Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas

Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas
Chapter 19


__ADS_3

Zayn terus menemani Bee ketika di IGD, Bee mendapat luka tusukan dibagian perut beruntung luka itu tidak terlalu dalam sehingga tidak mengenai organ yang berada didalamnya, namun luka itu cukup besar karena Bee bukan hanya ditusuk namun mendapat robekan dari pisau tersebut.


Zayn belum mengetahui kejadian sebenarnya, karena ia masih fokus dengan penanganan Bee di IGD.


Setelah mendapat penanganan dan jahitan luka yang lumayan banyak, Zayn memerintahkan agar gadis itu di rawat di ruang terbaik rumah sakit tersebut.


Zayn masih menunggu Bee sadar dengan cemas, ia terus menggenggam tangan gadis cantik itu duduk di sebelah ranjang Bee terbaring di ruang vip.


Tidak lama Dina datang.


"Din....bagaimana apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Zayn tidak sabar.


"Dari keterangan pasien lain yang berada dikamar 05, Bee ditusuk pasien yang masih berstatus napi yang juga di rawat disana, pasien itu sudah kabur memakai masker yang ia dapat dari Bee dan topi menutupi wajahnya, memang benar sudah dua hari ini ada pasien seorang napi dirawat diruang 05 dengan luka tembak di kakinya" jawab Dina panjang lebar.


"Aku tahu sekarang, pria yang lewat berjalan pincang tadi itu pelakunya, dia begitu mencurigakan, kenapa ini bisa terjadi kenapa pihak kepolisian tidak berjaga disana" Zayn bicara dengan raut kesal, ia mengeraskan rahang mendengar penjelasan Dina tentang pasien napi tidak dijaga oleh polisi.


"Tadi siang ada polisi yang berjaga dokter, tapi tidak tahu kenapa sore ini tidak ada, padahal pasien itu sudah di borgol, kenapa bisa lepas juga" heran Dina.


"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi lagi, harus ada evaluasi dari kebijakan rumah sakit yang menerima pasien napi, seharusnya polisi selalu berjaga bukan"


Dina hanya mengangguk, dia juga bingung kenapa bisa napi itu bebas padahal sudah diborgol satu tangannya yang tidak di infus.


Zayn meminta Dina menjaga Bee sementara ia pergi mengurus kasus ini sendiri, ia tidak bisa membiarkan rumah sakit milik ayahnya ini berada dalam bahaya jika kejadian ini tidak ditangani dengan serius, bagaimana jika ada korban lain.


****


"Bee...alhamdulillah kau sudah sadar" Dina lega melihat sahabatnya bangun.


"Din.....aku, aku...." Bee berucap terputus-putus ketika mengingat kejadian yang baru saja ia alami, Bee menangis.


"Bee....aku disini tenanglah, kau sudah baik-baik saja sekarang, dokter Zayn cepat menemukanmu" jawab Dina memeluk temannya.


Dina memberi minum gadis itu.


"Dimana dia?" Bee bertanya begitu saja.


Dina tersenyum.


"Apa kau membutuhkannya? kau tidak punya masalah dengan jantungmu Bee, jadi bukan dokter Zayn yang menangani mu" goda Dina.


"Din aku serius, aku mendengar suaranya tadi"


"Iya karena dokter Zayn lah yang mendampingi mu sejak di IGD tadi hingga sampai ruang ini, tenanglah....dokter Zayn tidak akan hilang, dia hanya sedang mengurus kasus yang baru saja menimpa mu"


Bee bernapas lega.


"Aku tidak tahu Din, kenapa pasien napi itu bisa lepas borgolnya, dia mengancam akan menusuk pasien disebelahnya jika aku menghalangi jalan keluar dia ingin kabur, jadi aku cuma ingin melawan saja tapi dia benar-benar nekat malah menusukkan pisau itu padaku dan memukul kudukku hingga pingsan" Bee kembali menangis mengingatnya.


"Iya...dia berhasil kabur dan kau yang terbaring disini sekarang, kau wanita Bee jangan sok jadi pahlawan deh....untung cuma luka robekan tidak mengenai organ dalam mu, kau tidak tahu bagaimana reaksi dokter Zayn ketika kau terluka"


"Berapa banyak jahitan yang kudapat?" tanya Bee sambil menyingkap baju nya melihat perban yang membalut luka itu cukup panjang.


"Tidak bisa ku hitung" jawab Dina.


"Astaga....apa sebanyak itu?" Bee memukul lengan Dina.


"Bee kau ingin makan apa? biar ku suapi, dokter Zayn sudah memesannya dari ojol tadi, kau lihat saja ada beberapa macam makanan kesukaanmu, astaga....aku sangat prihatin dengan kalian, seharusnya kalian suami istri sekarang" cebik Dina sambil geleng kepala melihat banyak makanan yang semua kesukaan temannya itu.

__ADS_1


"Hmmmm....jika sakit seperti ini aku teringat ibuku" Bee menunduk sedih.


"Ayolah Bee jangan bersedih nanti luka mu ikut berdenyut jika kau seperti ini, cukup hati mu saja yang berdenyut karena masih terikat kuat dengan dokter mantanmu itu " Dina bicara enteng sambil membuka kotak makanan.


"Dinaaaaaa" kesal Bee.


"Apa? aku benar bukan, buktinya ketika kau sadar kau langsung menanyakan dokter Zayn bukan dokter Bayu, oh iya aku lupa....apa kau mau aku menghubungi dokter Bayu sekarang?"


"Tidak perlu, aku sedang malas....biarkan aku istirahat dulu, besok juga dia pasti tahu sendiri" jawab Bee datar.


*******


Bee sendirian disana tidak ada yang berjaga, adik-adiknya jauh, Bee tidak memberi kabar bahwa ia terluka pada Mawar dan Rafly, Bee tidak ingin mereka khawatir akan keadaannya.


Dina sudah pulang, ia mencoba untuk turun dari ranjang karena ia ingin buang air kecil dikamar mandi.


Karena masih nyeri pada lukanya, Bee bergerak perlahan, namun hampir jatuh dari ranjang karena badannya terasa lemah dan sedikit gemetar.


Bertepatan dengan itu Zayn masuk, pria ini cepat menangkap tubuh Bee yang terhuyung.


"Zayn" ucap Bee yang memeluk leher Zayn untuk bertumpu.


"Iya aku disini, kenapa tidak memanggil perawat jika mau turun, bagaimana jika kau jatuh" jawab Zayn cemas.


Bee melepas tengannya dari Zayn.


"Aku mau ke kamar mandi, aku kira bisa turun sendiri tapi rupanya masih lemah"


"Ayo jalan perlahan, pegang tanganku" Zayn membantu Bee berjalan ke kamar mandi.


"Kenapa kau tersenyum?" kesal Bee.


"Tidak....kau masih lemah, yakin bisa sendiri? mau ku temani?" canda pria itu.


"Zayn....." Bee merengek kesal tapi manja.


Membuat pria ini makin gemas untuk menggoda gadis itu.


Bee masuk kamar mandi dan Zayn setia menunggunya di depan pintu.


"Bee....kenapa lama? apa kau perlu bantuan?" Zayn kembali menggodanya di balik pintu.


"Zayn...." Bentak Bee dari dalam kamar mandi.


"Awas kau jika mengintip" Celetuk Bee dari sana.


"Aku tidak akan mengintip, tapi aku lebih suka masuk kesana langsung tanpa basa basi" jawab Zayn bercanda.


"Zayn.....berhenti bergurau, awas jika kau berani melakukannya"


"Aku berani.....jika kau tidak mau makanya menikahlah dengan ku agar aku bebas masuk kesana" sahut Zayn sambil tersenyum.


"Dasar pria gila" jawab Bee yang masih kesusahan menaikkan celananya.


"Ayolah aku yakin kau butuh bantuan sekarang, boleh aku masuk?"


Tidak lama Bee membuka pintu kamar mandi dengan raut kesal, Zayn hanya terkekeh melihatnya, meski Bee kesal namun ia tetap menerima uluran tangan Zayn yang membantunya kembali ke ranjang.

__ADS_1


"Pulanglah, aku sudah mau tidur" Ucap Bee ketika sampai ranjang pasien.


"Yakin tidak ingin ku temani?"


"Tidak perlu, aku bisa sendiri" jawab Bee pelan.


"Baiklah.....selamat beristirahat, aku sudah bawakan kau cemilan jika kau bosan" jawab Zayn sedikit kecewa.


Pria itu menaikkan selimut hingga menutupi dada Bee.


"Zayn...." tiba-tiba Bee memegang tangan pria itu.


Zayn menatapnya dengan senyum.


"Aku tidak akan memaksamu mengizinkan ku menemanimu disini, aku senang kau baik-baik saja, tidurlah jika kau mengantuk" ucap Zayn pelan membalas pegangan tangan Bee.


"Terimakasih banyak untuk hari ini...." jawab Bee pelan dengan tatapan sendu.


Zayn mengangguk, ia mematikan satu lampu agar Bee bisa beristirahat dengan baik.


Ia berjalan gontai menuju pintu, ia sangat berharap bisa menjaga gadis itu malam ini namun Bee menolaknya, ia bisa apa.


Baru akan mencapai pintu Bee kembali memanggilnya.


"Zayn....apa kau tega meninggalkan ku sendiri?" Bee berkata kesal namun segera ia merutuki ucapannya.


Membuat Zayn tersenyum kembali, ia berbalik ke arah ranjang Bee.


"Kau sendiri yang tidak boleh aku disini bukan?"


Bee tidak bisa menyembunyikan raut merah wajahnya malu.


"Kau bilang ingin menjaga ku, tapi kau malah ingin pulang, bagaimana aku bisa percaya padamu" kembali Bee berucap dengan kesal.


"Astaga.....bukankah kau sendiri yang mengusirku tadi"


"Iya mestinya kau tetap menjaga ku bukan" cebik wanita itu.


Zayn duduk di tepi ranjang Bee, ia merasa gemas dan Zayn tanpa aba-aba langsng mencium seluruh wajah gadis itu.


"Zayn....apa yang kau lakukan" bentak Bee.


"Menikah dengan ku Bee....aku akan menemani sepanjang hidupmu" jawab Zayn berbinar.


"Jangan gila...turun dari sini, tidurlah di sofa, berhenti bercanda, aku sudah mengantuk" Bee berpaling menyembunyikan wajah malu nya.


Zayn tersenyum, ia bahagia dan merasa Bee mulai melunak.


"Selamat tidur....aku mencintaimu" jawab Zayn sambil mencium keningnya sebelum berjalan menuju sofa.


Bee memegang dadanya yang sedang berdendang ria. Entah kenapa ia bahagia mendengarnya.


Bee melirik Zayn yang mulai mengistirahatkan tubuhnya di sofa tanpa selimut, Zayn bersedekap dengan kedua tangannya di dada menahan dingin, pria itu bahagia sekarang tidak membutuhkan waktu lama untuk memejamkan mata.


Seulas senyum tipis terbit dari bibir gadis itu, tidak bisa dipungkiri ia masih merasakan kenyamanan bersama Zayn, namun tidak lama airmatanya pun menetes mengingat takdir tidak berpihak pada cinta mereka.


"Aku juga mencintaimu Zayn....." lagi-lagi Bee hanya bisa menjawab itu dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2