Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas

Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas
Chapter 85


__ADS_3

Akbar membuatkan teh hangat untuknya dan Yasmin setelah drama di kamar mandi, terpaksa gadis itu memakai kemejanya yang kebesaran hingga menutupi tubuh sampai bagian paha Yasmin saja.


Beruntung ia sudah meliburkan semua pelayan, jika tidak entah apa yang akan mereka pikiran ketika melihat Yasmin keluar dari kamar Akbar dan memakai kemeja pria itu. Mereka duduk di kursi tepi kolam renang, Akbar sengaja mengajak Yasmin agar mereka bisa bicara dengan baik dan pikiran terbuka di sana.


Menyesapi secangkir teh yang dibuatkan Akbar, membuat hati dan pikiran gadis ini sedikit lebih lega dan tenang.


"Maafkan aku tuan.....jika aku kembali merepotkanmu" ucap Yasmin menatap Akbar sendu dengan mata bengkaknya karena menangis tadi.


"Seharusnya kau berpikir dulu sebelum bertindak, hidup tidaklah singkat..... kenapa kau memilih jalan yang akan menghancurkan dirimu juga nantinya?"


"Entahlah..... aku seperti tidak punya pilihan lain, daripada memilih mati sia-sia, lebih baik seperti itu bukan? lagi pula tidak ada yang menginginkanku, hidupku terkatung-katung sekarang, aku tidak punya saudara untuk kembali. Ijazah tidak punya untuk bekerja, bahkan untuk menjadi seorang pelayan saja harus memiliki ijazah dijaman sekarang. Sedang aku tidak punya apa-apa selain yang melekat di tubuhku saja" jawab Yasmin memandang jauh ke arah kolam renang.


"Kau seorang gadis, tentu berharga jika kau bisa membawa diri" ucap Akbar lagi.


"Ck...... lagi pula tidak ada yang peduli akan hal itu, terimakasih tuan Akbar mau menerima ku kembali di rumah ini" ucap Yasmin tersenyum.


"Siapa bilang aku menerima mu lagi di sini?" Akbar berkata seraya menaikkan satu alisnya menatap Yasmin.


Senyum Yasmin pudar, berubah menjadi rasa kesal ternyata kembalinya ia ke rumah besar itu bukan diterimanya ia bekerja lagi oleh Akbar yang semula ada di benaknya.

__ADS_1


Yasmin menunduk sedih, ia pikir Akbar mau menerimanya kembali bekerja sebagai pelayan di sana.


"Baiklah jika begitu, aku sudah lebih baik sekarang terimakasih banyak sudah menolong dan mengizinkan ku menginap semalam, aku rasa sudah waktunya aku pergi tuan, kau pasti sibuk akan ke kantor bukan? maaf merepotkanmu...." ucap Yasmin beranjak berdiri berniat tidak ingin berlama di sana.


Akbar terkekeh melihatnya.


"Dasar bodoh, jika aku tidak peduli padamu kenapa aku harus repot membawamu ke sini semalam. Aku akan mengantarmu pulang, untuk pekerjaan aku sudah menghubungi temanku yang punya restoran tidak jauh dari kost mu berada, dia akan menerima mu bekerja di sana meski tidak memiliki ijazah"


"Benarkah? kau tidak sedang bercanda kan tuan Akbar?" pekik Yasmin kegirangan.


"Apa aku terlihat bercanda?"


"Ya ampun, terimakasih sekali lagi tuan Akbar kau memang baik, maafkan aku selalu merepotkan mu selama ini" Yasmin tanpa sadar memeluk Akbar dengan semangat.


Akbar merasa gugup ketika mendapat pelukan Yasmin yang masih memakai kemeja nya yang tampak seksi dengan rambut basah. Yasmin menatapnya dengan senyum manis bahagia. Lama Akbar menatap wajah cantik itu dari jarak yang sangat dekat, matanya tertuju pada bibir berwarna merah muda alami Yasmin, mengingatkan pria ini akan sebuah ciuman mereka semalam. Ciuman yang mendebarkan, meski Yasmin tidak mengingatnya namun Akbar tidak bisa melupakan manisnya bibir yang semalam membuat mimpinya indah.


Yasmin merasa canggung ketika mendapat tatapan mata hitam Akbar tepat di hadapan wajahnya, mereka sangat dekat. Lalu Yasmin dengan malu mundur dari tubuh Akbar seraya menyibakkan rambutnya ke belakang telinga untuk menetralisir perasaannya.


"Maaf..... aku terlalu bahagia tuan, maafkan kelancangan ku memelukmu" ucap Yasmin menunduk, ia mengira Akbar akan marah padanya.

__ADS_1


"Ayo, kita bisa pergi sekarang. Sebelum mengantarmu pulang, kita akan bertemu temanku itu agar kau bisa berkenalan dan tahu posisi apa yang dibutuhkan di sana" ajak Akbar.


Yasmin lagi-lagi tersenyum, ia merasa Akbar berbeda sekarang. Gadis ini mengangguk dengan cepat, ia bersemangat jika mendapat solusi untuk hidupnya yang rumit ini.


"Tidak masalah kerja apa, aku bisa melakukan apapun tuan jadi pelayan bisa, jadi tukang bersih-bersih juga aku mau yang penting dapat gaji dan bisa menyambung hidupku, terimakasih tuan Akbar, terimakasih banyak" ucap Yasmin bersemangat namun berkaca-kaca.


Akbar terharu mendengarnya, ia mengangguk dan tersenyum tulus sebab memang ia berniat menawarkan pekerjaan itu pada Yasmin sebelumnya. Restoran tersebut adalah miliknya, namun dikelola oleh sahabat karibnya, tidak heran ia begitu mudah menempatkan siapapun yang akan bekerja di sana.


******


Di perjalanan, Akbar mampir ke sebuah toko pakaian agar Yasmin bisa memakai baju yang layak untuk bertemu dengan temannya itu. Yasmin menerima semua nya dengan kegirangan, ia telah berpakaian rapi dan sopan hingga Akbar pun tersenyum melihatnya.


Mereka langsung menuju restoran besar tersebut, Yasmin tidak menyangka bahwa Akbar akan merekomendasikannya bekerja di restoran sebesar ini, ia menjadi gugup sendiri.


"Ayo...." ajak Akbar setelah turun dari mobil.


"Tuan, apa benar aku akan bekerja di sini? aku takut mengecewakanmu nanti, ini restoran besar tidak sebanding dengan kemampuanku yang amatiran ini, aku terbiasa bekerja jadi pelayan di rumah saja bukan melayani banyak orang apalagi orang kelas atas saja yang makan di sini, bagaimana jika aku tidak becus bekerja?" Yasmin merasa minder dan tidak mampu jika harus membandingkannya dengan pelayan restoran itu yang tentunya sudah lebih berpengalaman dan telah melewati pelatihan-pelatihan sebelumnya, sedang Yasmin ijazah pun tidak ada.


"Ayolah.....kau terlalu banyak bicara, temanku sudah menunggu kita" ajak Akbar lagi sambil menarik tangan Yasmin pelan menuju pintu masuk restoran.

__ADS_1



tatapannya si Yasmin uiiiii


__ADS_2