
Sopir taksi menjadi heran, sebab penumpangnya tidak berada di mobil ketika ia kembali bersama tukang bengkel, ia pikir perempuan itu telah menumpang taksi lain atau dijemput karena tidak ingin menunggu lama, ia pun menghela napas sebab taksinya belum dibayar. Setelah permasalahan bannya selesai sopir itu langsung saja pergi dari sana tanpa rasa curiga.
Tidak lama berselang sebuah mobil pun berhenti ditempat yang sama. Zayn bergegas turun dan menuruni jalan arah ke semak-semak yang berlahan miring, tidak ada penerangan disana, hanya ada lampu jalan yang berada di pinggir jalan tentunya.
Zayn menelepon Bee menanyakan keberadaan perempuan itu, iya Bee ternyata lebih memilih menghubungi Zayn daripada Akbar, entah karena terlalu cemas sampai ia tidak berpikir panjang lagi.
"Zayn" pekik Bee ketika mendengar derap langkah yang mendekat. Ia mematikan panggilan mereka dan menghidupkan lampu ponsel agar menjadi petunjuk Zayn mendekatinya.
"Bee.....ya ampun kenapa sampai seperti ini?" tanya Zayn sambil berlari mendekat.
Tanpa di duga Bee berhambur memeluknya erat dan menangis ketakuta.
"Zayn....aku takut" ucap perempuan itu dengan tubuh yang gemetar.
"Hei....tenanglah aku disini, kau aman sekarang" jawab Zayn mengusap punggung jandanya naik turun.
"Tenang....tenang....apa kau tidak cemas melihatku seperti ini?" pukul Bee pada pundak Zayn, namun ia belum juga melepaskan tubuh pria ini.
"Aku cemas, tapi tenanglah aku sudah datang sekarang, lagipula siapa yang akan menyakitimu? sepertinya penghuni semak ini pun takut padamu" ucap Zayn terkekeh, ia melepas pelukan dan mengusap kedua lengan Bee dengan sayang.
"Zayn......" rengek Bee seraya mengusap airmatanya.
"Ayo...." ajak Zayn lagi untuk segera keluar dari sana.
"Kaki ku lecet dan terkilir Zayn, ini sakit.....kau lihat ini juga lecet" tunjuk Bee pada kaki dan sikunya yang sakit hingga bagian siku lengan baju tersebut robek.
"Ayolah, ini hanya luka kecil jangan manja Bee....apa kau mau terus disini?"
Bee kesal bukan main mendengarnya seakan ucapan itu menandakan Zayn sudah tidak perhatian atau cemas dengan keadaannya saat ini.
"Kau jahat....aku terluka Zayn" kesal perempuan itu.
"Baiklah....ayo pegang tanganku, ayo kita bisa naik sekarang" jawab Zayn tersenyum melihat raut cantik itu meski dalam gelap.
"Gendong" ucap Bee malu-malu.
__ADS_1
"Kau berat....ini jalan menanjak yang benar saja?" ucap pria ini seraya menggoda, ia tahu ini akan terjadi.
Bee malah kembali menangis, ia kesal mendengar Zayn yang tampak tidak peduli padanya.
"Huh.....kenapa malah menangis?"
"Kau jahat, kau benar-benar telah melupakanku rupanya kau tidak peduli lagi padaku meski aku terluka seperti ini, pergi....pergi sana kenapa kau datang? tinggalkan saja aku, jangan pedulikan biar aku mati saja dimakan monyet" Bee berkata dengan nada tersengal kesal dalam tangisnya.
"Yang ada monyet takut padamu, aku kesini karena kau menghubungiku, seharusnya kau menghubungi calon suamimu Bee" jawab Zayn terkekeh, pria ini membungkuk membelakangi Bee.
Bee terdiam, ia baru teringat akan Akbar setelah Zayn menyebutkan namanya. Bee menghapus airmatanya tersenyum dan menaiki punggung kekar itu ia tahu Zayn tidak akan mampu menolak permintaannya.
"Astaga....kau berat sekarang" ucap Zayn mulai berjalan maju seraya memperbaiki posisi tangannya menopang tubuh mantan istrinya.
"Biar saja berat, itu tandanya aku makmur sekarang tidak kurus lagi" jawab Bee sekenanya, satu tangan melingkar dileher Zayn satu tangan lagi ia gunakan memegang ponsel untuk menerangi jalan.
Zayn hanya tertawa pelan, ia terus saja melangkah dengan entengnya menuju jalan raya tempat mobilnya berada. Sesampainya di atas Zayn segera menurunkan tubuh perempuan itu dari gendongannya.
"Zayn...." ucap Bee sendu menatap wajah Zayn yang berkeringat.
"Apa? apa kau menghubungi Akbar?" tanya Bee heran sekaligus kesal.
"Tentu saja, karena seharusnya dialah yang menjemputmu disini"
"Kau menyebalkan...kenapa tidak kita pulang saja sekarang dengan mobilmu? biar dia menyusul ke rumah saja" ucap Bee kembali berkaca-kaca.
"Aku menghubunginya tentu saja calon suamimu harus mengetahui apa yang terjadi pada mu malam ini, tunggulah aku rasa sebentar lagi juga datang" jawab Zayn melihat jam dipergelangan tangannya.
Pada kenyataan memang benar Zayn menghubungi Akbar, karena ia pikir Akbar lah yang seharusnya menjemput Bee namun karena Akbar berada lebih jauh dari lokasi, pria itu meminta Zayn untuk menyusul Bee terlebih dulu sebelum ia tiba.
Bee menatap kesal, Zayn benar-benar tampak berbeda sekarang. Zayn melihat Bee kedinginan dalam senyap dan keterdiaman mereka berdua pria ini memakaikan mantelnya pada tubuh Bee yang tampak memeluk sendiri.
Bee melunak seketika menerima mantel itu dan memakainya seraya mengulum senyum. Namun tidak lama senyumnya pun pudar ketika sebuah mobil lain tiba disana.
Akbar keluar mobil dengan tergesa, ia menghampiri dua orang yang berdiri tidak jauh dari mobil Zayn berada.
__ADS_1
"Sayang....kau tidak apa-apa? mana yang sakit? apa kau terluka?" tanya Akbar cemas seraya memegang pundak calon istrinya.
"Tidak.....aku tidak terluka, hanya kakiku terkilir sedikit sekarang sudah lebih baik, aku baik-baik saja Akbar tenanglah" jawab Bee seraya melirik Zayn disampingnya.
"Huh....syukurlah, aku sangat mencemaskanmu kenapa kau tidak menghubungiku langsung?"
"Maaf.....aku terlalu cemas, ayo pulang saja aku sudah lelah" jawab Bee sendu.
Zayn melihat mereka hanya diam saja, ia sesekali memalingkan wajah ketika Akbar memberikan seluruh perhatiannya pada Bee.
"Baiklah....hei ini apa mantelnya Zayn?"
Bee mengangguk saja.
"Ayo lepaskan, pakai punyaku saja" ucap Akbar melepaskan mantelnya berniat memberikan pada Bee.
Bee dengan ragu pun hanya bisa melepaskan kembali mantel Zayn yang baru ia pakai beberapa saat lalu, memberikannya pada Zayn.
Lalu Akbar memakaikan mantelnya pada tubuh perempuan itu, Bee melirik Zayn yang hanya menunduk saja.
"Ayo pulang, apa masih sakit? ingin ku gendong?" tanya Akbar karena melihat jalan Bee agak pincang.
"Tidak....tidak.... aku bisa jalan sendiri, maafkan aku merepotkanmu, ayo pulang sekarang" tolak Bee pada Akbar yang ingin menggendongnya.
Zayn memejamkan matanya sejenak menetralisir perasaan mendengar percakapan calon suami istri tersebut.
"Zayn....terimakasih banyak sudah menjaga calon istriku, maaf kami akan pulang duluan" ucap Akbar.
"Tidak masalah, berhati-hatilah" Zayn mengangguk.
Bee menatap jelas wajah Zayn memerah dengan mata berkaca-kaca menatap kepergian mereka. Memang benar Zayn hanya bisa menghela napas panjang tidak terasa sudut matanya telah basah menatap mobil Akbar menjauh.
"Aku hanya ingin membiasakan diri saja Bee bahwa kau memang memiliki Akbar saja sekarang......" gumam Zayn sendu, pria ini memejamkan mata sejenak seraya menghembus napas perlahan lalu ia memutuskan kembali pada mobilnya meninggalkan tempat itu.
######
__ADS_1