
Yasmin menemui Akbar di ruang kerja seperti yang dikatakan Akbar semalam, gadis ini melangkah santai ke sana tanpa merasa ada beban sedikitpun.
Sampai ruang kerja, Yasmin menjadi gugup sendiri ketika masuk langsung mendapati pria itu berdiri menghadap jendela dengan kedua tangan berada di saku celana. Lama Yasmin menatap punggung kekar Akbar yang tampak gagah meski dilihat dari belakang saja.
"Permisi tuan Akbar......"
"Oh.....kau sudah datang rupanya, masuklah" jawab Akbar sambil membalikkan tubuhnya.
Pria ini berjalan ke meja kerja kemudian duduk di kursi kebesarannya, diikuti oleh Yasmin yang melangkah mendekat.
"Tuan ingin bicara sesuatu?" tanya Yasmin.
"Ini gajimu, kau boleh pergi sekarang dari rumahku sekarang dengan uang itu" jawab Akbar enteng sambil memberikan sebuah amplop berisi uang.
Yasmin senang bukan main ketika melihat amplop itu, namun ia mengernyit heran saat Akbar bicara menyuruhnya segera pergi.
"Maksud tuan?" tanya gadis ini heran.
"Pergilah..... aku sudah tidak membutuhkan jasa mu lagi, pelayan rumahku sudah banyak jadi tidak perlu kau bekerja lagi. Sudah cukup aku berbaik hati menampungmu hingga satu bulan ini" jawab Akbar menatap mata indah Yasmin.
Gadis ini tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan hal itu, bagaimana bisa Akbar kembali mengusirnya hari ini.
__ADS_1
"Tuan mengusirku lagi?" ucap Yasmin berkaca-kaca, sungguh ia tidak ingin pergi jika pergi pun ia tidak tahu harus kemana.
"Anggap saja begitu" jawab Akbar singkat.
"Tuan aku mohon jangan usir aku, maaf jika aku membuatmu kesal selama tinggal disini, jika aku pergi aku tidak tahu harus kemana, tidak apa jika tidak digaji namun jangan usir aku dari sini tuan Akbar, aku mohon" ucap Yasmin seperti ingin menangis.
"Sayangnya aku tidak tertarik lagi untuk menampungmu di sini, menangis darahpun tidak ada gunanya silahkan kemasi pakaianmu dan segeralah pergi, jangan lupa untuk pergi sejauh mungkin. Aku tidak sudi berurusan dengan gadis bar-bar sepertimu lagi, lupakan jika kita pernah kenal satu sama lain" jawab Akbar menekankan setiap katanya.
Lelaki ini berdiri setelah memberikan amplop itu, ia keluar ruangan menuju kamarnya tanpa melihat lagi bagaimana Yasmin menangis di sana.
Yasmin terperangah atas ucapan Akbar yang baru saja ia dengar, ia tidak tahu jika pria yang ia kagumi itu mengusirnya lagi namun kali ini seperti keinginannya semalam yaitu diusir dengan uang, padahal ia tidak benar-benar serius semalam, ia tidak mau pergi. Jika pergi pun harus kemana.
"Bagaimana ini..... dengan uang ini pun aku tidak akan hidup di luar sana, siapa yang akan menampungku? tidak mungkin aku pulang, aku tidak mau......" gumam Yasmin menangis sambil meraih amplop gajinya.
Dengan berat hati, Yasmin pun mengemasi pakaiannya yang hanya beberapa lembar saja itupun ia dapat dari kebaikan Rini teman sekamarnya yang berbaik hati memberikannya pakaian sejak ikut Akbar ke rumah itu.
Rini hanya bisa ikut sedih dengan nasib Yasmin, ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan mutlak sang majikan, namun pelayan lain sungguh senang dengan diusirnya Yasmin kembali dari rumah itu sebab mereka banyak yang tidak menyukai pelayan cantik nan berani ini.
"Yasmin..... ini ponsel lamaku, kau boleh memakainya sampai kau punya ponsel sendiri, ini alat komunikasi kita, kau harus mengabariku jika terjadi sesuatu tentangmu oke.... jika aku bisa, aku ingin sekali menolongmu namun sayang aku hanya pelayan juga sama seperti mu lagipula aku juga merantau bukan asli orang sini yang punya keluarga di luar sana, jaga dirimu baik-baik, jangan sembarang percaya pada lelaki, kau cantik Yasmin tapi sungguh nasibmu tidak secantik parasmu" ucap Rini ketika mereka berpisah di ambang pintu.
Yasmin hanya bisa mengangguk lesu, ia sangat berterimakasih pada Rini hanya sebulan mereka kenal namun sudah seperti saudara, ia menggenggam ponsel itu dengan erat, mereka berpelukan untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
"Terimakasih Rin....aku menyayangimu seperti saudaraku sendiri, doakan aku agar kebaikan menyertaiku di luar sana, aku tidak tahu harus kemana tapi setidaknya dengan uang yang diberikan tuan Akbar aku bisa menyewa kost menjelang mendapat pekerjaan lagi"
"Kenapa kau masih keras kepala? kenapa tidak pulang saja pada orangtuamu.....?" tanya Rini.
"Tidak.....aku tidak akan kembali ke neraka itu lagi Rin, aku sudah bebas sekarang aku tidak mau pulang, aku sudah lelah hidup sebagai budak di sana" jawab Yasmin.
"Jika begitu berhati-hatilah, ingat segera hubungi nomor ponsel temanku itu agar kau bisa menyewa kost yang murah, dia juga bilang di restorannya lagi butuh pelayan juga"
Pada kenyataannya, Rini menghubungi temannya sesama tenaga kerja dari Indonesia yang juga bekerja di Singapura sebagai pelayan restoran untuk membantu Yasmin yang ingin menyewa kost murah di tempatnya.
"Aku akan menghubunginya di taksi, aku harus pergi sekarang Rin, nanti tuan Akbar bisa mengamuk lagi" ucap Yasmin terkekeh.
Setelah berpelukan perpisahan, Yasmin pun pergi berjalan gontai menuju pagar rumah besar tersebut dengan membawa tas jinjing yang tidak besar hanya muat beberapa lembar pakaian saja semuanya pemberian dari Rini, airmatanya menggenang akan nasib buruk yang selalu mengikutinya.
"Baiklah..... inilah pilihan hidupku, merana sendiri tidak masalah namun aku bisa menghirup udara bebas dan tidak menjadi babu lagi di rumahku sendiri, apalah arti kemewahan jika hidup selalu diatur"
Yasmin bergumam meyakinkan dirinya untuk tidak berniat kembali ke rumah orangtuanya.
Tanpa ia sadari, ada mata hitam yang menatap kepergiannya dari jendela kamar lantai dua, Akbar melihat Yasmin pergi perlahan menuju gerbang pagar rumahnya.
Manarik napas dalam dengan kesal Akbar berkata "Huh.....perasaan apa ini? biar saja dia matipun aku tidak peduli, terlalu berani untuk ukuran seorang gadis melawanku dan berkata seenaknya padaku, bahkan berani menganggap lukisan Yasminku itu adalah lukisan biasa, siapa dia berani mengkritikku. Nama kalian sama namun orangnya sungguh berbeda"
__ADS_1
Gumam Akbar menatap punggung Yasmin yang telah menghilang di balik pagar tinggi tersebut, namun siapa sangka perasaannya tidak sesederhana itu, ia merasa lain akan keputusannya mengusir gadis tersebut.