
Kabut tebal menyelimuti desa yang terletak di lembah di antara dua gunung tinggi. Pagi itu, ketika matahari harusnya bersinar cerah, langit diliputi oleh awan mendung yang terasa sangat aneh. Penduduk desa mulai merasa tidak enak. Tanah berguncang perlahan, seolah-olah alam sendiri merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Aura jahat dan mendalam meresap ke dalam tanah, menyebabkan hewan-hewan peliharaan desa gemetar dan mengeluarkan suara-suara cemas.
Lee Xian, pemuda berusia 17 tahun yang terkenal dengan sifat isengnya, berdiri di tengah desa, merasa ketegangan yang tak biasa di udara. Dia memperhatikan dengan serius saat para tetua desa berkumpul di bawah pohon besar di pusat desa, wajah mereka penuh kekhawatiran.
Tetua desa tertua, Kakek Lin, yang biasanya bijak dan tenang, berbicara dengan suara gemetar, "Saudara-saudara, sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Iblis Kuno, yang selama berabad-abad disegel di dalam gua di puncak Gunung Setan, telah bangkit kembali."
Para penduduk desa mendengar berita tersebut dengan ketakutan yang tidak dapat disembunyikan. Mereka tahu kisah legenda tentang Iblis Kuno yang ganas, yang hanya tujuh tokoh kultivator legendaris yang bisa menyegelnya kembali. Sejak saat itu, desa ini terlindungi oleh generasi kultivator pilihan yang berada dalam meditasi sepanjang waktu untuk mengawasi segel.
Namun, seiring berjalannya waktu, para kultivator tersebut terlupakan dan ditinggalkan, dan segel mulai melemah. Dan sekarang, kabar buruk telah datang, bahwa Iblis Kuno telah memutuskan untuk kembali ke dunia manusia.
Wajah-wajah penduduk desa terasa pucat. Mereka merasa terancam oleh kehadiran Iblis Kuno yang mengerikan ini. Suara angin sepoi-sepoi mulai berdesir, dan dedaunan yang gugur menambah kesan mistis di udara.
Xian, dengan sifat isengnya, tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Dia melihat seorang anak kecil yang menangis tak henti-henti karena ketakutannya. Dengan cekatan, Xian meraih beberapa batang kayu di tanah dan mulai bermain-main dengan bayangan tangan di dinding. Dengan gerakan yang lembut dan indah, dia menciptakan gambaran Iblis Kuno yang sedang menari balet.
"Wow! Lihatlah, anak-anak! Iblis Kuno sedang menari balet! Dia terlihat sangat keren dengan tutu-nya yang besar!" kata Xian dengan nada kagum palsu.
Anak-anak desa yang sebelumnya menangis dan ketakutan, sekarang melihat bayangan tangan tersebut dan tertawa terbahak-bahak. Mereka lupa sejenak akan rasa takut mereka, dan suasana hati di desa itu berubah.
Seorang ibu yang duduk di samping anaknya yang menangis, tersenyum sambil mengusap air mata anaknya yang masih menetes. "Terima kasih, Xian. Anda selalu tahu bagaimana membuat anak-anak tertawa, bahkan dalam saat-saat seperti ini."
Xian tertawa riang, "Tidak apa-apa, Bu Li. Kita tidak bisa membiarkan ketakutan menguasai kita sepenuhnya, bukan?"
Sementara anak-anak desa terus tertawa dan bermain-main dengan bayangan tangan Iblis Kuno, para tetua desa tetap dalam pertemuan mereka, mencari cara untuk menghadapi ancaman Iblis Kuno yang sebenarnya.
Tapi saat itu, bahkan dalam kegelapan yang menakutkan, keberadaan Xian mampu membawa tawa dan keceriaan. Dia mungkin terkenal sebagai pemuda iseng, tapi dia juga tahu bahwa dalam situasi genting seperti ini, terkadang, tawa adalah yang terbaik untuk mengusir kegelapan.
Keesokan harinya, Xian dan para kultivator senior desa berkumpul di aula desa yang besar untuk membahas rencana penyegelan Iblis Kuno. Wajah mereka penuh dengan ketegangan dan kekhawatiran, menyadari bahwa tugas ini tidak akan mudah.
__ADS_1
Aula desa yang biasanya ramai dengan kegiatan sehari-hari, sekarang tampak sepi dan gelap. Pintu-pintu besar dari kayu ek yang menghiasi aula itu ditutup rapat, memisahkan mereka dari dunia luar yang penuh dengan ketakutan. Hanya cahaya remang-remang dari beberapa lilin yang menyoroti wajah-wajah yang serius.
Xian, meskipun tahu pentingnya situasi ini, tidak bisa menahan diri untuk tidak mengejar keisengannya. Dia duduk di ujung meja panjang, dengan sepiring teh panas di tangannya. Begitu percakapan dimulai, dia dengan sengaja menumpahkan teh itu ke pangkuannya, menyebabkan air panas yang meluber membuatnya meloncat ke atas dan menari-nari kesakitan.
"Argh! Panas sekali! Panas sekali!" serunya sambil mengaduk-aduk air teh yang masih tercecer di celana. Semua mata tertuju padanya, dan para kultivator senior memberikan tatapan kesal.
Ketua kultivator senior, Sifu Zhao, yang memiliki jenggot putih panjang, menatap Xian dengan keras. "Xian, ini bukan waktu untuk tingkah lakumu yang konyol. Kita sedang membicarakan masalah serius."
Xian mengangguk dengan serius, meskipun senyum khasnya tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. "Maaf, Sifu Zhao. Saya hanya mencoba untuk membuat suasana hati menjadi lebih ringan. Tidak ada salahnya tertawa sedikit, kan?"
Sifu Zhao menghela nafas dalam-dalam. "Baiklah, Xian. Kami semua tahu bahwa tawa bisa menjadi obat terbaik dalam situasi tertentu, tetapi saat ini kita perlu fokus."
Mereka kemudian melanjutkan diskusi serius mereka tentang rencana penyegelan. Para kultivator senior menjelaskan bahwa mereka perlu mencari tiga artefak kuno yang diperlukan untuk menyegel Iblis Kuno kembali ke dalam gua di puncak Gunung Setan. Artefak tersebut adalah Pedang Langit, Perisai Naga, dan Lonceng Dewi.
Xian mendengarkan dengan penuh perhatian, mencatat setiap detail tentang tugas mereka. Namun, ketika percakapan semakin mendalam dan berat, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membuat candaan.
"Saya hanya berharap Pedang Langit bukanlah pedang biasa yang hanya bagus untuk mengiris roti," kata Xian, mencoba membuat semua orang tersenyum.
Setelah berjam-jam berdiskusi, rencana penyegelan akhirnya selesai. Mereka akan membagi tugas, dengan beberapa kultivator pergi mencari artefak, sementara yang lain akan mengawasi dan mempersiapkan ritual penyegelan.
Sifu Zhao berdiri dari kursinya dan menatap Xian dengan tegas. "Xian, meskipun Anda terkenal dengan tingkah laku iseng Anda, kami mempercayai Anda untuk tugas yang serius ini. Anda akan menjadi bagian dari kelompok yang mencari Pedang Langit."
Xian mengangguk dengan tulus. "Saya akan melakukan yang terbaik, Sifu Zhao. Tapi ingatlah, sedikit tawa tidak pernah membahayakan siapa pun."
Mereka semua tahu bahwa dalam kegelapan yang mendalam ini, kehadiran Xian adalah sumber cahaya yang diperlukan untuk menjaga semangat mereka tetap hidup. Meskipun mereka berada di tengah-tengah misi berbahaya, tawa Xian adalah pengingat bahwa bahkan dalam ketegangan terbesar, ada ruang untuk kegembiraan.
Saat para kultivator senior meninggalkan aula untuk mempersiapkan diri mereka untuk tugas yang mendebarkan, Xian tertawa sendiri, mengingat bagaimana kejengkelan Sifu Zhao terhadap tumpahan tehnya. Tetapi dalam hatinya, dia tahu bahwa tugas besar ini adalah sesuatu yang harus dihadapinya dengan penuh kehati-hatian dan tekad.
__ADS_1
Setelah pertemuan untuk merencanakan penyegelan Iblis Kuno, Xian dan teman-temannya bersiap-siap untuk memulai pencarian artefak kuno yang diperlukan. Mereka telah diberikan petunjuk tentang lokasi Pedang Langit, yang diyakini tersembunyi dalam Gua Seribu Terowongan yang terletak di kaki Gunung Setan.
Pagi yang cerah menyambut mereka ketika mereka tiba di Gua Seribu Terowongan. Matahari bersinar terang, memancarkan sinar hangat yang membuat udara terasa segar. Gunung Setan yang tinggi menjulang di atas mereka, dan gua-gua yang membentang di depan mereka memberikan kesan kegelapan dan misteri.
Xian, yang selalu menjadi sumber keceriaan dalam kelompok, segera memecahkan ketegangan. "Baiklah, teman-teman, kita memiliki tugas yang serius, tetapi tidak ada salahnya untuk menjaga semangat tinggi! Saya memiliki perasaan bahwa artefak kita akan ada di sini."
Teman-temannya tertawa setuju, meskipun mereka juga merasa gugup menghadapi apa yang mungkin ada dalam gua tersebut.
Mereka memasuki gua, berjalan di antara terowongan yang gelap dan berliku. Suara gemuruh air terjun yang jauh terdengar, menciptakan atmosfer yang menegangkan. Tetapi Xian, seperti biasa, tidak bisa tetap serius.
"Saya harap artefak kita tidak terletak di terowongan yang paling gelap ini," kata Xian dengan nada berlebihan. "Tapi siapa tahu, mungkin Iblis Kuno memiliki selera seni yang baik!"
Teman-temannya hanya menggelengkan kepala, tetapi senyum tipis terukir di wajah mereka. Mereka tahu bahwa kehadiran Xian adalah keberuntungan, bahkan dalam situasi yang paling suram sekalipun.
Saat mereka menjelajahi terowongan demi terowongan, mereka akhirnya tiba di ruangan yang luas. Di tengah ruangan itu, mereka melihat sebuah dada besar yang tertutupi oleh lapisan debu dan laba-laba.
"Inilah artefak kita, teman-teman!" kata Xian sambil berlari menuju dada tersebut. "Mari kita lihat apa yang ada di dalamnya."
Mereka membuka dada dengan hati-hati, dan di dalamnya, mereka menemukan sebuah pedang yang tampak kuno dan megah. Ini adalah Pedang Langit yang mereka cari!
Namun, selain Pedang Langit, mereka juga menemukan sebuah helm yang sangat aneh. Helm itu memiliki bulu-bulu merak yang menjulang tinggi, dan ketika Xian memutuskan untuk mencobanya, itu membuatnya terlihat seperti burung unta.
Teman-temannya meledak dalam tawa terbahak-bahak. Xian, dengan helm meraknya yang aneh, mencoba berlari-lari di sekitar ruangan, mengibarkan tangannya seolah-olah dia sedang terbang.
"Ini helm yang sempurna untuk pertunjukan sirkus!" kata Xian sambil berjongkok dan memerankan karakter burung unta dengan mimik muka yang kocak.
Tawa mereka menggema di dalam gua, menciptakan getaran yang luar biasa dalam kegelapan. Meskipun mereka berada di tempat yang mungkin berbahaya, tawa mereka adalah pengingat bahwa ada kebahagiaan bahkan di tengah kegelapan.
__ADS_1
Setelah tertawa bersama selama beberapa saat, mereka mengemas Pedang Langit dengan hati-hati dan memutuskan untuk melanjutkan pencarian artefak berikutnya. Xian, dengan berat hati, melepas helm burung unta dan meletakkannya kembali di dalam dada.
Mereka tahu bahwa ada banyak petualangan yang masih menanti mereka, dan bahwa Iblis Kuno adalah ancaman serius yang harus dihadapi. Tetapi di saat-saat seperti ini, mereka merasa bahwa persahabatan dan tawa adalah senjata paling kuat yang mereka miliki.