
Zayn tetap visit pagi itu setelah menenangkan pikirannya akan pemandangan perayaan ulang tahun Bee yang di berikan oleh Bayu.
Raut wajahnya tampak tak bersahabat, pria berumur 31 tahun itu bicara seperlunya saja ketika sampai di meja para perawat sebelum melakukan kunjungan pasien.
Bee melihat Zayn datang, karena sudah terbiasa mendampingi Zayn ketika visit ia segera menyiapkan map pasien yang akan dikunjungi oleh dokter tampan bermata biru ini.
Namun tidak di duga Zayn malah berkata lain pada Toni yang kebetulan duduk disamping Bee.
"Toni, ayo dampingi aku visit, tidak akan lama aku ada urusan lain" ucap Zayn pada Toni tanpa menoleh Bee.
Langkah Bee terhenti ketika akan menyusul Zayn yang sudah duluan berjalan ke arah kamar pasien.
"Tidak biasanya seperti ini, kenapa dia tiba-tiba minta Toni yang dampingi? huh...biasanya selalu memaksaku untuk ikut" gumam Bee merasa heran.
"Sudahlah...sini mapnya sepertinya dokter Zayn lagi tidak bagus moodnya pagi ini" jawab Toni sambil mengambil map di tangan Bee.
Setelah dari kamar pasien Zayn bicara datar pada Toni.
"Antarkan saja map itu ke ruangan dokter, aku akan menulis disana saja" perintah Zayn pada Toni ketika mereka sampai meje perawat.
Bee yang sedang menulis laporan mengernyit heran dengan sikap aneh Zayn hari ini, tidak biasanya Zayn ingin menulis di ruang khusus dokter, biasanya pria ini langsung duduk ikut bergabung di meja perawat untuk menuliskan lanjutan terapi pasien-pasiennya.
"Baik dokter" jawab Toni.
Zayn berlalu dari sana menuju ruang khusus dokter tampatnya menenangkan pikirannya tadi pagi.
"Bee bisa kau antarkan map ini, aku ingin ke toilet ini sudah tidak tahan aku sembelit, tidak nyaman jika belum tuntas" Toni minta bantuan Bee.
"Iiiih.... jorok sudah sana, biar aku saja yang antarkan ini ke dokter Zayn" jawab Bee sambil menyuruh Toni segera ke toilet.
Kemudian Bee berjalan ke arah ruangan yang terdapat Zayn di dalamnya.
Tok...Tok....Tok...
Bee mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Permisi..." Bee masuk dengan sopan.
__ADS_1
Ia melihat Zayn tengah termenung dengan wajah sayu sambil menatap ke atas bersandar di kursi dengan kedua tangan menopang kepala.
Bee melangkah pelan, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, ia menjadi terkejut ketika menemukan sebuah buket bunga mawar yang jatuh ke lantai dengan kelopak sudah berserakan seperti kena hempas dan terinjak kaki. Tidak jauh dari itu terdapat pula kue tart mini yang sudah hancur disamping buket bunga seperti sengaja dibuang dan di lempar ke dinding sebab terdapat noda kue di dinding itu namun Bee dapat melihat jelas lilin angka 23 di sampingnya.
Kemudian Bee kembali menatap Zayn.
"Dokter Zayn....ini mapnya" ucap Bee pelan sambil meletakkan map tersebut di atas meja Zayn.
Zayn menatap Bee penuh arti, pria itu berdiri dari duduknya melangkah berjalan mendekati gadis itu.
"Zayn kau kenapa?"
Bee terus mundur hingga tubuhnya bersandar di pintu.
"Aku tidak akan melepaskan mu kali ini Bee....aku tidak akan membiarkan pria itu memiliki mu" ucap Zayn tajam.
"Zayn kau bicara apa?" tanya Bee bingung.
"Apa kau menerima Bayu dalam hidupmu? ck... itu tidak akan terjadi Bee, tidak akan"
Zayn kembali mendekat.
"Kau mencintaiku Bee....jangan berbuat kesalahan yang sama seperti ku dulu, kau tidak tahu bagaimana rasanya menyesal, kau menerima Bayu untuk menghindariku bukan?"
"Cinta akan datang seiring waktu Zayn, aku akan membuka hatiku untuk dokter Bayu, berhenti bersikap konyol seperti ini"
"Tidak akan ku biarkan pria manapun memilikimu" jawab Zayn dengan wajah memerah.
"Apa? kau egois Zayn, bukankah kau sendiri yang meninggalkan ku" Bee mulai terpancing emosi.
"Iya....aku akan lebih egois kali ini Bee, aku menyesal sudah tidak berpikir dewasa ketika itu, aku tidak akan mengulanginya kali ini, kau milikku Bee..." Zayn terus mendekat.
"Milikmu darimana Zayn? aku bukan siapa-siapa mu lagi"
"Aku ingin kau menjadi milikku Bee...."
"Kau gila Zayn"
__ADS_1
"Iya....aku memang gila Bee, aku bahkan hidup dalam kegilaan karena kehilanganmu selama ini, tidak akan ku lepas kau kali ini Bee, aku mencintaimu, kembali padaku" Zayn dengan nada tinggi dengan mata memerah menatap tajam Bee namun di akhir kalimat ia menjadi sendu.
"Apa kau sedang mengajakku berselingkuh? kau memang keterlaluan Zayn, lepaskan aku"
"Bukan hanya itu Bee, aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya" jawab Zayn yakin.
"Ku mohon Zayn jangan seperti ini, aku tidak mau Zayn, aku tidak mau" Bee memelas, Bee sudah tidak bisa menahan laju airmatanya.
Kedua tangan Zayn mengunci pergerakan gadis itu dengan mengurungnya dalam kedua tangan yang ia sandarkan ke pintu tempat Bee berdiri saat ini.
"Katakan jika kau tidak menginginkan ku Bee....katakan jika memang sudah tidak ada cinta lagi untukku" tatap Zayn pada manik cokelat Bee yang ketakutan.
Bee terdiam, memang benar ia tidak bisa mengatakan itu, karena memang benar pula hatinya masih terikat kuat pada pria di hadapannya ini.
"Kau tidak bisa mengatakannya bukan? iya karena aku tahu kau juga masih mencintaiku, ku mohon Bee kita berhak bahagia, kembali padaku....jangan terima pria lain"
Bee memejamkan matanya sejenak, ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sebuah kalimat yang ia dustai namun harus ia ucapkan agar terlepas dari obsesi gila pria ini.
"Kau ingin mendengarnya bukan? sekarang ku katakan padamu Zayn bahwa aku sudah tidak memiliki perasaan lagi padamu" Bee terdiam sejenak menarik napas dalam kemudian melanjutkan.
"Aku sudah tidak mencint...." Ucapan Bee menggantung karena sudah di bungkam oleh bibir Zayn yang tidak ingin mendengar kelanjutan kalimat tersebut.
Zayn mencium bibir Bee dengan rakus, ia tidak memberi kesempatan Bee untuk menghindar, ia merasa gila akan hal ini.
Dada mereka sama-sama kempang kempis, Bee ingin menghindar namun Zayn lebih kuat menahannya, airmata Bee kian mengalir deras.
Lama terjebak akan ciuman itu, hingga Bee menggigit bibir Zayn kuat agar bibir mereka terlepas.
Bee menampar Zayn dengan tangannya.
"Kau jahat Zayn, aku membencimu" tatap Bee tajam dengan airmata kian berlinang.
"Tapi aku mencintaimu, akan tetap mencintaimu Bee....aku akan memilikimu apapun yang terjadi" Jawab Zayn tak kalah tajam setelah memegang wajahnya yang memerah bekas tamparan wanita itu.
Bee hanya menggeleng frustasi, ia tidak menyangka Zayn bisa segila ini.
"Teruslah bermimpi" ucap Bee sebelum akhirnya ia meninggalkan pria itu mematung disana.
__ADS_1