Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas

Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas
Chapter 88


__ADS_3

Yasmin masih menunduk malu ketika mereka telah sampai kost gadis itu. Akbar pun canggung sendiri ia hanya mengusap lehernya yang tidak gatal berhadapan dengan Yasmin yang sudah ingin masuk.


"Tuan, kau ingin mampir atau ?" Yasmin memulai pembicaraan.


"Tidak, aku akan langsung pulang saja. Ingat jangan menerima tamu lelaki, aku tidak menyukainya" jawab Akbar ambigu.


"Apa?" tanya Yasmin kembali bingung dengan ucapan Akbar yang tampak ragu.


"Hmmmm maksudku, kau seorang gadis tidak baik menerima tamu lelaki di sini" jawab Akbar terbata.


"Bukankah kau juga lelaki?"


"Banyak tanya, terserah kau saja" jawab Akbar kesal.


Akbar segera berjalan ke arah mobilnya lagi ingin segera pergi.


"Kenapa dia marah?" gumam Yasmin manatap punggung Akbar menjauh.


"Astaga..... bagaimana nasib pekerjaanku?" Yasmin baru menyadari setelah Akbar pergi dari sana. Yasmin menjadi gelisah sendiri tentang bagaimana nasib pekerjaannya jika mengingat perkataan Akbar yang kembali memecatnya dari restoran.


"Aaaaa....tuan Akbar kau benar-benar jahat, bagaimana ini aku akan kerja apa lagi?" gumam Yasmin sambil berjalan menghentakkan kaki ke sana kemari.


*****


Benar saja keesokan harinya Yasmin datang ke restoran untuk bekerja seperti biasa dan mendapat jadwal sore sampai malam, namun ia diminta bertemu dengan atasannya Daffa di ruang kerja. Entah apa yang mereka bicarakan hingga ketika Yasmin keluar dari sana gadis itu tampak menangis.


"Hei kau kenapa menangis Yasmin?" tanya salah satu teman pelayannya.


"Maafkan aku jika ada salah selama bekerja di sini, aku benar-benar dipecat" ucap Yasmin menangis memeluk temannya, ia tidak tahu harus berkata apa ketika keputusan Daffa yang telah memberhentikannya bekerja di sana dengan alasan pemilik restoran yang tidak lain adalah Akbar sendiri yang tidak menginginkannya lagi.


Setelah berpamitan pada semua teman pelayan Yasmin berjalan gontai meninggalkan restoran, namun setidaknya ia merasa senang bahwa hanya dia yang dipecat tidak termasuk Adnan.


Yasmin baru saja akan menyebrang jalan namun terhenti ketika Adnan memanggilnya, Yasmin berbalik badan menghadap pria itu.


"Kak Adnan?"


"Yasmin, apa kau dipecat karena aku mengajakmu kencan kemarin? aku benar-benar minta maaf, aku juga baru tahu bahwa ada peraturan baru tidak boleh berkencan sesama pegawai di sini" ucap Adnan merasa tidak enak hati.


"Tidak, jangan salahkan dirimu mungkin memang bukan rezeki ku untuk kerja di sini, masuklah nanti tuan Daffa bisa melihatmu menyusulku, aku tidak ingin kau ikut dipecat"


"Yasmin, apa masih boleh aku dekat denganmu meski kau tidak bekerja lagi di sini? aku tidak keberatan, aku serius ingin mengenalmu" ucap Adnan memegang kedua tangan Yasmin.


Yasmin terdiam, mereka saling menatap satu sama lain, Yasmin melirik tangannya yang digenggam oleh Adnan, gadis ini melihat jelas raut tulus dari salah satu koki terbaik restoran.


Tanpa mereka sadari, Akbar melihat adegan pegangan tangan yang membuatnya cukup meradang, entah kenapa Akbar tidak menyukai itu. Pria ini sengaja datang untuk menjemput Yasmin setelah dihubungi oleh Daffa bahwa gadis cantik itu telah dipecat dan keluar restoran. Akbar berniat menawarkan kembali Yasmin untuk bekerja di rumahnya saja seperti dulu.

__ADS_1


Akbar menggertakkan gigi geram menatap tajam dari dalam mobilnya pada dua orang yang masih saling menatap satu sama lain dengan tangan masih tampak saling menggenggam. Akbar memutar mobilnya dengan kesal ia memilih pergi dari sana sebelum bertemu Yasmin.


"Tentu kita masih bisa berteman kak Adnan, aku senang ada pria baik sepertimu yang ingin berteman denganku..... aku bersyukur bisa kenal denganmu" jawab Yasmin tersenyum.


"Terimakasih Yasmin, aku serius dengan kedekatan kita.... soal pekerjaan kau jangan khawatir, besok aku akan menghubungi temanku di restoran lain mana tahu ada pekerjaan yang cocok denganmu"


Yasmin mengangguk dengan semangat.


"Baik kak, aku sangat senang mendengarnya....baiklah aku akan pulang saja, masuklah nanti tuan Daffa melihatmu, hubungi aku jika besok temanmu menawarkan pekerjaan itu" ucap Yasmin tersenyum, ia merasa lega bahwa ada ada sedikit harapan baginya untuk mendapatkan pekerjaan lain.


Mereka berpisah, Yasmin pulang dengan taksi menuju kostnya, hujan mulai rintik ia menatap merenung keluar jendela mobil, ia masih kecewa akan kehilangan pekerjaan hari ini, Yasmin pun merasa Akbar kejam terhadap dirinya hanya karena ketahuan kencan sesama pegawai langsung main pecat saja.


"Kenapa kau jahat padaku tuan Akbar? apa kau masih menyimpan dendam padaku soal lukisan itu, sudah memberi harapan dengan pekerjaan ini, sekarang aku dipecat lagi, apa mau mu sebenarnya, huh.... pria itu memang menyebalkan, sudah berani menciumku kemarin sekarang memecatku seenaknya" gumam Yasmin kesal namun hanya bisa berkata dalam hati saja.


Yasmin keluar taksi dan berjalan lesu menuju kostnya, ia tidak peduli rintik hujan yang mulai kasar membasahi tubuhnya. Matanya terus menatap kosong ke arah bawah, airmatanya menetes mengingat sungguh nasibnya belum beruntung hingga sekarang.


Sampai langkahnya terhenti mendadak ketika merasa akan menabrak seseorang, ia naikkan wajah menatap pria yang berdiri di hadapannya menghalangi jalan menuju kostnya yang hanya berjarak sepuluh meter lagi.


"Tuan Akbar?" Yasmin terkejut.


"Darimana saja kau?" tanya Akbar dingin.


"Kenapa bertanya? apa kau tidak lihat seragamku? aku dari restoran, namun sayang harus pulang karena aku sudah tidak dibutuhkan lagi di sana, kau kembali memecatku bukan? kenapa repot bertanya" jawab Yasmin menggebu.


"Apa kalian pacaran?" tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul dari bibir Akbar.


"Kalau iya kenapa? apa pedulimu? bukankah aku sudah dipecat sekarang jadi kami bisa bebas pacaran, kau tidak mau ada sesama pegawaimu pacaran namun sekarang aku bukan pegawaimu lagi, kenapa kau ke sini apa ingin menertawaiku karena kehilangan pekerjaan lagi?" jawab Yasmin masih dengan emosinya.


Akbar tidak menjawab, namun siapa sangka lelaki itu langsung menyambar bibir Yasmin dan menciumnya dalam-dalam seraya tangannya memegang kuat tengkuk Yasmin agar tidak berontak.


Yasmin terkejut bukan main, ia membelalakkan mata, ingin menghindar namun Akbar lebih kuat menahannya. Rintik hujan yang membasahi keduanya seakan tidak berarti apa-apa.


Akbar melepas ciumannya karena merasa kasihan gadis itu tersengal bernapas.


"Tuan Akbar?" Yasmin meneteskan airmata.


"Jangan dekati pria manapun, aku tidak menyukainya......"


"Apa maksudmu?" tanya Yasmin lagi.


Akbar menghapus airmata gadis itu dengan lembut.


"Mulai saat ini, kau tidak boleh sembarang dekat dengan siapapun.....aku akan sangat marah jika kau melakukannya, apa kau mengerti?" tanya Akbar pelan.


Yasmin bagai tersihir oleh mata hitam Akbar pun hanya mengangguk pasrah tanpa tahu maksud dari perkataan Akbar yang masih terdengar ambigu.

__ADS_1


Akbar menarik Yasmin dalam pelukannya, lama saling diam dan meresapi perasaan masing-masing. Yasmin bisa mendengar jelas detak jantung Akbar yang berdegup kencang sama seperti yang ia rasakan saat ini.


Sampai pada gerimis berubah menjadi hujan, karena tidak ingin kebasahan Akbar pun menggenggam tangan Yasmin dan menariknya menuju mobil. Lagi-lagi Yasmin hanya menurut saja.


Setelah di dalam mobil barulah Yasmin kembali pada pikirannya.


"Tuan kita mau kemana?"


"Ke rumah orangtua mu" jawab Akbar singkat dan tersenyum melirik Yasmin.


"Apa?"


"Tuan jangan bercanda, apa kau akan memaksaku pulang?" tanya Yasmin heboh.


"Memangnya kenapa?" tanya Akbar enteng.


"Tidak, aku tidak mau..... tuan Akbar ku mohon jangan mempermainkan ku, kita mau kemana?"


"Apa aku terlihat main-main? cepat tunjukkan alamatnya!"


"Tidak, aku tidak mau pulang kenapa kau seperti sedang mempermainkan aku tuan Akbar, kau memecatku, kau menciumku sekarang kau mau antar aku pulang pada ayah tiriku, aku tidak mau"


"Kenapa kau begitu cerewet, cepat katakan dimana alamatnya?"


"Tidak mau"


"Cepat katakan, percaya padaku oke" Akbar menggenggam tangan Yasmin lembut membuat gadis itu luluh.


Setelah memberitahu, mereka pun sampai pada sebuah rumah besar yang banyak penjaganya.


Akbar menggenggam tangan Yasmin, meski terpaksa Yasmin hanya menunduk dan bersembunyi di balik punggung Akbar ketika mereka telah masuk ke dalam rumah yang sudah lama Yasmin tinggalkan.


Mereka duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya di sebuah ruang tamu, pria itu menatap sinis pada anak tiri yang telah lama ia cari.


"Aku tidak akan berbasa basi, kedatanganku ke sini hanya ingin menghormatimu sebagai ayah sambung dari Yasmin, aku akan menikahi gadis ini untuk menjadi istriku......"


"Apa?" Yasmin lagi-lagi terkejut bukan main.


Gadis itu menarik tangan Akbar ingin bicara, namun Akbar menggenggamnya kuat dengan mata tetap bertatap pada ayah tirinya.


"Aku harap hubungan kalian bisa membaik, paman tidak perlu mencari atau mengurusi Yasmin lagi, dia akan menjadi tanggung jawabku setelah ini"


"Tuan, kalau bercanda tidak seperti ini juga" bisik Yasmin pada telinga Akbar.


Akbar tidak menjawab.

__ADS_1


__ADS_2