
Bee menatap sedih wajah putranya yang baru saja menghabiskan satu botol susu, Rayyan belum menyadari kedatangan mommy nya yang berdiri di ambang pintu, anak tampan itu tengah berada dipelukan pria yang tertidur diatas sofa ruang televisi, Bee menghampiri mereka setelah dipersilahkan oleh mama Zayn untuk masuk, Bee datang bertamu untuk menjemput Rayyan sebab giliran Rayyan bermalam dengan Bee malam ini.
Biasanya Zayn yang akan mengantarkan Rayyan ke tempat kediaman mantan suaminya, namun hari ini tidak karena pria itu sedang tidak enak badan, Zayn pun tidak masuk bekerja akan hal itu. Bee melangkah mendekat senyumnya mengembang ketika Rayyan menyadari mommy nya mendekat, anak lelaki yang pintar ia turun dari pangkuan sang daddy tanpa suara agar Zayn tidak terganggu tidurnya, Rayyan berlari menuju mommy nya berdiri.
Bee menyambut anak itu dengan penuh cinta namun terasa sedih ketika matanya melirik Zayn yang masih terpejam disana, Bee menempelkan jari telunjuk dibibirnya tanda isyarat bahwa mereka harus diam dan tidak bersuara tentu saja anak pintar itu mengangguk dan mengerti maksud sang ibunda, lalu Bee menggendong Rayyan menuju Zayn berada.
Bee berbisik sesuatu pada putranya sambil tersenyum, kemudian Rayyan dan Bee kompak menggelitiki perut hingga pinggang Zayn, disusul suara tawa yang pecah dari keduanya membuat Zayn terkejut sekaligus terbangun dari tidurnya.
"Bee? kau sudah datang?" tanya Zayn heran melihat Bee sudah berada di hadapannya sekarang dengan tawa lepas bersama Rayyan.
"Zayn....apa kau sakit? wajahmu pucat?" tanya Bee berbalik arah tanpa menjawab pertanyaan Zayn tadi.
"Tidak, aku hanya masuk angin jadi tidak ke rumah sakit hari ini, maaf kau harus datang menjemput Rayyan" jawab Zayn dengan senyumnya.
"Kau demam Zayn, apa sudah minum obat?" tanya Bee lagi setelah meraba kening pria tersebut.
"Kau datang saja sudah menjadi obatku Bee" jawab Zayn menggoda, siapa sangka wajah perempuan itu memerah.
"Kenapa wajahmu merah? jangan GR aku hanya bercanda" seru Zayn lagi sambil terkekeh.
Bee yang semula menyimpulkan sebuah senyum sekarang berubah kesal, ia langsung saja memukul lengan Zayn dengan geram.
__ADS_1
"Sayang.....Daddy mu nakal, ayo kita gelitiki lagi" ujar Bee pada Rayyan yang tertawa melihat tingkah kedua orangtuanya.
Rayyan masih terkikik geli pun langsung ikut menggelitiki daddy nya seperti yang dilakukan oleh Bee, suasana ruangan itu pun menjadi heboh oleh canda tawa mereka, lalu Zayn memberi isyarat agar Rayyan berbalik menggelitiki mommy nya, membuat Bee tidak bisa mengelak oleh serangan mendadak dari dua lelaki yang amat berarti dalam hidupnya itu.
"Aaaaa.....ha ha ha, Zayn hentikan aku tidak sanggup" ucap Bee sambil tersengal-sengal oleh tawanya sendiri.
Rayyan dan Zayn menikmati pemandangan itu, mereka tidak melepaskan Bee begitu saja hingga perempuan tersebut kehilangan suara dalam tawa karena terlalu menahan gelinya. Tanpa mereka sadari mama Zayn menitikkan airmata melihat pemandangan manis itu di ambang pintu, wanita paruh baya yang sungguh merasa sedih akan kisah Zayn dan Bee yang harus berakhir seperti ini padahal mereka tampak sekali masih saling mencintai terlebih hadirnya Rayyan membuat kebahagiaan mereka benar-benar terasa nyata, mama Zayn mengusap airmatanya lalu ia pun memilih pergi dari sana.
Merasa sudah cukup mengerjai Bee, Zayn dan Rayyan menghentikan adegan itu namun tidak di duga malah Bee kembali membalas menggelitiki pria itu lagi, tanpa disadari tubuh mereka semakin dekat satu sama lain Zayn menangkap kedua tangan cantik yang sedang bergerilya di perutnya, mata mereka bertemu saling menatap dalam hening seakan menyampaikan perasaan masing-masing.
Darah berdesir, jantung yang kian berdegup kencang melebihi batas normal iya Bee merasakan pandangan penuh damba dari pria dihadapannya ini, sungguh sesak dadanya mendapat tatapan dalam dari mata biru yang ia cintai, tidak ada yang terjadi hanya saling pandang memandang saja dalam waktu yang lama. Hingga suara Rayyan membuyarkan keduanya.
"Mommy? Dad?" hanya itu yang terucap dari bibir mungil Rayyan yang menatap mereka begitu heran.
Zayn mengerjapkan matanya beberapa kali, ia sekilas menatap Rayyan dan kembali pada wajah cantik yang belum menghindar sedikitpun, tangannya semula memegang tangan Bee pun perlahan ia lepaskan.
"Zayn......" panggil Bee pada lelaki yang menelan ludah guna menetralisir perasaannya.
"Maaf Bee....jangan menatapku seperti itu" Zayn kembali menarik tangannya.
"Zayn.....kau masih mencintaiku bukan?"
Zayn menatap Bee heran, ia tidak menyangka jandanya ini berkata seperti itu tanpa basa basi.
__ADS_1
"Kau tahu jawabannya Bee" jawab Zayn memalingkan wajah.
"Lihat aku, kau mencintaiku bukan?" tanpa di duga Bee meraih rahang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu dengan kedua tangannya menghadapkan Zayn agar menatap wajahnya, perempuan ini sudah berkaca-kaca.
"Tidak pernah berubah Bee...." jawab Zayn pelan membalas tatapan mata cokelat milik wajah cantik Bee.
"Kenapa kau begitu lemah seperti ini Zayn? kau tidak pernah jadi pria pengecut sebelumnya, kenapa kau begitu berbeda sekarang? dulu kau pemaksa, kau memeluk dan menciumku semau mu meski kau berstatus suami orang, kau bahkan rela mengorbankan dokter Bayu demi mendapatkan ku lagi, kenapa sekarang tidak? kenapa Zayn? tidakkah kau kasihan melihat putra kita jika aku menikah dengan orang lain?" ucap Bee seraya menangis.
Zayn ingin menghindar namun ia tahan, ia ingin sekali mengumpat dan mengeluarkan kekesalannya pada pria ini sekarang.
"Andai itu bukan Akbar" jawab Zayn singkat.
"Huh...aku bosan mendengarnya, kau seolah ingin jadi saudara yang baik bagi Akbar, tapi apa kau tidak mempertimbangkan Rayyan? putra kita membutuhkan kita Zayn, bukan aku saja atau kau saja, kenapa kau begitu takut terhadap Akbar? Zayn....aku mencintaimu" ucap Bee di sela tangisnya.
"Bukankah kau sendiri yang menerima Akbar sebagai calon suamimu? aku bisa apa sekarang?" tanya Zayn lagi.
Hal itu membuat Bee bungkam, Zayn benar disini ia lah yang harus dipertanyakan bukankah benar Bee sendiri yang telah membuat keputusan untuk menerima Akbar menjadi calon suaminya, perempuan ini melepaskan tangannya dari wajah Zayn lalu menutup wajahnya yang masih menangis tersedu, ingin sekali Bee menyangkalnya namun tidak bisa iya dialah yang telah memilih Akbar lantas kenapa sekarang menyalahkan Zayn yang terus ia anggap sebagai pengecut.
"Jangan menangis Bee....semua akan membaik seiring waktu, kau yang telah memilihnya aku hanya menempatkan diri sebagai saudara saja tidak mungkin bagiku untuk merebutmu yang jelas-jelas akan menikah dalam hitungan minggu"
"Percayalah kau berada di pilihan yang tepat" ucap Zayn lagi.
Pria ini memilih berdiri dari sofa, ia menengadah menghadap langit-langit ruangan demi menetralisir perasaannya jika ia turutkan bisa saja khilaf dan menurutkan ego untuk kembali memiliki Bee seutuhnya. Zayn tidak ingin itu terjadi hubungan baik hruslah tetap baik antar dia dan Akbar dan mantan istrinya ini.
__ADS_1
Rayyan yang tidak menghiraukan mereka, anak lelaki itu sibuk menonton televisi karena film kartun favoritnya telah dimulai, Bee menghentikan tangisnya lalu menatap Zayn.
"Kau benar....akulah yang telah memilih Akbar, aku tidak bisa mundur sekarang meski aku masih berharap Rayyan tidak memliki orangtua yang terpisah, aku akan menikah Zayn....aku akan menjadi saudara iparmu setelah ini, aku akan menerima Akbar sebagai suamiku kelak, aku akan menghapus cintaku untukmu ketika resmi menikah nanti, kau benar semua akan membaik seiring waktu, aku senang sekarang kau sudah tampak ikhlas melepaskan ku, itu artinya aku pun harus melakukan hal yang sama, mungkin memang takdir Rayyan akan tumbuh dari orangtua yang terpecah, maafkan aku Zayn yang terus-terus bilang kau pria pengecut, sesungguhnya akulah yang pengecut dalam hal ini aku masih saja berharap kau tidak membiarkan aku dimiliki pria lain seperti yang kau lakukan dulu, tapi keadaan telah berbeda, iya karena aku yang telah memilihnya"