Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas

Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas
Chapter 6


__ADS_3

"Permisi, maaf suster...... salah satu pasien dikamar 01 kantong kolostomi nya penuh, keluarganya sedang berada diluar" ucap salah satu keluarga pasien yang satu kamar dengan pasien tersebut.


"Baik pak terimakasih....saya akan menyusul kesana" jawab Bee dengan ramah.


"Kau yakin tidak ingin ditemani Bee? kau tahu sendiri pasien itu genit sama kita perawat, dia sering menggodaku...." ucap Dina sambil tertawa.


"Astaga.....tidak perlu, biar saja dia menggoda ku, nanti akan ku goda balik" jawab Bee bercanda, sambil ia berdiri meninggalkan laporannya sementara berjalan menuju meja alat medis untuk mengambil peralatan yang dibutuhkan untuk mengganti kantong kolostomi si pasien.


Tidak lama berselang ketika Bee pergi ke kamar pasien, Dina melihat ketika seorang dokter baru datang berjalan bersama kepala ruangan Anggrek tersebut menuju Dina berdiri.


Dina berdiri menunduk hormat.


"Dina ini dokter Zayn yang akan menggantikan dokter Anggi dirumah sakit ini, dokter Zayn ini Dina salah satu perawat ahli disini" Kepala ruangan mengenalkan Dina pada pria yang juga tersenyum pada salah satu perawat handal ruangan itu.


"Dimana yang lain?" tanya Kepala ruangan pada Dina.


"Sedang berada di kamar pasien bu, masih tindakan" jawab Dina ramah.


"Berapa pasien yang akan ditangani dokter Zayn?" tanya kepala ruangan kembali.


Dina segera membuka buku list pasien untuk memastikan ada berapa pasien dengan penyakit jantung yang dirawat di ruangan Anggrek.


Zayn masih menyimak laporan dari Dina meski dokter Anggi sudah menyerahkan pasien tersebut melalui pesan Wa namun belum mendapat laporan pasti kondisi pasien tersebut.


Dina menjelaskan berapa pasien dan laporan perkembangan tentang pasien yang akan ditangani oleh dokter baru itu.


Zayn mengangguk mengerti.


"Bagaimana dokter bisa kita visit sekarang?" tanya kepala ruangan yang berniat akan mendampingi dokter baru itu untuk menemui pasiennya.


"Bisa.....lagi pula aku juga ada jadwal di poli siang ini" jawab Zayn singkat.


"Baik dokter....mari kita mulai dengan pasien di kamar 01" ajak kepala ruangan setelah mendapat list pasien mana saja yang akan di kunjungi dokter tampan itu.

__ADS_1


Dina geleng kepala setelah atasan dan dokter baru itu berlalu dari hadapannya.


"Astaga....dokter itu tampan lagi cool, huh....jangan sampai dia sudah berisitri, aku yang akan kecewa duluan" Dina terkagum kagum dengan ketampanan Zayn meski wajah pria itu tampak dingin.


*******


Zayn masuk ke kamar 01, karena ruang Anggrek adalah tipe bangsal kelas dua jadi satu kamar bisa dihuni oleh empat pasien sekaligus yang di batasi oleh gorden pembatas untuk menjaga privasi pasien.


Tanpa Zayn sadari ia sedang melakukan visit pada pasien tepat disebelah pasien yang sedang ditangani oleh Bee.


Jantungnya berdetak kencang ketika mendengar suara lembut seorang perempuan yang sedang melakukan komunikasi terapeutik pada pasien post operasi kolostomi tersebut, Zayn mengenal jelas suara itu meski di redam oleh gorden pembatas.


Lama ia terdiam, kemudian lamunannya buyar ketika kepala ruangan memulai bicara dengan mengenalkan Zayn sebagai dokter baru yang akan menggantikan dokter Anggi pada pasien tersebut.


Bee keluar lebih dulu kembali menuju nurse station.


"Bee....dokter baru itu sudah visit, astaga aku tidak menyangka dia tampan sayang....11 12 dengan dokter bayu mu Bee...."


"Benarkah? kau selalu saja membuka mata lebar tentang dokter tampan"


"Enak saja....aku masih normal tau" jawab Bee kesal sambil berjalan ke toilet.


*******


Bee keluar dari toilet hendak duduk kembali melanjutkan laporannya, bertepatan dengan Zayn yang tengah berjalan sambil bicara tentang pasien yang baru saja selesai ia kunjungi bersama kepala ruangan juga menuju nurse station tempat Dina dan Bee berada.


Langkah mereka sama-sama berhenti saling berhadapan dengan mata saling bertemu satu sama lain.


Bee terkejut bukan main, dadanya seketika terasa penuh hingga susah bernapas. Ia tidak menyangka bahwa dokter baru itu adalah seseorang yang terus ia coba untuk lupakan selama lima tahun terakhir ini, mata biru itu, rahang berjambang tipis seperti dulu tidak ada yang berubah semua masih seperti dulu hanya saja Bee merasa mantan kekasihnya itu terlihat lebih kurus dari yang dulu.


Zayn pun kian tercekat, seperti ada masalah pada jantungnya ketika bertatapan dengan wajah cantik yang masih ia jaga didalam hatinya hingga saat ini, namun ada yang berbeda bahwa wajah itu kini tampak kian bersinar dengan hijab berwarna lembut melengkapi seragam putihnya.


"Dokter Zayn....ini perawat Yasmin, dia juga perawat ahli di ruangan ini" Kepala ruangan bersuara memecah keheningan diantara keduanya.

__ADS_1


Dina yang melihat itu terheran-heran dengan dua insan yang bertatap lama menyiratkan ada sebuah hubungan diantara mereka jika dilihat dari tatapan Zayn maupun Bee.


Bee menunduk hormat ketika kepala ruangan mengenalkannya pada dokter baru itu.


"Saya perawat Yasmin, salam kenal dokter" Bee menjawab sambil menunduk.


Kemudian Bee permisi pada mereka bahwa ia ingin kembali ke toilet sebelum Zayn bersuara.


Bee memegang dadanya yang kempang kempis serasa dihimpit batu besar, ia mengunci pintu toilet dengan rapat.


Tangannya mengusap airmata yang sudah jatuh entah sejak kapan bahkan ingin sekali Bee mengeluarkan tangisnya kencang agar bisa lepas rasa sesak itu, ia terus menahan suara hingga ia sesegukan sendiri sambil memukul-mukul dadanya yang masih tidak bisa berdegup normal.


"Kenapa.....? kenapa dia muncul lagi setelah bersusah payah hati ini menyingkirkannya sudah lima tahun terakhir" gumam gadis itu pada dirinya.


Lama Bee berada di toilet menenangkan suasana hatinya, sampai ia merasa sedikit lega ia memutuskan untuk kembali ke depan agar tidak ada yang mencurigainya.


Saat kembali, Bee dibuat canggung dengan tatapan Zayn yang masih belum enyah dari ruangan itu, padahal sudah selesai visit dan menuliskan terapi yang akan diteruskan pada pasien-pasien yang menjadi tanggung jawabnya.


Namun pria itu seakan enggan untuk beranjak. Iya Zayn masih ingin memastikan bahwa benar perawat cantik nan berhijab tadi adalah perempuan yang sama dengan kekasihnya dahulu, jika bukan karena menjaga performa sebagai dokter mungkin Zayn sudah tidak bisa menahan kerinduan terhadap wanita yang masih memenuhi ruang hatinya tersebut.


Ketika pertama bertemu tadi jika saja ia khilaf mungkin sudah menarik Bee dalam pelukannya, itulah yang dirasakan oleh Zayn ketika mata mereka bertemu untuk pertama sejak lima tahun terakhir.


Untuk mencairkan suasana Zayn hanya mengobrol ringan perihal tentang kepindahannya ke rumah sakit tersebut pada Dina dan kepala ruangan yang masih setia menemani pria itu.


Bee hanya diam, ia mencoba untuk tetap fokus menulis laporannya meski ia begitu risih ketika Zayn sesekali mencuri pandang gadis itu.


"Bee kenapa kau diam saja?" tanya Dina.


"Tidak....aku hanya merasa mulas saja, tidak nyaman....aku sedang sembelit, makanya aku bolak balik toilet" jawab Bee pelan pada temannya itu.


"Ooo...aku kira kau malu dengan dokter Zayn, soalnya kau begitu canggung sejak dokter Zayn kemari"


"Tidak ada hubungannya dengan dia" jawab Bee kesal.

__ADS_1


"Hei....kenapa marah?" Dina merasa heran.


Beruntung Zayn masih fokus bicara dengan kepala ruangan, namun sesekali masih melirik ke arah gadis cantik yang tengah mengobrol bersama Dina.


__ADS_2