
Bee melepaskan jemari Zayn yang melekat di pergelangan tangannya, lalu ia menatap Zayn dengan datar.
"Istrimu adalah mantan kekasih sepupuku, kami sudah kenal sejak aku masih kecil sebelum aku bertetangga denganmu, hanya itu yang bisa ku katakan"
"Apa kau cemburu?" goda Zayn.
"Astaga.....berhenti bercanda Zayn" jawab Bee kesal.
"Kau cemburu Bee....mengaku saja"
"Huh....terserah, minggirlah aku mau lewat"
Bee berjalan menjauh tidak menunggu tanggapan dari pria itu lagi.
Zayn menyusul langkah perawat cantik itu sambil mengulum senyum, ia melihat jelas raut wajah Bee ketika Kasih mencium pipinya.
"Apa kau sudah makan siang? mau makan bersamaku?" tanya lelaki itu lagi ketika sudah menyamakan langkahnya berjalan berdampingan dengan Bee.
Bee diam saja tidak menjawab, ia sungguh kesal sudah sebulan ia merasa risih dengan hadirnya Zayn di rumah sakit itu.
Zayn selalu mencari celah mendekati gadis itu, Bee merasa Zayn sudah benar-benar keterlaluan padahal ia sudah menikah tetapi masih saja mengganggunya bahkan tidak malu untuk menyatakan cinta setiap hari membuat Bee muak.
"Bee..." panggil Zayn kembali.
"Aku sudah tidak berselera" jawab Bee mempercepat langkahnya.
"Benar bukan, kau cemburu....aku tahu kau seperti apa Bee" jawab Zayn tersenyum.
"Huh....apa kau tidak malu? Berhenti mengikutiku Zayn, jangan seperti ini, kita sudah selesai tidak ada yang harus aku cemburui dari dirimu, hargailah istrimu"
__ADS_1
Jawab Bee menatap tajam pria itu.
"Kasih tidak akan peduli padaku, aku juga lebih tidak peduli padanya....kami hanya suami istri di atas kertas saja Bee"
Membuat Bee berhenti dan kembali mengernyit heran menatap mata biru Zayn, pria itu membalas tatapan Bee dengan berbinar.
"Bukan urusanku....tolong Zayn jaga sikapmu, kau suami orang aku tidak mau dikira yang tidak-tidak"
"Aku tidak peduli tanggapan orang lain"
Jawab Zayn cuek.
"Astaga...." Bee kembali menatap Zayn tajam dan kesal.
"Mata mu masih sama ketika menatapku, kau cantik ketika marah Bee, aku bahkan merindukan tatapan mematikanmu itu" jawab Zayn tersenyum menggoda gadis itu.
Bee menghentakkan kakinya kesal, ia tidak ingin lebih berlama lagi berhadapan dengan sikap konyol Zayn yang masih terobsesi padanya, beruntung Bee melihat teman sejawatnya lewat, segera ia bergabung meninggalkan Zayn yang masih menatapnya dengan senyum.
Bee pulang dari dinas siang, jam sudah menunjukkan pukul 21.23 Wib.
Dengan motor matic yang selalu setia menemaninya satu tahun terakhir ketika ia mulai bekerja, ia mencicil motor itu perbulan dengan gajinya setelah memenuhi kebutuhan keluarga.
Belakangan diketahui keuangan keluarga Bee sedikit lebih sulit karena sang ibu mengidap penyakit gagal ginjal yang mengharuskan wanita paruh paya itu melakukan cuci darah seminggu dua kali di rumah sakit milik pemerintah yang menjadi rujukan jaminan kesehatan yang dimiliki oleh ibu Bee.
Karena hal itu pula Bee tidak memperbolehkan lagi untuk ibunya tetap berjualan di kantin sekolah, Mawar adik kedua Bee harus berbesar hati untuk menunda melanjutkan kuliah karena tidak punya biaya, Bee tidak bisa berbuat apa-apa karena gajinya hanya cukup untuk biaya makan dan cicilan motor saja, beruntung Rafly adik ketiganya masih duduk di kelas tiga SMP yang tidak terlalu banyak membutuhkan biaya.
Mawar terpaksa bekerja sebagai pelayan di sekolah yang sama dengan kantin ibu Bee, ia melakukan itu dengan sukarela, biar gaji sedikit setidaknya bisa membantu kakaknya memenuhi kebutuhan sehari-hari sejak ibunya sudah tidak bisa lagi berjualan.
Tanpa mereka sadari, Bee selalu menangis mengadu pada sang Khalik di sepertiga malamnya, doa sederhana yang ia panjatkan hanya ingin kehidupan keluarganya membaik, maka dari itu pula ia memutuskan belum ingin membuka hati apalagi menikah, ia ingin fokus menjaga ibu dan adik-adiknya, terlebih ibu Bee akhir-akhir ini kondisinya kian menurun, bahkan sering dirawat di rumah sakit.
__ADS_1
Seperti hari ini, Bee pulang dari dinas tidak langsung ke rumah melainkan ke rumah sakit milik pemerintah tempat ibunya dirawat, tanpa Bee sadari Zayn mengikutinya dari belakang.
Pria itu tidak pulang, ia sengaja menunggu perempuan pujaannya selesai dinas hanya untuk mengetahui dimana alamat Bee berada ketika pulang bekerja, ia mengernyit heran saat Bee malah berbelok ke rumah sakit lain hingga ia mengerti setelah sampai pada satu kamar pasien kelas tiga tempat tujuan Bee.
"Kakak sudah pulang?" Rafly menyambut Bee dengan mencium tangan kakaknya.
Bee mengangguk sambil menempelkan ibu jarinya dibibir agar Rafly bicara pelan.
"Bagimana kabar ibu? apa dokternya datang tadi sore?" tanya Bee pada Rafly setelah mencium kening ibunya yang sudah tertidur.
"Iya....kondisi ibu kian menurun kak, ibu bertambah sesak sejak sore tadi, sekarang baru bisa istirahat dan tidur" jawab Rafly.
"Ya sudah, apa kau sudah makan? ini kakak belikan nasi untukmu dan Mawar, pulanglah biar kakak yang berjaga malam ini, kakak jadwal libur besok, kalian baik-baik dirumah" ucap Bee pelan tidak ingin membuat ibunya terjaga.
Bee memberikan kunci motornya agar Rafly pulang dengan nasi bungkus itu, mereka bergantian untuk menjaga ibunya selama dirawat. Beruntung rumah sakit itu tidak terlalu jauh dari kediaman mereka.
Zayn tertegun dengan apa yang dia lihat dan dengar, kebetulan ibu Bee berada di bed pasien yang berada didekat pintu masuk hingga memudahkan Zayn dalam mendengar pembicaraan mereka.
Zayn berpaling dan berbalik badan ketika Rafly keluar untuk pulang, ia tidak ingin Rafly mengetahui bahwa ia berada disana.
Lama Zayn berdiri melihat Bee merawat ibunya dengan kasih sayang, padahal perempuan itu baru saja pulang dari lelahnya bekerja, bagaimana Bee menyeka keringat dan mengompres kening ibunya yang demam, memperbaiki selang oksigen, membuat hati lelaki itu kian menyesal telah meninggalkan kekasih tercintanya itu demi sebuah wasiat konyol dari nenek yang amat di hormati orangtuanya.
Zayn berpikir jika saja ia masih bersama Bee mungkin mereka sudah menikah sekarang dan keluarga Bee tentu tidak sesulit yang ia lihat saat ini, matanya berkaca-kaca ketika melihat wanita itu menangis dalam diam sambil mencium tangan ibunya. Zayn tahu betul Bee sangat menyayangi ibu dan adik-adiknya.
Zayn bersandar di balik kaca jendela kamar pasien tempatnya berdiri saat ini, ia menarik napas dalam dan melakukannya berulang agar menetralisir perasaannya yang ikut terluka melihat pujaannya menangis.
Zayn gelagapan ketika Bee tampak berjalan keluar kamar pasien dengan sebuah tas kecil yang Zayn yakini itu adalah mukena, benar Bee berniat akan ke musholah rumah sakit untuk menunaikan ibadah isya yang belum ia kerjakan setelah memastikan ibunya tertidur dengan pulas.
Zayn bersembunyi, ia memegang dadanya yang gugup takut ketahuan Bee bahwa ia mengikuti perempuan itu.
__ADS_1
"Huh....hampir saja" ucapnya sambil memegang dada.
Setelah Bee berjalan menjauh, Zayn memutuskan menemui para perawat yang berjaga di nurse station. Entah apa yang ia rencanakan.