Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas

Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas
Chapter 44


__ADS_3

"Nona Yasmin.....tuan Akbar menunggumu di perpustakaan, beliau menyuruhmu kesana jika nenek sudah minum obat dan tidur" ucap bi Maya pada Bee yang baru saja menutup pintu kamar nenek Farida.


Bee bersyukur sudah satu tahun ia bekerja, belum menemui kendala yang berarti sebab nenek Farida mengalami demensia ringan saja, hanya saja harus terus menjaga perasaannya agar tidak banyak yang terbebani pikiran tentang sesuatu yang berat, Bee diperlakukan dengan baik disana selain bekerja secara profesional Bee juga seperti menemukan sebuah keluarga baru dimana nenek dan pelayan-pelayan disana sangat ramah dan tidak menganggapnya sebagai orang lain.


Satu tahun pula Bee tidak bisa merubah perasaannya, memang ia nyaman berada dan dihargai disana namun tidak senyaman berada di negara sendiri terlebih perempuan ini hanya bisa move on di bibirnya saja dari dua orang yang masih menguasai hatinya yaitu mantan suami dan seorang putra yang bahkan ia tidak tahu kabarnya hingga sekarang, terus mendoakan yang terbaik untuk Zayn dan putra mereka Bee berharap semuanya akan membaik seiring waktu.


Bee juga berkomunikasi lancar dengan dua adiknya, selama satu tahun ia rutin mengirimkan uang untuk keperluan hidup dan pendidikan mereka, iya Mawar dan Rafly lah yang menjadi alasan Bee tetap bertahan agar bisa melanjutkan hidup lebih baik lagi sampai kedua adiknya lulus sekolah dan meraih cita-cita.


Karena tidak ada yang bisa mereka andalkan selain kerja keras mereka sendiri, namun akhir-akhir ini Bee merasa lain dari tuan rumah tempatnya bekerja.


Akbar, pria itu sering mengajaknya mengobrol hanya sekedar bertukar pikiran dan bercanda di waktu senggang pria yang hobi melukis itu.


Bee mengangguk pada bi Maya "Baik bi Maya, aku akan kesana, nenek sudah tidur sekarang"


Bee berjalan menuju perpustakaan tempat dimana pria bermata hitam itu berada sekarang, melangkah masuk kesana tatapan mereka kembali bertemu seakan sudah menjadi kebiasaan Akbar selalu meluangkan waktu untuk berbicara pada Bee setiap harinya seperti sedang saling mengenal lebih jauh namun Bee masih tidak merasa apa-apa, perempuan ini berpikir pria itu hanya butuh seorang teman saja.


"Tuan mencariku?" tanya Bee.


"Masuklah...."


Bee melangkah mendekat dan segera duduk di hadapan pria yang sedang memegang sebuah buku itu.


"Kenapa belum tidur?" tanya Bee berbasa basi.


"Aku menunggumu, aku tidak bisa tidur jika kita belum mengobrol hari ini" jawab Akbar tersenyum penuh makna.


Bee terkekeh, mereka akrab tiga bulan terakhir jadi sudah tidak canggung satu sama lain, meski Bee sudah menceritakan tentang perjalanan hidupnya yang merupakan seorang janda, namun Akbar sama sekali tidak merasa terganggu akan hal itu.

__ADS_1


"Baiklah tuan mau bicara apa? Kita bahkan tidak pernah absen bicara setiap malam, apa tuan ingin membahas masalah kontrakku yang akan segera berakhir?" tanya Bee lagi.


"Apa kau keberatan menemaniku mengobrol? bukan soal kontrak kerja, entahlah aku merasa nyaman jika bicara denganmu, aku ingin mengenalmu lebih jauh Yasmin...." ucap Akbar memberanikan diri.


Membuat Bee mengernyit heran "Apa maksud tuan mengenal lebih jauh?"


"Ayolah Yas....sudah berapa kali ku katakan jangan panggil aku tuan lagi, aku bukan majikanmu"


"Tapi kau bosku" jawab Bee terkekeh.


"Ayolah panggil namaku saja, jika mau kau boleh memanggilku sayang" jawab Akbar serius.


Bee terdiam.


"Yasmin.....aku tidak mau berpura-pura lagi, aku menyukaimu bahkan sejak pertama kau datang kesini"


"Maaf tuan....." ucap Bee menelan ludah.


"Yasmin....aku tahu kau mungkin masih trauma membina rumah tangga, namun ketahuilah aku benar-benar jatuh cinta padamu....aku serius dengan perasaanku" ucap Akbar menatap mata Bee penuh makna.


"Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya pada wanita, meski kau janda sekalipun aku tidak peduli....kau benar-benar berbeda dari perempuan lain, aku bukan hanya ingin menjadi temanmu tapi juga ingin sekali menjadi teman hidupmu"


Bee kembali terdiam, hal inilah yang perempuan berhidung mancung itu takutkan jika terus akrab dengan Akbar yang memang tampak berbeda dalam menatapnya, bukan tatapan seorang teman melainkan tatapan dari seorang lelaki pada seorang perempuan.


"Maaf tuan Akbar....aku rasa tidak seharusnya kau menyukai perempuan sepertiku, kau pria sukses tentu bisa mendapat wanita yang jauh lebih layak" ucap Bee yang tidak tahu ingin menjawab apa.


"Layak tidaknya hatiku lah yang menentukannya, aku tidak pernah meragukan hatiku Yasmin.....aku mencintaimu, maaf aku membuatmu terkejut karena pengakuan ini namun aku sudah tidak bisa menahannya semakin lama dan seringnya kita bertemu membuatku merasa gila jika terus ku pendam, aku sudah lama menyukaimu Yasmin, aku ingin serius dengan perasaanku" ucap Akbar mantap sambil tangannya meraih kedua tangan Bee yang sudah berkeringat dingin mendapat tatapan cinta dari mata pria itu.

__ADS_1


Bee segera menarik kembali tangannya, entah kenapa seakan hatinya kembali sakit menerima perlakuan manis seorang pria.


"Maafkan aku tuan Akbar, aku....aku....belum bisa menjawabnya, aku senang kau baik padaku, aku juga merasa nyaman tinggal disini dimana semua orang menghargaiku seperti keluarga sendiri, tapi.....aku belum bisa maafkan aku" jawab Bee menunduk menahan airmatanya.


"Aku akan sabar menunggu jawabanmu Yasmin, aku akan menunggu.....aku yakin kau akan menerima ku nanti, ayolah jangan merasa canggung, kau membuatku malu Yas....ternyata ada juga perempuan yang menolakku sekarang" ucap Akbar terkekeh.


******


Berbeda dengan seorang pria di tanah air, dimana ia menjalani hidup yang terasa mati selama satu tahun terakhir sebab sampai saat ini ia tidak bisa menemukan perempuan yang ia cintai sekaligus ibu dari putranya yang baru saja pandai berjalan. Bee meninggalkannya tanpa jejak.


Melewati hidup yang hampa membuat Zayn berubah menjadi pria yang hanya fokus pada pekerjaan dan putranya saja saat ini, tidak membuka peluang untuk perempuan lain mendekatinya, Zayn masih sama masih menjaga hatinya hanya untuk Bee nya seorang meski ia tidak tahu kapan ia bisa bertemu dengan perempuan yang benar-benar mengikat hatinya itu.


Ia tinggal bersama orangtuanya, namun sesekali tetap pulang ke rumah mewah yang ia miliki bersama Bee ketika dulu, bi Sumi tidak ia berhentikan, pelayan paruh baya itu tetap dipekerjakan oleh Zayn untuk menjaga dan merawat rumah mewah itu jika saja Bee pulang nantinya, namun hingga satu tahun belum juga ada tanda-tanda mantan istrinya itu kembali.


Rumah itu tidak ada yang berubah, Zayn tidak mengizinkan siapapun merubahnya, kamar yang masih sama lemari yang masih terisi pakaian yang masih Bee tinggalkan disana, alat make up yang masih tersusun rapi, Zayn tidak merubahnya sama sekali seakan lelaki ini terus hidup dalam kenangan jika ia pulang ke rumah itu.


Tak jauh berbeda dengan kamar di rumah orangtuanya, Zayn memenuhi kamar itu dengan photo mantan istrinya itu agar sang putra terbiasa memandang wajah ibunya kapan saja, Rayyan benar-benar tumbuh dalam buaian sang ayah yang selalu memprioritaskan nya.


Begitu dekat, Rayyan bahkan tidak bisa tidur jika bukan dengan daddy nya, anak lelaki itu hanya tinggal bersama sang nenek jika Zayn sedang bekerja saja, selebihnya mereka tidak terpisahkan. Tidur ditemani photo Bee disamping mereka tentu sudah biasa.



(ini waktu Rayyan masih bayi ya, udah bobo sama daddy nya, karena cuma daddy yang dia punya, aduhhh sedihhhh)



__ADS_1


(Sampai Rayyan berumur 1,2 tahun sekarang hanya daddy Zayn yang bisa gini kali ya)


__ADS_2