
Zayn benar-benar menghindari Bee, jika menjemput Rayyan dari rumah mantan istrinya ia segera pulang tidak berlama-lama disana meski Bee selalu menawarkan jika ingin minum kopi dahulu sebelum pulang namun tidak pernah berhasil menahan Zayn, pria itu datang ketika mengantar maupun ketika menjemput Rayyan saja.
Bee memejamkan matanya yang sudah berair, lalu kembali menatap sendu mobil Zayn yang kian menjauh membawa Rayyan kembali pulang setelah bersama Bee seharian.
"Kau bahkan tidak mau berbicara lama dengan ku lagi Zayn, maafkan aku Zayn aku juga terluka oleh keadaan ini....kau benar kita tidak bisa menyakiti Akbar dan nenek Farida, tapi andai bisa aku ingin kembali Zayn aku ingin kembali padamu Rayyan membutuhkan kita berdua, apa yang harus aku lakukan?" gumam Bee pada dirinya sendiri, ia masih berdiri disana meski mobil Zayn sudah tidak terlihat lagi.
Suara bi Sumi membuyarkan lamunannya bahwa ponsel Bee berbunyi ada panggilan dari Mawar, Bee menghapus airmatanya dan menerima panggilan itu yang ternyata kedua adik bersama keluarga ayahnya telah sampai di kota tersebut sedang menuju kediaman Bee dan bi Sumi sekarang, Bee menjadi sendu itu artinya nanti malam akan bertemu dua keluarga membahas rencana hari pernikahan.
Tidak lama berselang, senyum Bee mengembang tatkala keluarga ayah dan kedua adik yang ia rindukan telah tiba, Bee dan bi Sumi menyambut mereka dengan hangat, Mawar dan Rafly menatap heran bahwa rumah kakaknya begitu besar dan mewah, terlebih ibu tiri Bee yang tidak menyangka bahwa Bee menjadi janda kaya setelah ditinggal cerai oleh Zayn, dan sekarang perempuan itu pun akan menjadi seorang nyonya kaya kembali jika menikah dengan Akbar dan menetap di Singapura nantinya.
"Bee....ibu tidak menyangka hanya dengan menikah siri saja kau bisa mendapatkan semua ini, sebentar lagi kau juga akan menjadi nyonya kaya yang tinggal di luar negeri, kau benar-benar hebat jadi wanita" ucap ibu Nisa yang masih terkagum dengan rumah anak tirinya itu.
Bee hanya tersenyum tipis mendengarnya, ia tidak menyukai ibu Nisa bicara seperti itu, bukan perihal harta saja namun pernikahan yang sempurna lah yang Bee inginkan.
Mawar dan Rafly hanya geleng kepala dengan sikap ibu tiri mereka, Bee mengajak mereka semua masuk dan berisitirahat setelah perjalanan jauh, ayah Bee hanya diam saja atas sikap istrinya.
******
Akbar yang baru datang dari Singapura karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal, pria ini harus menahan rindu pada calon istrinya sebab Akbar harus bolak balik Singapura Indonesia sebelum bisa memboyong istrinya nanti untuk menetap disana, sekarang ia harus bersabar karena menikah ala Indonesia cukup memakan waktu tentu saja karena nenek Farida menginginkan mengikuti prosedur yang biasa dilalui orang Indonesia jika akan menikah, harus bertemu kedua keluarga kemudian bertunangan lalu baru bisa menikah.
Malam ini sudah pasti malam yang bahagia bagi Akbar, ia akan memberi kejutan pada pertemuan kedua keluarga nanti, acara makan malam yang ia adakan di sebuah hotel mewah di pusat kota, keluarga Bee dan keluarganya serta keluarga pamannya yaitu ayah Zayn juga turut di undang untuk ikut menyaksikan dan memutuskan kapan hari pernikahan yang baik baginya dan Bee nanti.
Berada di sebuah hotel mewah tentu masih asing bagi keluarga Bee yang memang bukan berasal dari keluarga kaya, ibu Nisa dan anaknya Rina lagi-lagi takjub akan kemewahan hotel dan jamuan atas kedatangan mereka.
__ADS_1
"Bu.....ini baru pertemuan keluarga saja sudah semewah ini bagaimana jika kak Bee menikah nanti, aku tidak tahu akan seperti apa acaranya nanti" ucap Rina seraya berbisik pada ibunya.
"Kita sungguh beruntung menjadi besan dari keluarga kaya itu, tentu saja kita akan ikut menikmatinya nanti, sudah kita harus diam dan elegan jangan terlihat kaku anggap ini bukan pertama kalinya kita berada di hotel mewah" jawab ibu Nisa pelan.
Mawar dan Rafly bukan menikmati kemewahan disana, mereka memikirkan perasaan kakaknya yang tampak gusar sejak tadi, mereka tahu sekali hati kakaknya yang masih dilema akan rencana ini, mereka semua sudah duduk di sebuah meja panjang yang sudah dipersiapkan untuk seluruh anggota keluarga yang akan datang, Mawar dan Rafly menjadi terkejut ketika mereka melihat ada orang tua Zayn yang juga turut hadir disana.
"Kak Bee....kenapa paman Gunawan dan bibi Rebecca juga ada disini?" tanya Mawar heran.
"Karena mereka satu keluarga Mawar, Zayn dan Akbar masih sepupu" jawab Bee datar dan tidak bersemangat.
Mawar menutup mulutnya terkejut bukan main, ia menjadi tahu tentang alasan kenapa kakaknya ini begitu dilema sekarang.
"Kak.....apa itu artinya kau akan menjadi keluarga dengan kak Zayn? apa kak Akbar tahu tentang kalian?" tanya Mawar lagi.
Mawar tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa mengusap pundak kakaknya dengan sayang dan mendukung apapun keputusan Bee nantinya.
Ibu Nisa dan ayah Bee sedang bicara dengan nenek Farida serta kedua orangtua Zayn yang tampak canggung disana, Bee keluar untuk permisi ke toilet, entah kenapa Bee butuh tempat untuk menangis sekarang. Akbar belum datang, pria itu masih berada di luar hotel sedang menghubungi Zayn meminta untuk sepupunya itu juga turut menjadi undangan malam ini.
Semula Zayn menolak karena tentu saja ia tidak sanggup untuk mendengar keputusan hari pernikahan Bee nantinya, namun Akbar memaksa ia datang dengan alasan ia ingin didampingi pria seusianya, Akbar sedikit pemalu dan gugup jika berhadapan secara resmi dengan para orangtua.
Zayn terpaksa mengiyakannya, meski berat ia pun akhirnya datang ke hotel tersebut, Akbar mengajak sepupunya itu untuk duduk bersama para keluarga yang sudah menunggu, Zayn duduk disamping ibunya tepat di hadapan kursi Akbar dan Bee. Namun Zayn belum melihat Bee dari tadi.
Ingin sekali Zayn menutup telinga dari percakapan para orangtua yang sedang membahas tanggal dan hari baik untuk Bee dan Akbar menikah, namun ia tidak bisa menghindar lagi dari sana terlebih matanya tidak sengaja beralih pada seorang perempuan yang sangat cantik dengan gaun panjang dipadu hijab senada, Bee baru kembali dari toilet setelah menetralisir perasaannya, ia terkejut Zayn juga berada disana. Ia menelan ludah ketika Akbar meraih tangannya untuk duduk disamping pria yang berbahagia itu.
__ADS_1
Zayn menundukkan pandangan, ia berusaha menahan gejolak di dada betapa ia cemburu melihat tangan Bee disentuh oleh Akbar, matanya memerah, Zayn hanya bisa menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan agar bisa lebih tenang, mama Zayn mengusap punggung anaknya ia tahu sekali perasaan Zayn saat ini.
"Baiklah....karena semua sudah berkumpul, sebelum menentukan hari pernikahan izinkan aku melamar Yasmin dihadapan kalian semua, aku ingin menyematkan sebuah tanda sebelum hari itu tiba" ucap Akbar tersenyum bahagia.
Bee menatap Zayn sendu, pria itu hanya menunduk seraya memegang gelas minumannya.
"Yasmin.....aku ingin memintamu di hadapan orangtua mu malam ini, paman bibi izinkan aku melamar Yasmin secara resmi dihadapan semua keluarga, aku ingin menjadikan perempuan ini istriku, pendamping hidupku" ucap Akbar begitu jantan di hadapan ayah dan ibu tiri Bee.
Ia meraih kembali tangan Bee seraya mengajaknya berdiri, Bee hanya menurut saja sejak tadi, ia tidak tahu perasaannya seperti apa sekarang namun ekor matanya tetap tertuju pada pria di seberang meja.
Tidak disangka semua keluarga terkejut ketika Akbar menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis wanita itu, ibu Nisa dan Rina tentu saja membesarkan mata mereka kemudian bertepuk tangan heboh kegirangan.
Zayn menelan ludah, ia menggertakkan giginya seraya menggenggam gelas itu dengan kuat menahan perihnya perasaannya saat ini yang melihat langsung Bee nya di lamar lelaki lain tepat di hadapannya, matanya sekilas melihat bagaimana tangan Akbar menyematkan cincin indah itu di jari lentik yang biasa ia genggam.
Zayn sudah tidak bisa menahannya, hingga gelas yang ia genggam itu menjadi pecah dan melukai telapak tangannya, Bee melihat itu sebab sejak tadi fokusnya hanya pada Zayn bukan pada Akbar apalagi pada sebuah cincin yang belum memiliki arti baginya, mata perempuan ini berkaca-kaca melihat Zayn yang terluka bukan hanya pada tangannya namun juga pada hati pria itu.
Semua mata tertuju pada Zayn yang baru tersadar bahwa tangannya telah berdarah.
"Maaf......aku tidak sengaja, lanjutkan acaranya aku akan ke toilet sebentar" ucap Zayn yang langsung berdiri meninggalkan kursinya.
Zayn berjalan keluar, airmatanya jatuh seiring wajahnya yang berpaling dari semua keluarga yang menatap punggungnya menjauh, Zayn bahkan tidak tahu darah ditangannya ikut menetes di lantai sama seperti hatinya saat ini, tangannya yang satu ia gunakan untuk mengusap matanya yang basah.
#####
__ADS_1
Ayo? berdarah tapi lebih berdarah yang di dalam ya kan Zayn....sabar Zayn, ikhlas ikhlas ikhlasin yaaa.....