
Zayn masih tertidur dengan pulas, ia bahkan tidak pernah tidur se pulas ini setalah sekian lama.
Rafly membuka matanya perlahan karena merasa terganggu oleh sebuah benda berat menimpa tubuhnya, ia mengerjapkan mata dan terkejut ketika mendapati Zayn tidur disamping sambil memeluknya.
Rafly menggeser tubuh Zayn dan tangan yang menimpanya, namun Zayn malah mengigau.
"Jangan pergi Bee....tetaplah disini" ucap Zayn kemudian ia kembali terlelap sambil kembali meraih tubuh Rafly.
Rafly merasa aneh dipeluk oleh lelaki, maka darinya ia kembali menggeser tubuh besar Zayn, kemudian ia bangkit dari ranjang yang tidak terlalu besar itu.
*****
Zayn mengerjapkan mata, ia baru bangun dari tidur panjangnya, ia melihat sekeliling sudah kosong, ia beranjak dari sana keluar kamar Rafly, ia hanya mendapati Rafly tengah bersiap ingin sekolah.
"Kak Zayn sudah bangun, kakak terlalu nyenyak tidur jadi aku tidak berani membangunkan"
"Iya....aku memang lelah Rafly, mana yang lain?" tanya Zayn melihat sekeliling.
"Kak mawar sudah berangkat kerja, kak Bee juga sudah berangkat jadwal dinas pagi ini, sarapan sudah dibuat kak Bee di meja makan, silahkan kak Zayn sarapan dulu sebelum pulang, maaf kak aku sudah mau berangkat sekolah" Rafly pamit meninggalkan Zayn sendiri disana.
"Baiklah...terimakasih banyak Rafly, maaf aku menumpang tidur dikamarmu semalam"
"Tidak masalah kak, tapi jangan memeluk ku juga, apalagi kak Zayn sampai menganggapku kak Bee yang tidak boleh jauh" Rafly terkekeh mengingat Zayn mengigau.
Zayn tersenyum malu.
"Maaf....." jawab Zayn canggung.
"Kakak kan sudah menikah, aku harap kakak tidak menyakiti kak Bee yang sudah mulai bangkit, kak Bee sudah cukup tersiksa selama kak Zayn meninggalkannya, kak Bee bahkan tidak pernah mau berdekatan dengan lelaki lain sejak lima tahun ini, aku senang kak Bee sudah mulai move on sekarang sejak kehadiran dokter Bayu, aku harap kak Zayn mengerti" Rafly bicara jujur.
Zayn terdiam, ia merasa sesak mendengar kenyataan bahwa Bee tidak menjalin hubungan dengan pria lain selama lima tahun terakhir, ia senang juga sedih mendengarnya.
"Aku pamit sekolah kak Zayn" Rafly ingin berjalan keluar rumah namun Zayn menahannya.
__ADS_1
"Ini untuk uang jajanmu, terimalah aku tidak menerima penolakan, gunakan untuk membeli keperluan sekolahmu" Zayn memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.
Rafly menerimanya.
"Terimakasih banyak kak Zayn"
Setelah Rafly berangkat, Zayn menuju kamar mandi kemudian setelah selesai ia menuju dapur dan meja makan.
Zayn tersenyum melihat nasi goreng sederhana hasil masakan gadis yang ia cintai disana.
Zayn memakannya dengan lahap.
"Astaga....rasanya masih sama Bee, sama seperti cintaku tidak berubah padamu"
Zayn bergumam sambil tersenyum dengan mulut yang terus mengunyah.
*****
Zayn datang lebih lambat dari biasanya ia visit ke ruangan Anggrek.
Ia mengantongkan dua minuman vitamin C di sakunya.
Bee pun demikian, gadis ini juga memakai masker, Bee bahkan sudah terserang flu pagi ini.
Zayn visit ditemani Dina, karena Bee sedang berada dikamar pasien lain. Setelah kembali ke meja perawat, Bee fokus menulis laporan tidak menyadari Zayn dan Dina juga sudah selesai visit.
Bee terkejut dengan sebuah botol minuman vitamin C 1000mg berada dihadapannya, ia melihat kearah seseorang yang baru saja meletakkan minuman rasa jeruk itu.
Zayn mengerlingkan sebelah matanya menggoda Bee sambil berlalu meminum minuman yang sama dengan yang ia letakkan di hadapan Bee. Pria itu kembali ke ruangan khusus dokter.
Bee tersenyum dengan tingkah Zayn pagi ini, bagaimana mereka kompak menggunakan masker karena sama-sama terserang flu.
Karena jam sibuk, jadi teman-teman sejawat Bee tidak menyadari kode kodean antara mereka berdua.
__ADS_1
"Bee minuman siapa ini? boleh aku meminumnya, tenggorokan ku sakit pasti cepat sehat minum ini" tanya Dina yang akan mengambil botol itu.
"Enak saja, ini minumanku....aku flu Din, jadi butuh vitamin c" jawab Bee dengan cepat menahan botol itu.
"Dokter Zayn juga flu, apa kalian menularkan satu sama lain?" Tanya Dina polos.
Bee terlihat canggung.
"Tidak....aku flu karena kehujanan semalam"
"Dokter Zayn juga bilang begitu padaku tadi" jawab Dina sambil memikirkan sesuatu.
Bee terdiam.
"Bee...apa kau bersama dokter Zayn semalam?" tanya Dina tiba-tiba dengan suara yang agak besar.
Bee menutup mulut sahabatnya itu dengan telapak tangannya.
"Jangan berpikir yang macam-macam Din, baiklah nanti ku ceritakan padamu"
Akhirnya Bee menceritakan semua kejadian yang ia alami kemarin bersama Bayu dan Zayn.
Dina tertawa terkikik geli mendengarnya.
"Kenapa kau tertawa Din, aku bingung sekarang"
"Astaga.....apa yang kau bingungkan Bee, ikuti kata hatimu, jika kau memilih dokter Bayu kau akan bahagia Bee, namun sayang kau tidak memiliki perasaan padanya, jika kau memilih dokter Zayn itu artinya kau harus siap jadi yang kedua namun kalian saling mencintai, aduh.... aku saja bingung Bee apalagi kau, sungguh rumit cinta mu teman" Dina geleng-geleng kepala.
"Aku tidak mau jadi perebut suami orang Din, aku rasa aku harus memutuskan secepatnya menerima lamaran dokter Bayu, aku tidak ingin terus terjebak masa lalu bersama Zayn, jika aku menikah Zayn akan berhenti mendekatiku" jawab Bee dengan sendu.
"Kau tahu apa yang terbaik untukmu Bee" Dina menggenggam tangan sahabatnya.
Bee mengangguk.
__ADS_1
"Doakan aku Din, agar membuat keputusan yang tepat untuk hidupku, aku juga lelah....aku butuh sandaran bahu yang akan menemani hidupku kedepannya"
"Bersabarlah Bee, aku mendoakan mu teman"