentu semua prajurit ketakutan mendengar ucapan Pangeran, tapi mereka pun takut jika harus melawan Zen karena kematian sudah pasti terjadi.
Kali ini, pangeran Alvardo sendiri lah yang berjalan maju untuk menghadapi Zen secara langsung...."Memang tidak aku sangka kekuatanmu di luar dugaan, tapi biar aku tunjukkan seberapa mudahnya mengalahkan mu."
"Kau terlihat begitu sombong untuk iblis kecil yang coba mencuci otak wanitaku."
Zen tentu berpikir tentang niat sebenarnya dari sang pangeran yang sengaja datang jauh-jauh melewati hutan besar Orindo hanya untuk membunuh seorang iblis saja.
Tapi kini Zen tahu, bahwa hubungannya dengan Sena telah di ketahui oleh pangeran, hanya saja, dia menganggap bahwa itu dikarenakan kemampuan mata milik kaum Ra'e.
"Wanita mu ?, Siapa yang kau maksudkan ?." Tanya Zen berlagak bodoh.
"Tentu saja Sena, aku yakin dia telah di kendalikan oleh kemampuan iblismu itu." Jawab Pangeran atas tuduhannya.
"Jangan bercanda, Sena secara sadar tidak menginginkan mu pangeran, tolong sadar lah, kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri."
"Setelah aku membunuhmu, aku yakin Sena tidak akan terpengaruh lagi oleh mata iblis Ra'e."
__ADS_1
"Kalau begitu silakan saja, tapi jika memang kau mampu." Zen mempersilahkan pangeran Alvardo untuk maju.
Pangeran Alvardo memang terkenal sebagai lelaki yang selalu bermain-main dengan wanita, dia juga pemalas dan tidak mau repot untuk menanggapi masalah apa pun.
Tapi dibalik itu semua, pangeran Alvardo menyimpan kekuatan cukup mumpuni karena dia adalah seseorang ahli sihir jubah raja dengan kemampuan pengendali roh spiritual.
Tiga dari ke lima cincin batu di tangan pangeran Alvardo menyala terang dengan bermacam-macam warna, seketika wujud dari roh spiritual kontrak miliknya kini menampakkan diri.
Roh serigala, roh beruang dan roh kesatria hitam berdiri di depan pangeran Alvardo. Atas kendali penuh untuk memberi perintah.
"Sekarang kau akan tahu dengan siapa kau berhadapan, iblis." ketiga roh itu pun bergerak maju menyerang Zen.
Zen tidak takut sama sekali, meski tiga wujud itu adalah roh, tapi bukan berarti mereka tidak bisa di sentuh. Karena setelah menjalin kontrak dengan manusia, setiap roh akan mendapat tubuh nyata saat bertarung.
Roh serigala bergerak kemudian melompat dengan gigi tajam dan taring hendak menerkam ke arah Zen. Satu ayunan pedang membelah dua tubuh roh serigala dan lenyap menjadi debu.
Giliran roh beruang dan roh kesatria hitam yang datang bersamaan dari sisi kiri dan kanan, tapi tetap saja, cukup mudah bagi seorang Zen menghindar. Tanpa perlu banyak gerakan, sihir api keluar dari telapak tangan membakar tubuh roh beruang hingga hancur.
Roh kesatria hitam cukup gesit dalam pertarungan, dia berhasil menghindar dari serangan sihir api, kemampuan beladiri pedang pun tidak bisa dianggap lemah.
Zen menangkis setiap serangan yang datang, membalas dengan gerakan sederhana untuk memotong kaki dan tangan kesatria hingga jatuh ke tanah.
Itu masih belum menghancurkan wujudnya, tapi sekarang Zen bisa dengan mudah menghujamkan pedang ke tubuh kesatria dan membuatnya hancur.
Tatapan tidak percaya di tunjukan oleh pangeran, dia tahu bahwa roh kontrak miliknya itu terbilang kuat, bahkan cukup untuk di setarakan dengan binatang iblis kategori B.
"Jadi apa hanya ini kemampuan roh yang kau miliki, pangeran." Zen bicara dengan senyum mengejek.
"Jangan senang dulu, aku masih ada dua roh tingkat tinggi." Jawab Pangeran Alvardo tersulut emosi.
Mengangkat jari telunjuk dan memanggil satu sosok roh lain dari cincin batu itu. Perwujudan makhluk yang tidak biasa pun keluar. Roh lelaki berjubah yang membawa senjata sabit besar dengan aura gelap di sekitarnya.
__ADS_1