
Akbar menepati janjinya jika ia akan pulang ke Indonesia ketika weekend tiba, seperti hari ini ia sudah berada di tanah air namun pria ini belum juga mendapat kabar dari calon istri yang sejak ia tiba belum menerima telepon darinya, padahal buket bunga besar telah menanti perempuan itu untuk diterima dan berbagai oleh-oleh juga Akbar siapkan untuk calon anak tirinya.
Pria ini hanya bisa bersabar menunggu kabar dan menunggu ponsel Bee aktif kembali untuk menanyakan keberadaan perempuan itu.
******
Bee menutup hari ini dengan senyum bahagia, sebahagia perasaannya yang bisa menghabiskan waktu bersama putranya bermain dan jalan-jalan hingga lelah pun tidak begitu terasa apalagi mereka menutup hari ini dengan bermain air di pantai meski di awali dengan penolakan dari Zayn.
Sesampainya di halaman rumah, Bee dan Zayn mengernyit heran sebab mobil Akbar telah terparkir disana dengan sosok pria yang berdiri bersandar di badan mobil dengan buket bunga besar ditangannya sedang menunggu seseorang yang sejak tadi belum ada kabarnya.
Bee menjadi gugup, ia melirik Zayn dengan ekor matanya. Sungguh ia tidak menyangka jika Akbar akan menunggu di rumah itu padahal hari sudah senja. Zayn pun merasa tidak enak hati pria ini mencoba bersikap biasa saja agar Akbar tidak berpikiran yang macam-macam.
Zayn dan Bee kompak keluar mobil, Bee menggendong Rayyan yang tertidur, mereka menghampiri Akbar yang berdiri menatap mereka dengan penuh tanya dimana jelas terlihat dimata pria itu Bee dan Zayn hanya berdua saja, tidak ada pelayan seperti biasa lalu fokus Akbar tertuju pada kaos yang dipakai oleh Zayn bertulis 'Dad' dan kaos yang dipakai oleh Bee bertuliskan 'Mom' sudah tentu pula kaos yang melekat ditubuh mungil Rayyan bisa dipastikan tertulis 'Son' seakan menjelaskan bahwa mereka berdualah orangtua Rayyan.
Hal itu membuat Akbar menjadi cemburu, ia tidak menyukai pemandangan ini terlebih ia sudah menunggu sejak tadi namun calon istrinya tidak memberi kabar sedikitpun dan sekarang mereka tampak seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.
__ADS_1
Zayn melihat wajah Akbar memerah, ia segera ingin meluruskan agar tidak salah paham.
"Sayang kau dari mana saja? kenapa ponselmu mati? aku menunggu mu sejak tadi kau membuatku cemas saja kenapa tidak memberi kabar bahwa kau sedang pergi bersama Zayn" ucap Akbar menghampiri Bee dengan raut sulit di artikan sambil ia memberikan buket bunga mawar merah yang besar pada calon istri tercinta.
Zayn melihat itu menelan ludah, ia mendengar jelas Akbar memanggil Bee dengan sebutan sayang, sungguh telinganya ingin menyangkal hal itu. Bee hanya menatap Akbar datar dan menerima buket bunga itu seraya melirik Zayn yang tampak canggung.
"Akbar....kau jangan salah paham tentang ini, kami hanya pergi menemani Rayyan bermain saja, jadi jangan berpikiran yang macam-macam" ucap Zayn tidak enak hati.
"Tentu saja Zayn, aku percaya padamu tidak mungkin kau mengkhianati saudaramu sendiri....terimakasih sudah mengantar calon istriku pulang" jawab Akbar dengan nada tajam dan sedikit menekan kata calon istri diakhir kalimatnya.
"Baiklah....aku akan pulang sekarang, biar Rayyan besok saja ku jemput kasihan juga dia sudah tertidur" ucap Zayn pada Bee yang mata perempuan itu sudah berkaca-kaca.
"Zayn....kau bisa ikut masuk lebih dulu jika kau mau" Bee berbasa basi.
"Tidak.....aku akan pulang sekarang, tentu saja aku tidak ingin mengganggu kalian, aku juga ada janji dengan temanku soal seminar hari senin nanti, jaga Rayyan untuk ku" ucap Zayn sambil mengusap rambut putranya yang masih terlelap digendongan mantan istrinya.
__ADS_1
Bee menatap Zayn sendu, ia tahu Zayn hanya tidak ingin menyaksikan kedekatannya dengan Akbar, akhirnya Akbar dan Bee mengangguk lalu tidak memakan waktu lama Zayn pun berlalu dari sana dengan perasaan hancur kembali menghinggapinya memastikan bahwa Bee tidak lama lagi hanya akan menjadi mantan untuk selamanya.
Di dalam perjalanan Zayn melirik kursi disamping kemudi dimana wangi dan bayang wajah tersenyum Bee masih menatapnya disana, suara merengek manja yang baru beberapa jam yang lalu masih terdengar kini telah sirna yang ada hanya bangku kosong yang menertawakannya bahwa perempuan itu bukanlah siapa-siapa baginya.
"Pernah menyesal, tapi tidak pernah sesesal ini Bee......aku meninggalkan mu dua kali, masih bisakah aku mendapatkan kesempatan ketiga? itu mustahil bukan? baiklah aku mengaku kalah sekarang, Akbarlah yang akan membahagiakan mu, meski aku belum ikhlas tapi waktu akan menjawabnya, aku bisa apa sekarang? huh....ini menyebalkan" gumam Zayn sambil memukul setir mobil dengan kesal.
******
"Aku harap kau tidak cemburu Akbar, biar bagaimana pun Zayn ayahnya putraku, aku tidak mau Rayyan kehilangan sosok ayah kandung meski kau juga akan menyayanginya nanti, mengertilah...aku dan Zayn hanya mementingkan Rayyan saja tidak lebih dari itu" ucap Bee memberi pengertian pada Akbar tentang hari ini ia pergi bertiga saja menemani Rayyan bermain.
Pria itu mengangguk "Maafkan aku Yasmin, aku memang cemburu tapi aku percaya pada Zayn, dia saudaraku tidak mungkin pria itu merusak hubungan kita yang akan menikah tidak lama lagi, maaf jika aku terlalu berlebihan tentang hal ini" Akbar meminta maaf akan sikapnya tadi.
Bee hanya mengangguk dan tersenyum tipis saja.
"Minumlah" tawar Bee pada calon suaminya, perempuan ini membuatkan Akbar minuman setelah menidurkan Rayyan dikamar.
__ADS_1
Akbar mengangguk, mereka bercerita satu sama lain tentang beberapa hari tidak bertemu sampai tentang rencana pernikahan yang waktunya hanya dua minggu lagi, membuat Bee kembali mempertanyakan hatinya, entah kenapa jika bisa perempuan ini masih ingin menyangkal namun ketika melihat wajah Akbar ia tidak bisa, Bee tidak bisa menyakiti pria sebaik Akbar, ia pikir biarlah waktu yang akan menjawabnya.