
Semua tersenyum ketika mata lelaki yang terbaring di ranjang pasien perlahan membuka, ia menatap sekeliling dan kembali netranya menatap wajah perempuan berhijab yang berada sangat dekat dengannya saat ini, perempuan berwajah lebih berisi dengan bagian perut yang membuncit.
"Sayang kau sudah sadar?" ucap Bee kembali menangis namun tersenyum senang.
"Sayang? apa maksudmu? siapa aku? ah kalian siapa?" jawab pria itu sambil memegang kepalanya.
Bee menjadi panik, senyumnya pudar ia melirik kedua mertuanya dengan raut bingung, mama Zayn pun mendekat, wanita paruh baya ini pun bereaksi sama dengan menantunya kecuali pria paruh baya yang juga berprofesi sebagai dokter senior itu hanya berdecak geleng kepala seraya memutar bola mata malas.
Akbar masih menunggu reaksi Zayn selanjutnya.
"Zayn....ini aku istrimu? kau tidak mengingatnya? tidak mungkin kau melupakan ku secepat ini?" Bee bicara menatap Zayn dengan tangis kembali pecah.
"Pa?" Bee melirik papa mertuanya, namun papa Zayn hanya menghardikkan bahunya saja, Akbar menatap pamannya bingung kenapa pria itu terlihat cuek padahal Zayn sepertinya tidak mengingat mereka ketika sadar.
Tawa Zayn pecah, ia meraih tangan istrinya dengan gemas.
"Sayang.....panik membuatmu kehilangan konsentrasi, yang patah itu tulang lenganku bukan kepalaku, aku hanya mengetes mu saja" ucap Zayn terkekeh.
Mama Zayn yang mendengar itupun menarik napas lega, ia mengira Zayn memang lupa ingata.
Bee menjadi kesal, ia memukul lengan Zayn keras merasa dipermainkan padahal ia sudah tidak sabar menunggu suaminya sadar malah dikerjai seperti itu.
"Zayn....." bentak Bee, Zayn meraih tubuh istrinya dengan tangan kiri dan mendekapnya.
"Aku tidak akan melupakanmu meski kepala ku hancur sekalipun" ucap Zayn lagi.
"Kau jahat, aku mencemaskanmu" ucap Bee sendu manatap suaminya.
"Kau lihat sendiri, aku baik-baik saja Bee... meski tidak akan beraktivitas dalam waktu dekat, syukurlah kau tidak apa-apa"
Bee menggeleng "Maafkan aku, aku baik-baik saja, bayi kita juga tidak masalah....aku akan merawat mu sebaik mungkin sampai kau sembuh" ucap Bee tersenyum membelai jambang suaminya.
"Oh sayang, aku tidak meragukannya kau perawat terbaik yang ku miliki" jawab pria ini pun tersenyum lalu mengecup kening istrinya dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Ehem.....kau tidak menyapa orangtuamu nak?" celetuk papa Zayn yang hanya menyimak saja sejak tadi.
"Papa, mama....Akbar, maaf ku kira kalian tidak sedang di sini" ucap Zayn bercanda.
Akbar hanya terkekeh mendengarnya.
"Sepertinya kau sudah lebih baik, aku akan pulang sekarang" ucap Akbar pada Zayn dengan raut lega.
Zayn mengangguk.
*******
Akbar merasa senang saudara sepupunya telah sadar dan lebih baik sekarang, meski harus lebih lama berada di rumah sakit untuk kesembuhannya.
Pria ini mengemudi pelan menuju hotel di mana istrinya masih ia tinggalkan di sana, Akbar berdecak bagaimana bisa ia baru menyadari bahwa sudah melupakan Yasmin sejak pagi tadi. Ia pun baru tersadar ketika merogoh ponselnya ingin mengabari istrinya.
"Ya Tuhan...... aku kan tidak memiliki nomor ponsel istriku sendiri, ck aku memang payah..... huh aku harap dia tidak kabur"
Gumam Akbar seraya menambah kecepatan mobilnya menuju hotel.
Akbar menekan password kamar, dan bergegas masuk mencari keberadaan Yasmin. Benar saja ia tidak menemukan istrinya di sana. Akbar menjadi cemas, segera ia berjalan cepat ingin mencari Yasmin di kamar mandi, pria ini bernapas lega ketika mendapati gadis itu keluar dari sana sebelum ia membuka pintu lebih dulu.
Yasmin terkejut bukan main, ketika Akbar mendekapnya erat secara tiba-tiba. Yasmin yang memakai jubah handuk itu melepas pelukan Akbar secara paksa, benar ia merasa kesal pada pria bergelar suaminya saat ini, pria itu baru pulang tanpa mengabarinya seharian ini.
"Yasmin, maafkan aku....." ucap Akbar cepat, ia tahu gadis itu pasti sedang marah.
Yasmin hanya diam, airmatanya menggenang.
"Untuk apa minta maaf, kau bosnya di sini kau bisa pulang lalu meninggalkanku lagi semaumu, terserah kau saja....aku tahu posisiku bagimu" ucap Yasmin sendu dengan wajah yang menunduk sedih.
"Hei....kau marah padaku? baiklah maafkan aku ya, aku sungguh sibuk sejak pagi harus mengurus semua urusan operasi Zayn, syukur operasinya berjalan lancar dan sekarang dia baik-baik saja, maafkan aku Yasmin bukan maksud mengabaikanmu, Zayn adalah saudaraku dia tamu di sini tentu aku merasa bertanggung jawab atas musibah yang menimpanya, kau terlihat lelap sekali jadi aku tidak membangunkanmu tadi pagi"
Akbar meraih tangan mulus Yasmin, menggenggamnya erat penuh penyesalan.
__ADS_1
"Aku tidak marah, kau bebas melakukan apapun aku tahu kau menikahiku mungkin karena kau hanya kasihan saja padaku, terlebih namaku juga Yasmin sama seperti nama nona Bee yang kau cintai, kau juga pasti lebih mengkhawatirkan nona Bee karena kecelakaan itu kan, kau bahkan tidak ingat padaku seharian ini" ucap Yasmin lagi dengan wajah merah dan airmata yang telah jatuh.
Akbar ingin tertawa dibuatnya.
"Huh.....tidak seperti yang kau pikirkan, aku sama sekali tidak berniat seperti itu, Bee saudaraku sekarang tidak lebih dari itu, aku maklum jika kau cemburu, maafkan aku....aku memang salah hari ini, ayolah kita ini pengantin baru bukan saatnya bertengkar bukan?" bujuk Akbar meraih wajah Yasmin agar menatapnya.
Yasmin mengerucutkan bibirnya ke depan, ia masih merasa kesal pada suaminya ini, seharian ini Yasmin hanya diam mengurung diri dalam kamar pengantin seorang diri, dua hari pasca menikah namun belum juga menjadi istri seutuhnya sebab Akbar bahkan tidak memiliki waktu untuk menyentuhnya.
"Kau bahkan belum menyentuhku, aku pikir lebih baik pulang saja malam ini. Pasti kau pulang sekarang hanya untuk pergi lagi bukan? kau pasti akan kembali ke rumah sakit dengan alasan kasihan pada saudaramu itu, padahal mungkin saja karena kau ingin berdekatan dengan nona Bee, antarkan saja aku pulang, menyebalkan tidur di kamar pengantin romantis seperti ini jika aku tidur sendirian juga, hanya berteman kelopak bunga mawar yang sudah mau layu ini saja" ucap Yasmin dengan dada kempang kempis.
Akbar tersenyum "Huh....baiklah, jika kau ingin pulang, ayo" ucap Akbar bercanda.
Yasmin menangis lagi, ia pikir Akbar serius.
"Kenapa menangis? katanya mau pulang" ajak Akbar menarik tangan istrinya lagi.
"Kau benar-benar pria jahat, kenapa menikahiku jika masih mencintai perempuan lain? bukan ini yang ku inginkan, kau memang menyebalkan" Yasmin ingin berbalik badan menghindari Akbar namun lelaki itu lebih dulu menangkap pinggangnya hingga tubuh mereka menempel sangat dekat. Akbar terkekeh melihat raut menggemaskan dari gadis bertubuh mungil itu.
"Siapa bilang aku masih mencintai perempuan lain? aku hanya mencintai satu orang saja saat ini, gadis yang membuatku sedikit merasa gila oleh tingkah nakalnya. Aku mencintaimu Yasmin, istriku.....perlu kau tahu aku tidak akan menikahi sembarang wanita"
Yasmin terperangah mendengarnya, sampai ia merasa tubuhnya melayang karena sebuah gendongan Akbar menuju ranjang.
"Akbar?" Yasmin menggigit bibir bawahnya malu, ia merasa seperti mimpi pria itu mengatakan cinta barusan.
"Kenapa menatapku seperti itu? maaf....aku bukan pria romantis, tapi percayalah aku sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan, aku menikahimu dengan tulus, kita akan bahagia setelah ini" ucap Akbar membelai bibir Yasmin setelah membaringkan gadis itu di ranjang.
"Akbar....maafkan aku, apa aku kekanakkan?" ucap Yasmin sendu merasa menyesal telah berpikir negatif tentang suaminya, tangan mulusnya meraih wajah Akbar dengan penuh sesal.
Akbar mengecup bibir manis Yasmin dengan lembut lalu memberikan senyum terbaiknya.
"Aku mencintaimu....Yasmin Syazaniah, baiklah....masih ingin pulang?" goda Akbar lagi.
Yasmin menepuk dada pria itu pelan seraya menggeleng.
__ADS_1
"Kita akan pulang setelah aku tidak perawan lagi" ucap Yasmin tak kalah menggoda.
Akbar berdecak gemas, tidak berbasa basi lagi mereka saling memberikan perasaannya dengan sebuah ciuman panjang yang mengawali aktvitas bercinta sepasang pengantin baru.