Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas

Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas
Chapter 77


__ADS_3

"Tuan Akbar....." sapa Yasmin ketika Akbar melewatinya di dapur.


Pria itu tidak menjawab, ia hanya mengambil air di dalam kulkas, meminumnya dan kembali berlalu dari sana tanpa menghiraukan Yasmin.


Membuat Yasmin merasa bersalah, ia mengikuti langkah Akbar menuju ruang kerjanya berniat meminta maaf atas kejadian kemarin.


Sesampai di ruang kerja, Akbar menatap heran kenapa pelayan cantik itu mengikutinya.


"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Akbar tajam.


"Tuan....aku hanya ingin meminta maaf padamu tentang kemarin, aku juga tidak tahu kenapa kau bisa semarah itu padahal aku tidak berbuat apa-apa, hanya numpang duduk saja di kursi itu tapi kau malah ingin membunuhku di kolam renang, apa istimewanya kursi itu? terlihat biasa saja" ucap Yasmin enteng tanpa takut seraya ekor matanya menatap kursi yang ia duduki kemarin.


"Apa? jadi kau masih belum tahu kesalahanmu?" tanya Akbar geram.


"Apa salahnya cuma numpang duduk saja di kursi mu, lagi pula kursi memang tempat duduk bukan?" jawab Yasmin lagi.


Akbar mencengkram wajah Yasmin geram namun pelan, membuat wanita ini menjadi bergidik ngeri melihat mata Akbar tepat di hadapan wajahnya.


"Tuan....." ucap Yasmin ketakutan.


"Kau tahu....kau sudah menjatuhkan lukisanku hingga pecah" jawab Akbar sambil menarik kasar tangan gadis yang memakai seragam pelayan tersebut menuju nakas tempat lukisan Bee yang hanya tinggal secarik kanvas saja tanpa bingkai seperti kemarin.


Yasmin terkejut "Tuan.....aku tidak menjatuhkannya, atau aku tidak sengaja jadi maafkan aku tuan jangan marah-marah lagi oke....ini hanya sebuah lukisan, lagipula kau bisa mengganti bingkainya dengan mudah bukan? kau kaya raya mustahil hanya karena lukisan wanita ini kau hampir membunuhku kemarin, jika hanya masalah bingkai baiklah kau boleh memotong gajiku sebagai gantinya"


Ucap Yasmin polos.


"Apa? kau bilang apa? lukisan biasa?" tatap Akbar tajam dengan nada marah.


"Iya....lagipula itu hanya sebuah lukisan, memang wanita di dalamnya cantik tapi tetap saja hanya sebuah lukisan bukan orang aslinya, jadi kau tidak perlu menghukumku berlebihan tuan.... baiklah aku akan mengganti bingkainya nanti jika aku gajian dua hari lagi, aku heran apa dia pacarmu? atau almarhum istrimu?"


Lagi-lagi Yasmin bicara menurut yang ada dalam pikirannya. Memang benar ia tidak mengetahui kisah Akbar dan Bee sebelumnya karena gadis ini tidak diperbolehkan banyak tanya tentang kehidupan pribadi majikannya ini pada pelayan lain yang memang telah bungkam sejak lama sejak mereka tahu Akbar gagal menikah dengan Yasmin sebelumnya.

__ADS_1


"Baiklah.....gadis tidak tahu terimakasih, aku tidak akan berbasa basi lagi, silahkan kau angkat kaki dari rumahku. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi, aku tidak peduli jika kau mati kelaparan atau apa di luar sana, atau kau bisa kembali ke rumah orangtuamu, sudah cukup aku membantumu sampai hari ini. Jangan tampakkan wajahmu lagi di hadapanku, kau tidak pantas menjadi pelayan sekalipun di rumah ku ini"


"Apa? tuan Akbar jangan bercanda....kenapa kau menyalahkan ku lagi? apa salahku? ayolah jangan seperti ini, kau majikan yang baik tuan kenapa kau mengusirku seenaknya"


Akbar tidak menjawab lagi, ia menarik kasar lengan Yasmin dan menyeratnya paksa keluar rumah sore itu.


"Tuan.....aduh sakit" Yasmin mengaduh pada lengannya yang memerah.


"Pergi sejauh mungkin dari sini, akan ku bunuh kau jika masih berani menampakkan wajah dihadapanku" ucap Akbar dengan nada marah dan berapi-api.


Yasmin ternganga, ia tidak menyangka niat baiknya ingin meminta maaf malah berujung pengusiran dirinya dari rumah besar nan mewah tersebut. Ia pun masih bingung dengan kejadian yang sangat cepat ini.


Yasmin menatap pintu yang tertutup dengan perasaan kacau.


"Apa salahku? kenapa aku di usir? Tuan....Tuan Akbar....buka pintunya" Yasmin mengetuk-ngetuk pintu itu seraya memanggil Akbar.


Semua pelayan melihat kejadian itu hanya bisa diam tidak berani membantah terlebih Akbar sudah memperingatkan mereka jika ada yang berani membela Yasmin maka mereka juga aka n diusir dari sana.


"Huh....dia pikir aku tidak bisa hidup apa? baiklah aku akan pergi dari sini, dasar pria kejam hanya karena lukisan biasa itu kenapa dia semarah tadi sampai mengusirku segala. Siapa wanita itu? aku penasaran, apa dia mendiang kekasih atau istrinya hingga tuan Akbar marah seperti ini, huh....tapi para pelayan tidak ada yang bercerita tentang siapa wanita yang pernah dekat dengan pria itu. Menyebalkan baru 29 hari bisa makan dan tidur nyenyak jauh dari ayah tiri sialan itu, sekarang aku harus kemana?"


"Aku bahkan tidak memiliki satu pakaianpun selain pakaian pelayan ini yang melekat ditubuhku, aku harus makan apa malam ini?" gumamnya lagi kebingungan, sebab Akbar mengusirnya tanpa boleh membawa apa-apa meski pakaian sekalipun.


Egonya sebagai perempuan pun dipertaruhkan, ia menguatkan hati dan langkah kakinya menuju sebuah ruko yang kosong terdapat bangku disana, Yasmin duduk beristirahat sambil berpikir.


Hari yang kian senja, matahari meninggalkan ufuknya dan malam pun menjelang, awan hitam pekat disertai angin yang mulai bertiup kencang sebagai tanda akan hujan sebentar lagi yang akan turun membasahi kota.


Yasmin meringkuk memeluk dirinya sendiri, ia sungguh tidak tahu harus kemana sekarang, beruntung hari ini ia memakai seragam bercelana panjang hingga ia tidak begitu kedinginan, perutnya mulai lapar karena sudah waktunya makan malam, suasana begitu sunyi dan sepi tidak banyak kendaraan yang lewat terlebih rintik hujan sudah mulai turun.


"Aku tidak mau pulang ke rumah ibu, aku tidak mau menikah dengan tua bangka itu. Lebih baik mati kelaparan disini daripada jadi istri si tua bangka sialan itu, ueek....menjijikkan" Yasmin bergumam sendiri mengingat wajah pria tua yang dijodohkan ayah tirinya.


"Oh.....tuan Akbar kenapa mengusirku seperti ini, setidaknya berilah gajiku untuk bertahan hidup, ah kenapa aku sampai lupa kenapa aku bisa jalan sejauh ini seharusnya aku menagih gajiku dulu sebelum pergi, ya Tuhan....makan apa aku malam ini? meski 29 hari sudah hampir satu bulan juga kan, seharusnya beri aku gaji dulu baru mengusirku....ahhhhh tuan Akbar sialan" kesal Yasmin lagi.

__ADS_1


"Apa aku menjual diri saja? ah.... pikiran apa ini? hidup belum berakhir Yasmin, ayolah berpikir jernih. Huh menjual diri juga siapa yang akan membeli gadis berpakaian pelayan seperti ini? meski ujungnya akan menjual diri tentu aku butuh modal juga untuk membeli pakaian seksi bukan? hah......pikiran apa ini? sial sekali hidupku"


Gumam Yasmin lagi dan lagi, sampai pada perutnya yang lapar hilang oleh sebuah kantuk yang datang di sela hujan yang mulai deras.


******


Akbar baru saja pulang dari pertemuan dengan temannya malam ini, ia melewati ruko kosong yang berada di ujung jalan menuju rumahnya, tidak sengaja ia melirik pada perempuan yang meringkuk kedinginan di atas bangku di sana.


Pria ini mengenali pakaian wanita itu, iya pakaian khas pelayan di rumahnya, lalu ia memberhentikan mobilnya di depan ruko, Akbar tidak turun ia memperhatikan saja tubuh Yasmin tertidur disana.


"Huh.....apa dia bisa bertahan hidup seperti itu? dasar gadis sialan, tidak tahu terimakasih sudah ditolong malah selalu membuatku repot dan marah" gumam Akbar kesal, lalu ia memilih menjalankan kembali mobilnya tanpa ada niat menolong Yasmin untuk kedua kalinya.


Namun baru saja meninggalkan area ruko, ia memejamkan mata seraya bernapas kasar dan memukul setir mobilnya dengan kesal.


"Ah...dasar gadis gila selalu saja merepotkan ku, kenapa masih menampakkan diri di hadapanku" kesal Akbar kembali memundurkan mobilnya ke depan ruko.


Dengan kesal ia turun menghampiri Yasmin, lama ia menatap wajah cantik yang tampak pucat karena angin tersebut.


Akbar mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya ia menyerah juga oleh nuraninya sebagai lelaki sejati yang tidak membiarkan wanita dalam keadaan seperti itu, ia menggendong tubuh Yasmin yang sudah terasa sangat dingin tersebut menuju mobilnya, ia heran Yasmin bahkan tidak terganggu oleh suara dan gerakannya wanita itu tetap saja terpejam dengan lelapnya.


"Huh....dia tidur seperti orang mati saja, bagaimana jika pria jahat yang mendekati bahkan bisa saja diperkosa, jika bukan karena aku punya adik perempuan tidak sudi aku menolong mu lagi gadis gila"


Gumam Akbar kesal namun sesekali ia memperhatikan wajah cantik yang tertidur bersandar menghadapnya, entah kenapa ada perasaan lain ketika menatap wajah teduh Yasmin ketika tidur tersebut, namun dengan cepat ia menepisnya.


"Dia cantik ketika tidur, namun sungguh menyebalkan jika sedang bangun" Akbar lagi-lagi geleng kepala dibuatnya, namun tidak ada yang menduga sebuah senyum tipis terbit disudut bibirnya.


#####


Ga papalah ya kisah Akbar-Yasmin nempel sana sini dulu, menjelang adiknya Rayyan lahir yakkkk, karena kisah mereka akan selalu beriring dan berhubungan hingga Rayyan dewasa nanti.


Tetap stay tune.

__ADS_1


ini visualnya Yasmin kuadrat.



__ADS_2