
Lama bersalaman, membuat Yasmin canggung diperlakukan oleh Daffa teman Akbar yang menjadi pengelola restoran. Daffa lelaki berperawakan manis dan ramah, entah kenapa ia menatap Yasmin begitu lekat ketika Akbar mengenalkan mereka. Ia tidak menyangka bahwa perempuan yang akan bekerja di bawah pengawasannya adalah seorang gadis yang sangat cantik dan sempurna secara fisik bagi Daffa.
Entah kenapa Akbar tidak menyukai tatapan Daffa pada Yasmin, maka darinya ia memutuskan kontak mata antara dua orang tersebut.
"Daf......" tegur Akbar.
"Ah iya, maaf aku tidak mengira Yasmin begitu cantik, sayang sekali untuk menjadi seorang pelayan di sini" jawab Daffa mengusap lehernya yang tidak gatal.
"Tidak tuan Daffa, aku mau kerja apa saja yang penting dapat gaji" sela Yasmin cepat ketika mendengar percakapan dua lelaki itu.
Akbar menatapnya tajam, membuat Yasmin menelan ludah kasar lalu dengan cepat ia menunduk takut. Setelah perkenalan dan berbincang ringan mengenai bagaimana pekerjaan dan posisi yang akan diisi oleh Yasmin yang ternyata menjadi pelayan pramusaji restoran itu, Yasmin tetap bersyukur apapun itu yang terpenting baginya ia bisa menyambung hidup dengan mendapat gaji.
*****
__ADS_1
Sejak Yasmin bekerja di restoran, Akbar mulai jinak pada gadis itu, entah kenapa ia selalu menanyakan tentang perkembangan Yasmin pada temannya Daffa. Tak hanya sampai disitu, Akbar juga sering mampir dan beralasan mengajak kliennya meeting di sana padahal hanya untuk bertemu Yasmin yang tengah bekerja, namun tentu saja Akbar gengsi mengatakannya.
Yasmin bekerja keras, ia banyak belajar dari senior-seniornya dalam memberikan pelayanan terbaik, namun karena ia salah satu pelayan cantik tentu saja tidak jarang banyak lelaki yang menggodanya bahkan berani menawar dan melecehkannya di sana, tetapi Yasmin tidak terganggu sama sekali yang ia pikirkan hanya uang dan gaji yang akan ia dapat dari pekerjaan itu hingga godaan bentuk apapun ia anggap biasa saja.
"Maaf tuan, jika anda ingin membayarku untuk satu malam saja aku kurang berminat. Tetapi jika kau berniat membayarku untuk jadi istri simpananmu aku mau, tentu saja kau harus bayar mahal karena aku masih gadis, kau juga harus berjanji akan menjamin hidupku untuk waktu yang lama bukan habis manis sepah dibuang" ucap Yasmin enteng ketika mendapat tawaran dari seorang lelaki yang ia layani di meja vip yang merupakan lelaki kaya dari penampilannya.
Lelaki itu terperangah mendengar jawaban dari seorang pelayan wanita rendahan seperti Yasmin.
"Apa? kau bermimpi aku menikahi pelayan sepertimu? kau memang cantik nona, tapi sayang tentu saja aku tidak akan menikahimu semudah ini. Pergilah...... anggap saja tawaranku tadi tidak ada" jawab lelaki itu dengan sombong.
*****
Sebulan sudah Yasmin bekerja, mendapat gaji untuk bisa menambah uang sewa kost dan makan sehari-hari, tak hanya itu ternyata selama satu minggu terakhir ia mendapat teman dekat sesama pelayan, lelaki sederhana yang juga bekerja di sana sebagai seorang koki memasak, pria itu menyukai Yasmin sejak awal.
__ADS_1
Yasmin merasa senang diperhatikan oleh lelaki baik seperti Adnan, pria melayu berkebangsaan Malaysia yang menaruh hati padanya. Mereka sering mengobrol secara pribadi untuk mengenal satu sama lain, Yasmin tidak memungkiri bahwa Adnan tulus dan baik, namun sejauh ini ia belum memiliki perasaan apa-apa padanya.
Akbar mengetahui kedekatan antara Yasmin dan salah satu koki terbaik di restoran miliknya dari Daffa. Entah kenapa pria ini enggan mengakui bahwa ia tidak menyukai berita tersebut, namun sesering mungkin menanyakan tentang Yasmin dan Adnan di sela pekerjaan mereka membuat Daffa kesal pada temannya yang satu ini.
"Bilang saja jika kau cemburu, kenapa susah sekali? jika tidak menyukai Yasmin kenapa kau terus menanyakan tentang gadis itu, dasar pria gengsi wajar saja kau belum laku hingga sekarang" ucap Daffa menatap kesal pada Akbar, Daffa berada di kantor Akbar untuk melaporkan beberapa urusan pekerjaan.
"Ck.....tidak aku tidak menyukainya, aku hanya kasihan pada Yasmin itu saja, karena dia..... dia....." ucapan Akbar menggantung, ia pun tidak tahu kelanjutannya.
"Dia apa? dia cantik? menarik? dasar bodoh, ayolah teman akui saja jika kau suka, Yasmin gadis yang baik aku bisa melihatnya meski dia sedikit menyebalkan jika sedang bicara suka seenaknya. Aku saja jika masih sendiri pun pasti akan menyukainya" celetuk Daffa lagi.
"Sudah jangan menceramahiku, pergilah aku akan ada rapat, pantau terus mereka" jawab Akbar lagi.
"Untuk apa aku memantaunya? biar saja mereka menjalin kasih tidak ada yang salah dengan hal itu bukan? selama tidak mengganggu pekerjaan keduanya, itu tidak masalah Akbar, kau ini bagaimana ada banyak pelayan kenapa hanya Yasmin yang kau suruh pantau?"
__ADS_1
"Maksudku, aku hanya tidak ingin mereka mengabaikan tanggung jawabnya bekerja dengan baik, itu saja.... aku hanya tidak ingin rugi sebab Yasmin itu wanita ceroboh, dia bisa menimbulkan kerugian jika tidak berhati-hati apalagi bekerja sambil pacaran" ucap Akbar kesal.
"Iya.... iya terserah kau saja, pria banyak alasan" jawab Daffa menepuk pundak Akbar seraya geleng kepala.