
Di bawah langit biru yang luas, matahari mulai mengintip dari ufuk timur, menyinari Desa Qinglian. Sejauh mata memandang, hamparan sawah hijau yang subur membentang, dikelilingi oleh bukit-bukit yang tertutup kabut tipis. Dari kejauhan, suara gemericik air dari aliran sungai kecil mengalun lembut, menambah keteduhan pagi itu.
Di tengah desa, Xian berjalan dengan langkah ringan di jalanan berbatu, menyapa para penduduk yang baru mulai beraktivitas. “Selamat pagi, Tuan Li!” katanya kepada seorang pria paruh baya yang tengah mengatur gerobak sayurnya. Tuan Li tersenyum, keriput di wajahnya tampak semakin dalam saat dia tertawa. "Ah, Xian! Pemuda yang paling ceria di desa ini. Bagaimana kabarmu?"
"Baik-baik saja, terima kasih," jawab Xian, mata coklatnya berbinar. Rambut hitamnya yang panjang diikat rapi ke belakang, bergerak mengikuti angin yang berhembus lembut. Dia melanjutkan, "Saya mendengar ada panen raya di ladang Anda minggu ini?"
Tuan Li mengangguk sambil memegang sebuah tomat segar, "Ya, berkat bantuanmu juga. Terima kasih telah mengajari putraku teknik bertani yang benar."
Xian tersenyum, pipinya memerah sedikit. "Sama-sama, Tuan Li. Semua demi desa kita." Dia melanjutkan langkahnya, menyapa beberapa penduduk lainnya dengan sorot mata yang penuh keceriaan.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara tawa anak-anak muda yang sedang bermain. Xian mendekati mereka dan melihat beberapa pemuda sedang berkompetisi memanjat pohon yang tinggi. Xian mengedarkan pandangannya ke pohon yang rindang dengan daun-daun yang bergerak mengikuti tiupan angin, batangnya yang kokoh seolah menantang untuk didaki.
"Hei, Xian!" teriak salah satu pemuda dengan rambut acak-acakan, "Mau coba ikut?"
Mimik Xian berubah menjadi satu ekspresi penuh semangat, "Kenapa tidak? Tapi apa taruhannya?"
Pemuda itu tertawa, "Jika kamu menang, makan malam di rumahku malam ini! Tapi jika kamu kalah, kamu yang harus mengajak kami makan!"
Xian mengangkat alisnya, "Tantangan yang menarik. Baiklah, aku terima!"
Sebagai start, Xian melompat, menempelkan dirinya pada batang pohon. Dengan gerakan yang lincah, dia mulai memanjat, setiap gerakannya penuh perhitungan, memastikan bahwa setiap pegangan dan pijakannya kuat. Beberapa pemuda yang lain mencoba mengikuti, namun Xian sudah beberapa langkah di depan. Meskipun tampak mudah, Xian sebenarnya memanjat dengan teknik alami tanpa mengandalkan kekuatan khusus apa pun yang dia miliki.
Dalam sekejap, Xian sudah berada di pucuk pohon, berdiri tegak sambil melambaikan tangan ke arah pemuda-pemuda yang masih berjuang di bawah. Dari atas, dia bisa melihat seluruh desa, hamparan sawah yang hijau, rumah-rumah penduduk dengan asap yang mengepul dari cerobong asapnya, dan anak-anak kecil yang berlarian di jalanan.
Xian turun dengan hati-hati, mendarat dengan mulus di tanah yang empuk. "Sepertinya aku menang," katanya dengan senyum kemenangan.
Para pemuda lainnya mengerumuni Xian, memberikannya tepukan di punggung. "Kau memang luar biasa, Xian," puji salah satu dari mereka.
__ADS_1
Xian tertawa, "Terima kasih! Tapi jangan lupa janjimu, aku menunggu makan malam lezat malam ini!"
Mereka semua tertawa bersama, merayakan kebersamaan dan persahabatan di tengah kehidupan sederhana desa Qinglian.
Hari itu, matahari bersembunyi di balik awan putih mengembang. Xian memutuskan untuk berjalan-jalan di tepi Sungai Qing, tempat dia sering bermain saat masih kecil. Air sungai berkilauan, refleksi cahaya matahari membuatnya tampak seperti permadani berlian yang bergerak. Desir angin yang mengusap wajah, menggiring daun-daun yang gugur bersama deru air yang mengalir.
Di sana, sekelompok anak-anak sedang bermain, melempar batu ke sungai, mengamati lingkaran-lingkaran air yang terbentuk. "Hei, Xian gege! Main bersama kami!" seru Xiao Ling, gadis kecil berumur tujuh tahun dengan rambut dikepang dua.
Xian tersenyum lebar, matanya menyipit. "Tentu saja, Xiao Ling!" Dengan gesit, dia mengangkat rok pantalannya dan berjalan masuk ke dalam air. Dengan tangan dan kaki, ia mulai bermain, menciptakan pola-pola air yang indah, seolah air menari mengikuti irama hatinya. Anak-anak desa bertepuk tangan dan tertawa, kagum dengan keahlian Xian.
"Luar biasa, Xian gege!" teriak Xiao Ling dengan mata berbinar. "Bagaimana kamu bisa melakukannya?"
Xian mengedipkan mata, "Rahasia desa, Xiao Ling." Dia tertawa renyah, sambil melambaikan tangan membuat air sungai naik membentuk gelombang kecil yang bermain-main mengelilingi kaki anak-anak.
Namun, saat bergerak, kakinya merasakan sesuatu yang keras di bawah bebatuan. Xian membungkuk, menggapai sesuatu dengan tangan kanannya dan mengangkatnya. Apa yang dia temukan membuat matanya membulat—sebuah batu giok hijau muda yang memancarkan aura misterius.
"Wow! Apa itu, Xian gege?" tanya Xiao Feng, anak laki-laki berumur sembilan tahun dengan lesung pipi yang mencolok.
Lan Hui, seorang remaja berusia lima belas tahun dengan rambut hitam panjang, mendekat dan mengamati batu giok tersebut. "Ini bukan batu giok biasa, Xian. Saya pernah mendengar kakek saya bercerita tentang batu giok khusus yang memiliki kekuatan kultivasi."
Xian mengernyitkan dahinya, "Kultivasi? Apa maksudmu, Lan Hui?"
Lan Hui melirik ke sekeliling, lalu berbisik, "Ada legenda di desa kita tentang Batu Giok Qinglian. Batu tersebut diyakini memiliki kekuatan untuk meningkatkan kultivasi seseorang. Tapi, tak banyak yang tahu di mana batu itu berada."
Xian menatap batu giok di tangannya, lalu kembali ke wajah Lan Hui. "Mungkinkah ini...?"
Lan Hui mengangguk pelan, "Mungkin. Tapi, kita harus berhati-hati. Batu seperti ini pasti dicari banyak orang, terutama dari luar desa."
__ADS_1
Xian menghela napas, menutupi batu giok dengan kedua tangannya. "Terima kasih atas informasinya, Lan Hui. Aku akan menyimpan ini dengan baik."
Sambil tetap memainkan air sungai dengan anak-anak desa, pikiran Xian terus melayang ke batu giok misterius itu. Apa benar batu ini memiliki kekuatan kultivasi? Dan apa yang harus dia lakukan dengan batu tersebut? Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergulir di benaknya sepanjang hari.
Hari berikutnya, Xian bangun dengan perasaan yang berbeda. Matahari baru saja menyembulkan dirinya, memancarkan sinar keemasan yang menyinari kamar sederhana Xian. Sebuah hembusan angin lembut masuk melalui jendela, membawa aroma bunga musim semi. Tetapi bukan itu yang membuatnya terkejut—melainkan energi yang mengalir deras dalam tubuhnya. Setiap napas yang dihembuskannya terasa penuh kehidupan, setiap gerakannya terasa ringan dan penuh kekuatan.
Dia mengingat batu giok yang ditemukannya kemarin. Dengan cepat, dia meraihnya dari laci kayu tua di samping tempat tidurnya. Batu tersebut masih memancarkan aura yang sama, tetapi kali ini, dia bisa merasakannya lebih kuat, seolah beresonansi dengan tubuhnya.
Sambil memegang batu giok, Xian berjalan keluar rumahnya. Desa Qinglian tampak damai di pagi hari, penduduk mulai beraktivitas dengan semangat. Saat berjalan melewati sebuah gang kecil, Xian mendengar suara anjing menggonggong. Dia menoleh, dan melihat Hei Bai, anjing hitam putih yang terkenal galak di desa, terutama terhadapnya.
Namun, yang terjadi selanjutnya sungguh mengejutkan. Hei Bai berhenti menggonggong dan mendekat dengan ekor mengibas. Ia menjilat tangan Xian dengan lembut, seolah meminta belaian.
"Xian? Apa yang kamu lakukan pada Hei Bai?" Tanya Su Lin, tetangga Xian yang selama ini merawat Hei Bai, dengan ekspresi terkejut.
Xian menggeleng, "Aku tidak tahu, Su Lin. Tapi aku merasa ada perubahan dalam diriku sejak kemarin."
Su Lin mendekat dan memeriksa Xian dari atas ke bawah. "Kamu tampak berbeda," katanya, "Ada semacam aura yang mengelilingimu."
Xian mengangguk, "Aku merasakannya juga. Semuanya dimulai setelah aku menemukan batu giok ini di sungai." Dia menunjukkan batu tersebut kepada Su Lin.
Mata Su Lin membulat, "Batu Giok Qinglian! Legenda itu benar! Batu ini memang memiliki kekuatan kultivasi."
Mereka berdua duduk di bawah pohon rindang, mendengarkan desiran angin yang melambai-lambai daun. Xian bertanya dengan wajah penuh kebingungan, "Tapi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku takut kekuatan ini akan menguasaiku."
Su Lin menatap ke jauh, "Ada seorang tetua di desa kita, Paman Zhu, yang mungkin tahu lebih banyak tentang batu ini. Mungkin dia bisa membantumu."
Xian mengangguk, "Terima kasih, Su Lin. Aku akan mencarinya."
__ADS_1
Sebelum berdiri, Xian membelai kepala Hei Bai yang sedari tadi duduk dengan tenang di sisinya. "Terima kasih juga, temanku," bisiknya.
Dengan langkah pasti, Xian berjalan menuju rumah Paman Zhu, berharap mendapatkan jawaban atas misteri yang mengelilingi dirinya. Di hatinya, dia tahu bahwa perjalanan ini baru saja dimulai.