Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas

Ku Lepas Kau Dengan Ikhlas
Chapter 89


__ADS_3

"Ha ha ha, tuan lihat sendiri bukan wajah pria tua menyebalkan itu? wajahnya merah ketika kau bilang ingin menikahiku, sayang sekali Queen tidak ada tadi jika ada tidak tahu dia akan meradang seperti apa, kau tahu tuan Akbar bukan hanya aku yang mengagumi mu dari majalah, tapi juga Queen saudara tiriku juga menyukai kharisma mu, tidak bisa ku bayangkan jika dia tahu kau bersandiwara seperti tadi" ucap Yasmin sambil memegang perutnya tertawa geli.


Akbar melirik tajam pada Yasmin di samping kemudi, mereka dalam perjalanan menuju pulang ke rumah pria itu.


"Tuan, kenapa melihatku seperti itu? maaf jika aku salah bicara, tapi terimakasih banyak tuan membantuku tadi setidaknya aku bisa membawa pakaian dan beberapa barang peninggalan ibuku tanpa takut pada mereka" ucap Yasmin lagi tersenyum pada Akbar, gadis ini masih mengira Akbar hanya bersandiwara saja ketika melamarnya tadi.


"Apa aku terlihat bersandiwara? kau memang gadis menyebalkan" kata Akbar kesal menatap Yasmin.


Yasmin menjadi heran.


"Tentu saja bersandiwara bukan? mana mungkin kau mau menikahiku yang hidup saja tidak jelas seperti ini" ucap Yasmin geleng kepala seraya terkekeh.


Akbar kesal mendengarnya, ia tidak menghiraukan racauan Yasmin di sampingnya, sampai ia menghentikan mobil di depan toko bunga di pinggir jalan secara mendadak.


"Tuan kenapa berhenti? apa kau ingin membeli bunga?" tanya Yasmin polos.


"Iya" jawab Akbar singkat.


"Ayo turun" ajak Akbar lagi.


Yasmin hanya menurut saja.


Akbar memilih bunga-bunga yang masih terpajang di sana. Pria itu melirik Yasmin yang hanya berdiri saja tidak berani mendekat.


"Kau seorang wanita, bunga seperti apa yang kau suka?" tanya Akbar pada Yasmin.


"Aku? tentu saja aku suka semua bunga, aku tidak pemilih aku penyuka semua bunga, bagiku semua bunga itu indah dan cantik, dulu ketika ibuku masih ada kami suka berkebun bunga di belakang rumah" jawab Yasmin polos.


"Lalu kenapa kau diam saja? apa kau tidak tertarik pada bunga yang ada di toko ini?" tanya Akbar lagi membuat Yasmin heran.


"Semuanya bagus, aku tidak sedang ingin membeli bunga tuan lagi pula untuk apa? bunga cantik seperti ini pasti mahal, aku mana punya uang, apa tuan sedang meminta pendapatku? memangnya tuan ingin memberikan pada siapa? apa tuan akan mengirimkan pada kerabat atau pada acara ulang tahun atau pernikahan atau bahkan pada seorang gadis? karena semua harus sesuai temanya" jawab Yasmin panjang lebar.


Lalu Akbar memanggil pelayan toko tersebut dan mengatakan bahwa dia ingin borong semua bunga yang masih terpajang di sana membuat pelayan dan Yasmin terkejut dengan permintaan Akbar.


"Tuan kenapa membeli semua?" tanya Yasmin lagi.


"Karena kau menyukai semuanya" jawab Akbar enteng membuat Yasmin mengernyit.


"Apa? itu kan pendapatku saja tuan, jika tuan akan mengirim pada seseorang tentu harus sesuai temanya, memangnya untuk siapa bunga ini?"

__ADS_1


"Untukmu" jawab Akbar seraya mengambil satu tangkai mawar merah dan memberikannya pada Yasmin yang ia dekati.


Yasmin terperangah, ia belum sempat berkata-kata karena Akbar meraih tangannya dengan lembut dan tatapan penuh damba.


"Tuan?"


"Menikah denganku, aku tidak sedang bersandiwara Yasmin Syazaniah.....aku serius dengan perkataanku di depan ayahmu tadi, dan aku juga tidak sedang bercanda membeli semua bunga di sini karena kau sendiri yang bilang menyukai semuanya, sekali lagi Yasmin Syazaniah menikahlah denganku.....aku melamarmu dengan semua bunga ini"


Akbar berkata mantap dan serius, Yasmin tidak tahu apa ini mimpi atau bukan. Ia sama sekali tidak mengira mendapat kejutan berkali-kali dari Akbar.


"Tuan Akbar? apa ini? maksudku.....astaga" Yasmin menjadi salah tingkah, namun dengan cepat Akbar memegang wajahnya agar kontak mata mereka tidak terputus.


"Aku butuh jawabanmu" kata Akbar lagi.


Yasmin meneteskan airmata, ia tidak tahu harus berkata apa lagi sungguh ia merasa haru sekaligus mimpi.


"Tuan, aku memang mengagumimu sejak dulu bahkan sebelum kita bertemu, aku menyukaimu hanya dengan melihat wajahmu terpajang di majalah, meski kau pria menyebalkan namun aku tetap menyukai mu, tentu saja aku mau siapa yang akan menolak jika dilamar lelaki sepertimu, aku hanya tidak menyangka akan jadi seperti ini, maksudku kau tahu sendiri aku perempuan seperti apa dan berasal darmana, yang benar saja kau melamarku, bagaimana jika kau hanya mengerjaiku saja?" ucap Yasmin yang sudah menangis.


"Apa aku terlihat bercanda?" tanya Akbar serius.


Yasmin menggeleng, gadis ini berhambur memeluk Akbar seraya mengangguk dan menangis tersedu.


"Tentu saja aku mau, aku mau menikah denganmu meski kau menyebalkan sekalipun, apa itu artinya kau menciumku dua kali bukan main-main? apa kau menyukaiku?" tanya Yasmin dibalik pelukannya.


"Apa kau pikir aku mau mencium sembarang wanita? enak saja.....aku bukan lelaki murahan" jawab Akbar dengan nada bahagia.


Akbar menurunkan Yasmin ketika pelayan toko bertanya akan membawa semua bunga itu kemana, Akbar mengatakan ingin diantar ke alamat rumahnya.


"Kenapa ke rumahmu? kau bilang semua ini untukku? tentu saja antar ke kost ku" ucap Yasmin.


"Siapa bilang kau boleh kembali ke kost, kau akan pulang bersamaku, kau calon istriku.... sampai kita menikah kau akan tinggal di rumah, maksudku di kamar tamu bukan di kamar pelayan" jawab Akbar tersenyum.


Yasmin menggigit bibir bawahnya menunduk malu dan mengangguk.


"Terimakasih tuan Akbar" Yasmin kembali memeluk Akbar dengan bahagia.


******


Yasmin merasa mimpi luar biasa, bagaimana ia tengah berada di kamar tamu rumah besar Akbar dan di kelilingi berbagai jenis bunga yang tadi mereka beli satu toko, Yasmin tidak bisa berkata apa-apa lagi mengingat ini bukanlah mimpi, Rini yang tengah bersamanya saat ini juga tidak menyangka nasib buruk Yasmin tiba-tiba berubah sekejap mata, semua pelayan terkejut bukan main ketika Akbar pulang membawa Yasmin dan begitu banyak bunga dan mengatakan bahwa gadis itu resmi menjadi calon istrinya.

__ADS_1


Yasmin sudah memakai piyamanya dengan nyaman setelah mandi, ia mengobrol ringan bersama teman pelayannya Rini di balkon kamar yang ia tempati.


"Ehem" tiba-tiba Akbar muncul di sana.


"Oh.... tuan Akbar, maaf saya permisi" ucap Rini segera mengangguk setelah mendapat tatapan Akbar.


Setelah Rini pergi, Akbar mendekati Yasmin yang terlihat canggung dan gugup.


"Tuan belum tidur?" tanya Yasmin berbasa basi.


"Kenapa masih memanggilku begitu?"


"Maaf....." jawab Yasmin menunduk.


Akbar tersenyum, ia meraih tubuh Yasmin dan memeluknya dari belakang seraya menatap langit kelam habis hujan.


"Kau bisa memanggil namaku saja, karena sekarang aku calon suamimu bukan majikanmu" ucap Akbar.


Yasmin berbalik badan, ia memeluk Akbar dan membenamkan wajahnya di dada pria itu.


"Aku tidak tahu, aku merasa ini seperti mimpi saja.....ketahuilah aku bahagia sekali, sungguh aku mau menjadi istrimu" ucap Yasmin malu-malu.


"Aku akan mengurus semuanya agar pernikahan kita bisa segera dilaksanakan, tidak bagus niat baik ditunda, aku tidak ingin berlama lagi, besok Erina adikku akan pulang ke sini, kita akan menikah setelah aku mengabarkan keluargaku di Indonesia agar mereka meluangkan waktu untuk datang ke sini, kau bebas menentukan tema pernikahan yang kau impikan selama ini"


"Aku tidak punya pernikahan impian, aku akan menurut saja mana yang terbaik, kau mau menikahiku saja adalah impian terbesarku, aku tidak menginginkan yang lebih dari ini"


Yasmin lagi-lagi menangis.


"Berhenti menangis, seharusnya kau bahagia bukan?"


"Aku menangis bahagia" jawab Yasmin.


"Mana ada seperti itu" ucap Akbar terkekeh memeluk tubuh mungil itu gemas.


"Tidurlah, aku juga merasa lelah hari ini" ucap Akbar melepas pelukan dan mengecup bibir Yasmin sekilas.


Yasmin tersenyum dan mengangguk. Akbar berjalan menjauh ingin kembali ke kamarnya namun terhenti ketika Yasmin berlari memeluknya lagi dari belakang.


"Aku.... aku mencintaimu Akbar" ucap Yasmin tersenyum tapi malu.

__ADS_1


Akbar terkekeh, ia berbalik badan dan mengusap kepala gadis itu dengan sayang.


"Tidurlah.....kau akan puas mencintaiku setelah menikah nanti" ucap Akbar terkekeh.


__ADS_2