Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas

Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas
Chapter 81


__ADS_3

Yasmin mulai gundah ketika mendekati akhir bulan, uangnya tinggal sedikit itupun cukup untuk makan saja yang artinya biaya sewa kost uangnya tidak mencukupi lagi, ia malu jika harus merepotkan Fatma yang sudah berbaik hati padanya dalam segala hal sejak ia dipecat, Fatma bahkan sering membagikan makanannya bersama Yasmin agar uang gadis ini bisa hemat menjelang akhir bulan.


Hanya mengurung diri saja, Yasmin sudah berpikir tidak waras ia bahkan berpikir untuk menjual diri saja jika sudah seperti ini, terlebih ia merasa tidak berharga, tidak ada yang menginginkannya, jika pulang pun ia juga harus menikah dengan pria tua yang ia benci, ia pikir sama saja dengan menjual diri jika pulang, tidak ada bedanya jika ia lakukan itu sekarang setidaknya ia tidak menjual diri pada pria tua, mungkin saja ia akan mendapatkan pria yang lebih muda begitu isi pikiran gadis yang tengah galau ini.


Menghadap cermin, ia menatap lekat wajah cantiknya di sana.


"Aku cantik, aku rasa aku akan mendapatkan pelanggan yang beruang yang bisa menghidupiku, atau bisa saja pria itu tertarik menikahiku karena aku masih perawan, hmmmm meski jadi istri yang keberapa pun aku mau asal itu pria muda dan kaya yang bisa membuat hidupku lebih baik, aku lelah hidup terlunta-lunta seperti ini, daripada menikah dengan pria tua itu yang hanya menguntungkan ayah tiriku saja, lebih baik seperti ini daripada bunuh diri bukan?" ucap Yasmin pada bayangan wajahnya, kemudian ia terkekeh sendiri mengingat takdirnya begitu buruk sejak ibunya meninggal.


Lalu Yasmin membuka dompetnya, ia menghitung uang yang tersisa.


"Aku rasa ini cukup untuk membeli pakaian seksi" gumamnya lagi, sepertinya Yasmin memang berniat akan menjalankan aksinya.


*****


Sudah seminggu pula Akbar dihantui rasa bersalah telah menyebabkan Yasmin kehilangan pekerjaan karena kecelakaan waktu itu, pria ini menjadi kurang fokus pada pekerjaannya terlebih ia memikirkan bagaimana nasib gadis yang pernah menjadi pelayan di rumahnya itu, sebab Akbar tidak tahu harus kemana menemui Yasmin saat ini.


Akbar berniat mengambil minum di dapur, tidak sengaja ia mendengar salah satu pelayannya yaitu Rini tengah berbicara di telepon dengan seseorang, semua ia cuek namun perhatiannya tersita ketika Rini menyebut nama Yasmin.


Pria ini mendekati Rini yang belum sadar akan kehadiran majikanya.


"Tu...tuan Akbar?" ucap Rini terbata, ia menjadi takut melihat majikannya menatap tajam padanya yang merasa tidak bersalah apa-apa.


"Kau bicara pada siapa?" tanya Akbar langsung.


"Oh....ini dengan teman tuan, ada yang bisa saya bantu?" jawab Rini gugup, ia tidak berani berkata ia baru saja bicara pada Yasmin, ia pikir tuan majikannya ini tidak akan suka jika mengingat Yasmin lagi.


"Aku mendengar jelas kau menyebut nama Yasmin, apa kau menghubunginya?"

__ADS_1


Rini bertambah gugup "Iya tuan....maafkan saya jika tuan tidak menyukai saya menghubungi Yasmin, maafkan saya tuan saya tidak akan menelepon sembarangan lagi" ucap Rini menunduk takut.


"Dimana dia?" tanya Akbar lagi, membuat Rini berani mengangkat kepala.


"Maksud tuan?"


"Jawab aku, di mana Yasmin tinggal sekarang? kau pasti tahu bukan?" tanya Akbar lagi tanpa malu-malu.


"Yasmin tinggal di kost sederhana bersama teman saya tuan" jawab Rini masih bingung.


"Berikan alamat lengkapnya!" perintah Akbar tanpa basa basi, pria ini merutuki bagaimana ia tidak tahu bahwa Rini masih berhubungan dengan wanita itu selama ini, dengan begitu ia akan cepat mendapatkan di mana ia bisa menemui Yasmin lagi.


Rini memberikan alamat kost Yasmin pada Akbar, pelayan ini berpikir tuannya akan kembali marah namun diluar dugaan malah mencari Yasmin.


"Untuk apa tuan Akbar alamat Yasmin? apa dia ingin membawanya lagi kemari? ah sudahlah bukan urusanku, untung tuan Akbar tidak memarahiku" gumam Rini setelah Akbar berlalu.


Akbar menjalankan mobilnya menuju alamat yang diberikan Rini, perlahan ia memasuki jalan sempit menuju ke sana. Setelah memperhatikan dengan seksama kost itu ia memutuskan untuk turun dari mobil.


Lama ia berdiam di halaman kost Yasmin, suasana tampak sepi, mungkin saja para penghuni lain masih bekerja atau belum pulang, matanya tertuju pada nomor kamar kost yang menjadi petunjuk di mana gadis itu berada.


"Jika dia tidak bekerja itu artinya gadis itu ada di dalam sekarang" gumam Akbar dalam hati sebelum memantapkan niat untuk maju dan mengetuk pintu.


Baru saja ingin mengetuk pintu, terdengar suara tangis dari dalam kost itu yang ia yakini adalah suara Yasmin, Akbar mengurungkan niat mengetuk pintu, namun ia tidak beranjak sebab ia mendengar keluh kesah gadis itu dari luar, tentu saja terdengar sebab kost tersebut hanya kamar yang kecil dan sederhana.


"Ibu lihat keadaanku sekarang, aku begitu menyedihkan bu...... jika seperti ini aku ingin menyusulmu saja, tidak ada yang menginginkanku bu, aku tidak ada harganya sekarang, bahkan untuk makan saja aku harus menelan nasi dengan kuah airmata, hidup terlunta-lunta, tidak bisa bekerja karena tidak ada ijazah, uangku akan habis bu, sewa kost ini pun akan berakhir aku bingung harus kemana lagi bu? tidak ada saudara, tidak ada keluarga yang mengasihiku, ibu.....aku merindukanmu" ucap Yasmin di sela isak tangisnya.


Pada kenyataan, Yasmin hanyalah gadis lemah dan rapuh meski terlihat keras di luar, ia sungguh menemukan jalan buntu sekarang. Tidak ingin pulang namun juga bingung harus bertahan dengan apa jika keadaan uangnya sudah seperti ini.

__ADS_1


Akbar mendengar itu dengan jelas, hatinya terenyuh perasaan bersalah pun kembali muncul, ia merasa telah menjadi penyebab gadis malang ini menangis, bagaimana tidak karena berawal dari diusirnya Yasmin dari pekerjaan pelayan di rumah besar Akbar, lantas gadis ini pun kembali kehilangan pekerjaan sebab kecelakaan tempo hari.


Akbar menjadi tahu bahwa memang benar Yasmin adalah gadis yang terlunta-lunta hidupnya tanpa tujuan, bukan hanya kabur dari rumah namun juga tidak punya siapa-siapa untuk mengadu.


Akbar tahu pasti bagaimana rasanya tidak punya ibu, namun ia beruntung masih memiliki Erina dan keluarganya di Indonesia berbeda dengan Yasmin yang hanya memiliki ayah tirinya saja.


Akbar perlahan mundur, ia kembali masuk ke mobil yang ia parkir sedikit jauh dari kamar kost Yasmin, ia pikir bukan saat yang tepat untuknya bertamu dalam keadaan gadis itu tengah bersedih. Namun Akbar tidak lekas pergi ia bahkan memesankan makanan secara delivery untuk gadis itu.


Ia hanya memantau dari mobil saja ketika petugas delivery makanan telah sampai pada alamat Yasmin, ia menatap lekat wajah yang masih sembab dengan mata membengkak itu membuka pintu pada kurir delivery.


"Maaf saya tidak memesan makanan" ucap Yasmin pada petugas itu.


"Ini kiriman dari teman anda nona, terimalah..."


"Ah tidak mungkin, maaf mungkin saja anda salah orang tuan" jawab Yasmin meyakinkan.


"Tidak... ini pesanan atas nama Yasmin dan alamat kost ini, benar nona ini dari teman anda terimalah, urusan anda mau makan atau tidak yang jelas saya akan kena masalah jika anda tidak menerima ini" petugas itu memohon.


Akhirnya Yasmin menerima paket makanan itu sambil melirik ke sana kemari jika ada yang mencurigakan, setelah aman ia kembali masuk ke kamarnya.


"Siapa yang mengirimiku makanan sebanyak ini? apa Rini? tidak mungkin dia menghabiskan uang untuk ku seperti ini, aku tidak punya teman lain selain Rini dan Fatma yang tahu alamatku, huh....membuatku penasaran saja, ah sudahlah tidak penting, rezeki tidak boleh ditolak" gumam Yasmin berbinar menatap kotak makanan itu.


Akbar tersenyum mendengarnya dari luar, namun senyumnya pudar ketika kembali Yasmin berkata disela makannya.


"Atau....ini dari tuan Akbar? ah tidak mungkin, mana mau pria jahat itu peduli padaku lagi, tapi bisa saja pria kejam itu mengirim makanan beracun untuk membunuhku malam ini? oh..... tidak mungkin, maaf tuan Akbar aku tidak akan mati oleh racun apapun" gumam Yasmin dengan mulut penuh makanan.


"Kecuali racun cintamu..... ahhhh tidak, kenapa membayangkannya saja membuatku geli, jika pria itu tidak kejam, mungkin aku akan jatuh cinta padanya, ha ha ha oke berhenti gila Yasmin, tidak mungkin pria jahat itu melirikmu"

__ADS_1


Yasmin tertawa sendiri dengan ucapannya.


__ADS_2