
Kabar rencana pernikahan Akbar pun telah sampai pada keluarganya yang berada di tanah air, Zayn dan orangtua nya sangat senang atas kabar bahagia tersebut dimana itu artinya Akbar telah menemukan perempuan yang mampu menggantikan Bee di hatinya.
Zayn mengusap kepala istrinya dengan sayang, Bee masih saja terpejam di atas ranjang, seiring membesarnya kehamilan Bee membuat perempuan ini sering mengantuk di waktu siang hari, setiap Zayn pulang dari rumah sakit pasti Bee sedang terlelap di kamar mereka.
Bee menggeliat ketika mendapat beberapa ciuman pada wajahnya, ia membuka mata secara paksa meski terasa berat.
"Zayn.....kau sudah pulang? oh maaf aku tertidur lagi" ucap Bee seraya bangun dari baringnya.
Zayn hanya terkekeh melihat perempuan yang mulai berisi dengan usia kehamilan memasuki tujuh bulan. Pria ini tidak menjawab, ia kembali memberi beberapa kecupan pada perut Bee yang sudah membesar.
"Sayang, hentikan itu geli" Bee mencoba menghindar ketika Zayn memainkan wajahnya pada perut buncit itu.
"Sudah tidak mengantuk? ingin jalan atau makan sesuatu?" tanya Zayn menatap istrinya penuh cinta.
Bee menggeleng, ia hanya menjatuhkan wajahnya di dada bidang dokter tampan itu.
"Sebenarnya aku masih mengantuk, apa Rayyan sudah pulang?" tanya Bee.
"Belum, mama menelepon mereka masih di toko kue bersama Mawar" jawab Zayn.
"Hmmm.....seharusnya aku ikut mereka jalan tadi, tapi kenapa aku begitu pemalas akhir-akhir ini lebih suka terpejam di ranjang" ucap Bee manja seraya mengecup bibir suaminya sekilas.
"Baiklah....ayo bangun, kita bisa menonton tivi jika kau bosan" ajak Zayn.
"Tidak, aku tidak bosan jika di ranjang, aku begitu malas melakukan apapun, ayo sementara menunggu mama dan Rayyan pulang kau bisa menemaniku bergumul di sini" ajak Bee menarik tangan suaminya naik ke ranjang ikut berbaring.
Zayn hanya bisa menghela napas dibuat tingkah Bee yang manja. Benar saja Bee segera berbaring dalam dekapan suaminya dengan mata kembali mengantuk.
"Bee....." panggil Zayn lembut sambil membelai rambut hitam istrinya.
"Hmmm....iya ada apa Zayn? apa kau ingin bicara sesuatu? jika tidak aku mau tidur lagi" jawab Bee pelan.
"Ya ampun.......dasar putri tidur" Zayn geleng kepala, ia mempererat pelukan pada Bee secara gemas.
Bee hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya.
"Akbar akan menikah minggu depan, dia memberitahuku tadi, kita sekeluarga harus ke sana....apa kau keberatan?" ucap Zayn seraya mengusap lembut punggung istrinya.
Hal itu mampu membuat mata Bee menjadi terbuka lagi.
__ADS_1
"Apa? Akbar mau menikah?" tanya Bee terkejut dan menengadah menatap Zayn.
"Memangnya kenapa? apa kau cemburu?" goda Zayn lagi.
Bee mencubit pinggang suaminya kesal.
"Kenapa bicara seperti itu? aku tidak cemburu, aku hanya terkejut saja, tentu aku bahagia mendengarnya" jawab Bee mengerucutkan bibirnya ke depan.
Zayn terkekeh, lalu meraih bibir yang sedang maju itu dan mengecupnya dengan gemas.
"Iya, aku juga bahagia mendengarnya.....bagaimana menurutmu? apa kau tidak merasa keberatan kita hadir ke sana? jika kau tidak nyaman kita bisa tinggal, biar mama dan papa saja yang pergi" ucap Zayn menanyakan pendapat istrinya.
"Tidak, aku tidak keberatan.....Akbar saudaramu, itu artinya dia saudaraku juga tentu kita bisa hadir, lagipula aku tidak memiliki keluhan untuk perjalanan jauh, kita bisa sekaligus mengajak Rayyan jalan-jalan bukan?"
"Oke baiklah, nanti ku urus cuti ku dulu kita bisa lebih lama di sana jika kau ingin berlibur" Jawab Zayn tersenyum.
Bee mengangguk semangat.
"Apa benar kau tidak cemburu?" goda Zayn lagi.
"Zayn....." bentak Bee kesal.
*****
Rayyan tidak lepas dari gendongan daddy nya, anak lelaki itu begitu girang ketika sudah sampai negara tetangga yang belum pernah ia kunjungi.
Bee merasa de javu saat berjalan melewati pintu kedatangan bandara, ia teringat lebih dari dua tahun lalu ia pertama datang ke sana seorang diri untuk merubah nasib dengan mencoba peruntungan bekerja untuk nenek Farida.
Bee tersenyum, semuanya menjadi indah sekarang dimana melihat suami dan putranya yang berjalan mendahului, di sampingnya ada kedua mertua yang menyayanginya dan dua orang pelayan Rayyan pun ikut serta untuk memenuhi undangan mantan tunangannya yang akan menikah dua hari lagi.
"Takdir tidak ada yang bisa menebaknya, aku kembali ke sini bukan untuk bekerja melainkan merayakan kebahagiaan pria yang hampir menikahiku" gumam Bee dalam hati seraya tersenyum sendiri.
Zayn melihat istrinya jauh tertinggal di belakang pun segera mendekat dan menyerahkan Rayyan pada papanya.
"Sayang, apa kau lelah berjalan?" tanya Zayn ketika sudah mendekati Bee.
"Tidak, aku hanya bahagia sekarang bahwa kau adalah satu-satunya pria yang menjadi pendamping hidupku, aku mencintaimu Zayn" jawab Bee tersenyum seraya meraih lengan pria itu menggandengnya mesra menyusul langkah keluarga mereka yang lain.
"Aku bertanya lain, jawabnya lain.....aku kira kau merasa sedih datang ke sini untuk menghadiri pernikahan mantan tunanganmu" goda Zayn mencolek hidung mancung istrinya.
__ADS_1
"Zayn.....mulai lagi" rajuk Bee kesal namun semakin mendekap erat lengan suaminya berjalan menuju mobil yang sudah disediakan Akbar untuk menjemput kedatangan mereka.
*****
Dalam perjalanan, Bee melepas rindu bersama Elsa yang telah lama tidak bertemu, ia dan Zayn berada di mobil Elsa, sedang anak dan mertuanya berada di mobil lain.
Sampai pada rumah besar yang sudah sangat lama Bee tidak kunjungi itu, kembali senyumnya mengembang tatkala ia memasuki pagar, ia teringat pertama datang ke rumah itu ada banyak kenangan terukir di sana terutama bersama mendiang nenek Farida.
"Kenapa diam? apa kau benar-benar siap bertemu Akbar kembali?" tanya Zayn tersenyum.
"Zayn.....huh, berhenti menggodaku!" bentak Bee kesal seraya mencubit pinggang suaminya yang terkekeh sejak tadi.
"Aku menyukai wajah rajuk mu sayang" jawab Zayn mengecup gemas pipi berisi istrinya.
Mereka masuk rumah, yang mana Akbar dan Yasmin sudah menunggu mereka sejak tadi.
Akbar berpelukan dengan Zayn, lalu pada kedua paman dan bibinya, tidak lupa menggendong Rayyan menciumnya gemas.
Yasmin terlihat canggung, ia terus saja menatap perempuan yang tengah hamil besar itu dengan seksama. ia merasa tidak asing dengan wajah istri dari sepupu Akbar tersebut.
"Hei....kenapa menatapku seperti itu? kenalkan, aku juga Yasmin, nama kita sama....tapi semua memanggilku dengan panggilan Bee, cukup mudah bukan?" Bee mengenalkan diri pada Yasmin yang masih mematung.
Yasmin merasa terkejut akan nama perempuan itu, ia baru teringat akan lukisan yang dianggap Akbar begitu berharga, lukisan wanita cantik berhijab yang bertuliskan "my Yasmin" di bagian bawahnya.
Yasmin yakin bahwa perempuan dalam lukisan itu adalah perempuan yang sedang tersenyum padanya sekarang.
"Aku.....aku, aku juga Yasmin" jawab Yasmin canggung.
Bee bisa mengerti akan pertemuan pertama mereka, tentu calon mempelai wanita merasa gugup jika baru pertama bertemu dengan keluarga calon suaminya.
Zayn memeluk pinggang istrinya, membuat Akbar berdecak.
"Huh....apa kalian memanasiku? berhenti terlihat mesra di hadapanku, astaga aku cemburu" ucap Akbar bercanda.
Namun kata itu membuat Yasmin merasa lain, ia melirik Akbar yang menatap Bee dan Zayn.
"Apa dia Yasmin yang Rini maksud? wanita yang berada dalam lukisan berharga Akbar hingga aku di pecat ketika itu, apa dia perempuan yang tidak jadi menikah dengan Akbar tahun lalu? cantik, cantik sekali, aku tidak ada apa-apanya dibanding dia, Akbar tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya padaku, bagaimana bisa mereka tidak jadi menikah, dan sekarang wanita ini adalah istri sepupunya sendiri?" gumam Yasmin bertanya-tanya dalam hati seraya terus memperhatikan raut Akbar ketika bicara pada Bee.
Yasmin merasa cemburu, ia melihat jelas Akbar sangat antusias mengobrol bersama Bee meski Zayn juga ada di sana, entah karena cemburu buta atau apa sehingga Yasmin merasa tatapan Akbar lain terhadap Bee.
__ADS_1