
Zen coba menjelaskan segala yang terjadi kepada Eri, tentu pilihan untuk menjadikan genetikanya sebagai seorang iblis demi memberikan kemampuan regenerasi agar dia bisa selamat.
Dalam hal ini Zen merasa bersalah, sebagaimana menjadi hukum takdir hubungan antara manusia dan iblis adalah musuh alami dan Eri harus menerimanya begitu saja.
Iblis dan manusia saling bertentangan, saling membenci dan saling memproklamirkan diri untuk membunuh satu sama lain. Ini akan mengakibatkan hidup Eri berubah, dia sekarang bukan lagi manusia, melainkan iblis mutasi sebagai kaum Ra'e.
"Maafkan aku Eri." Ungkap Zen.
"Kenapa kau meminta maaf, aku pikir semua akan baik-baik saja meski pun tidak lagi menjadi manusia." Jawaban Eri terdengar santai bahkan tidak peduli.
Sedikit hati Zen merasa senang atas sikap santai Eri itu, tapi di sisi lain Eri tidak bisa lagi bisa berbuat nekad yang dimana mungkin tindakannya akan menjadi sumber masalah jika tahu dirinya adalah iblis sekarang.
"Jadi katakan apa yang bisa aku lakukan dengan kekuatan iblis di dalam tubuhku ini." Eri begitu antusias menunggu jawaban Zen.
"Kau itu... Ya sudahlah, mungkin memang dengan sikapmu sekarang terasa lebih baik dari pada harus menyesal." Zen pun ikut tersenyum.
"Aku tidak menyesal sama sekali, kau juga adalah iblis jadi sekarang kita sama, bukan begitu Zen ?." Balas Eri.
"Ya kau sudah tahu itu."
Senyum di wajah Zen begitu rumit, karena dia melihat rasa penasaran Eri jauh lebih besar dari konsekuensinya.
"Selama ada kau bersamaku, aku yakin semua akan baik-baik saja."
"Aku berterimakasih karena kau menyalahkan tindakanku."
"Harusnya aku lah yang berterimakasih kepadamu, jika kau tidak menolong ku, apa jadinya nanti ?."
"Mayat." Jawaban yang singkat dan jelas.
"Aku tidak mau itu, aku masih ingin menikah dan memiliki anak. Ada banyak hal belum aku ketahui dan mati muda sangatlah merugikan." Ucap Eri.
Hanya saja Zen menganggap itu sebagai masalah...."Tapi tetap saja, mungkin menikah pun akan sulit untukmu sekarang."
"Apa karena aku pendek ?. Kurang cantik ?, Atau dadaku kecil ?."
"Tidak juga, tapi karena kaum Ra'e adalah iblis sehingga mustahil memiliki anak dengan manusia." Jawab Zen.
Eri tertawa, seakan itu bukan masalah besar...."Kalau begitu tinggal cari saja iblis Ra'e yang mau menikahi ku."
"Itu juga sulit, kaum Ra'e sangat sedikit dan entah mereka ada dimana."
__ADS_1
Lirikan mata Eri melihat Zen aneh...."Hmmm bukankah di sini ada satu, kenapa harus mencari yang tidak ada."
"Siapa ?."
"Ya jika itu kau, tentu aku tidak perlu repot-repot mencarinya." Tunjuk Eri tegas di depan wajah Zen.
Eri cukup kesal karena Zen tidak paham tentang apa yang dia maksudkan.
"Sepertinya itu akan sulit." Zen terpikir soal Sena.
"Kenapa harus berpikir sulit, anggap saja sebagai pertanggungjawaban karena kau sudah membuatku sebagai iblis." Seperti Eri mengharapkannya.
"Aku tidak bisa menjawab itu sekarang."
"Terserah lah, lupakan saja."
Setelah Eri pasrah untuk sikap Zen terhadapnya yang terkadang tidak menganggap dia sebagai wanita.
"Untuk sekarang, kau harus mengganti baju itu, kau akan membuat mata semua lelaki lepas dari tempatnya jika melihat aset pribadi mu." Zen menyerahkan pakaian yang dia ciptakan.
"Hmmm jadi selama ini kau melihatnya."
"Mau bagaimana lagi, kau terus memaksaku untuk bicara dan kau tidak peduli dengan hal lain." Jawab Zen mencari alasan.
Selesai Eri menutupi tubuhnya kembali, kini mereka berniat kembali ke kota kerajaan Zorgan untuk melapor setiap kejadian kepada guild master.
Di dalam perjalanan itu....
Zen menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan keunikan di dalam tubuh iblis dari kaum Ra'e. Kekuatan iblis sendiri memiliki pertumbuhan energi sihir lebih besar dari manusia biasa, ketahanan fisik di atas rata-rata, efek regenerasi luka selama kepala tidak lepas dari badan dan yang terpenting adalah kemampuan tatapan mata merah pengendali jiwa.
"Bukankah iblis terlalu kuat, aku bertanya-tanya bagaimana bisa manusia masih bisa bertahan hidup setelah melawan ras iblis sampai sekarang." Eri tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Kau tahu meski manusia terbilang sangat lemah dari pada iblis, tapi mereka bisa berkembang sebagai makhluk kuat yang lebih kuat saat memiliki tekad di hatinya." Balas Zen memberi satu pendapat.
Itu adalah berkah yang diberikan oleh Tuhan sejati dalam penciptaan manusia, hati dan perasaan manusia menjadi hal misterius, dimana mereka bisa berdiri di puncak kekuatan dengan alasan untuk terus berusaha.
"Tapi aku tidak habis pikir, kekuatan milik iblis yang kau lawan sebelumnya... Itu terlalu mengerikan." Merinding Eri membayangkan kembali tentang penguasa iblis Edurali V Doomzar.
Zen mengakui itu dengan anggukan kepala..."Kau benar Eri, karena iblis itu adalah musuh yang harus di lawan oleh para pahlawan."
"Termasuk Hiyo ?."
__ADS_1
"Ya, sepuluh pahlawan dan sepuluh penguasa iblis mereka adalah dua kubu kekuatan yang menentukan takdir dunia ini."
"Apa maksudnya itu."
Zen bertanya...."Apa kau tahu kenapa sepuluh pahlawan terlahir ?."
Eri berpikir dan menjawab ..."Sebagai penyelamat umat manusia ?."
"Lalu bagaimana dengan sepuluh penguasa iblis ?." Zen kembali memberi pertanyaan.
"Membunuh semua manusia ?."
"Seperti yang jawabanmu, sepuluh pahlawan dan sepuluh penguasa iblis akan saling bertarung sebagaimana keinginan para dewa."
Ini membuat Eri mengetahui tentang penjelasan Zen, jika semua yang terjadi antara pahlawan dan penguasa iblis sudah menjadi ketetapan pencipta mereka.
"Apa Hiyo mampu melawan iblis sekuat itu ?." Ekspresi Eri terlihat khawatir.
"Aku harap dia bisa, bagaimana pun juga, dia adalah pahlawan." Zen percaya.
Ketegasan muncul di tatapan mata Eri yang berubah menjadi merah, tanpa sadar dia menggunakan kemampuan tatapan mata kaum Ra'e karena terbawa emosinya.
"Aku harus bertambah kuat, aku ingin melindungi Hiyo."
"Kalau begitu, mulai sekarang aku akan melatih mu lebih serius."
Sesampainya di kantor guild, ternyata para Hunter yang ikut dalam penyerangan terhadap pasukan iblis pun sudah kembali.
Mereka terlihat tidak baik-baik saja, karena sebagian besar mendapat luka akibat kemunculan sosok kuat yang dibawa oleh penguasa iblis, yaitu dua jenderal iblis dengan kekuatan setara binatang iblis kategori S.
"Lihat siapa yang baru saja kembali, kalian terlihat sehat-sehat saja... Oh apa kalian datang untuk meminta hadiah tanpa ikut bertarung dengan kami." Hamza datang menyambut dengan mengejek Zen dan Eri.
Hamza jelas tidak tahu tentang pertarungan Zen yang melawan penguasa iblis. Sedangkan anggapannya adalah Zen kabur dan kembali untuk meminta upah.
"Kalian berdua hanya pengecut yang pergi di saat kami bertarung mati-matian melawan para iblis, jangan harap kalian bisa mendapatkan apa pun." Tegas perkataan Hamza dengan penghinaan.
Tapi kali ini Zen tidak ingin diajak bersabar menanggapi ucapan yang seenaknya sendiri itu. Satu cengkraman kuat menutup mulut Hamza dan dengan mudah Zen jatuhkan ke bawah.
"Jika kau tidak bisa berhenti bicara, maka aku akan menghancurkan mulutmu ini." Ancam Zen.
Melihat tatapan mata Zen, keringat dingin muncul di dahi Hamza, dia merasa ketakutan saat tahu bahwa orang yang dia anggap tidak berguna memiliki aura kuat.
__ADS_1
"Tuan Hanzen tolong berhenti." Suara seseorang pun terdengar.
Hingga seorang wanita paruh bawa berjalan turun dari lantai dua untuk menghentikan tindakan Zen karena aura membunuhnya terasa sangat jelas.