Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas

Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas
Chapter 28


__ADS_3

Di ranjang pengantin baru, Zayn tidak melepaskan istrinya barang sebentar, lelaki ini sungguh menikmati indahnya menjadi seorang suami yang sesungguhnya, Bee terus meringkuk nyaman dibawah kungkungan lengan besar Zayn yang melingkarinya, wajah cantiknya ia sembunyikan di ceruk leher pria yang baru satu minggu ini menjadi suaminya.


Zayn mengecup puncak kepala Bee dengan sering, tangannya terus menggenggam erat jari mulus milik perempuan itu.


"Zayn....apa aku boleh tetap bekerja? Maksudku....aku akan menjadi ibu rumah tangga yang baik untukmu, tapi aku juga mencintai pekerjaanku" ucap Bee berbicara pelan di sela leher pria ini.


"Tentu saja sayang, kau akan tetap bekerja seperti biasa, aku bahkan lebih bersemangat untuk datang ke rumah sakit dengan status kita sekarang, kau penyemangat kerja ku" jawab Zayn mengecup hidung istrinya.


Bee tersenyum "Terimakasih....aku bahagia mendengarnya"


"Sayang....kenapa tidak kau ajak saja Mawar dan Rafly untuk tinggal bersama kita disini?"


Bee kembali bersedih mengingat dua adiknya yang malang terpaksa harus tinggal bersama ibu tiri yang jelas-jelas tidak menyukai mereka, Bee ingin sekali mengiyakan tawaran dari suaminya tentang hal ini namun kembali ia tidak bisa berbuat apa-apa, Bee tidak ingin status istri kedua bagi Zayn sampai terdengar pada kedua adiknya, ia merasa malu jika mengaku karena pasti Mawar dan Rafly kecewa sebab ia menjadi perebut suami orang.


"Tidak Zayn, aku malu....biarkan mereka tetap bersama ayahku, Mawar juga sudah mendaftar perguruan tinggi yang ada disana, Rafly pun telah pindah di sekolah baru, lagi pula aku tidak mau mereka tahu tentang kita, aku malu Zayn aku telah mengecewakan mereka"


"Bee....." ucap Zayn sendu, ia menatap mata istrinya yang mulai berair, Bee hanya menggeleng pelan.


"Oke baiklah....jangan terus seperti ini, ku mohon....kau memang istri kedua namun itu hanya status semata, kau istriku yang sesungguhnya sayang....percaya padaku, kau istriku satu-satunya sampai kapan pun"


Bee tidak menjawab, ia hanya bisa kembali menangis akan takdir yang akan ia jalani, ia bahkan tidak tahu kelanjutannya seperti apa, untuk sekarang Bee mengaminkan ucapan suaminya.


Zayn mengusap airmata istrinya dengan sayang.


"Jangan menangis oke....kau membuatku merasa bersalah" Zayn kembali mendekap istrinya erat.


"Kau memang jahat, kau meninggalkan ku sekarang kau seenaknya menarikku kembali dalam pusaran kehidupan rumitmu, tapi aku tidak menyesal....aku juga mencintaimu, aku juga ingin memilikimu seperti sekarang, baiklah lupakan tentang istri kedua, itu sedikit menyebalkan bagiku" jawab Bee dengan senyum yang mulai mengembang.


Zayn terkekeh mendengarnya, ia bahagia sepertinya perempuan itu memang telah melembut dan kembali jatuh pada pesonanya.


"Kau bisa mengirimkan uang untuk mereka, jika kau mau aku bisa membelikan rumah di sana untuk mereka tinggali jadi tidak perlu lagi tinggal bersama ibu tirimu"


"Tidak....mereka akan curiga nantinya, dari mana aku bisa dapat uang sebanyak itu yang bisa membeli mereka rumah, yang benar saja....aku akan mengirimkan uang gajiku saja"


"Hei.....bagaimana dengan uangku, kau bebas menggunakannya sayang" jawab Zayn.


"Aku akan berfoya-foya dengan uang suamiku ini, akan ku buat kantongmu bolong, tenang saja.....awas jika kau mengeluh nantinya" jawab Bee bercanda sambil menatap Zayn penuh damba.

__ADS_1


"Astaga....apa aku akan bangkrut?"


"Bersiaplah...." jawab Bee terkekeh.


Zayn tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya merasa gemas dan kembali merasakan gairahnya pada perempuan yang masih sama-sama polos dibawah selimut mereka.


******


Keesokan harinya, Bee dan Zayn telah mengakhiri masa cuti, mereka kembali ke rutinitas seperti biasa mereka lakukan sebelumnya yang berkutat di lingkungan rumah sakit dan pasien-pasien.


Mereka pergi dari rumah dengan mobil yang sama, Bee akan turun di depan rumah sakit agar tidak ada yang mencurigainya.


"Sayang ayolah, aku benci harus seperti ini, kenapa tidak kita akui saja jangan pedulikan pendapat mereka tentang kita" ucap Zayn kesal, ia terus menahan istrinya untuk tidak turun dari mobil ketika sampai di depan gerbang rumah sakit.


"Zayn....berhenti bercanda, kita sudah membahasnya bukan? Apa kau mau aku jadi bulan-bulanan gosip disini bahwa aku jadi perebut suami orang, aku tidak mau sayang mengertilah....kita jalani seperti ini saja oke, aku janji akan jadi istri yang baik bagimu" rengek Bee manja pada suaminya yang masih saja kesal.


Pada kenyataannya Zayn memang tidak berniat menutupi status mereka, bahkan ia ingin sekali membuat pengumuman bahwa Bee adalah istrinya, pria ini tidak peduli pendapat orang lain karena pada dasarnya Bee lah istri satu-satunya yang ia inginkan, jika tidak terlibat perjanjian dengan Kasih waktu itu mungkin ia sudah resmi bercerai. Ia bahkan tidak peduli jika membuat orangtuanya kecewa akan hal ini. Namun keadaannya berbeda setelah perjanjian itu sebab Zayn sedang tidak fokus dan masih dikuasai amarah dan cemburu buta ketika itu.


Zayn menghela napas kasar.


Bee tersenyum, kemudian ia mengecup pipi suaminya lembut.


"Belum terasa, lakukan lagi"


"Astaga" Bee berdecak namun ia tetap melakukannya dengan mengecup kembali pipi pria itu.


"Lagi" ucap Zayn tersenyum.


"Zayn" rengek istrinya.


"Ayolah...." pinta Zayn kembali.


Bee geleng kepala, kemudian ia meraih leher suaminya dengan gemas ia mencium bibir pria itu dalam, Zayn membalasnya mereka berciuman lumayan lama hingga napas lelaki itu mulai memburu dan Zayn terlena, pria ini sudah tidak bisa menahan tangannya yang mulai bergerilya di dada sang istri.


Membuat Bee pun ikut menikmati, namun dengan cepat ia melepasnya karena tidak ingin lepas kendali disana.


"Zayn, bagaimana jika ada yang lihat" Bee menepuk pelan tangan suaminya yang masih tidak beranjak dari dadanya.

__ADS_1


"Tidak akan ada yang lihat, oh astaga ayo kita pulang saja jika begitu" ajak Zayn serius.


"Zayn jangan bercanda, aku akan terlambat ini sudah jam berapa" jawab Bee kesal sambil memperbaiki kancing baju dan penampilannya.


"Aku tidak peduli"


"Zayn, kita tidak bisa berbuat seenaknya, bagaimana jika aku di pecat"


"Siapa yang berani memecat istri dari pemilik rumah sakit ini" jawab Zayn enteng.


"Apa?" Bee terkejut mendengarnya.


Zayn hanya tersenyum sambil terus mengusap bibir istrinya lembut.


"Apa rumah sakit ini milik keluargamu? Kenapa aku tidak tahu" jawab Bee bingung.


"Milikku sayang, semua aset papa sudah di alihkan atas namaku, itu artinya kau juga pemiliknya sayang, tidak ada yang berani pada kita"


Pada kenyataan memang benar, Zayn telah resmi memiliki semua aset kekayaan orangtuanya, hanya saja Kasih tidak tahu soal ini, Zayn menyembunyikannya dengan rapi.


"Benarkah, pantas saja kau bebas mau masuk bekerja tidak, kau juga mengurus cuti kita dengan mudah, aku tidak menyangka suamiku sekaya ini" jawab Bee tersenyum manis pada Zayn.


"Bagaimana? Ingin pulang?" goda Zayn lagi.


"Enak saja.....ayo aku akan turun duluan, kita harus tetap profesional sayang" ucap Bee kembali memberi kecupan di sudut bibir Zayn dengan lembut.


Bee bersiap ingin keluar dari mobil dengan tas ditangannya, namun Zayn belum melepas genggaman tangan mereka.


"Ayolah sayang, aku akan terlambat kasihan yang shift malam belum bisa pulang jika salah satu yang shift pagi belum datang"


Zayn mengecup punggung tangan Bee secara berulang.


"Baiklah aku mengalah.....tapi kau harus menemaniku ketika visit nanti, aku mencintaimu sayang...."


"Siap suamiku.....aku juga mencintaimu Zayn" ucap Bee pelan namun dalam sebelum ia benar-benar meninggalkan Zayn untuk masuk duluan ke rumah sakit.


* lanjuttt yaaaa

__ADS_1


__ADS_2