
Hari-hari berlalu, usia kehamilan yang membuat perut Bee menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya, mengandung calon bayi berjenis kelamin laki-laki yang sehat dan aktif namun tidak pernah merepotkan ibunya, mungkin saja si calon bayi mengerti keadaan rumah tangga ibunya yang tidak seperti pasangan lainnya, Zayn dan Bee menjadi jarang bertemu karena Kasih tentu saja melarang pria itu entah karena cemburu atau memang sengaja untuk menarik perhatian mertuanya agar mempercayai bahwa wanita licik ini memang benar mengandung anaknya Zayn.
Namun Kasih lebih sering menemui Bee akhir-akhir ini untuk menekan dan mengingatkan Bee kembali pada perjanjian awal, Kasih tidak ingin Bee melawannya karena merasa tidak rela akan memberikan bayi itu jika lahir nanti, Kasih terus mengancam Bee agar tetap tunduk padanya.
Tak berbeda dengan Zayn, ia juga berada dalam permainan istri pertamanya yang bisa kapan saja membongkar sandiwara mereka dan tentu hal itu akan membuat kedua orang tua Zayn marah besar dengan kebohongan yang anaknya perbuat, jadi Zayn sudah tentu tidak bisa melawan sekarang selain menuruti kemauan Kasih.
****
Memasuki usia kehamilan delapan bulan yang artinya Bee harus mempersiapkan segala kebutuhan anaknya sejak sekarang, memang Zayn terus memberikan uang namun ia tidak bisa menginap di rumah mewah istri keduanya itu, pria ini hanya mampir ketika siang hari saja itupun dengan berbohong pada kedua orangtuanya.
Seiring berjalannya waktu, Bee menjadi dingin, hatinya tak lagi sama dengan sebelumnya meski mencintai Zayn namun Bee menjalani ini semata untuk perjanjian itu saja, rasanya ia begitu ingin cepat terbebas dari jerat Kasih, ia ingin kembali pada kedua adiknya dan memulai hidup baru tanpa Zayn. Bee sudah tidak memikirkan lagi apa Zayn masih menginginkannya atau tidak.
Memang rumit jika terus berada dalam hidup Zayn, Bee sudah tidak sanggup menjalani ini semua terlebih ia terus harus bersabar menghadapi Kasih yang tidak akan melepaskannya begitu saja.
Berada di sebuah mall, Bee dan bi Sumi pelayan yang setia menemaninya tengah memilih pakaian-pakaian bayi pada satu toko perlengkapan bayi, melihat banyak pasangan yang juga memilih perlengkapan lahiran disana, Bee merasa sedih bahwa ia tidak ditemani suaminya dalam hal ini.
__ADS_1
Bee baru saja ingin ke kasir, tidak sengaja tangannya ditarik oleh seorang perempuan yang ternyata adalah Kasih.
"Hallo Bee sayang.....hei aku rasa kau tidak perlu membeli semua peralatan bayi ini, karena aku yang akan menyiapkannya....jangan lupa Bee kau bahkan tidak punya waktu untuk menatap bayimu setelah melahirkan nanti, karena bayi itu milikku.....milikku dan Zayn, jadi tidak perlu repot membelikan ini semua" ucap Kasih seraya merampas keranjang belanjaan Bee tersebut.
"Kak Kasih jangan seperti ini, biarkan aku menyiapkannya.....setidaknya berilah aku kesempatan merasakan menjadi ibu sebentar saja, aku ingin menyiapkannya sendiri ini anakku..."
"Stop mengatakan itu anakmu Bee....itu anakku jadi aku yang akan menyiapkan semuanya bersama mertuaku, jangan macam-macam denganku....pergilah dari sini mertuaku akan menyusul sebentar lagi, kami yang akan membeli peralatan bayi ini kau hanya perlu pulang dan beristirahat persiapkan mentalmu untuk melahirkan dan untuk pergi dari kehidupan Zayn untuk selamanya, tidak ada yang bisa membatalkan perjanjian kita, sedikit saja kau melenceng dua adikmu yang jadi taruhannya" ancam Kasih kembali dengan matanya yang tajam.
Wanita itu merampas kembali keranjang yang di tarik Bee dari tangannya.
Bee berjalan dalam diam, bi Sumi tidak ingin menambah pikiran majikannya jika ia bertanya dalam suasana hati Bee saat ini, namun siapa sangka ketika Bee hendak masuk lift untuk turun ke lantai lain ia terkejut bukan main saat matanya bertemu ibunda dari suaminya yang baru saja keluar dari lift yang sama.
Bee menelan ludah ketika mama Zayn masih mengenalinya meski sudah hampir enam tahun tidak bertatap muka, perempuan paruh baya itu tersenyum dan meraih tangan Bee.
"Bee.....apa ini kau?" tanya mama Zayn.
__ADS_1
Bee tidak bisa menghindarinya, ia hanya mengangguk canggung seraya tersenyum.
"Astaga sayang kau sangat cantik mengenakan hijab, bibi rasa kita sudah sangat lama tidak bertemu Bee bagaimana kabarmu? Ibumu baik-baik saja? Sejak kalian pindah bibi merasa kehilangan anak gadis, meski kau dan Zayn tidak berjodoh tapi bibi menganggapmu sudah seperti putri sendiri" ucap mama Zayn panjang lebar, ia sangat bahagia bertemu dengan Bee karena memang hubungan mereka tidak ada masalah meski Bee gagal menjadi menantunya.
Bee merasa canggung, dan tidak tahu harus berkata apa dengan pertemuan mendadak itu.
"Aku baik bi, senang bisa bertemu bibi lagi....tapi ibuku sudah meninggal hampir satu tahun yang lalu karena sakit, bibi bagaimana kabarmu?" tanya Bee balik seraya berbasa basi.
"Oh ya Tuhan...benarkah? Bibi turut sedih mendengarnya sayang, maaf bibi tidak tahu apa-apa lagi setelah kalian pindah....bibi juga baik, bahkan sangat baik karena sebentar lagi akan menimang cucu, putra ku cukup lama menanti seorang anak hadir dalam pernikahannya Bee bahkan baru di enam tahun ini bibi bisa merasakan bahagia akan memiliki cucu pertama, hei sayang kau juga hamil sekarang? Mana suamimu?" tanya mama Zayn antusias.
Bee menarik napas dalam mendengar mama Zayn bicara dengan raut bahagia, namun entah kenapa Bee merasa ingin menangis sekarang dan sangat ingin menjerit mengatakan bahwa cucu yang ditunggu-tunggu perempuan paruh baya itu ada diperutnya sekarang, bahkan Bee merasakan anaknya bergerak memberi respon seakan mengerti perasaan ibunya.
"Iya bi, aku sudah menikah....sekarang kandunganku delapan bulan, aku kesini ingin membeli peralatan bayi tapi ada sesuatu yang mengharuskan aku pulang sekarang, suamiku ada di kantornya bi dia sedang sibuk bekerja makanya aku kemari bersama bi Sumi" jawab Bee sambil merangkul pelayannya itu.
"Bibi turut bahagia mendengarnya Bee, semoga kau dan bayimu sehat sampai melahirkan nanti, kandunganmu sama dengan menantuku Bee dia juga hamil delapan bulan sekarang....baiklah maaf bibi menyita waktumu, titip salam pada suamimu oke...."
__ADS_1
Bee mengangguk saja, setelah berpisah ia segera masuk lift mengajak bi Sumi dan memeluk pelayannya itu seraya menangis pilu dengan pertemuan yang tidak di duga, dimana ia tidak bisa mengaku bahwa sebenarnya suaminya adalah Zayn putra dari perempuan paruh baya itu sendiri, dan cucu yang di tunggu-tunggu keluarga itu berada dalam perutnya sekarang bukan dalam perut palsu Kasih yang licik itu.