
Hari kian berlalu meninggalkan banyak jejak kenangan yang akan diingat oleh seorang pria bermanik biru sebelum meninggalkan kehidupan masa lalunya di tanah air, berniat melanjutkan pendidikan sebagai cara mengalihkan perasaannya yang tengah kalut sebab tidak bisa berbuat apa-apa selain mengkihlaskan mantan istrinya untuk menjadi milik pria lain selamanya.
Setelah memastikan sang putra benar-benar sembuh dan kembali ceria, Zayn ingin segera pergi dari kota dimana semua kenangan tentang Bee akan ia tinggalkan menuju masa depan yang lebih baik lagi setelah banyak pelajaran yang ia dapat dari jejak percintaannya bersama perempuan itu.
Hanya berselang beberapa hari lagi pernikahan Akbar dan Bee digelar, semua keluarga calon mempelai wanita telah tiba di kota tersebut dimana mereka tinggal di rumah mewah Bee dan Zayn dulu sebelum mengikuti serangkaian acara adat dan akad nikah yang akan diselenggarakan di kediaman Akbar.
Akbar dan Erina pun sangat bahagia yang hanya tinggal menghitung hari sebelum pernikahan dilangsungkan, meski masih bersedih sebab nenek Farida tidak ikut menyaksikan hari bahagia mereka nanti. Semua berbahagia terkecuali calon mempelai perempuan itu sendiri.
Bee hanya bisa pasrah, berharap takdir baik selalu mengikutinya sebagaimana Akbar yang memang merupakan pria baik yang akan mempersuntingnya tidak lama lagi, menatap wajah Rayyan yang akan kehilangan sosok Zayn dalam waktu yang lama Bee merasa sedih, meski akan menikah namun Bee berharap akan selalu mempunyai hubungan baik dengan mantan suami sirinya ini agar Rayyan tidak kehilangan sosok ayah kandung terlebih mereka akan ikut Akbar jika sudah menikah nanti.
Bee tersenyum ketika Rayyan menghampirinya memberikan mainan robot yang ia sedang mainkan, Bee mengusap kepala anak lelaki itu dengan sayang. Lamunannya buyar ketika Mawar masuk ke kamarnya.
"Kak....." panggil Mawar.
"Iya, kau butuh sesuatu Mawar?" tanya Bee bersikap biasa.
"Maaf jika aku lancang, kakak akan menikah bukan? maksudku sebaiknya kakak tidak memajang lagi photo kakak bersama kak Zayn dikamar ini, apa kakak belum bisa move on? ingatlah kakak akan menikah dengan pria lain dalam beberapa hari lagi" ucap Mawar yang merasa risih melihat figura photo kakaknya ini bersama Zayn yang masih saja terpajang di dinding kamar, bukan hanya satu tapi ada beberapa photo mesra ketika mereka masih suami istri, Bee memang tidak merubahnya sama sekali.
Bee terdiam, ia mengedarkan pandangan pada dinding-dinding kamar yang dimaksud oleh Mawar.
__ADS_1
"Apa kakak belum bisa berpaling dari kak Zayn? ayolah kakak akan menikah, jangan gila....jika masih mencintainya kenapa kakak diam saja hingga sekarang, sudah sangat terlambat jika ingin mundur" kembali Mawar merasa bahwa pernikahan ini tidak benar, ia tahu betul perasaan Bee saat ini.
"Kau benar.....tidak ada waktu untuk mundur Mawar, Zayn pun akan pergi, pergi selamanya dariku. Dia hanya akan menjadi kenangan saja yang hanya akan ku ingat dari sosok Rayyan, aku akan berusaha menerima takdirku bersama Akbar, tenanglah....ini hanya sebuah figura, ini tidak berarti apa-apa lagi sekarang, setelah menikah tentu aku akan menerima suamiku sepenuhnya" jawab Bee berdiri menanggalkan semua figura yang melekat di dinding kamarnya.
Mawar tersenyum "Aku tahu kakak akan menjadi kuat nantinya, jodoh tidak ada yang tahu...." ucap Mawar lagi sambil meladeni Rayyan bermain.
"Mawar" panggil Bee.
"Iya?"
"Setelah aku menikah nanti, bisakah kau dan Rafly tinggal di rumah ini, kalian juga berhak menikmati semua ini. Aku akan mengirim uang untuk kebutuhan kalian kuliah dan sekolah, pindahlah kesini temani bi Sumi, biarlah ayah dan bu Nisa tidak merasa repot lagi akan kalian yang menumpang hidup disana"
"Aku mengerti, wajar saja bu Nisa demikian. Ayah tidak punya penghasilan lebih selain gajinya yang hanya cukup untuk makan saja terlebih Rina juga tengah sekolah, maafkan aku yang lama meninggalkan kalian disana. Rumah ini punya kita sekarang, jadi tidak perlu khawatir lagi akan tempat tinggal dan uang sekolah, kita harus bersyukur kehidupan kita jauh lebih baik dari sebelumnya"
Mawar mengangguk tersenyum.
******
Pada sore harinya Bee baru saja akan kembali dari kontrakan Dina mengantar undangan, ia pergi sendiri dengan taksi perempuan ini menolak di dampingi Akbar sebab ia pikir Akbar sedang sibuk, lagipula ia ingin berlama-lama mengobrol bersama Dina karena lama tidak bertemu.
__ADS_1
Taksi itu berhenti "Maaf nona, sepertinya taksi ini kempes, apa sebaiknya nona naik taksi lain saja?"
"Benarkah? bagaimana ini? hari sudah mulai senja pak, mana ini jalan sepi" jawab Bee melihat sekitar.
"Mau bagaimana lagi nona, saya ingat ada bengkel tidak jauh dari sini, jika nona takut silahkan nona kunci pintunya baik-baik saya akan berjalan kaki meminta bantuan orang bengkel" jawab pak sopir.
"Baiklah....jangan lama ya pak saya takut" jawab Bee lagi.
Setelah sopir taksi meninggalkan Bee untuk pergi mencari pertolongan pada bengkel yang lumayan berjarak dari sana, Bee merasa takut apalagi jalan itu tidak terlalu ramai yang lewat.
Merasa bosan, ia memainkan ponselnya kemudian karena gerah ia keluar dari taksi dan berdiri di tepi jalan, namun karena hari mulai gelap ia pun tidak menyadari bahwa ia berdiri ditepi jalan yang curam, Bee terpleset dan terjatuh ke jurang yang tidak terlalu dalam namun cukup jauh ke semak-semak dengan keadaan curam dan lahan miring.
"Ah....." Bee mengaduh kesakitan kakinya lecet beserta siku tangannya.
"Ya ampun, aku kenapa bisa terjatuh" gumamnya, namun ponselnya ikut menggelinding jauh dari tempat ia berada, Bee mengejarnya dengan kaki yang sakit namun ia paksakan demi mengejar ponselnya yang ikut terjatuh.
Menelan ludah melihat sekitar, hari semakin gelap, kakinya sakit ketika memaksa hendak berjalan kembali menuju jalan raya yang sedikit mendaki.
Benar saja, Bee ketakutan bukan main menyadari ia sendiri saja disana. Dengan napas memburu cemas ia segera menghidupkan ponselnya yang mati dan segera menghubungi seorang pria yang ia pikir akan bisa menyelamatkannya, karena untuk memekik minta pertolongan disana akan sia-sia saja.
__ADS_1