
Nenek Farida masih dirawat, kondisinya kian lemah dan sesak. Bee dan mama Zayn tidak meninggalkan nenek tua itu seorang diri, mereka berjaga bergantian. Bee menjadi takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada nenek calon suaminya ini, Akbar baru akan kembali besok setelah urusan pekerjaannya selesai.
Bee berniat menemui Zayn di ruang khusus dokter, pria itu baru selesai visit dan baru saja menerima hasil dari rontgen nenek Farida, pria ini mengusap wajahnya kasar setelah membaca hasil rontgen itu, kondisi adik kandung neneknya ini sungguh tidak baik-baik saja, nenek Farida mengalami gagal jantung yang membuatnya semakin sesak dan terjadi pembengkakan pada organ vitalnya itu yang tampak jelas pada gambar x-ray.
Bee ingin mengetuk pintu namun urung karena pintu itu sudah setengah terbuka menampilkan pria yang tengah menutup wajahnya menghadap ke atas, Zayn terlihat tidak baik-baik saja bahkan ia tidak menyadari kedatangan Bee yang sudah masuk kesana, perempua itu melihat map beserta gambar rontgen di meja tepat dihadapan Zayn.
"Zayn?" panggil Bee.
Pria itu tersentak dari lamunannya.
"Bee? kenapa kau kesini?apa terjadi sesuatu pada nenek?" tanya Zayn cemas.
Bee menggeleng.
"Tidak....nenek sedang tidur meski masih terlihat sesak hingga sekarang, tapi aku sudah mengatur posisi tidurnya agar lebih baik, ada apa?"
"Huh....lantas kenapa kau kesini?"
"Apa kau mengusirku?" tanya Bee tidak senang.
"Bukan itu maksudku.....nanti aku menjadi salah paham, bagaimana jika aku mengira kau sengaja kesini karena merindukanku?" goda Zayn tersenyum seraya bercanda.
Bee terdiam, wajahnya memerah.
"Jangan GR" jawab Bee cepat.
"Lantas kenapa?"
Bee terdiam lagi, ia bahkan lupa alasan kenapa mencari pria itu.
"Tidak jadi" jawab Bee segera meninggalkan Zayn sendiri disana karena merasa malu.
Perempuan itu berjalan kembali ke kamar nenek Farida sambil menepuk keningnya sendiri.
"Bee kau kenapa?" tanya mama Zayn heran melihat Bee kembali ke kamar dengan wajah memerah.
"Oh bibi, tidak aku tidak apa-apa"
"Baiklah....jaga nenek, bibi akan pulang kasihan Rayyan ditinggal terlalu lama, Zayn juga masih akan ke rumah sakit sebelah"
Bee mengangguk.
"Baik bi, jaga dan titip cium untuk putraku bi aku sangat merindukannya sangat disayangkan tidak bisa membawanya kesini....berhati-hatilah"
__ADS_1
*****
Bee dan nenek Farida berbincang ringan, dimana nenek tua itu sangat menyayangkan bahwa rencana pernikahan Bee dan Akbar harus ditunda karena sakitnya, dalam keadaan sesak nenek Farida tetap menelan bubur yang disuapi calon cucu menantunya.
Setelah makan nenek Farida kembali memejamkan mata karena merasa tubuhnya tidak juga kian membaik, tidur dalam posisi setengah duduk agar lebih mudah bernapas dan bisa mengurangi sesak, Bee kasihan melihatnya ia tahu bahwa nenek Akbar itu tidak baik-baik saja.
Bee kembali duduk di sofa, ia memainkan ponsel, bermain game dan juga sudah melakukan video call dengan Rayyan untuk melihat apa saja yang dilakukan putranya saat ini, Bee kembali sendu jika sudah menyangkut putranya bagaimana Rayyan pun akan bernasib sama sepertinya dahulu tidak bisa tumbuh dan berkembang dari asuhan kedua orangtua kandung.
"Aku bahkan tidak tahu setelah menikah nanti apa bisa mencintai Akbar atau tidak, dan bagaimana pula aku bisa memisahkan Rayyan dari Zayn jika aku harus ikut menetap di Singapura, oh....ini begitu rumit" Bee bergumam dalam hati sambil menatap gambar anaknya yang menjadi penghias layar ponsel.
Bee menatap nenek Farida sedang terlelap, ia merasa bosan dan begitu penasaran apa Zayn masih berada diruangannya atau sudah pergi ke rumah sakit yang lain, Bee memutuskan ingin kembali menemui pria yang masih menguasai pikirannya.
Perempuan ini berjalan ragu, ia seperti mengintip dari pintu yang tidak tertutup sempurna, wajahnya tampak kecewa karena ruangan itu kosong ia pikir Zayn sudah pergi dari sana, namun ia mengernyit ketika melihat ada ponsel di atas meja, Bee melihat sekeliling karena lengang ia pun memberanikan diri untuk masuk.
Baru saja ingin mendekati ponsel itu ingin memastikan bahwa ponsel kepunyaan Zayn atau dokter lain yang tertinggal di atas meja, ia dibuat terkejut oleh sosok Zayn yang baru saja keluar dari toilet.
"Zayn.....oh kau mengagetkanku" ucap Bee canggung.
"Bee? kenapa kau kesini lagi? apa terjadi sesuatu pada nenek?" tanya Zayn tanpa curiga.
"Tidak...tidak, bukan itu aku aku aku hanya.... maksudku aku kesini ingin meminjam toilet, iya aku butuh ke toilet sekarang" jawab Bee terbata dan langsung menuju toilet dengan wajah memerah.
Zayn menahan lengannya.
"Kalau hanya mau ke toilet kenapa jauh kesini, di kamar nenek memangnya tidak ada toilet?" tanya Zayn mendekatkan wajahnya.
Bee menelan ludah.
"Hmmmm maksudku, toilet kamar nenek sedang dipakai ibumu, iya ibu mu terlalu lama di dalam sedang aku sudah tidak tahan, aku kira kau masih disini jadi aku meminjam toilet ini saja" jawab Bee berbohong, padahal mama Zayn sudah pulang sejak tadi.
"Oooo begitukah, baiklah....silahkan" Zayn melepas lengan Bee dan berjalan cuek menuju ponselnya berada.
Bee menatap punggung Zayn kesal, mau tidak mau ia pun masuk ke toilet oleh ulahnya sendiri untuk menutupi rasa malu karena kepergok masuk ruangan itu tanpa permisi.
Lama berada dalam toilet, membuat perempuan ini kian kesal.
"Huh....apa dia sudah benar-benar melupakanku? bahkan dia tidak menanyakan kenapa aku berada di dalam sini terlalu lama, apa dia tidak khawatir aku mati kepanasan disini, huh....Zayn benar-benar berubah sekarang, cepat sekali dia move on sedang aku sudah mau menikah saja masih saja memikirkan pria gila itu....ah aku kesal" umpat Bee tidak sudah-sudah sejak ia berada di toilet, ia bahkan mengoceh dengan mata berkaca-kaca ingin menangis karena sikap Zayn yang berubah drastis sejak rencana pernikahannya dengan Akbar.
Ia berdiri mengintip dari balik pintu toilet, matanya menangkap Zayn sedang memejamkan matanya di atas kursi dengan wajah lelah sambil kedua tangan bersedekap di dada, Zayn tidak benar-benar tidur entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Bee memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya karena sudah tidak tahan berada di toilet terlalu lama, berharap pria itu mengkhawatirkannya namun ternyata sia-sia.
"Zayn.....apa kau baik-baik saja" Bee menyentuh pundak pria yang masih terpejam itu.
__ADS_1
Zayn membuka mata perlahan, netra mereka bertemu tidak ada yang menghindar kemudian Zayn tersenyum.
"Kau sudah selesai dengan toiletnya?"
"Iya aku hampir mati di dalam" jawab Bee kesal.
"Kenapa? apa ada buayanya didalam sana?" tanya Zayn terkekeh.
"Zayn.....kau memang menyebalkan sekarang, bahkan kau tidak cemas sedikitpun aku terlalu lama di toilet" cebik perempuan ini bertambah kesal.
"Lalu kau mau aku apa? kau mau aku menyusulmu masuk seperti dulu kita masih suami istri?" tanya Zayn tersenyum penuh arti sambil berdiri melangkah mendekati Bee yang terkejut, segera perempuan ini berjalan mundur.
Bee gugup bukan main, ia mundur terus hingga punggungnya menabrak tembok, ia merasa de javu teringat disaat dulu Zayn juga pernah melakukan hal yang sama.
"Zayn....." ucap Bee sendu, namun tidak menghindar sama sekali.
Zayn masih menatapnya penuh arti, pria itu mengunci pergerakan Bee yang sudah bersandar ditembok dengan kedua tangannya, pria itu mendekatkan wajahnya, ia mengernyit heran bahwa Bee sama sekali tidak mencoba menolak apalagi menghindar.
Melihat Zayn mendekatkan wajah, sontak membuat wanita ini memejamkan matanya dengan cepat, ia menggigit bibir bawah lalu bulu kuduknya merinding merasakan nafas Zayn menerpa wajahnya.
Lama terpejam namun Bee merasa tidak terjadi apa-apa diantara mereka, lalu perempuan ini membuka mata betapa ia kesal melihat Zayn yang terkekeh geli dihadapannya.
"Kenapa Bee? apa kau pikir aku akan memaksa mencium mu disini seperti dulu?"
Wajah Bee menjadi pias mendengarnya.
"Tidak sekarang Bee......aku tidak akan segila dulu lagi, aku sudah terlalu banyak menyakitimu karena sikapku yang seperti itu, sekarang aku hanya terus menggaungkan bahwa memang kau bukanlah milikku, kau punya Akbar....kau akan menjadi saudara iparku nanti bagaimana bisa aku melakukan itu padamu, maafkan aku jika kau merasa takut tenanglah tidak akan ada yang terjadi..." jawab Zayn dengan tabahnya, padahal ia begitu tersiksa tidak bisa berbuat apa-apa sekarang meski tubuh mereka berdekatan sekalipun.
Bee mengusap airmatanya yang sudah jatuh dan menatap kesal pada Zayn.
"Aku bukan barang Zayn, aku bukan punya Akbar atau siapapun, kau benar-benar pengecut, aku benci padamu" ucap Bee marah dan mendorong tubuh Zayn menjauh darinya sebelum meninggalkan ruangan itu dengan wajah memerah.
Zayn melihat punggung Bee menjauh, ia mengusap kasar wajahnya.
"Lalu aku harus apa Bee? selain melepasmu menjadi saudara iparku"
Zayn menendang meja di hadapannya dengan kesal.
#######
jangan lupa like komen dan vote yaaaaa.....
mari di lanjut....
__ADS_1