
Zayn datang ke rumah sakit tempat ibu Bee dirawat dengan sekeranjang buah dan sekantong besar roti untuk menjenguk ibu dari gadis yang dicintainya.
Pria ini mengernyit heran ketika sampai kamar vip tersebut tidak terdapat pasien yang menjadi tujuannya, ia menjadi terkejut ketika seorang cleaning service keluar dari sana setelah membersihkan kamar itu setelah jenazah ibu Bee sudah di pulangkan, Zayn bertanya pada ibu muda tersebut.
"Maaf tuan pasien di kamar ini baru saja pulang karena sudah meninggal, jenazahnya sudah dipulangkan dengan ambulance"
Zayn terdiam, tangannya terasa lemah seketika mendengar kenyataan tersebut, Zayn tidak ingin percaya begitu saja maka darinya ia segera berjalan cepat menuju meja perawat untuk menanyakan kebenaran tersebut.
Setelah mendapat kejelasan, Zayn meminta alamat penanggung jawab pasien yaitu Bee, Zayn mendapatkan informasinya dan segera berlalu dari sana setelah meninggalkan buah dan roti tadi di meja para perawat.
*****
Zayn datang ke alamat yang didapat dari pihak rumah sakit tadi, benar saja sudah ramai para tetangga yang memenuhi kontrakan rumah sederhana itu dengan bendera kuning berkibar di halamannya.
Zayn pun melangkah pelan namun pasti memasuki rumah yang tengah berduka itu.
Ia melihat jelas, bahwa benar duka tersebut menyelimuti gadis yang ia cintai tengah membacakan surat yasin disamping jenazah ibunya, didampingi Rafly dan Mawar disisi yang lain.
Zayn tidak ragu untuk masuk, ia duduk didekat Bee membuat gadis itu terkejut bagaimana bisa Zayn tahu bahwa ibunya meninggal dan menemukan alamatnya.
"Teruskan mengajinya.....jangan berpikir yang tidak-tidak" ucap Zayn mengerti akan tatapan heran Bee ketika melihatnya berada disana.
Rafly dan Mawar tersenyum pada Zayn, mereka menyalami mantan kekasih kakaknya itu dengan santun.
Bee tidak mempedulikan keberadaan Zayn, karena sudah siap untuk dimandikan jenazah ibu Bee di gotong ke belakang untuk di mandikan, Bee dan Mawar ikut memandikan jenazah ibunya.
Beruntung para tetangga disana sudah berhubungan baik dengan keluarga Bee, hingga semua keperluan sudah disiapkan oleh tetangga dan RT setempat.
Zayn mendekati Rafly dan bicara tentang persiapan pemakaman, Zayn memberitahu bocah itu untuk tidak memikirkan tentang biaya pemakaman hingga tahlilan nanti, Zayn yang akan menanggungnya.
"Terimakasih banyak kak Zayn, kak Bee memang belum gajian sekarang, aku bersyukur kakak mau membantu kami" ucap Rafly sangat berterimakasih sebab ia tidak perlu memikirkan biaya pemakaman dan tahlilan nanti terlebih ia tahu kakaknya tidak memegang uang lebih sekarang.
"Jangan pikirkan tentang itu, kakak senang bisa membantu kalian tepat waktu, bersabarlah kalian pasti bisa untuk melewati duka ini"
__ADS_1
Zayn menepuk pelan pundak Rafly.
"Mana istri kakak?" pertanyaan itu muncul begitu saja membuat Zayn menghembus napas kasar ketika harus ingat dengan wanita yang tidak pernah singgah dalam ingatannya sekalipun.
"Jangan bertanya tentang itu, sekarang fokuslah mengurus keperluan pemakaman, pertanyaanmu tidak penting"
Rafly hanya bisa mengangguk saja tanpa bertanya lagi.
*****
Di pemakaman, Zayn merasa tidak berguna dimana ia hanya bisa menatap gadis pujaannya menangis haru di depan pusara sang ibu, rasanya ia begitu ingin mendekap erat memberi dukungan pada Bee.
Lagi-lagi Zayn hanya bisa menahan perasaannya yang juga terluka karena pemandangan menyedihkan itu.
Kembali dari pemakaman, Bee tampak lelah dengan mata yang membengkak, perempuan itu hanya bisa meringkuk di dalam kamar ibunya memeluk bantal yang biasa ditiduri wanita yang telah melahirkannya.
Bee tersadar larut dalam kesedihan tidaklah membuatnya bertambah tenang, ia harus ikhlas akan takdir yang menggariskan bahwa ia harus kehilangan sang ibu sebelum bisa memberi kebahagiaan terlebih Bee belum mewujudkan keinginan ibunya selama ini untuk menikah dan mempunyai anak.
Bee keluar kamar, ia melihat Zayn tengah bicara bersama Rafly.
Zayn dan Bee mengangguk bersamaan.
"Terimakasih kau sudah datang, maafkan ibuku jika ada salah padamu semasa hidupnya" kembali Bee tidak bisa menahan airmatanya.
"Tidak....ibu tidak punya salah padaku Bee, tenanglah, aku turut berduka untukmu" jawab Zayn memegang tangan Bee, namun dengan cepat Bee menariknya.
"Sebaiknya kau pulang, ini sudah sore....terimakasih atas empaty mu, jangan sampai istrimu menunggu suaminya pulang lambat padahal hari ini libur"
"Tidak...sudah ku katakan hubunganku dengan Kasih tidak seperti yang lainnya, kami mengurus hidup masing-masing, aku akan disini sampai tahlilan malam nanti" jawab Zayn yakin.
Bee hanya diam, ia malas ingin berdebat dengan pria itu.
"Sebaiknya kau makan dulu Bee, ku lihat kau belum makan sejak pulang dari pemakaman, ingin ku ambilkan?" tanya Zayn memberikan perhatiannya.
__ADS_1
Bee kian pilu mendapat perhatian seperti itu dari Zayn, ia kembali menangis dengan hati yang kian teriris mengingat bahwa Zayn bukanlah pria lajang sekarang, ia merasa betapa menyedihkannya mendapat perhatian dari suami orang.
Bee menggeleng pelan "Tidak perlu....aku bisa ambil makan sendiri"
"Bee....." ucap pria itu lagi.
Bee tidak menoleh, ia hanya bisa menelan ludah dengan sikap keras kepala Zayn jika berdekatan dengannya.
"Aku ingin istirahat dikamar, aku harap kau segera pulang, terimakasih banyak atas bantuanmu hari ini, aku akan mengembalikan uangmu jika gajian nanti"
"Tidak perlu diganti, aku ikhlas Bee ini ku lakukan untuk ibu bukan untukmu, jadi jangan pikirkan lagi tentang uang hari ini, istirahatlah aku akan berada disini sampai malam nanti, jika kau berkenan aku akan disini sampai kapanpun" ucap Zayn tersenyum.
"Berhenti bercanda Zayn" jawab Bee pelan namun tampak kesal, bagaimana Zayn masih bisa bercanda disituasi ini.
"Aku serius dengan perasaanku Bee"
"Huh......terserah kau saja, aku tidak peduli maaf aku kekamar dulu" jawab Bee malas.
"Ingin ku temani?" kembali Zayn tersenyum pada Bee yang sejenak melupakan kesedihannya berubah menjadi rasa kesal pada tingkah konyol Zayn.
Bee bernapas dalam dan memejamkan matanya sejenak, ia menatap tajam campur kesal pada Zayn yang masih tersenyum dengan mata sipit karena bengkak oleh tangis.
"Aku mencintaimu...." ucap Zayn kembali ketika Bee berdiri ingin meninggalkannya ke kamar.
Bee hanya memutar bola mata kesal tanpa menjawab sebelum berlalu dari hadapan pria itu.
Zayn terus tersenyum menatap punggung Bee yang menjauh, ia memutuskan akan menemani gadis itu melewati masa sulit ini, entah apa yang ada di pikiran Zayn, ia sungguh merasa gila ketika kembali bertemu mantan kekasihnya ini sejak pertemuan pertama mereka di rumah sakit, hidupnya seakan kembali setelah merasa mati selama lima tahun terakhir.
Zayn memang benar, ia memang masih menjaga perasaannya untuk Bee meski ia telah menikah dengan perempuan lain, dan benar pula pernikahan itu hanyalah formalitas di atas kertas saja demi menghormati wasiat neneknya, Kasih pun begitu. Wanita yang menjadi model tersebut hanya butuh uang Zayn saja mereka sama sekali tidak memiliki cinta di antara keduanya.
Karena tidak ada sejarah perceraian di dalam keluarga Zayn, maka darinya ia terus saja terjebak oleh pernikahan yang tidak di inginkannya, berbeda dengan Kasih ia tidak berniat bercerai sebelum puas menumpuk harta dari suaminya itu.
*Ayo....kurang baik apa coba si authorrr yang up crazy crazyian.....dukung author terus yaaa dalam berkarya, tinggalkan jejak, ajak yang lain ikut baca....maaf terkesan memaksa ga pa pa lah ya.
__ADS_1
makasihhh muaahhhhh
o ya....alfatihah buat ibu bee....