Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas

Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas
Chapter 15


__ADS_3

Zayn menepikan mobilnya di halaman rumah Bee, gadis itu segera ingin turun namun Zayn menahannya.


"Maafkan aku Bee....." ucap pria itu sendu.


"Untuk apa meminta maaf? bukankah kau sudah berbuat semaumu, apa kau puas sekarang" Bee menjawab ketus.


Zayn menggeleng pelan.


"Maafkan aku Bee....aku melakukan ini agar kau tidak dimiliki siapapun, aku cemburu melihat kau bersama Bayu, aku tidak bisa Bee..." ucap pria ini dengan nada rendah.


Bee terdiam, ia membalas tatapan Zayn yang tampak terluka.


"Zayn....mengertilah kita sudah tidak ada hubungan lagi, kau sudah menikah Zayn sadarlah ku mohon, aku juga terluka jika kau bersikap seperti ini"


"Tidak bisakah kau kembali padaku Bee, apa kita tidak boleh bahagia?"


"Kenapa kau bertanya seperti ini Zayn, kau meninggalkan ku dan menikah dengan perempuan lain, aku bisa apa? kita tidak berjodoh sadari itu"


"Bee....menikah dengan ku"


"Apa??????" Bee terkejut akan ucapan itu muncul dari bibir Zayn.


"Kau gila Zayn, kau ingin menjadikan ku istri kedua? sungguh konyol....jangan bermimpi aku mau" jawab Bee dengan emosi dan ia segera keluar dari mobil berlari masuk kedalam rumahnya.


Bee menangis dibalik pintu bagaimana bisa Zayn dengan mudahnya mengatakan hal sakral tersebut.


Bee masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat, Rafly dan Mawar bingung melihat kakaknya seperti itu, mereka mengerti setelah melihat ke arah luar dimana tampak Zayn berdiri disamping mobilnya dengan raut kacau.


Bee memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri sebelum menunaikan ibadah magrib, setelah itu ia menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga.


Zayn tidak beranjak dari sana, Rafly ingin menghampiri pria itu namun Bee melarangnya.


Setelah tiga beradik itu makan malam, Bee membereskan meja makan dan Mawar mencuci piring.


Rafly kembali melihat ke arah jendela benar saja Zayn masih berada di luar, ia merasa kasihan namun tidak berani ikut campur.


"Biarkan saja dia, jangan hiraukan kerjakan PR mu Rafly" Bee berkata tegas pada Rafly.


"Iya kak.....aku akan ke kamar"


Mawar hanya diam, ia tidak ingin menambah pikiran kakaknya yang ia yakini tengah kalut sejak Zayn hadir kembali dalam hidup kakak yang ia cintai.


"Aku juga akan ke kamar kak" Mawar pamit yang segera Bee angguki.


Bee kembali ke kamar, namun ia baru teringat akan ponselnya yang belum sempat ia ambil dari mobil Zayn.


Ia keluar rumah menemui pria itu.


"Bee....aku tahu kau pasti keluar, kau tidak akan membiarkan aku disini bukan?" Zayn berucap dengan semangat.


"Jangan GR, aku hanya ingin mengambil ponselku" Bee menjawab datar.


Zayn mengusap lehernya yang tidak gatal.


Bee membuka pintu mobil dan mencari ponselnya yang ternyata jatuh di kolong bangku penumpang.


Ia kesulitan menjangkau, Zayn melihat itu ingin membantu, pria ini ikut masuk ke sana membuat Bee terkejut.


"Zayn....mau apa kau?"

__ADS_1


"Jangan GR aku hanya ingin membantumu" jawab Zayn sekenanya.


Zayn ikut menunduk mencari ponsel Bee yang terjatuh. Ketika tangannya mampu mendapatkan apa yang mereka cari membuatnya kembali ke posisi duduk bersamaan dengan Bee hingga kening mereka sama-sama beradu.


"Aw...." Bee memegang keningnya.


Zayn terkekeh, Bee ingin merampas ponsel itu dari tangan Zayn namun Zayn menarik ulur ponsel itu.


"Zayn....berikan ponselku" ucap Bee kesal.


"Tidak.....sebelum kau mau menikah dengan ku" jawab Zayn menggoda.


"Aish......jangan bercanda Zayn" kembali Bee ingin meraih ponselnya namun gagal tanpa ia sadari tubuhnya kian mendekat ke arah lelaki itu.


"Aku tidak pernah bercanda padamu Bee, aku serius"


"Jangan gila Zayn, cepat berikan ponselku ini sudah malam silahkan pulang, nanti istrimu mencari"


"Aku ingin kau yang menjadi istriku" jawab Zayn enteng.


"Dasar pria gila" cebik Bee kesal.


"Menikahlah dengan pria gila ini" lagi-lagi Zayn berkata dengan mudahnya.


"Bunuh saja aku Zayn, bunuh" ucap Bee tambah kesal.


"Jika kau mati aku juga akan mati"


Bee ingin tertawa geli mendengarnya, seperti ada kupu-kupu yang terbang diperut gadis itu, namun ia gengsi ingin menampakkan tawanya namun senyum tipis terukir bersamaan dengan decakan kesal yang masih mendominasi.


Zayn tersenyum melihat gadis itu tampak melunak.


"Ayo berikan ponselku, aku lelah Zayn....aku ingin istirahat setelah hari ini penuh dengan kekacauan yang kau buat" Bee berkata pelan sambil menadahkan tangannya meminta Zayn mengembalikan ponsel itu.


"Kau mengikutiku? apa jangan-jangan jus strawberry itu juga ulah mu?" tatap Bee penuh selidik.


Zayn tidak menjawab ia hanya mengherdikkan bahunya saja.


"Astaga Zayn....kau benar-benar sudah tidak waras" umpat Bee kesal.


"Aku tidak waras karena mu, makanya menikah dengan ku agar aku kembali normal" jawab Zayn santai.


"Aku malas meladeni mu Zayn, ayolah kembalikan ponselku" Bee memohon.


"Tidak sebelum kau kembali menerima ku"


"Zayn mengertilah aku sudah menerima dokter Bayu, aku mungkin akan mempertimbangkan akan menikah dengannya, kita tidak mungkin bersama lagi"


"Apa kau bilang, coba kau ulangi sekali lagi? besok kau akan membaca koran ada berita seorang dokter bernama Bayu yang mati dibunuh rekan kerjanya karena seorang perawat cantik bernama Bee" jawab Zayn serius.


"Sudah bercandanya Zayn, sini ponselku... pulanglah" Bee kehabisan kata-kata menghadapi Zayn.


"Tidak....terima pinangan ku baru bisa ku kembalikan, lalu kita menikah besok" Zayn menyembunyikan ponsel itu dibelakang badannya.


Bee tidak menjawab lagi, ia langsung saja ingin mengambil paksa ponselnya di balik badan besar Zayn, hingga tanpa ia sadari mereka telah berdekatan tanpa jarak.


Zayn terus mundur hingga terbentur pintu dengan posisi setangah terbaring, Bee terus mendesaknya hingga gadis itu tampak menindih tubuh Zayn.


Zayn menangkap dan mengunci pinggang ramping Bee yang mengenakan piyama, tatapan mereka kembali bertemu.

__ADS_1


Zayn meraih leher perempuan itu, membenamkan bibirnya disana mengecup lembut hingga berciuman semakin dalam.


Bee merasa de javu, ia sejenak terlarut oleh suasana perasaan yang sama-sama masih mendamba satu sama lain.


Zayn tersenyum ketika merasakan Bee membalas ciuman itu dengan lembut. Hujan rintik mulai kasar membasahi kaca mobil menambah kesan haru di antara mereka.


Lama berciuman, perasaan cinta itu kembali kepermukaan, itu yang dirasakan Bee saat ini, entah apa yang merasukinya hingga ia menerima perlakuan Zayn begitu saja.


Memang benar apa kata orang tua, jika kita sedang berdua bersama lawan jenis maka yang ketiganya adalah setan yang akan terus menggoda menjerumuskan manusia.


Dengan napas yang sama-sama memburu, Zayn melepas tautan bibir mereka, kembali saling menatap sendu kali ini Bee tidak menghindar ia membalas tak kalah sendu.


Zayn mengusap bibir Bee dengan ibu jarinya.


"Aku mencintaimu Bee....sangat mencintaimu, maaf membuatmu menangis tadi pagi, aku menyesal" Zayn berucap pelan tanpa memutuskan kontak mata mereka.


Bee hanya diam, ia menatap jelas manik biru milik Zayn ia tahu Zayn tidak main-main dengan ucapannya.


Bee beranjak dari pelukan itu dan kembali tersadar, ia meraih ponselnya ketika Zayn lengah.


"Pulanglah....ini sudah malam" Bee berkata sendu, ia juga terluka dengan kondisi ini.


Bee perlahan meninggalkan Zayn di dalam mobil, ia keluar dari sana berlari menuju rumah meski tetap basah oleh hujan.


Zayn tersenyum melihat punggung Bee menjauh, ia keluar mobil dan tidak menghiraukan tubuhnya basah oleh hujan.


Lama pria itu berdiri ditengah hujan yang lumayan deras, ia menatap pintu rumah Bee yang tertutup rapat. Ia tidak berniat pulang ia masih ingin berada disana.


Hingga tanpa Bee sadari Zayn masih diluar kebasahan dan kembali masuk ke mobil namun tidak nyaman dengan pakaian basah.


Bee mengambil minum di dapur, entah kenapa ia tertarik untuk melihat keluar jendela, ia terkejut akan mobil lelaki itu masih berada disana.


Segera Bee keluar rumah, ia mengetuk pintu mobil Zayn dengan cemas melihat Zayn menggigil didalam sana.


Zayn tersadar dan membuka pintu mobil.


"Zayn kenapa kau tidak pulang? astaga kau kebasahan, kau bisa masuk angin"


"Ban mobilku kempes aku tidak membawa ban cadangan"


"Astaga....ayo masuk, kau bisa sakit dan keracunan jika tidur dalam mobil sampai pagi"


Bee membantu memapah tubuh Zayn menuju rumahnya.


Setelah memberikan handuk dan membuat teh hangat Bee memberikan Zayn kaos Rafly yang berukuran besar.


"Kau bisa tidur bersama Rafly, beristirahatlah" ucap Bee.


"Tapi aku ingin tidur dengan mu" Zayn menggoda.


"Ku bunuh kau jika itu terjadi"


Zayn terkekeh.


"Maka menikah dengan ku agar kita bebas melakukannya"


Bee menatap tajam.


"Mulai kumat lagi...terserah kau mau bilang apa aku tidak peduli, tidurlah....aku akan kekamar ku" Bee memberikan selimut pada pria itu.

__ADS_1


"Selamat tidur....aku mencintaimu" Zayn mencuri ciuman di pipi gadis itu sebelum masuk kamar Rafly.


Bee terkejut, namun seulas senyum terbit ia tidak bisa menyembunyikan raut merah wajahnya.


__ADS_2