
"Zayn......kau sedang apa?" Bee memeluk leher suaminya dari belakang yang sedang menghadap layar laptop, perempuan ini baru saja dari dapur.
Zayn menoleh dan memberi ciuman di pipi mulus istrinya.
"Hmmm lusa ada seminar, aku jadi pembicara, jadi harus menyiapkan materi" jawab Zayn tersenyum.
"Begitukah?" ucap Bee lagi mengambil alih perhatian pria ini dengan duduk dipangkuan Zayn dengan mesra.
Pria ini hanya bisa geleng kepala, Bee begitu manja akhir-akhir ini, suka memeluk apalagi jika Zayn sedang ada pekerjaan, ia suka sekali merecokinya.
"Zayn......apa kau keberatan jika Mawar dan Rafly tinggal bersama kita disini?" tanya Bee membelai jambang suaminya sesekali ia mengecup rahang pria ini.
"Tentu tidak sayang, aku senang jika mereka akan tinggal disini, ayah dan bu Nisa juga boleh" jawab Zayn santai.
"Ayah tentu saja tidak bisa, ayah kan seorang pegawai pemerintah di sana, aku tidak mau merepotkan bu Nisa terlalu lama lagi dengan menitip adik-adikku di sana, terimakasih Zayn.....kau begitu pengertian terhadap adik-adikku"
"Adikmu adikku juga Bee....tenanglah, aku sama sekali tidak keberatan malah senang" jawab Zayn membelai wajah Bee seraya menciumnya gemas.
"Oke....sebenarnya, aku juga ingin bicara sesuatu sayang.....tentang ini juga" ucap Zayn lagi.
Membuat Bee heran "Apa itu Zayn? bicaralah? apa ada sesuatu? apa ada sikapku yang salah? kau boleh menegurku" ucap Bee cemas.
Zayn tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Kau tidak salah apapun Bee...." cium Zayn lagi pada pipi cantik istrinya.
"Lalu apa? apa ada masalah?" tanya Bee tidak sabar.
"Bukan masalah sayang, tenanglah.... Mama kemarin bicara padaku tentang tawaran apa kau mau tinggal bersama di rumah orangtuaku, mama juga tidak memaksa sayang kau bebas mau tinggal dimana, mama hanya merasa kesepian saja, mama dan papa juga sangat antusias menawarkan tentang hal ini jika kau berkenan kita tinggal disana"
Bee terdiam, matanya berkaca-kaca.
"Aku tidak memaksa, kau bebas ingin tinggal dimana sayang, jika tetap ingin tinggal di sini ya kita tetap di sini tentunya bersama Mawar dan Rafly nanti, jangan jadi beban pikiran ya....mama dan papa juga tidak memaksa jadi jangan cemas oke" ucap Zayn lagi mengusap punggung istrinya dengan sayang.
"Zayn....tentu saja aku mau, orangtuamu orangtua ku juga, aku mengerti perasaan mama sejak kita menikah pasti mereka kesepian kau dan Rayyan tidak tinggal di sana lagi, hey.....aku mau, kita akan tinggal di sana oke..." jawab Bee meraih wajah Zayn dan menciumnya berkali-kali.
Zayn tidak menyangka jawaban itu yang keluar dari mulut manis istrinya, tentu pria ini bahagia mendengarnya.
"Tidak, aku mau Zayn....aku sangat mau tinggal di sana, kau tahu aku menyayangi mama seperti ibuku sendiri, aku tidak keberatan sama sekali, jadi kapan kita bisa pindah?" tanya Bee tersenyum.
Zayn tertawa mendengarnya.
"Hey.....jangan terburu-buru sayang, besok kita ke rumah mama bicarakan ini, mama dan papa pasti sangat bahagia mendengarnya, biar rumah ini Mawar dan Rafly saja"
Bee mengangguk semangat, perempuan ini memeluk suaminya dengan erat, ia sungguh bahagia jika akan tinggal bersama orangtua Zayn sebab ia menyayangi mereka seperti orangtuanya sendiri terlebih Zayn adalah anak tunggal, selagi masih ada waktu menghabiskan sisa umur mereka dengan tinggal bersama dan hidup bahagia kenapa tidak, begitu pikir Bee karena tidak semua anak bisa menghabiskan waktu bersama orangtua mereka.
__ADS_1
(bonus pict ketika bulan madu ya, jangan protes terlalu seksi, karena hanya mereka berdua disana jadi bebas dong ya, cuma Zayn aja yang lihat. hi hi)
*****
Yasmin kembali membersihkan ruang kerja Akbar pagi ini, tentu ia merasa bebas sebab pria dingin itu tengah berada di kantor bersama asisten yang menyebalkan baginya yaitu Elsa.
Wanita cantik berpakaian pelayan ini dengan beraninya mengambil segelas jus jeruk dari dapur dan meminumnya sambil duduk di kursi kebesaran majikannya di ruangan yang penuh teka teki baginya.
Yasmin berlagak seperti seorang bos yang angkuh duduk di singgasana sambil memainkan gelas jus tersebut.
"Huh.....apa seperti ini rasanya jadi bos kaya raya dan sombong? memang menyenangkan apalagi kekuasaan berada ditanganku, seperti yang dilakukan ayah tiriku, menginjak dan memperbudak seseorang tanpa kasihan"
"Apa tuan Akbar juga seperti itu ya?" ucapnya lagi mengoceh sendiri sambil menghadap jendela yang ia buka gordennya memperlihatkan pemandangan halaman belakang rumah besar itu yang hijau dan dipenuhi taman bunga beraneka jenis.
Tanpa ia sadari ada seseorang diambang pintu yang melihat tingkah lakunya yang berani duduk di kursi kerja Akbar tanpa rasa malu dengan kaki ia angkat ke atas nakas di tepi jendela layaknya bos sambil minum jus melihat pemandangan cerah di luar sana.
"Ehem...." sebuah suara membuyarkan lamunan Yasmin yang tengah berhayal menjadi seorang bos.
Yasmin membesarkan matanya dan menggigit bibir bawah dengan perasaan ciut, ia tidak berani menoleh Yasmin hanya diam saja tidak berkutik.
Sampai pada pria yang ia yakini adalah Akbar menyentuh pundaknya seraya memutar kursi tersebut, namun siapa sangka kaki Yasmin tidak sengaja terpleset dari nakas dan kursinya terbalik dan ia pun terjatuh hingga jus jeruk membasahi pakaian seragamnya.
Yasmin membuka matanya satu, menatap wajah dingin Akbar yang seperti ingin marah. Entah apa yang ada dipikiran perempuan ini hingga ia berpura-pura pingsan saja daripada kena marah.
__ADS_1