
"Apa kau pura-pura pingsan? baiklah.....kita lihat apa kau masih ingin berpura-pura setelah ini" ucap Akbar dengan nada marah setelah menepuk-nepuk pipi Yasmin, namun gadis itu masih saja betah terpejam.
Akbar menggendong tubuh mungil Yasmin berjalan keluar ruang kerja nya menuju kolam renang, iya pria ini berniat membangunkan Yasmin dengan melempar gadis itu ke kolam renang, semua pelayan melihat bagaimana raut dingin majikannya yang tersenyum smirk berjalan menuju kesana.
Salah satu pelayan yang sudah berteman dengan Yasmin pun terkejut ketika melihat majikannya sudah berada di tepi kolam renang, ia membesarkan mata dan segera berlari ke arah Akbar dengan tergesa setelah melihat Akbar seperti ingin melempar Yasmin ke kolam itu.
"Tuan.....jangan, Yasmin tidak bisa berenang" pekik pelayan Rini pada Akbar.
Namun sungguh terlambat, Yasmin lebih dulu terlempar ke sana disaksikan semua pelayan yang menganga melihat adegan kemarahan majikan mereka pada pelayan baru itu.
Yasmin terbelalak ketika tubuhnya melayang dan tenggelam seketika Akbar menjatuhkannya ke kolam, ia mencari pertolongan namun terlambat ketika menyadari tubuhnya tidak juga kunjung mengapung, meminum begitu banyak air kolam gadis ini masih ingin meneruskan hidup dengan berusaha muncul ke permukaan namun terasa sia-sia.
Akbar melihat itu hanya diam, begitupun pelayan lain yang tidak berani mendekat apalagi menolong, berbeda dengan pelayan Rini yang sudah berdiri di samping Akbar, wajahnya panik melihat Yasmin yang masih mencoba mengapung.
"Tuan....dia bisa mati, tuan ayo tolong Yasmin kasihan dia" ucap pelayan Rini memberanikan diri bersuara.
"Jika kau mau kau saja yang menolong gadis lancang itu" jawab Akbar dingin namun matanya tidak beralih dari Yasmin yang mulai lelah dan kehilangan tenaga perlahan gadis itu pasrah dan tenggelam.
Pelayan Rini yang mendengar Akbar memperbolehkan ia menolong pun segera menceburkan diri ingin menyelamatkan teman satu kamarnya. Rini panik ketika tubuh Yasmin yang mulai lemas dan tenggelam, sekuat tenaga ia membawa tubuh Yasmin ke tepi meski terasa sulit hingga pada akhirnya mereka sampai, Rini tidak menyangka majikan yang ia nilai baik meski dingin itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri, ia baru kali ini melihat Akbar begitu mengerikan bahkan Yasmin hampir tenggelam sekalipun.
Beruntung Rini bisa berenang jika tidak ia hanya bisa menyaksikan temannya sesama pelayan mati sia-sia.
Yasmin tersengal, ia terbatuk-batuk dan berusaha menarik napas meski sulit setelah Rini menekan dadanya berusaha menyelamatkan.
"Kau rasakan sendiri dari ulahmu, kau matipun aku tidak peduli.....jangan bermain-main denganku gadis tidak tahu terimakasih" ucap Akbar menatap tajam pada Yasmin yang masih tersengal-sengal napasnya.
Tidak menunggu lagi, Akbar pun meninggalkan dua pelayan itu disana kembali menuju kamarnya setelah memberitahu satu pelayan lagi agar membersihkan ruang kerja nya yang kotor oleh jus jeruk Yasmin.
Yasmin menangis memeluk Rini ketika mereka sudah berada di kamar, gadis ini benar-benar tidak tahu bagaimana nasibnya jika Rini tidak menolongnya tadi, ia juga tidak menyangka Akbar bisa sekejam tadi hanya karena mendapati ia duduk di kursi ruang kerja nya seperti seorang bos.
"Sudah Yasmin, tenangkan dirimu oke.....aku senang kau tidak apa-apa" ucap Rini mengusap punggung temannya.
__ADS_1
"Maafkan aku Rini, memang benar aku pelayan yang lancang yang tidak tahu terimakasih seperti perkataan tuan Akbar tadi. Aku tidak tahu dia bisa kembali secepat ini padahal seharusnya dia di kantor, aku memang menyedihkan" ucap Yasmin disepa tangisnya.
"Aku juga heran kenapa tuan Akbar bisa semarah tadi, kau juga kenapa berpura-pura pingsan segala?" tanya Rini terkekeh.
"Aku hanya tidak mau dia marah itu saja, rupanya dia lebih menakutkan dari sebelumnya, aku menyesal" jawab Yasmin menunduk, ia masih bersyukur Akbar tidak mengusirnya sekarang, jika tidak ia tidak tahu harus pergi kemana.
Tanpa Yasmin sadari, ketika ia terjatuh dari kursi Akbar tidak hanya tubuhnya saja, namun entah kenapa lukisan Bee yang berada di dinding itu pun ikut terjatuh hingga bingkainya pecah, itulah penyebab kemarahan Akbar yang belum diketahui oleh Yasmin, karena Akbar pikir sebab ulah pelayan itu lukisan tersebut terjatuh dan pecah hingga kemarahan pun memuncak setelah gadis itu tidak juga membuka mata malah terus berpura-pura pingsan dan tidak meminta maaf.
#######
Bee kesal melihat suaminya hanya fokus dengan laptop saja sejak tadi, bahkan masih terlalu pagi Zayn sudah berada di depan layar komputer ringan itu karena sedang memeriksa kembali materi yang akan ia sampaikan pada seminar yang akan ia hadiri siang nanti.
"Zayn" panggil Bee pada suaminya yang masih fokus.
"Hmmm iya sayang ada apa?" tanya Zayn tanpa menoleh.
"Zayn" bentak Bee lagi.
Sampai pada sebuah alat uji kehamilan berada di hadapan matanya dari tangan mulus sang istri yang memegang benda itu, membuat Zayn membelalakkan mata lalu segera menatap Bee berbinar, ia mengambil testpack itu sambil berdiri dari sofa.
"Sayang?"
Bee mengangguk tersenyum, Zayn menajamkan penglihatan melihat testpack yang bergaris dua tersebut, pria ini tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya dan segera ia memeluk istrinya seraya mengangkat tubuh Bee memutar.
"Bee.....benarkah ini? kau tidak bercanda bukan?"
"Apa aku terlihat bercanda, kita akan memiliki bayi lagi Zayn......aku juga tidak menyangka secepat ini, namun inilah hasilnya kau berhasil membuatku hamil lagi" jawab Bee tersenyum bahagia.
"Oh sayang....aku bahagia sekali, Rayyan pasti senang akan memiliki adik dalam waktu dekat apalagi jika mama mendengar ini" ucap Zayn berbinar, ia mencium seluruh wajah istrinya dengan gemas.
Tanpa menghiraukan laptopnya lagi, pria ini menggandeng tangan istrinya keluar kamar menuju mama nya berada, mereka baru saja pindah ke rumah orangtuanya beberapa hari lalu setelah Mawar dan Rafly pindah ke kota ini lagi dan selesai memindahkan kembali urusan pendidikan mereka di sini.
__ADS_1
"Sayang" Zayn menyambut tubuh mungil putra nya yang berlari ke arah mereka.
"Ada apa ini? kenapa kalian tampak berbinar di pagi buta?" tanya mama Zayn heran.
"Rayyan akan punya adik lagi ma" jawab Zayn tersenyum.
"Apa? benarkah? sayang kau hamil lagi?" tanya mama Zayn pada Bee berbinar, Bee hanya bisa mengangguk saja.
Bee dipeluk mertuanya dengan sayang, sungguh ia merasa bahagia bisa memberikan kebahagiaan bagi wanita paruh baya itu.
"Bee.... terimakasih, kau memang membawa kebahagiaan bagi kami, ayo bilang sama mama kau mau makan apa pagi ini? apa kau mual?"
"Tidak ma, aku masih merasa biasa saja sejauh ini meski sedikit mual tapi tidak terlalu mengganggu, tenanglah aku masih merasa baik sampai saat ini"
Mama Zayn memeluk menantunya lagi karena terlalu bahagia, rumahnya akan bertambah ramai nantinya.
"Apa kau senang akan punya adik Rayyan?" tanya Zayn pada Rayyan yang bingung dengan mereka.
Luar dugaan, anak kecil yang akan genap berumur dua tahun itu menggeleng kepala.
"Tidak mau" jawabnya singkat.
Semua saling menatap, lalu tawa mereka pecah karena merasa lucu dengan jawaban Rayyan tersebut.
"Sayang, adik....kau akan memiliki teman nantinya, adik bayi yang lucu" ucap Bee gemas pada Rayyan.
"Hmmm no...." jawab Rayyan memajukan bibirnya lucu sambil kembali geleng kepala.
"Huh....dia belum mengerti sayang" ucap Zayn pada Bee.
Bee hanya menghela napas kasar dibuatnya.
__ADS_1