
Yasmin menatap wajahnya di cermin, entah bagaimana perasaannya sekarang. Akad nikah telah usai, gelar istri telah ia sandang namun ia merasa hampa di tengah keramaian sebelum menuju acara resepsi. Bahagia, tentu Yasmin bahagia bisa menikah dengan pria yang baik seperti Akbar, namun ia merasa sendiri sampai saat ini.
Teringat akan mendiang ibunya membuat gadis ini menangis, tidak ada saudara yang hadir, ayah tiri yang memang tidak pernah menganggapnya ada pun tidak akan pernah datang meski telah diundang. Semua tamu merasa bahagia dan menikmati seluruh rangkaian pesta namun tidak dengan mempelai wanita, Yasmin masih merasa Akbar menikahinya hanya sebagai pelampiasan saja.
Yasmin merasa tidak ada yang menginginkannya, banyak pelayan tidak menyukainya termasuk Elsa sang sekretaris suaminya saat ini. Berbeda dengan yang ia lihat dan rasakan bahwa kehadiran Bee membuat semua pelayan bahkan Erina adik iparnya benar-benar tidak menganggapnya ada, padahal Yasminlah mempelainya hari ini bukan istri dari sepupu suaminya itu.
Merasa seorang diri dan hanya Rini yang peduli padanya, begitu pikir Yasmin. Sedang asyik termenung dengan pikirannya tanpa ia sadari Akbar datang menjemput untuk menuju ke pesta resepsi dimana semua tamu sudah berada di sana.
"Hei....." Akbar mengejutkan perempuan yang sudah sah menjadi istrinya.
Yasmin menoleh, senyumnya mengembang tatkala menatap Akbar berjalan mendekat.
"Kau sudah siap?" tanya Akbar.
Yasmin mengangguk.
"Kenapa kau diam saja? apa kau malu?" tanya Akbar lagi.
"Iya aku malu.... kau begitu tampan dengan tuxedo itu" jawab Yasmin tersenyum.
"Kau juga cantik dengan gaun itu cocok dengan mu" ucap Akbar terkekeh melihat wajah Yasmin memerah.
"Benarkah? mana lebih cantik aku atau nona Bee?" pertanyaan itu muncul begitu saja.
"Hmmmm..... cantik dua-duanya" jawab Akbar tertawa kecil.
Yasmin merasa kesal Akbar secara tidak langsung juga memuji Bee di hadapannya. Akbar menarik tangan Yasmin pelan seraya menariknya berjalan keluar kamar hotel menuju ballroom tempat resepsi.
Mata Yasmin terus menatap Bee yang tersenyum bahagia melihat mereka berjalan menuju pelaminan, Yasmin membalasnya pun dengan senyum manis namun entah kenapa ia begitu iri melihat Bee terus menempel pada Zayn, tampak sekali perempuan hamil besar itu bahagia lahir bathin. Yasmin juga ingin dicintai Akbar seperti itu, namun ia merasa ragu dimana sikap Akbar masih tampak biasa saja hingga saat pernikahan mereka sudah sah sekalipun.
"Sayang.....kau terlihat lebih berisi sekarang" ucap Zayn, mereka berdansa di sudut ruangan.
"Ck....bilang saja aku seksi" jawab Bee terkekeh.
"Baiklah....kau selalu seksi di mataku" kata Zayn mengecup hidung istrinya.
"Zayn..... bagaimana jika setelah ini kita mencari makan" ajak Bee.
"Sayang, makanan seperti apapun ada di sini sekarang kenapa mau mencari lagi?" tanya Zayn heran.
"Aku bosan, aku ingin kita keluar mencari udara, aku punya tempat untuk bernostalgia ketika aku tinggal di sini dulu. Food street, tapi aku lupa namanya tapi aku masih ingat jalannya" ajak Bee lagi.
"Bagaimana dengan resepsinya? ini belum selesai"
"Biar saja, yang menikah kan bukan kita. Lagi pula kita akan pulang lusa, aku tidak ingin kehilangan momen, ayolah aku mengidam ini sudah lama" rengek Bee manja.
"Huh....baiklah, kita ajak Rayyan atau bagaimana?" tanya Zayn akhirnya mengalah.
__ADS_1
"Tidak, kita pergi berdua saja, kasihan nanti anak nakal itu tidur di jalan" jawab Bee.
Zayn mengangguk, tidak lama berselang pria itu pamit pada kedua orangtuanya seraya menitip Rayyan bahwa ia dan Bee akan mencari makan di luar. Bee pun pamit pada kedua mempelai bahwa ia ingin mewujudkan mengidamnya sejak lama.
Yasmin, merasa lega ketika Bee ingin pergi dari resepsi pernikahannya setidaknya perhatian Akbar akan tetap tertuju padanya.
******
Pesta telah usai, semua keluarga telah kembali ke rumah besar Akbar untuk beristirahat, namun tidak untuk kedua mempelai tetap berada di kamar hotel yang telah disiapkan.
Yasmin gugup, serangkaian acara telah ia lalui hingga selesai itu artinya sekarang adalah malam pertama ia bergelar istri dan akan menyerahkan diri pada pria yang menjadi suami sahnya tadi pagi.
Wajahnya merah, ia masih berdiam diri di dalam kamar mandi setelah membersihkan diri. Ia gugup sebab Akbar sudah lebih dulu mandi dan duduk di sofa dengan santai tanpa memakai atasan.
Yasmin sesekali mengintip, namun ia belum berani untuk keluar kamar mandi.
"Ya ampun, kenapa rasanya begitu malu...." gumam Yasmin tersenyum sendiri.
"Apa Akbar akan langsung memakanku malam ini? apa dia berselera pada wanita yang belum sepenuhnya ia cintai?" Yasmin berjalan hilir mudik seraya meremas tangannya yang berkeringat.
"Apa yang harus ku lakukan? bagaimana jika Akbar tidak menyukai tubuhku yang tidak seksi ini?" Yasmin masih bingung sendiri.
"Yasmin....kau kenapa? apa kau baik-baik saja?" pekik Akbar ketika ia merasa istrinya terlalu lama di dalam kamar mandi.
"Hmmmm....aku baik, sebentar" jawab Yasmin akhirnya keluar kamar mandi dengan wajah menunduk, membuat Akbar tersenyum.
"Kau kenapa? apa kau malu?" tanya Akbar terkekeh.
Akbar menarik tangan istrinya menuju sofa, lalu memberinya minum agar Yasmin bisa lebih tenang.
"Minumlah, aku tahu kau tegang" ucap Akbar.
Benar saja, Yasmin meminum sampai habis air yang disuguhkan suaminya.
"Maaf....aku, aku, aku malu" ucap Yasmin menunduk.
"Ck....hei, ketika kau mabuk dan ingin menjual diri tempo hari kenapa tidak malu?" tanya Akbar kesal.
Yasmin mengangkat wajahnya menatap Akbar dengan kesal.
"Kenapa mengungkit itu?"
"Kau tidak malu bukan? sekarang kenapa malu di depan suamimu sendiri?" tanya Akbar tidak kalah kesal.
"Aku hanya takut mengecewakanmu, aku bukan wanita seksi dan cantik seperti nona Bee" jawab Yasmin kemudian menunduk lagi.
"Huh....kenapa Bee menjadi alasanmu? apa kau cemburu padanya?"
__ADS_1
"Tentu saja, kau hampir menikah dengan nona Bee, aku cemburu" jawab Yasmin polos.
Akbar tersenyum, ia mengangkat wajah Yasmin agar menatapnya. Lama pria itu melihat raut merah Yasmin yang menggemaskan. Akbar mencium bibir istrinya lembut.
"Kau lelah? aku tidak akan memaksamu, kita bisa beristirahat saja malam ini"
"Tidak, aku tidak lelah" jawab Yasmin cepat membuat Akbar tertawa pelan.
Akbar meraih bibir Yasmin, mereka larut dalam ciuman yang dalam dan lama, keduanya telah dikuasai nafsu hingga pada Akbar menggendong tubuh mungil itu menuju ranjang, membaringkan Yasmin dengan pelan lalu meraih bibir itu lagi dan lagi.
Belum juga meningkat pada level berikutnya, tiba-tiba ponsel Akbar berdering, semula tidak dihiraukan oleh Akbar maupun Yasmin karena masih dikuasai nafsu masing-masing, namun dering ponsel itu terus mengganggu mereka yang mau tidak mau Akbar menghentikan adegan itu.
"Huh....kenapa bocah ini mengganggu saja" gumam Akbar kesal setelah melihat nama Erina pada layar ponsel.
"Kenapa menggangguku?" tanya Akbar kesal pada Erina setelah menerima telepon dari adiknya itu.
'.......'
"Apa?" Akbar terkejut bukan main.
'......'
"Baiklah, aku akan segera menyusul" jawab Akbar lagi.
Yasmin bangkit dari baringnya menatap heran.
"Ada apa?" tanya Yasmin.
"Maaf.....ini berita buruk, Zayn dan Bee kecelakaan. Aku harus melihat mereka ke rumah sakit sekarang" jawab Akbar dengan raut cemasnya.
"Apa? bagaimana bisa? aku ikut"
"Tidak, aku tahu kau lelah....istirahatlah di sini, aku janji akan kembali dengan cepat setelah memastikan mereka baik-baik saja" jawab Akbar yang segera berdiri dan berpakaian dengan tergesa.
Yasmin hanya bisa mengalah.
"Apa kau marah?" tanya Akbar sebelum pergi.
"Tidak, pergilah mereka pasti membutuhkanmu" ucap Yasmin tersenyum tipis.
"Maaf Yasmin" ucap Akbar lagi sebelum menuju pintu.
Baru saja akan membuka pintu, Akbar kembali berbalik badan menatap Yasmin yang berdiri di belakangnya. Pria itu meraih tubuh Yasmin dan memeluknya erat.
"Maafkan aku, istirahatlah dulu malam ini.....mungkin aku akan pulang terlambat, aku harap kau tidak marah" ucap Akbar merasa kasihan pada gadis itu.
Yasmin menggeleng pelan.
__ADS_1
"Aku akan menunggumu" jawab Yasmin sendu.
Akbar mengecup bibir istrinya lembut sebelum meninggalkan Yasmin seorang diri dimalam pertama mereka.